Nature dan Nurture

erdward l thondike
Edward L. Thorndike
watson
John B. Watson

Setelah bertahun-tahun para ahli psikologi mempelajari mengapa perilaku manusia berbeda satu sama lain, kesimpulan akhirnya terpolarisasi dalam dua kubu.

Kubu pertama adalah mereka yang lebih menekankan pada faktor gen dan karakteristik dasar (yang ada sejak lahir). Teori ini biasa disebut nativist atau nature. Kubu nature dimotori oleh Edward L. Thorndike (1903) yang menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia, faktor yang menentukan adalah hereditas.

Kubu kedua, dicetuskan oleh John B. Watson pada tahun 1925. Kubu kedua ini terkenal dengan ungkapan bahwa pengalaman mampu menuliskan segala pesan pada tabula rasa lembaran putih bersih sifat dasar manusia. Para pendukung teori nurture menekankan empricist (menitik beratkan pada proses belajar dan pengalaman) atau biasa disebuti nurture.

Sejak adanya pernyataan bahwa perdebatan tentang nature dan nurture telah selesai (Turkheimer, 2000), hampir semua psikolog dewasa ini memahami bahwa pembawaan hasil keturunan dan lingkungan selalu berinteraksi dan menghasilkan bukan hanya sifat-sifat psikologis, namun juga sebagian besar ciri-ciri fisik. Interaksi tersebut bekerja dalam dua arah.

  • Pertama, gen mempunyai dampak pada pengalaman kita. Seorang remaja yang memilki bakat bawaan untuk melakukan tugas-tugas sekolah, bila dibandingkan dengan anak-anak lain akan lebih besar kemungkinannya untuk bergabung ke dalam tim cerdas cermat.
  • Kedua, pengalaman mempengaruhi gen. Tekanan stres, pola makan, emosi, dan perubahan hormon dapat mempengaruhi gen yang aktif maupun yang tidak aktif. Sebagian ilmuwan mungkin menolak bahwa daya pikir dapat mengatur fungsi genetik dan penyembuhan diri (dianggap tidak ilmiah). Tapi, semua manusia (kazuo Murakami, 2007) memiliki gen yang berpotensi dapat menimbulkan penyakit, dan pada saat yang sama juga memiliki gen yang dapat mencegah penyakit. Kedua gen tersebut akan berada dalam keadaan seimbang selama tidak mengalami perubahan. Bila terjadi ketidakseimbangan diantara keduanya, maka potensi akan timbulnya penyakit akan meningkat.

Sumber bacaan :

  1. Carole Wade, Carol Tavris -Psikologi
  2. Kazuo Murakami- the Divine Message of the DNA

————————————————————————————

Berangkat dari pemahaman dua teori tersebut (nature dan nurture) serta interaksi antara keduanya, 55 mahasiswa program studi Ilmu Keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cahaya Bangsa Banjarmasin berpartisipasi memberikan pandangan berdasarkan referensi (rujukan) yang mereka baca.  Hal ini dilakukan bukan dimaksudkan untuk mendalami ilmu psikologi, tapi lebih kepada upaya memenuhi kebutuhan penunjang keprofesian, khususnya yang terkait dengan perilaku manusia.

Untuk itu, disampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan kepada semua mahasiswa serta website atau blog yang telah dijadikan sumber rujukan. Semoga bermanfaat.

55 thoughts on “Nature dan Nurture”

  1. nama : Fathurrahim
    nim : 11. 20. 1778
    kelas : A
    jawab

    (A) Nature, merupakan pembentukan perilaku manusia melalui pembawaan biologis yang diatur oleh naluri genetika2.

    (B) Nurture, merupakan pembentukan perilaku manusia yang bersumber dari pengalaman yang ikut pula dipengaruhi oleh budaya.Setiap manusia memiliki proses dan pola perilaku yang dapat dikelompokkan kedalam 2 bagian,
    yaitu :

    1. Proses individual, proses dan pola dimana manusia merupakan makhluk individu yang berdiri sendiri dengan keinginannya sendiri untuk bertahan.
    2. Proses sosial, proses dan pola ini menunjukkan kedudukan manusia dalam kehidupan berkelompok dimana tingkat kebutuhan dan saling membutuhkan menjadi prioritas untuk bertahan.
    baik dalam proses pendidikan, pengasuhan, pemeliharaan, seperti cara berpikir, cara berbicara, cara bekerja, dan lain sebagainya.

    contoh nya cara bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya .

    Jadi dalam mempelajari perilaku manusia, kita harus membedakan dua hal, yaitu proses pematangan dan proses belajar. Selain itu ada hal ketiga dan keempat yang menentukan tingkah laku , yaitu kekhasan atau bakat dan lingkungan. Lebih lengkapnya akan di jelaskan sebagai berikut :
    Pematangan, berarti proses pertumbuhan yang menyangkut penyempurnaan fungsi-fungsi tubuh secara alamiah sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan dalam perilaku, terlepas dari ada atau tidak adanya proses belajar. perilaku ini ditentukan oleh proses pematangan organ-organ tubuh dan terjadi pada setiap manusia normal sehingga kita dapat memperhitungkan sebelumnya.
    Belajar, berarti mengubah atau memperbaiki perilaku melalui latihan, pengalaman, atau kontak dengan lingkungan ( fisik dan sosial ) yang disebabkan melalui latihan dan pengalaman serta relatif tidak berubah.
    Dalam proses belajar ada tiga hal yang harus dipahami, yakni:
    1. Belajar adalah perubahan tingkah laku (yang buruk atau benar);
    2. Melalui seperangkat latihan dan pengalaman;
    3. Relatif permanen, tidak hanya muncul sesaat.
    Dari tiga hal di atas ada beberapa tingkah laku yang terlihat seperti belajar, gerak refleks dan respons emosi bukanlah dipelajari oleh individu tetapi otomatis dilakukan oleh tubuh.
    sumber : http://id.scribd.com/doc/89383645/BAB-II

    Suka

  2. Nama: Arief Budiman
    NIM : 11.20.1701
    Kelas : A

    “substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE”

    -) Nature : Terbentuknya sifat/perilaku manusia melalui proses biologis yang lebih terfokus pada genetik, hormon, dan proses hereditas lainnya . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri tertulis bahwa nature berarti sifat; watak; pembawaan. Sampai pada batas tertentu, perkembangan kita diprogram oleh kode genetik yang kita warisi. Beberapa ahli filosofi seperti Plato dan Descrates berpendapat bahwa ada beberapa hal yang telah manusia miliki sejak dia lahir, terjadi begitu saja, tanpa campur tangan dari lingkungan di sekitarnya.
    Contoh yang sangat mengena dalam hal nature adalah gen, ‘hereditas’ atau penurunan sifat genetik dari orang tua ke anak contoh spesifiknya: orang-orang pada zaman purba cenderung bersifat bar-bar, kasar, dsb yang pada dasarnya diturunkan oleh para keturunannya sendiri pada zaman tersebut. Manusia pun sebenarnya dapat mengeluarkan “True Nature” mereka ketika pada situasi kritis yang dihadapi. Berbagai ras manusia juga mempunyai sisi pandang dan cara menanggapi sesuatu yang berbeda-beda yang diakibatkan oleh hasil sifat turunan ras tersebut (Seperti yang terjadi baru-baru ini di China, seorang korban tabrak lari yang tidak diaabaikan oleh para pengendara di sana. Di sana mungkin sudah terbentuk mindset individualis tingkat ekstrem sejak lahir).

    -) Nurture : Mengacu pada kondisi lingkungan dan yang mendukung pengembangan. Faktor-faktor nurture yang mempengaruhi perkembangan manusia bisa berasal dari lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan faktor ekonomi dan budaya pun juga termasuk kedalamnya. John Locke adalah seorang pemikir yang berpendapat bahwa manusia dilakukan dalam keadaan tabula rasa, tidak memiliki apa-apa. Apapun yang ada dalam diri kita, termasuk ilmu pengetahuan kita berasal dari pengalaman-pengalaman yang telah kita alami.

    Lalu, mana yang lebih berpengaruh dalam perkembangannya? Dr. Donald Hebb, seorang pakar psikologi dari Kanada pernah menjawab pertanyaan para wartawan yang bertanya manakah yang lebih penting antara nature dan nurture. Dia pun menjawab, “Which contributes more to the area of a rectangle, its length or its width? “. (Bagian mana yang lebih berkontribusi kepada sebuah persegi empat? panjangnya atau lebarnya?) tentunya keduanya karena saling melengkapi.
    Sebenarnya Nature dan Nurture bekerja sama dalam pembentukan sifat manusia sehingga kita menjadi diri kita yang sekarang. Diri kita pada dasarnya mempunyai sifat bawaan seperti pendiam atau easygoing, ramah, terbuka dan kita kita juga mempunyai pengalaman yang membuat kita menjadi “diri kita sekarang”. Jadi, Nature & Nurture telah berkombinasi membuat diri kita sekarang melalui ruang waktu, dan tempat. Sekian terima kasih.

    Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/#ixzz2BbDEDj6c
    http://www.simplypsychology.org/naturevsnurture.html

    Suka

  3. Nama : Nurul Latifah
    NIM : 11.20.1754
    Kelas : A (Keperawatan)

    Memahami NATURE dan NURTURE, pada Sifat Anak

    1) NATURE adalah Sifat bawaan anak sejak lahir.
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.
    Memilih pola pengasuhan anak harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakter bawaan anak tersebut. Kita harus cermati apakah anak kita termasuk yang bisa duduk diam ataukah yang senang berlari-larian. Harus kita perhatikan juga apakah anak kita lebih suka mendengarkan cerita atau lebih suka membaca dan melihat-lihat gambar. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih pola pengasuhan yang cocok untuk mereka.

    2) NURTURE adalah sifat anak yang terjadi akibat pengaruh lingkungan.
    Nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.
    Berdasarkan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi bila kita ingin merubah perilaku anak hal pertama yang harus kita cermati adalah cara kita mendidik dan menyampaikan sesuatu kepada anak. Terkadang bukan si anak yang tidak mau berubah tetapi karena data pengalaman dan nilai yang masih terbatas membuat anak salah mengambil keputusan. Misalnya anak mungkin berpikir main playstation lebih menyenangkan daripada membersihkan kamar. Untuk itulah pola pengasuhan anak dengan sistem tekanan dan ancaman menjadi tidak efektif lagi.

    Dan yang juga harus diperhatikan adalah anak-anak tidak suka dengan kritik yang tidak pada tempatnya dan terus diulang-ulang atau bila kita terlalu mendikte mereka seolah mereka adalah makhluk terdungu di dunia.
    Apapun kondisi Nature dan Nurture seorang anak yang dibutuhkan seorang anak diatas segalanya adalah pengertian dan empati.

    Sumber: http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/

    Suka

  4. NAMA : NUR RAHMI
    NIM : 11.20.1753
    KELAS/SEM : A / III

    Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan .Diambil dari beberapa sumber yaitu:
    1.perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis – lalu dikenal dengan penjelasan “nature” .
    Penjelasan “nature” dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif). Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat seseorang ketika nanti.
    Pada Penelitian John B.Watson (bapak behaviorism) menunjukkan bahwa bayi-bayi keturunan penipu, perampok, pembunuh, dan pelacur dapat tumbuh tanpa sarana sekali menunjukkan perilaku yang mirip dengan orangtuanya apabila diasuh dalam lingkungan yang sarna sekali berbeda dengan lingkungan orangtuanya. Sebaliknya, anak seorang pengusaha yang pintar dan sukses dapat menjadi sangat bodoh dan tumbuh menjadi perampok apabila dibesarkan dalam lingkungan yang buruk. Dan Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius – seorang filsuf terkenal Cina – menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003). Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan – baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas – sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.
    (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka – dikenal dengan penjelasan “nurture”.
    nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat seseorang. Ketika seseorang secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga kita tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku kita tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.
    Banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan – yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan “nurture explanation”. Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.
    Pada pendapat , para ahli Eropa yang menganut paham ethology menyatakan bahwa perilaku didasarkan pada instinctive behavior, yaitu perilaku yang umumnya muncul pada spesies yang saran meskipun tidak ada kesempatan untuk mempelajari perilaku itu terlebih dahulu. Contohnya perilaku menghisap pada bayi. Meskipun pada perkembangannya perilaku instinktif ini kurang banyak dianut orang, tetapi kondisi inilah yang menandai perkembangan awal psikologi.
    Sedangkan Menurut Thomas Lichona (Megawangi, 2003), pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Erik Erikson – yang terkenal dengan teori Psychososial Development – juga menyatakan hal yang sama. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock, 1981). Dengan kata lain, bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini, maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. Selanjutnya, White (dalam Hurlock, 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial.
    Jadi, dalam usaha pengembangan atau pembangunan karakter pada tataran individu dan masyarakat, fokus perhatian kita adalah pada faktor yang bisa kita pengaruhi atau lingkungan, yaitu pada pembentukan lingkungan. Dalam pembentukan lingkungan inilah peran lingkungan pendidikan menjadi sangat penting, bahkan sangat sentral, karena pada dasarnya karakter adalah kualitas pribadi seseorang yang terbentuk melalui proses belajar, baik belajar secara formal maupun informal.
    Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah – nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.Dan Berdasarkan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi bila kita ingin merubah perilaku kita hal pertama yang harus kita cermati adalah factor yang berada disekiling kita. Terkadang bukan kita yang tidak mau berubah tetapi karena data pengalaman dan nilai yang masih terbatas membuat kita salah mengambil keputusan. Misalnya mahasiswa mungkin berpikir main sama teman-teman lebih menyenangkan daripada masuk kuliah apalagi itu mata kuliah yang sangat membosankan. Untuk itulah pola pikir kita dengan sistem tekanan dan ancaman menjadi tidak efektif lagi
    Sumber:http://psikologiku-duniapsikologi.blogspot.com/2012_01_17_archive.html
    http://kurniawan-h–fisip08.web.unair.ac.id/artikel_detail-36081-populer-perspektif%20menurut%20ilmu%20psikologi.html
    http://ospekfmipa-artikel.webs.com/pendidiknmembangunkarakter.htm
    http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/
    http://mutakhorij-assunniyyah.blogspot.com/2011/11/bab-i-pendahuluan.html

    Suka

  5. nama : sumiran
    nim : 11.20.1765

    Nature dan Nurture

    Telah bertahun-tahun para psikolog menggeluti masalah perbedaan antarmanusia dan mereka terpecah menjadi dua kubu. Kubu yang pertama yaitu nativist, adalah pihak yang menekankan pada gen dan karakteristik dasar (yang ada sejak lahir) atau nature. Kubu yang lain adalah golongan empiricist yang lebih menitikberatkan proses belajar dan pengalaman, yang disebut nurture. Edward L. Thorndike (1903), salah seorang psikolog terkemuka pada tahun 1900-an memihak kubu pertama ketika ia membuat pernyataan bahwa “Dalam kehidupan manusia, faktor yang paling menentukan adalah hereditas”. Akan tetapi, peneliti yang sezaman dengannya, yaitu John B. Watson (1925), seorang tokoh behavioris dalam ungkapannya yang sangat terkenal, menyatakan bahwa pengalaman mampu menuliskan segala pesan pada tabula rasa-lembaran putih bersih-sifat dasar manusia.

    Konstribusi nature dan nurture membentuk kesamaan maupun perbedaan antarmanusia. Penelitian dalam genetika perilaku (behavioral genetic) berupaya mengungkap konstribusi dari hereditas (faktor keturunan) dan faktor lingkungan untuk menjelaskan perbedaan individual dalam karakteristik manusia. Kini hampir tidak ada lagi yang orang yang memperdebatkan masalah nature dan nurture. Sebagaimana pernah ditulis oleh seorang ilmuwan, “Perdebatan tentang nature dan nurture telah selesai”[1]. Hampir semua psikolog dewasa ini memahami bahwa pembawaan hasil keturunan dan lingkungan selalu berinteraksi dan menghasilkan bukan hanya sifat-sifat psikologis, namun juga sebagian besar ciri-ciri fisik. Pertama, gen mempunyai dampak bagi pengalaman kita. Di sisi lain, pengalaman memengaruhi gen. Tekanan stres, pola makan, emosi, dan perubahan hormon dapat memengaruhi gen yang aktif maupun yang tidak aktif pada saat-saat tertentu selama hidup seseorang.

    Pentingnya perbandingan hereditas dan lingkungan adalah persoalan besar di antara para psikolog dan masyarakat umum. Saat ini telah jelas bahwa walaupun beberapa gangguan fisik langka 100 persen adalah keturunan, kecenderungan untuk kebanyakan kondisi normal merupakan hasil kekuatan herediter dan lingkungan yang kompleks.

    Nurture Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan merekabelajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalandengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anaktersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).

    sumber :http://id.scribd.com/doc/81249341/Nurture-and-Nature
    http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2011/03/03/homoseksualitas-nature-atau-nurture/

    Suka

  6. NAMA : agustianor
    nim : 11.20.1709
    KELAS: A

    PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI SOSIAL DALAM NATURE AND NURTURE

    Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis – lalu dikenal dengan penjelasan NATURE ” – dan (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka – dikenal dengan penjelasan “NURTURE “. Penjelasan “nature” dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif).

    Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan – yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan “nurture explanation”. Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.

    NATURE & NURTURE

    Malcolm Gladwell (juga penulis buku terlaris Blink dan Tipping Point) memaparkan hasil investigasi terhadap kehidupan orang-orang yang sangat sukses. Ternyata secara langsung atau tidak langsung ada banyak faktor eksternal yang berperan mendukung kesuksesan orang tersebut.

    Sebagai contoh, pemain-pemain hockey es terkemuka di Kanada sebagian besar lahir di bulan Januari, Februari, dan Maret. Penyebabnya bukan astrologi, melainkan cara rekrutmen pemain berbakat yang dimulai sejak kelompok umur di Sekolah Dasar. Batas tanggal kelahiran untuk bisa terpilih dalam pertandingan kelompok umur teretentu adalah 1 Januari. Dengan demikian, pemain dalam kelompok umur sama pada awal Januari akan berusia hampir satu tahun lebih tua dibanding yang lahir bulan Desember.

    Untuk yang masih usia dini, perbedaan beberapa bulan saja akan sangat berpengaruh terhadap besar fisiknya. Akibatnya, siswa yang lahir di awal tahun akan berpeluang jauh lebih besar untuk terpilih sebagai pemain karena fisiknya cenderung lebih besar. Setelah terpilih, mereka akan memperoleh pelatihan yang memadai sehingga ketrampilan mereka menjadi lebih tinggi dan cenderung terpilih lagi sebagai pemain di kelompok umur berikutnya.

    Begitu seterusnya sehingga ketrampilan bermain hockey es dari siswa yang terpilih (yang sebagian besar lahir di awal tahun) semakin terasah. Tak heran jika pemain-pemain hockey es yang hebat akhirnya banyak berasal dari siswa yang lahir di awal tahun. Tanpa disadari, faktor eksternal (bulan kelahiran) yang berada di luar kendali si pemain hockey es ternyata sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mereka sebagai pemain hockey es yang andal.

    Fenomena tersebut sejalan dengan hasil riset di dunia pendidikan bahwa keberhasilan seseorang adalah kombinasi antara bakat alami (nature) dan pembelajaran (nurture). Dari kacamata iman kristiani, kedua faktor tersebut (nature dan nurture) secara langsung maupun tidak langsung adalah berkat anugerah dari Tuhan yang Mahakuasa. Tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim bahwa kesuksesan yang dicapainya melulu adalah hasil karyanya sendiri.

    Jadi, bagi orang yang masih berpendapat sama dengan si Polan tentang kesuksesan, saatnya untuk mempertimbangkan kembali pendapat tersebut. ”…Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh…” (1 Kor. 10:12).

    Sudah sepatutnyalah semua orang, tanpa terkecuali, harus bersyukur kepada Tuhan atas semua keberhasilan yang dicapai. Salam WISDOM!

    SUMBER : http://www.slideshare.net/DianBungaLestari/perspektif-dalam-psikologi-sosial
    http://www.ebahana.com/warta-93-NATURE-NURTURE.html

    Suka

  7. Nama : Sarwendah
    Nim : 11.20.1761
    kelas : A

    “substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE”

    1. Nature merupakan contoh perilaku alami yang di alami oleh one person atau diri sendiri. Tetapi, mempunyai kesamaan dari mimik muka.
    Contoh : sedih dan senang itu merupakan sifat yang bisa di rasakan oleh semua orang tapi dari mimik muka tidak mungkin berbeda.
    Pada bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang seorang ahli, yaitu Derek Bickerton. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).
    • Derek Bickerton
    Pendukung lain dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton (Brown, 2000:35). Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.

    2. Nurture merupakan contoh perilaku dari pengalaman bisa dari keluarga,teman,lingkungan dsb. jika pada bagian ini gagal dalam membentuk pengalaman maka perilakunya akan menyimpang.
    Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34).

    Contoh Kasus Nature dan Nurture

    1. Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102).

    Penyelesaian

    Pada contoh kasus di atas yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.

    sumber : http://prasastie.multiply.com

    Suka

  8. Nama : Yeska
    Nim : 11.20.1768
    Kelas : A
    substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE !
    1 ). NATURE
    Nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia. Kita dapat melihat beberapa pendukung nature, salah satunya :
    • Derek Bickerton
    Pendukung dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton. Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.
    2). NURTURE
    Nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian. Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan.
    Dan contohnya dapat kita lihat seperti :
    1). Di Ohio, seorang anak perempuan berusia 6,5 tahun, yaitu Isabelle, diasuh oleh ibunya yang tuna wicara. Ia kemudian diasuh oleh Marie Mason, seorang pimpinan rumah sakit, dengan cara yang normal, dan ternyata Isabelle mampu menggunakan bahasa seperti anak-anak normal lainnya.
    Untuk itu Isabelle, proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture yang diberikan di usia yang tergolong lebih muda yaitu 6,5 tahun, ternyata memberikan bantuan yang cukup besar terhadap kemampuan bawaannya atau nature sehingga ia mampu menggunakan bahasa. Dengan demikian tampak bahwa antara sifat pemerolehan bahasa nature dan nurture ternyata yang satu tidaklah lebih penting dari yang lain karena tanpa satu sama lain, pemerolehan bahasa tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat menemui kegagalan.
    Dan kesimpulan yang dapat diambil adalah tampak bahwa baik nature maupun nurture merupakan dua hal yang sama-sama penting karena yang satu mendukung keberadaan yang lain. Memiliki kemampuan bawaan sejak lahir untuk memelajari bahasa atau nature semata tidak banyak bermanfaat jika tidak ada nurture atau pengaruh dari lingkungan. Sebaliknya, tanpa nurture atau pengaruh dari lingkungan semata juga tidak akan berpengaruh jika manusia tidak dibekali dengan kemampuan pribadi untuk memeroleh bahasa. Namun tentunya kenyataan bahwa baik nature maupun nurture merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting dalam pemerolehan bahasa manusia sebaiknya memerlukan lebih banyak lagi pembuktian baik melalui penelitian maupun eksperimen terhadap manusia, khususnya terhadap bagaimana manusia memelajari bahasa yang merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.
    TERIMA KASIH
    http://prasastie.multiply.com/journal/item/38?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
    http://technurlogy.wordpress.com/2011/01/10/beberapa-isu-penting-dan-prinsip-prinsip-perkembangan/

    Suka

  9. Nama : Rizky Triana
    NIM : 11. 20. 1760
    Kelas : A

     Nature, merupakan pembentukan perilaku manusia melalui pembawaan biologis yang diatur oleh naluri genetika.

     Nurture, merupakan pembentukan perilaku manusia yang bersumber dari pengalaman yang ikut pula dipengaruhi oleh budaya.

    Manusia juga memiliki proses dan pola perilaku yang dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
    1. Proses individual
    Proses dan pola dimana manusia merupakanmakhluk individu yang berdiri sendiri dengan keinginannya sendiri untuk bertahan.

    Proses Lingkungan →Kognisi Spasial→Perilaku Spasial

    • Proses Lingkungan
    Proses di mana manusia menerima informasi mengenai lingkungan sekitarnya dan bagaimana informasi ruang fisik itu diorganisasikan dalam pikiran manusia tersebut.
    • Kognisi Spasial
    Keragaman proses berfikir selanjutnya mengorganisasikan, menyimpan, dan mengingat kembali informasi lingkungan fisik (lokasi, jarak, tatanan, dll)
    • Perilaku Spasial
    Menunjukkan hasil yang termanifestasikan dalam tindakan dan respon seseorang, termasuk deskripsi dan preferensi personal, respon emosional, ataupun evaluasi respon perilaku yang muncul dalam interaksi manusia dengan lingkungan fisiknya.

    2. Proses Sosial
    Proses dan pola ini menunjukkan kedudukan manusia dalam kehidupan berkelompok dimana tingkat kebutuhan dan saling membutuhkan menjadi prioritas untuk bertahan.

    Ruang Personal → Teritorialitas → Kesesakan dan kepadatan

    Privasi
    • Ruang Personal
    Dominan kecil sejauh jangkauan yang dimiliki setiap orang
    • Teritorialitas
    Kecendrungan untuk menguasai ruang yang lebih luas bagi pengunaan seseorang ataupun sekelompok pemakai/ fungsi tertentu.
    • Kesesakan dan kepadatan
    Keadaan apabila ruang fisik yang tersedia sangat terbatas dibanding jumlah penggunaannya
    • Privasi
    Usaha manusia untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan sosial manusia.
    Penjelasan dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif).
    Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah yang negatif yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan pendapattTokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.
    Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial – seperangkat asumsi dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu: perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist).
    Sehingga Nature dan Nurture berkolaborasi dalam pembentukan Perilaku manusia yang menjadikan kita seperti sekarang.

    http://id.scribd.com/doc/89383645/BAB-II
    http://kurniawan-h–fisip08.web.unair.ac.id/artikel_detail-36081-populer-perspektif%20menurut%20ilmu%20psikologi.html

    Suka

  10. Nama : Norbaiti rahmadani
    Nim : 11. 20. 1748
    kelas A

    MENURUT TEORI GENDER

    Teori
    Nurture

    Menurut teori
    Nurture
    adanya perbedaan perempuan dan laki-laki pada hakekatnya
    adalah bentukan masyakat melalui konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan itu menyebabkan perempuan selalutertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam hidup berkeluarga,bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Konstruksi sosial menempatkanperempuan dan laki- laki dalam perbedaan kelas. Laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis dan perempuan sebagai proleta.

    Perjuangan untuk persamaan hak ini dipelopori oleh kaum feminis internasionalyang cenderung mengejar kesamaan (sameness) dengan konsep 50:50 (fifty- fifty),konsep yang kemudian dikenal dengan istilah perfect equality (kesamaan sempurnasecara kuantitas). Perjuangan tersebut sulit dicapai karena berbagai hambatan baik dari nilai agama maupun budaya. Berangkat dari kenyataan tersebut, para feminisberjuang dengan menggunakan pendekatan sosial konflik, yaitu konsep yangdiilhami oleh ajaran Karl Marx (1818 – 1883) dan Machiavvelli (1469– 1527)dilanjutkan oleh David Lockwood (1957) dengan tetap menerapkan konsep dialektika . Randall Collins (1987) beranggapan keluarga adalah wadah temapt pemaksaan, suami sebagai pemiliki dan wanita sebagai abdi.Margrit Eichlen beranggapan keluarga dan agama adalah sumber terbentuknya budaya dan perilakudiskriminasi gender. Konsep sosial konflik menempatkan kaum laki-laki sebagaikaum penindas (borjuis) dan perempuan sebagai kaum tertindas (proletar).Bagi kaum proletar tidak ada pilihan lain kecuali dengan perjuangan menyingkirkan penindas demi untuk mencapai kebebasan dan persamaan.

    Karena itu aliran nurture melahirkan paham sosial konflik yang banyak dianut
    masyarakat sosialis komunis yang menghilangkan strata penduduk (
    egalitarian). Paham sosial konflik memperjuangkan kesamaan proporsional (
    perfect equality) dalam segala aktifitas masyarakat seperti di DPR, militer, m
    ana jer, menteri,gubernur,pilot, dan pimpinan partai politik

    Teori
    Nature

    Menurut teori nature adanya perbedaan perempuan dan laki-laki adalah kodrati sehingga harus diterima apa adanya. Perbedaan biologis itu memberikan indikasidan implikasi bahwa diantara kedua jenis tersebut memiliki peran dan tugas yangberbeda. Ada peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada
    tugas yang memang berbeda dan tidak dapat dipertukarkan secara kodrat alamiahnya.

    Dalam proses pengembangannya banyak kaum perempuan sadar terhadap beberapakelemahan teori nurture di atas, lalu beralih ke teori nature . Pendekatan nurture dirasa tidak menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam hidup berkeluargadan bermasyarakat.

    SUMBER : http://id.scribd.com/doc/54944941/15/A-Teori-Nurture

    Suka

  11. Nama : Elmina Fatimah
    Nim : 11.20.1718
    kelas/sem : A / III

    “substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE”

    1. Nature adalah pandangan bahwa perilaku muncul sebagai bawaan sejak lahir, biologis, turunan gen dari orang tua. Karena proses pembentukan watak, karakter, perilaku dan sifat seseorang sebenarnya telah terawali ketika masih didalam kandungan. Ketika ibu mengandung bayi, saat itulah kontak batin dan lahiriah antara sang ibu dengan sang bayi sedang berlangsung. Ketika sang ibu berkata-kata kotor, suka memfitnah maka kontak batin itu telah tersalurkan kedalam diri sang bayi. Dalam ajaran agama Islam ketika sang janin berusia 4 bulan maka dianjurkan untuk dibacakan ayat-ayat suci Al Qur’an ( misalnya Surat Maryam/surat Yusuf, dsb ) hal tersebut dikandung maksud bahwa pada diri janin tertransfer nilai-nilai atau ajaran suci dari Al Qur’an. Bukankah janin yang telah berusia 120 hari telah ditiupkan ruh didalamnya. Maka disaat itulah peran orang tua akan ikut mewarnai karakter/sifat anaknya sejak dini.

    2. Nurture adalah pandangan bahwa perilaku muncul sebagai hasil interaksi dari lingkungan sosial. Misalnya, ketika sang anak sudah menemukan teman sepermainan ( masa kanak-kanak ), disinilah pengaruh yang diberikan oleh teman sepermainan akan mulai ikut mewarnai perkembangan kepribadian sang anak tersebut. Bila ia berinteraksi dengan anak-anak yang jauh dari nilai-nilai agama maka ia akan dengan mudah meyerap perilaku tersebut. Pada masa kanak-kanak ini proses imitasi dan identifikasi sangat menonjol dalam respon yang dilakukan oleh sang anak tersebut. Pada masa ini proses untuk menilai, mengontrol, memfilter belum dimiliki oleh sang anak tersebut. Maka pandai-pandailah orang tua dalam mengarahkan dan membimbing anaknya secara selektif untuk mencari teman sepermainannya. Bila proses imitasi dan identifikasi yang negative lebih dominan maka akan terbentuk karakter anak yang negative pula.
    Ketika memasuki masa remaja, peran orang tua mulai “tergantikan” oleh peran sosialisasi yang lain. Ketika masa kanak-kanak telah terbentuk karakter yang negative maka pada masa remaja ini karakter negative tersebut akan tumbuh subur ketika ia menemukan teman bermain yang “setipe” karakternya.Pada diri anak akan mulai muncul konsep dalam pikirannya bahwa dirinya telah tumbuh lebih dewasa dan berhak untuk bertindak sesuai dengan kehendak hatinya.

    sumber :
    http://yurikepraeviasemby.blogspot.com/2012/03/psikodiagnostik-psikologi-menurut.htmlhttp://yurikepraeviasemby.blogspot.com/2012/03/psikodiagnostik-psikologi-menurut.html
    http://nilaieka.blogspot.com/2009/05/proses-pembentukan-kepribadian.html

    Suka

  12. nama : nani yuliana
    nim : 11.20. 1745
    kelas A

    (Nurture) dan (Nature)

    Ada baiknya guru mengenali nature dari setiap siswa. Hal ini bisa diketahui dari demografis siswa (usia, jenis kelamin), informasi kesehatan siswa (sedang dalam pengobatankah, ada penyakit tertentu yang diderita, terutama yang terkait dengan fungsi otak dan kognitif), dsb. Walapun faktor nature ini lebih sulit diubah, tapi penting untuk diketahui oleh pengajar, sebagai langkah awal untuk menetapkan strategi dan rencana pembelajaran yang efektif. Dengan mengetahui nature dari siswa, kita juga bisa memahami bagaimana berkomunikasi dengan anak tersebut, karena kita tahu keterbatasan dan kesulitannya dalam memahami suatu materi/pelajaran. Melalui nature juga kita bisa tahu bagaimana melibatkan orang tua selama proses pembelajaran berlangsung. Nature juga terkait dengan keaktifan siswa dan pola pembelajaran yang tepat. Jadi bagaimana ruang kelas akan disetting juga bisa mempertimbangkan faktor nature siswa.

    Selain nature, fungsi nurture juga harus dipahami dengan baik. Mengingat setiap individu berkembang dan beradaptasi terhadap lingkungannya, maka interaksi sosial menjadi hal penting untuk diperhatikan. Setelah mengetahui nature dari siswa, maka pengajar dapat mulai memperhatikan bagaimana seorang anak/siswa berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan sosial memang memiliki ruang lingkup yang besar, tapi setidaknya ketika anak tersebut berada di sekolah, perguruan tinggi, dsb dimana seorang pengajar hadir, maka pengajar dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memberi pengaruh positif bagi siswanya.

    Fungsi nurture, sangat besar pengaruhnya terutama untuk membentuk keseluruhan pemahaman siswa dalam mendefinisikan dunia disekitarnya.
    Bagaimana harus bersikap, bagaimana memahami sesuatu yang baru dan berdaptasi terhadapnya juga dipengaruhi oleh nurture.
    Melalui nurture, seorang pengajar dapat mengetahui apa saja budaya, dasar pemikiran dan siapa saja yang telah mempengaruhi pola pikir siswanya.
    Walaupun fungsi nurture terlihat lebih berpengaruh daripada fungsi nature, tapi keduanya penting untuk diperhatikan oleh pengajar. Karena keduanya saling mempengaruhi. Keterbatasan pada nature bisa menyebabkan dukungan nurture yang baik menjadi sia-sia, sebaliknya kelebihannature juga menjadi sia-sia ketika nurture tidak mendukung.
    Saran untuk pengajar agar bisa memberikan pendidikan efektif melalui pendekatan nature dan nurture adalah:
    Buat setting ruang kelas yang dapat memicu keaktifan siswa (terkait dengan naturenya).
    Buat pola interaksi dua arah (dialog), yang penting untuk mengembangkan potensi nurturenya juga menarik (terkait dengan naturenya).
    Menerangkan konsep melalui contoh-contoh (nurture), dengan bahasa, suara dan bahasa tubuh yang jelas (nature).
    Menggunakan multimedia sebagai sarana pembelajaran (nature dan nurture terkait pola belajar juga: visual, auditorial, dan kinestetik).
    Melakukan review, meminta feedback dan memberikan feedback dalam setiap interaksi belajar, sehingga siswa bisa belajar dan meningkatkan ketrampilannya akan topik yang dipelajarinya.

    sumber :
    http://reginapurtanty.blog.esaunggul.ac.id/2012/05/22/fungsi-lingkungan-nurture-dengan-tidak-mengesampingkan-fungsi-bawaan-nature/

    Suka

  13. Nama : Nia Daniati
    Nim : 11.20.1747
    kelas A

    Nature and Nurture

    Nature merujuk pada warisan biologi organisme,
    Nurture merujuk pada pengalaman-pengalaman lingkungan, dan faktor terpenting bagi perkembangan adalah warisan biologis, , manusia tumbuh dalam hukum keteraturan, bertumbuh pesat pada masa infancy dan melambat pada early childhood dsb.

    lingkungan yang ekstrim akan menekan perkembangan
    Nurture mengklaim “pengaruh terpenting bagi perkembangan adalah pengalaman-pengalaman lingkungan. pengalaman lingkungan, mencakup pengalaman-pengalaman individual hingga lingkungan social

    Natur (alam, sifat dasar) dapat diartikan sebagai sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Sedangkan nurture (pemeliharaan, pengasuhan) dapat diartikan sebagai faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak masa pembuahan sampai selanjutnya (Chaplin, 2002).
    digunakan banyak istilah seperti nativisme-empirisme, endogen-eksogen, kematangan belajar, keturunan-lingkungan, biologi-kultur, diperoleh-memperoleh, serta bakat-pengalaman (Desmita, 2006: 32).

    Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa manusia.
    Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102). Pada contoh kasus ini yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.
    Di Ohio, seorang anak perempuan berusia 6,5 tahun, yaitu Isabelle, diasuh oleh ibunya yang tuna wicara. Ia kemudian diasuh oleh Marie Mason, seorang pimpinan rumah sakit, dengan cara yang normal, dan ternyata Isabelle mampu menggunakan bahasa seperti anak-anak normal lainnya (Dardjowidjojo, 2003:237). Untuk kasus ini yaitu Isabelle, proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture yang diberikan di usia yang tergolong lebih muda ternyata memberikan bantuan yang cukup besar terhadap kemampuan bawaannya atau nature sehingga ia mampu menggunakan bahasa. Dengan demikian tampak bahwa antara sifat pemerolehan bahasa nature dan nurture ternyata yang satu tidaklah lebih penting dari yang lain karena tanpa satu sama lain, pemerolehan bahasa tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat menemui kegagalan.

    sumber : : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/isu-remaja.html;

    Suka

  14. NAMA : LAILA NURMINA
    NIM : 11.20.1731
    KELAS : A (Keperawatan)

    substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE

     Nature
    Adalah proses pembentukan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu ; Noam chamsky,Derek Bickerton dan David Mcneill.pada dasarnya nature adalah proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir bahwa property bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia.Ketika anak dilahirkan ia telah dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu mempelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan piranti pemerolehan bahasa yang bersifat universal.
    Bahwa manusia itu sesungguhnya telah terprogram secara biologis untuk beralih dari satu tahap ketahap berikutnya.bahwa manusia terprogram sejak lahir ,untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan tertentu pula.

     NURTURE
    Dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov,John B. Watson dan B. F skinner.pada intinya Nurture adalah proses pemerolehan bahasa seseorang merupakan suatu kebiasaan yang dapat di peroleh melalui proses pengkondisiaan . Anak-anak memberikan respon kebiasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikan.anak-anak tersebut dibentuk oleh lingkungan mereka, dan perlahan lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan.
    Pengkondisian dimana organisme(manusia) menghasilkan suatu respon, atau operan (sebuah kalimat, ujaran, aktifitas-aktifitasnya) tanpa ada stimuli yang dapat diamati.

    Jadi kesimpulannya nature maupun nurture merupakan dua hal penting, karena yang satu mendukung keberadaan yang lain. Memiliki kemampuan bawaan sejak lahir untuk memelajari bahasa atau nature semata tidak banyak bermanfaat jika tidak ada nurture atau pengaruh dari lingkungan. Sebaliknya, tanpa nurture atau pengaruh dari lingkungan semata juga tidak akan berpengaruh jika manusia tidak dibekali dengan kemampuan pribadi untuk memeroleh bahasa.

    http://id.scribd.com/doc/81249341/Nurture-and-Nature

    Suka

  15. NAMA : LIA PURNAMASARI
    NIM: 11.20.1732
    KELAS : A

    1). Menurut saya, Bahwa proses pembentukan karakter manusia itu sudah terbentuk sejak manusia dilahirkan, karena setiap manusia pasti memiliki sifat bawaan atau alami(Nature) dan dengan berjalannya waktu proses pembentukan perilaku manusia lebih berkembang dan setiap individu memiliki sifat / perilaku yang berbeda dan tidak mungkin sama satu dengan yang lainnya,karena dipengaruhi oleh banyak faktor seperti Budaya, Agama, Pendidikkan, Lingkungan,Ekonomi, Pengalaman,Ruang, Waktu, Alam sadar, dan asuhan dari Orang Tua dan Keluarga masing-masing individu(Nurture).semakin baik asuhan dari orang tua,keluarga dan lingkungannya akan menghasilkan Perilaku /sifat yang baik pula, dan begitu juga sebaliknya. Jadi dalam membentuk Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh dua kategori tersebut(Nature & Nurture)karena keduanya saling berinteraksi dan bukan hanya menghasilkan sifat-sifat Psikologis, Namun juga sebagian besar ciri-ciri fisik.

    2). kesimpulan diatas saya ambil dari buku yang Bapa tulis Dan Penjelasan Yang Sudah Bapa sampaikan.

    Terima kasih

    Suka

  16. Nama : Soraya
    NIM : 11.20.1762
    Kelas : A (Keperawatan)

    1. Substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE

    Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan faktor lingkungan (nurture). Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan.

    Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah – nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.

    Dalam hal ini, Confusius – seorang filsuf terkenal Cina – menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003). Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan – baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas – sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.

    Jika sosialisasi dan pendidikan (faktor nurture) sangat penting dalam pendidikan karakter, maka sejak kapan sebaiknya hal itu dilakukan ? Menurut Thomas Lichona (Megawangi, 2003), pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Erik Erikson– yang terkenal dengan teori Psychososial Development – juga menyatakan hal yang sama. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock, 1981).

    2. Link : http://indo2.islamic-world.net/index.php?option=com_content&view=article&id=34:peranan-keluarga-dalam-pendidikan-karakter-anak&catid=9:psikologi-islam&Itemid=16

    Suka

  17. Nama :sugantias marahadi
    Nim : 11.20.1764
    Kelas : A

    substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE

    Nature :
    Sifat sifat yang di turunkan semenjak di dalam kandungan ibu,yang di bawa oleh gen yang spesifik yang telah di kodekan pada DNA di dalam individu setiap orang sampai pada batas tertentu,tanpa adanya peran ikut serta dari orang lain. Nature merupakan sifat yang alami yang di miliki oleh setiap individu namun berbeda tingkatan kemampuan dari setiap individu.contohnya seperti : kecerdasan, kepribadian, agresi, dan orientasi seksual. Dan beberapa ahli filosofi seperti Plato dan Descrates berpendapat bahwa ada beberapa hal yang telah manusia miliki sejak dia lahir,terjadi begitu saja, tanpa campur tangan dari lingkungan di sekitanya.

    Nurture :
    Dalam aspek proses terbentuknya perilaku manusia secara Nurture peran dari lingkungan mempunyai pengaruh yang sagat besar terhadap peruses terbentuknya sifat sifat individu seseorang.
    Dari lingkungan seseorang mendapatkan pembelajaran dan pengalaman.faktor – faktor nurture yang mempengaruhi terbentuknya individu seseorang dari lingkungan antara lain :
    1. Keluarga.
    2. Masyarakat.
    3. Ekonomi dan Budaya

    1. Seorang psikolog Amerika John Watson, paling dikenal karena eksperimen kontroversial dengan yatim piatu muda bernama Albert, menunjukkan bahwa akuisisi fobia dapat dijelaskan dengan pengkondisian klasik. Sebuah pendukung kuat dari pembelajaran lingkungan, ia berkata: Beri aku selusin bayi sehat, baik terbentuk, dan saya sendiri dunia ditentukan untuk membawa mereka di dan saya akan menjamin untuk mengambil salah satu secara acak dan melatihnya untuk menjadi semua jenis spesialis aku mungkin memilih … terlepas dari bakatnya, penchants, kecenderungan, kemampuan, panggilan dan ras dari nenek moyangnya.

    2. Sebuah penelitian di New Scientist menunjukkan bahwa sense of humor adalah sifat dipelajari, dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan budaya, dan tidak ditentukan secara genetis

    Terlihat di atas yang dikatakan oleh jhon Watson,ia bisa mengubah seseorang hanya dengan faktor – faktor dari lingkungannya dan membentuk karakter seseorang berdasarkan apa yang individu itu pelajari serta pengalaman yang didapatnya disekitar individu tersebut,yang ia dapat dari keluarga,masyarakat,ekonomi dan budaya, tidak ditentukan secara genetis. Jika lingkungan tidak berperan dalam menentukan sifat individu dan perilaku, maka kembar identik harus, secara teoritis, akan persis sama dalam segala hal, bahkan jika dibesarkan terpisah. Tapi sejumlah studi menunjukkan bahwa mereka tidak pernah persis sama, meskipun mereka sangat mirip dalam banyak hal.

    Lalu, mana yang lebih berpengaruh dalam perkembangannya?
    Dr. Donald Hebb, seorang pakar psikologi dari Kanada pernah menjawab pertanyaan para wartawan yang bertanya manakah yang lebih penting antara nature dan nurture. Dia pun menjawab, “Which contributes more to the area of a rectangle, its length or its width? “.
    Mari kita renungkan jawaban tersebut. Bila kita mengambar sebuah bangun datar persegi, anggap saja panjangnya adalah nature, sedangkan lebarnya adalah nurture. Bila kita menghapus salah satunya, maka gambar tersebut tidak bisa kita sebut sebagai persegi. Kemudian, jika kita membuat salah satunya lebih panjang dari yang lain, maka gambar tersebut juga tidak dapat kita sebut sebagai persegi. Seperti itulah pengaruh nature dan nurture dalam perkembangan manusia. Keduanya saling terkait dan memiliki pengaruh yang sama besar dalam pembentukan karakter dan sikap seseorang.Sekian Terima Kasih

    Sumber :
    http://genealogy.about.com/cs/geneticgenealogy/a/nature_nurture.htm
    http://en.wikipedia.org/wiki/Nature_versus_nurture
    http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/#ixzz2BnGiVBuh

    Suka

    1. Nama : Devi Novika Rini
      Nim : 11.20.1716
      MK : Etika keperawatan
      Semester : III
      Kelas : A
      Email : devi_rini92@yahoo.co.id

      Natur dan nurture
      Natur dan nurture merupakan isu dasar yang menjadi perdebatan sengit dalam psikologi perkembangan. Natur (alam, sifat dasar) dapat diartikan sebagai sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan.

      Nurture (pemeliharaan, pengasuhan) dapat diartikan sebagai faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak masa pembuahan sampai selanjutnya (Chaplin, 2002).
      Isu natur dan nurture dalam psikologi perkembangan berkaitan dengan pertanyaan apakah pengetahuan dan tingkah laku berasal dari pembawaan genetik atau dari pengalaman yang diperoleh dari lingkungan? Untuk mengungkapkan kedua faktor ini, digunakan banyak istilah seperti nativisme-empirisme, endogen-eksogen, kematangan belajar, keturunan-lingkungan, biologi-kultur, diperoleh-memperoleh, serta bakat-pengalaman (Desmita, 2006: 32).

      Contoh Kasus Nature dan Nurture
      Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa manusia.

      1. Di sebuah desa di Perancis, pada tahun 1800, ditemukan anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang tinggal di hutan dan sering menyusup ke desa untuk mencari makan. Ketika tertangkap dan dididik oleh direktur Institut Tuna Rungu yaitu Dr. Sicard, anak tersebut tidak dapat berbicara seperti manusia lain. Kemudian ia dididik oleh ahli lain, Jean-Marc-Gaspard Itard. Dibawah asuhan dan didikan yang baru ini, pola laku kehidupan Victor, nama yang diberikan pada anak laki-laki tersebut, dapat berubah namun tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:236-237).

      2. Di Los Angeles, pada tahun 1970, ditemukan seorang anak perempuan yang disekap oleh orang tuanya di gudang belakang rumahnya. Selama 13 tahun ia tinggal dan sering disiksa ayahnya di dalam gudang tersebut, dan hanya diberi makan namun tidak pernah diajak berbicara oleh orang tuanya. Setelah diselamatkan, anak perempuan tersebut diberi nama Ginie kemudian dilatih agar dapat berbahasa selama 8 tahun, namun ternyata sama halnya dengan Victor pada kasus sebelumnya, ia tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:237).

      Sedangkan pada contoh kasus pertama dan kedua, meskipun Victor dan Isabelle juga memiliki kemampuan bawaan untuk menguasai bahasa atau nature, namun karena tidak adanya pengaruh dari lingkungan semenjak mereka dilahirkan atau nurture, Victor tinggal di hutan dan Ginie yang meskipun tinggal dengan orangtuanya sendiri namun hanya disiksa dan tidak pernah diajak bicara, maka usaha yang diupayakan ketika mereka telah berusia lebih dari 10 tahun agar kedua anak tersebut dapat menggunakan bahasa menjadi sia-sia belaka.

      Dengan demikian tampak bahwa antara sifat pemerolehan bahasa nature dan nurture ternyata yang satu tidaklah lebih penting dari yang lain karena tanpa satu sama lain, pemerolehan bahasa tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat menemui kegagalan.

      Sumber : http://technurlogy.wordpress.com/2011/01/10/beberapa-isu-penting-dan-prinsip-prinsip-perkembangan/a

      Suka

      1. NAMA : M.RISKI HUSADA
        NIM : 11.20. 1742
        KELAS : A
        PRODI : KEPERAWATAN
        MK : ETIKA KEPERAWATAN
        SEMESTER III

        1). Coba jelaskan ( dengan menunjukan refrensi yang anda baca ) bagaimana proses pembentukan prilaku manusia bedasarkan kategori nurture dan nature ?

        jawaban

        * Nurture adalah pemerolehan bahasa seseoarang merupakan suatu kebiasaan yang dapat di peroleh dari proses pengkondisian.

        * Nature adalah proses pemerolehan bahasa yang di tentukan oleh pengetahuan yang di bawa sejak lahir dan bahwa porperti bawaan tersebut bersifat universal karena di alami atau di miliki oleh semua manusia.

        Contoh Nature dan Nurture

        > Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukan bahwa aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut.Ia mencoba mengeluari semua potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan .Jika tidak mendapat respon dari pengakuan dan lingkungannya ,seperti Ayah,Ibu dan saudaranya.Maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses sampai mendapat pengakuan dari lingkungannya.

        > Di sebuah desa terpencil di Kalimantan Tengah di temukan anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang tinggal di hutan dan sering menyusup ke desa untuk mencari makan.Ketika tertangkap dan di didik oleh Direktur Institut Tuna Netra,anak tersebut tidak dapat berbicara seperti manusia dan kemudian ia di didik oleh manusia lain di bawah usuhan dan di didikan yang baru,pola kehidupan Victor nama yang di berikan kepada anak laki-laki tersebut dapat berubah namun tetap tidak mampu menggunakan bahasa.

        Suka

      2. PERAN NATURE DAN NURTURE TERHADAP PERKEMBANGAN
        Nurture mengacu pada kondisi lingkungan dan yangm endukung pengembangan. tanaman membutuhkan sinar matahari, air, dan suhu yang tepat untuk tumbuh-dan dibantu bantu seseorang untuk menarik rumput liar di sekitarnya dan menambahkan pupuk. Anak-anak juga perlu dipupuk: mereka membutuhkan cinta dan dukungan dari orang tua, saudara, keluarga, guru, teman sebaya, dan orang lain, hal tersebut penting dalam hidup mereka. Anak-anak bisa sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang-orang membina mereka.
        unsur-unsur lain dari nurture termasuk ekonomi dan sosial budaya anak di suatu lingkungan. Kemiskinan, kekurangan gizi, dan kurangnya perawatan medis yang memadai dapat mengubah jalur perkembangan anak. warisan budaya dan keanekaragaman dapat memperkaya kehidupan anak, dan lingkungan tempat tinggal anak bisa menentukan sekolah dan kelompok sebaya
        Sepanjang sejarah , filsuf dan ilmuwan memperdebatkan peran relatif nature dan nurture. John Watson, seorang psikolog Amerika terkenal dari awal abad kedua puluh, adalah pendukung kuat nurture (pengasuhan melalui sekolah). Dia menulis:
        [G]ive me a dozen healthy infants, well formed, and my own specified world to bring them up and I’ll guarantee to take anyone at random and train him to become any type of specialist I might select—doctor, lawyer, artist, merchant-chief and, yes, even beggarman and thief, regardless of his talents, penchants, tendencies, abilities, vocations, and ancestors (1930/1924, p. 104).
        Watson berpendapat bahwa pengalaman dan pembelajaran-memelihara-menentukan anak-anak akan menjadi apa. Namun para peneliti lain tidak setuju, menunjukkan bahwa karakteristik seperti kepribadian lebih ditentukan oleh genetika (alam) daripada nurture. Hari ini, Namun, para ilmuwan perkembangan memahami bahwa alam (nature) dan memelihara (nurture) bekerja sama dan tidak mungkin untuk membedakan efek mereka (Lerner, 2006; Rutter, 2002). Daripada berdebat tentang mana yang paling penting, kami tertarik untuk belajar persis bagaimana dua faktor berinteraksi satu sama lain. efek interaksi alam (nature) dan memelihara (nurture) yang jelas dalam bidang genetika perilaku.
        Dalam genetika perilaku, studi penelitian untuk meneliti peran relatif alam (nature) dan memelihara (nurture) dalam perkembangan. Dengan mempelajari anak-anak kembar dan yang diadopsi, genetika perilaku telah dapat memperkirakan bahwa variabilitas dalam ciri-ciri psikologis dan perilaku, termasuk intelijen, emosionalitas, dan variabel kepribadian dasar, adalah sekitar 40% sampai 60% karena variabilitas warisan genetik. Sebagai contoh, para peneliti telah menunjukkan bahwa skor IQ kembar identik jauh lebih mirip daripada skor kembar fraternal (Bouchard & McGue, 1981). Karena kembar identik berasal dari telur dibuahi yang sama, gen mereka adalah salinan persis (memberi atau mengambil beberapa kesalahan dalam pembelahan sel). Namun, kembar fraternal berasal dari telur dibuahi terpisah, sehingga mereka tidak lebih mirip secara genetik dibandingkan saudara pasangan lainnya. Mengingat fakta bahwa baik kembar identik dan fraternal cenderung keluarga dan lingkungan belajar yang sama, para ilmuwan menyimpulkan bahwa atribut kesamaan yang lebih besar dalam IQ antara kembar identik lebih besar kesamaan genetik mereka.
        studi anak yang diadopsi juga menunjukkan komponen genetik yang kuat di IQ. Studi anak-anak yang diadopsi sebagai bayi muda telah menunjukkan bahwa IQ anak-anak di usia 18 lebih mirip dengan IQ ibu biologis mereka daripada IQ dari ibu angkat yang mengasuh mereka (Loehlin, Tanduk, & Willerman, 1994; Scarr , Weinberg, & Waldman, 1993).
        Dampak dari alam (nature) atau warisan genetik, sudah jelas bila anak-anak dilahirkan dengan kelainan genetik seperti sindrom Down atau cystic fibrosis. Penelitian juga telah menunjukkan hubungan genetik untuk kondisi seperti skizofrenia, depresi, dan berat obesitas . Peran memelihara (nurture), bagaimanapun, juga muncul dalam banyak studi yang sama. Sebagai contoh, mewarisi gen terkait dengan skizofrenia, depresi, atau obesitas tidak menjamin bahwa seseorang benar-benar akan berkembang kondisinya. Banyak orang yang mewarisi gen tidak mengembangkan kondisi. Pemeliharaan (nurture) pasti juga memiliki dampak pada sifat-sifat seperti IQ. skor IQ untuk kembar identik, misalnya, lebih mirip ketika si kembar tumbuh bersama-sama daripada ketika mereka dibesarkan dalam keluarga yang terpisah (Bouchard & McGue, 1981). Baik persaudaraan dan kembar identik menunjukkan pola yang serupa emosional keterikatan kepada orangtua mereka, menunjukkan bahwa pengalaman keluarga berbagi (membina) memainkan peran yang lebih besar daripada genetik (alam) dalam pola perkembangan (O’Connor & Croft, 2001). Daripada berdebat tentang apakah perkembangan dikontrol sepenuhnya oleh alam (nature) atau sepenuhnya oleh memelihara (nurture), berkat hasil penelitian perilaku genetika, kita sekarang mulai bisa memahami peran interaktif yang dimainkan oleh kedua faktor tersebut.
        Anak-anak dipengaruhi oleh alam (nature) dan memelihara (nurture), tetapi anak-anak juga perkembangannya dipengaruhi oleh mereka sendiri. Untuk beberapa hal, anak-anak bebas untuk membuat pilihan mereka sendiri, dan pilihan ini dapat memiliki konsekuensi untuk perkembangan. Ketika orang tua meminta anak untuk membersihkan kamar mereka, misalnya, anak-anak dapat memilih untuk taat atau tidak. pilihan mereka kemudian dapat mempengaruhi bagaimana orangtua mereka menanggapi mereka. Dan memikirkan pilihan anak-anak yang lebih besar membuatnya mereka tumbuh dewasa: apakah akan bertarung dengan pengganggu atau mencari resolusi damai, apakah akan mencoba minum alkohol \ raja atau tidak, apakah akan putus sekolah atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Pilihan seperti ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal oleh mendasar seperti kepribadian mewarisi anak (nature) dan dengan dukungan dan tekanan dalam hidup anak (membina), tetapi mereka juga sering dibuat oleh kebebasan anak sendiri untuk memilih pilihan yang berbeda .

        Sumber : http://www.education.com/reference/article/what-drives-development-nature-nurture/

        Suka

  18. Nama: Yuli Yuniarti Sundari
    Nim : 11.20.1769
    Kelas : A

    Perilaku Agresif: Bawaan Gen(Nature) atau Dipelajari dari Lingkungan(Nurture)?

    Setiap tahunnya, jumlah tindak kejahatan kekerasan (violent crime) di Indonesia seperti pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan penyerangan terus meningkat. Pada tahun 2004 diperkirakan jumlah tindak kejahatan kekerasan yang terjadi sekitar 196.931 kasus sedangkan pada tahun 2005 jumlah tindak kejahatan kekerasan yang terjadi sekitar 209.673 kasus (www.tempointeraktif.com).

    Tindakan kejahatan kekerasan yang terus meningkat ini merupakan contoh dari perilaku agresif yaitu perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain (Myers, 1996). Berdasarkan penyebabnya, perilaku agresif ini dapat terjadi karena faktor disposisi/kepribadian (nature) dan faktor situasional (nurture).

    Proses-proses belajar sosial yang dapat menimbulkan perilaku agresif:

    1. Classical conditioning.

    Perilaku agresif terjadi karena adanya proses mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya. Contoh: pelajar STM X yang sering tawuran dengan pelajar STM Y akan mengasosiasikan pelajar STM Y sebagai musuh/ancaman sehingga mereka akan berperilaku agresif (ingin memukul/berkelahi) ketika melihat pelajar STM Y atau orang yang memakai seragam STM Y.

    2. Operant Conditioning.

    Perilaku agresif terjadi akibat adanya reward yang diperoleh setelah melakukan perilaku agresif tersebut. Reward tersebut bersifat tangible (memperoleh sesuatu yang dia mau), sosial (dikagumi/disegani oleh kelompoknya), dan internal (meningkatkan self-esteem orang tersebut). Contoh: A sering berkelahi dan menganggu temannya karena ia merasa disegani oleh teman-temannya dengan melakukan tindakan agresif tersebut.

    3. Modelling (meniru).

    Perilaku agresif terjadi karena seseorang meniru seseorang yang ia kagumi. Contoh: seorang anak kecil yang mengagumi seorang petinju terkenal akan cenderung meniru tingkah laku petinju favoritnya tersebut, misalnya menonjok temannya.

    4. Observational Learning.

    Perilaku agresif terjadi karena seseorang mengobservasi individu lain melakukannya baik secara langsung maaupun tidak langsung. Contoh: seorang anak kecil memiting tangan temannya setelah menonton acara Smack Down.

    5. Social Comparison.

    Perilaku agresif terjadi karena seseorang membandingkan dirinya dengan kelompok atau orang lain yang disukai. Contoh: seorang anak yang bergaul dengan kelompok berandalan jadi ikut-ikutan suka berkelahi atau berkata-kata kasar karena ia merasa harus bertingkah laku seperti itu agar dapat diterima oleh kelompoknya.

    6. Learning by Experience.

    Perilaku agresif terjadi karena pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh orang tersebut. Contoh: anak yang sejak kecil sering mengalami perilaku agresif (berkelahi/dipukuli) cenderung akan menjadi anak yg agresif (suka berkelahi).

    Nature VS Nurture

    Melihat uraian-uraian di atas, penulis sependapat dengan Anderson & Bushman bahwa manusia tidak lahir dengan sejumlah respons-respons agresif tetapi mereka harus memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct experience) atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya.

    Menurut penulis, individu yang tidak mempunyai sifat agresif cenderung akan menampilkan perilaku agresif jika ia telah mempelajarinya dari lingkungannya. Sebaliknya, individu yang mempunyai sifat agresif cenderung tidak akan menampilkan perilaku agresif jika lingkungannya tidak mendukung atau mengajarinya berperilaku agresif. Hal ini dibuktikan melalui eksperimen klasik dengan boneka Bobo yang dilakukan oleh Bandura & Ross (Bandura, Ross, & Ross, 1961).

    Dalam eksperimen ini, pada kelompok murid TK yang pertama ditampillkan video yang berisi perilaku agresif (memukul, menendang, membanting boneka Bobo) sedangkan pada kelompok murid TK yang kedua ditampilkan video yang tidak berisi perilaku agresif. Hasilnya, kelompok murid TK yang pertama berperilaku jauh lebih agresif dibandingkan dengan kelompok murid TK yang kedua bahkan mereka meniru adegan-adegan yang terdapat dalam video yang berisi perilaku agresif.

    Selain itu, penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa pada hewan yang lebih rendah, banyak respons yang selama ini dianggap instinctive murni ternyata sebenarnya adalah respons yang dipelajari.
    Contoh: seekor kucing muda memburu tikus bukan karena instingnya tetapi karena mereka mempelajari perilaku itu dengan melihat kucing lain yang lebih tua (Kuo, 1930).

    Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif lebih merupakan perilaku yang dipelajari dari lingkungan (nurture) daripada perilaku yang diwariskan (nature).

    DAFTAR PUSTAKA
    Baron, R.A., Byrne, D., & Branscombe, N.R. (2006). Social psychology (11th ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
    Sarwono, S.W. (2002). Psikologi sosial: Individu dan teori-teori psikologi sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
    Sarwono, S.W. (2002). Berkenalan dengan aliran-aliran dan tokoh-tokoh psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.
    Wortman, C.B., Loftus, E.F., & Weaver, C. (1999). Psychology (5th ed.). Boston: McGraw-Hill College.
    http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/01/01/brk,20050101-01,id.html

    Sumber Video: http://www.youtube.com/watch?v=vdh7MngntnI&feature=related
    Sumber Foto: http://www.flickr.com/photos/vixrichardson/2967817522/
    Sumber http://katakatatanpabahasa.blogspot.com/2012/08/perilaku-agresif-bawaan-gen-atau.html

    Suka

  19. Nama : Sriani Susanti
    Nim : 11. 20. 1763
    Kelas “A” (keperawatan)
    Memahami NATURE dan NURTURE, Kunci Merubah Sifat Anak
    NATURE
    Sifat bawaan anak sejak lahir kita kenal sebagai Nature sedangkan sifat anak yang terjadi akibat pengaruh lingkungan kita kenal sebagai Nurture. Kedua hal ini berpengaruh dengan seimbang pada anak.
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.
    Memilih pola pengasuhan anak harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakter bawaan anak tersebut. Kita harus cermati apakah anak kita termasuk yang bisa duduk diam ataukah yang senang berlari-larian. Harus kita perhatikan juga apakah anak kita lebih suka mendengarkan cerita atau lebih suka membaca dan melihat-lihat gambar. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih pola pengasuhan yang cocok untuk mereka.

    NURTURE.
    Sedangkan nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.

    kesimpulannya: Sekarang kita mengerti bahwa anak-anak kita tidak suka dengan kritik yang tidak pada tempatnya dan terus diulang-ulang atau bila kita terlalu mendikte mereka seolah mereka adalah makhluk terdungu di dunia. Apapun kondisi Nature dan Nurture seorang anak yang dibutuhkan seorang anak diatas segalanya adalah pengertian dan empati.
    Sumber : http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/

    Suka

  20. Nama : Muhammad Andrie
    NIM : 11.20.1700
    Kelas : A

    Nature dapat kita artikan sebagai kekuatan biologis yang mengatur perkembangan.

    Sedangkan nurture mengacu pada kondisi lingkungan dan yang mendukung pengembangan.

    Kedua hal tersebut, sebenarnya saling terkait. Ini akan Nampak jelas bila kita mengamati perkembangan seorang anak. Dalam tubuhnya, terdapat berbagai macam sensory (nature), diantaranya sensory system, sensory neuron, sensory receptor, sensory perception, dan sensory ecology. Di sisi lain, lingkungan semasa perkembangan anak menyediakan rangsangan-rangsangan terhadap sensory tersebut, baik berdasarkan suatu desain tertentu maupun alami (nurture). Maka disinilah arti dan peran penting bagaimana rangsangan-rangsangan yang tepat untuk mengembangkan ketiga faktor penting yang menyangkut perkembangan anak, yaitu afectif, Intelektual, dan psikomotor. Hendak menuju kemana arah perkembangan anak atau hendak berwujud seperti apa perkembangan anak selanjutnya sangat tergantung kepada bagaimana rangsangan-rangsangan tersebut didesain dan muncul secara alami dalam interaksi yang alami pula. Kedua desain rangsangan sensori tersebut akan selalu menyertai perkembangan anak sejak lahir hingga dewasa, mulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan masyarakat.
    Mari kita renungkan jawaban tersebut. Bila kita mengambar sebuah bangun datar persegi, anggap saja panjangnya adalah nature, sedangkan lebarnya adalah nurture. Bila kita menghapus salah satunya, maka gambar tersebut tidak bisa kita sebut sebagai persegi. Kemudian, jika kita membuat salah satunya lebih panjang dari yang lain, maka gambar tersebut juga tidak dapat kita sebut sebagai persegi. Seperti itulah pengaruh nature dan nurture dalam perkembangan manusia. Keduanya saling terkait dan memiliki pengaruh yang sama besar dalam pembentukan karakter dan sikap seseorang.

    Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/#ixzz2BogVEsJm

    Suka

  21. NAMA : MARIA ULFAH
    NIM : 11.20.1744
    KELAS : A

    NATURE DAN NURTURE

    Setiap ahli psikologi perkembangan membahas mengenai perkembangan manusia, maka selalu mengaitkan dengan dua istilah yaitu, nature dan nurture.
    Perkembangan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor internal(nature), tetapi dipengaruhi juga oleh faktor external(nurture).Kecepatan ( speed ), kekuatan ( strength ), kegesitan (agility), dan daya tahan(endurance) serta kecerdasan (intelligence) adalah faktor-faktor yang diturunkan (nature) yang didapat dari kedua orang tua secara genetis. Sedangkan faktor-faktor yang didapat dari lingkungan (nurture) adalah faktor-faktor sosial yang didapat setelah manusia lahir ke dunia.

    A.NATURE

    Munculnya konsep nature dipengaruhi oleh aliran filsafat barat yang dikemukakan oleh Jean Jacquess Rousseau pada tahun 1999. Rousseau menyatakan bahwa faktor-faktor alamiah mempengaruhi perkembangan hidup manusia.Sejak lahir manusia memiliki kondisi alamiah yang baik atau secara tidak langsung dapat dikatakan masih dalam keadaan suci.
    Istilan nature mengandung pengertian sebagai faktor-faktor alamiah,yang berhubungandengan aspek bio-fisiologis terutama keturunan,genetis,dan herediter.Dengan mengambil istilah ini,maka perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan.Sifat-sifat,karateristik maupun kepribadian yang dimiliki oleh orang tua akan diturunkan melalui unsur gen kepada anak-anaknya.
    sifat-sifat yang diturunkan bukan hanya bersifat siologis
    berat badan,tinggi badan,warna kulit,rambut jenis penyakit akan tetapi juga karakteristik psikologis(tipe kepribadian,kecerdasan,bakat,kreativitas).
    Misalnya bila orang tua memiliki tubuh yangtinggi.maka anak yang diturunkan pun memiliki tubuh yang tinggi juga.sebaliknya jika orangtua pendek,maka anaknya pada umumnya pun pendek

    B.NURTURE

    Munculnya konsep nurture dipengaruhi oleh aliran filsafat empirisme,yangdikemukakan oleh John Locke.Locke ialan seorang filsuf berkebangsaan inggris.Dengan teoritabula rasa,Locke mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci,ibaratnyaseperti papan putih yang masih bersih.karena itu,ia percaya bahwa baik buruknya perkembangan hidup manusia tidak lepas dari pengaruh faktor lingkungannya.Dalam hal ini yang di istilah konsep nurture merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan eksternal,seperti pola asuh,pendidikan,social budaya,media massa,status social ekonomi,agama dan sebagainya.Seorang individu akan berkembang menjadi dewasa yang mandiri,cerdas dan bertanggung jawab apabila ia berada dalam lingkungan hidup yang mendukung perkembangan tersebut.Sebaliknya,karena lingkungan hidupnya yang buruk dapa tmenyebabkan individu berkembang menjadi seorang pribadi yang tidak baik,bodoh,jahat dan tergantung.oleh karena
    itu,untuk melihat perkembangan hidup manusia,sebaiknya kita memperhatikan kedua faktor tersebut.

    Jadi, Para ahli berpendapat,temperamen lebih banyak ditentukan oleh faktor genetik atau keturunan.Akan tetapi bukan berarti karena keturunan semata jika seorang bayi lantas berperilaku sulit. “Interaksi dengan lingkungan juga ikut memberi kontribusi,”.Pada masa prenatal, saat bayi berada di kandungan. “Kondisi fisik dan psikis ibu saat hami likut memberi kontribusi pada sifat anak yang dikandungnya”.Apakah selama hamil sang ibu sering merasa cemas, depresi, atau takut, semua itu akan berpengaruh pada bayi yang tengah dikandungnya. “Hal-hal tersebut bisa membawa kontribusi pada terjadinya perilaku sulit pada bayi. Misalny,jika ibu sering mengkonsumsi obat-obatan,maka bisa berakibat anak yang dilahirkannya menjadi hiperaktif atau pemarah,”.Karena itu, ketika hamil, sang ibu sebaiknya harus lebih menjaga kandungan dan keseimbangan tubuhnya. Baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, misalnya mengkonsumsi vitamin atau gizi yang cukup. Hal ini dikarnakan juga membantu pertumbuhan janin yang ada di kandungan Disisi lain,secara psikis sang ibu harus mengurangi tingkat emosionalnya. “Usahakan janganterlalu cemas dan kurangi depresi. Jika sang ibu stres atau secara psikis merasa tak seimbang,sebaiknya bersegera untuk konsultasi kepada ahli untuk membantu mengurangi tekanan yangdialaminya,” sebab, faktor-faktor psikis sang ibu secara tak langsung akan mempengarhi janinya Interaksi ibu dengan lingkungannya,juga bisa berpengaruh pada bayi yang dikandung.Contohnya lingkungan kerja yang membuat sang ibu menjadi stress, yang nantinya dapat berpengaruh pada janin dalam kandungannya.

    Sumber:

    Suka

  22. NAMA :NORPAMUJIATI
    NIM :11.20 1749
    KLS :A
    SEMESTER:III

    PERAN KELUARGA TERHADAP TUMBANG ANAK

    NATURE

    Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan faktor lingkungan (nurture). Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius – seorang filsuf terkenal Cina – menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi. Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan – baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas – sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.

    NURTURE
    Jika sosialisasi dan pendidikan (faktor nurture) sangat penting dalam pendidikan karakter, maka sejak kapan sebaiknya hal itu dilakukan ? Menurut Thomas Lichona (Megawangi, 2003), pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Erik Erikson – yang terkenal dengan teori Psychososial Development – juga menyatakan hal yang sama. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock, 1981). Dengan kata lain, bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini, maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. Selanjutnya, White (dalam Hurlock, 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial.
    CONTOH
    Pengaruh pada anak usia 2 tahun biasanya pada usia itu pola bermain atau lingkungannya yang dapat menciptakan karakter anak itu sendiri yang didasari oleh penyesuaian secara personal dan sosial serta bahasa yang didengarnya dalam kesehariannya.

    KESIMPULAN
    Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah – nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.
    sumber : http://www.gurukuansing.blogspot.com

    Suka

  23. NAMA : MARIA\ MAKDALENA
    NIM : 11.20.1743
    RUANG : A
    MK : PERILAKU MANUSIA

    Jawaban MK teori perilaku manusia :
    substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE Menurut referensi saya dan juga link yang saya baca penjelasan dibawah ini :
    1. Nature merupakan contoh perilaku alami yang di alami oleh one person atau diri sendiri. Tetapi, mempunyai kesamaan dari mimik muka.
    Contoh : sedih dan senang itu merupakan sifat yang bisa di rasakan oleh semua orang tapi dari mimik muka tidak mungkin berbeda.
    Pada bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang seorang ahli, yaitu Derek Bickerton. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia.
    • Derek Bickerton
    Pendukung lain dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton
    Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula ,Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.

    2. Nurture merupakan contoh perilaku dari pengalaman bisa dari keluarga,teman,lingkungan dsb. jika pada bagian ini gagal dalam membentuk pengalaman maka perilakunya akan menyimpang.
    Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian

    Contoh Kasus Nature dan Nurture
    1. Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan

    Penyelesaiannya :

    Pada contoh kasus di atas yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.

    http://prasastie.multiply.com/journal/item/38?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
    http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/

    Suka

  24. NAMA: IKA PURWANINGSIH
    NIM: 11.20.1729
    KELAS: A
    NATURE DAN NURTURE
    Kita sering mendengar pepatah “Setali tiga uang”. Pepatah ini biasanya dihubungkan dengan sifat bawaan anak yang tidak beda jauh dari sifat orangtuanya. Bagaimana sebuah sifat fisik bisa menurun dalam keluarga dijelaskan oleh ilmu biologi, bahwa sifat genetik dibawa oleh gen didalam setiap sel ditubuh kita. Informasi lengkap dan detil tentang fisik kita terkandung dalam rangkaian DNA(Deoxiribo Nucleid Acid). Tetapi apakah karakter juga diturunkan melalui genetik?

    Sifat bawaan anak sejak lahir kita kenal sebagai Nature. sedangkan sifat anak yang terjadi akibat pengaruh lingkungan kita kenal sebagai Nurture. Kedua hal ini berpengaruh dengan seimbang pada anak.

    A. NATURE
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.

    Memilih pola pengasuhan anak harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakter bawaan anak tersebut. Kita harus cermati apakah anak kita termasuk yang bisa duduk diam ataukah yang senang berlari-larian. Harus kita perhatikan juga apakah anak kita lebih suka mendengarkan cerita atau lebih suka membaca dan melihat-lihat gambar. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih pola pengasuhan yang cocok untuk mereka.
    B. NURTURE
    Sedangkan nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.

    Berdasarkan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi bila kita ingin merubah perilaku anak hal pertama yang harus kita cermati adalah cara kita mendidik dan menyampaikan sesuatu kepada anak. Terkadang bukan si anak yang tidak mau berubah tetapi karena data pengalaman dan nilai yang masih terbatas membuat anak salah mengambil keputusan. Misalnya anak mungkin berpikir main playstation lebih menyenangkan daripada membersihkan kamar. Untuk itulah pola pengasuhan anak dengan sistem tekanan dan ancaman menjadi tidak efektif lagi.
    SUMBER : http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/

    Suka

  25. NAMA : FITRIANI
    NIM : 11.20.1724
    KELAS : A

    1. Nurture
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).

    2. Nature
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).
    a. Noam Chomsky
    Sebagai wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2003:235-236).
    b. Derek Bickerton
    Pendukung lain dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton (Brown, 2000:35). Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.
    c. David McNeill
    Dalam Brown (2000:24) menyatakan bahwa LAD terdiri dari empat properti kebahasaan bawaan, yaitu:
    1. Kemampuan untuk membedakan bunyi ujaran manusia (speech sounds) dari bunyi lain dalam lingkungan
    2. Kemampuan untuk mengorganisir data kebahasaan menjadi beragam kelas yang dapat diperhalus atau diperbaiki di kemudian hari
    3. Pengetahuan bahwa hanya jenis sistem kebahasaan tertentu yang mungkin untuk digunakan dan jenis sistem lainnya tidak mungkin untuk digunakan
    4. Kemampuan untuk melakukan evaluasi secara konstan terhadap sistem kebahasaan yang terus berkembang sehingga dapat membangun sistem yang paling sederhana dari masukan kebahasaan yang ada.
    Sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana manusia memelajari bahasa, Bell (1981:24) juga berusaha mengajukan beberapa pandangan Chomsky, yaitu:
    1. Aktivitas yang terjadi di dalam pikiranlah, misalnya cara memproses, menyimpan dan mengambil pengetahuan dari simpanan tersebut, yang merupakan pusat perhatian utama dan bukan perwujudan secara fisik dari pengetahuan.
    2. Pembelajaran merupakan masalah “penerimaan secara masuk akal” dari data yang diterima otak melalui panca indera.
    3. Kemampuan individu untuk merespon situasi baru dimana jika hanya berbekal kebiasaan stimuli-respon semata tidak akan dapat membuat individu tersebut siap.
    4. Pembelajaran merupakan suatu proses mental karena adalah lebih baik untuk mengetahui dan tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata daripada berkata-kata tanpa pemahaman.
    sumber : http://juprimalino.blogspot.com/2011/12/pemerolehan-bahasa-nurture-nature.html

    Suka

  26. Nama:Rabiyati Akhrina
    Nim:11.20.1756
    Kelas:A

    PEMBANGUNAN KARAKTER DAN AKHLAK MANUSIA
    Karakter yang dalam bahasa agama disebut dengan akhlak merupakan kepribadian yang memengaruhi keseluruhan sikap dan perilaku manusia. Akhlak mulia atau karakter kuat tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap individu begitu ia dilahirkan, namun memerlukan proses panjang melalui faktor nature dan nurture.

    A.NATURE
    Faktor nature (faktor alami atau fitrah) bersifat potensial yang mengandung pengertian bahwa setiap manusia memiliki kecendrungan (fitrah) untuk mencintai kebaikan, namun belum termanifestasikan ketika anak terlahir.
    B.NURTURE
    Faktor nurture (pendidikan dan lingkungan) bersifat aktual. Fitrah yang ada pada manusia tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pendidikan (Megawangi, 2004).

    Konsep membangun karakter (character building) dalam Islam diadopsi dari keseluruhan perjalanan hidup Rasulullah dari lahir hingga wafat. Sebagai pengemban amanat risalah kenabian yang bertugas menyempurnakan akhlak manusia, Rasulullah memiliki karakter paripurna yang menjadi contoh teladan bagi umat manusia. Karakter kuat yang dimiliki Rasulullah tidak terbentuk secara instan sebagai sebuah mukjizat semata, namun terbentuk melalui proses panjang yang dapat dipelajari dan diterapkan oleh umat manusia.
    Proses menjadi insan berkarakter tidak dilalui Rasullah secara mudah melalui kesenangan dan kegelimangan harta, namun dilaluinya dengan penuh keterbatasan. Rasulullah menempuh proses kehidupan yang benar sesuai dengan sunatulah (hukum alam). Karakter-karakter yang dimilikinya merupakan buah dari pendidikan ketika masih kecil dan remaja.
    Predikat yatim tidak membuat beliau tersisih dari kehidupan, bahkan sebaliknya menjadikannya tokoh paling berpengaruh di seluruh dunia. Di tangan ibunya terbentuk karakter kasih sayang dan kesabaran. Di tangan kakeknya terbentuk karakter bijak. Di tangan pamannya terbentuk karakter kepemimpinan yang merakyat dan demokratis, serta berdampingan dengan istri tercinta, Siti Khadijah, karakter entrepreneurship yang dimilikinya semakin terasah
    KESIMPULAN
    Jakoep Ezra, seorang ahli tentang karakter, menjelaskan karakter adalah kekuatan untuk bertahan pada masa sulit. Karakter yang berkualitas adalah sebuah respons yang teruji berkali-kali dan berbuahkan keberhasilan. Seseorang yang berkali-kali melewati kesulitan dengan keberhasilan akan memiliki kualitas yang baik. Tidak ada kualitas yang tidak diuji. Apabila ingin berkualitas, tidak ada cara yang lebih ampuh kecuali menempuh ujian. Ujian bisa berupa tantangan, tekanan, kesulitan, penderitaan, hal-hal yang tidak kita sukai. Jika kita berhasil melewatinya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali, kita akan memiliki kualitas tersebut (Saifuddin Dhuhri, 2010).
    Salah satu karakter yang kiranya semakin menjauh dari bangsa ini adalah keberanian menghadapi tantangan. Padahal telah menjadi sunatulah bahwa orang yang mampu menjawab tantangan dan keluar dari cobaan adalah orang yang berhasil dan memperoleh derajat yang tinggi. Manusia besar selalu hidup penuh dengan cobaan dan tantangan. Perbedaan antara manusia biasa dengan manusia luar biasa adalah terletak pada cara memandang cobaan dan tantangan tersebut.
    Manusia besar seperti Rasulullah selalu memandang cobaan dan tantangan sebagai ujian dari Allah SWT serta senantiasa menghadapi ujian tersebut sebagai kehormatan dan anugerah. Bukan keluhan yang keluar dari bibirnya dalam menghadapi cobaan dan tantangan, namun justru puji-pujian terhadap anugerah tersebut.
    Terdapat sebuah ungkapan yang dapat kita renungkan bersama yaitu kebudayaan besar selalu lahir dari masyarakat yang mempunyai sejarah tantangan besar pula. Arnold Y Toyabee dalam bukunya The Study of History menyatakan timbulnya kebudayaan adalah tantangan yang dapat dijawab oleh manusia.
    Sumber: http://www.solopos.com/2012/02/03/maulid-nabi-pembangunan-karakter-159651

    Suka

  27. Nama : Lianti pertiwi
    NIM : 11.20.1733
    Kelas : A
    Nature
    Nature merujuk pada kekuatan biologis yang mengatur perkembangan. Sampai batas tertentu perkembangan kita diprogram oleh kode genetik yang kita warisi. Program biologi terbentang sepanjang masa. Sebagai contoh, mewarisi gen terkait dengan skizofrenia, depresi, atau obesitas tidak menjamin bahwa seseorang benar-benar akan berkembang kondisinya. Banyak orang yang mewarisi gen tidak mengembangkan kondisi
    Nurture
    Nurture mengacu pada kondisi lingkungan dan yang mendukung pengembangan termasuk ekonomi dan sosial budaya anak di suatu lingkungan. Misalnya saat seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.
    http://kongkoh.blogspot.com/2011/04/peran-nature-dan-nurture-terhadap.html

    Suka

  28. Nama : Rizki aulia
    Nim : 11.20.1759
    Kelas : A
    Dalam pemerolehan bahasa terdapat 2 perbedaan yaitu nurture dan nature. Pemerolehan bahasa yang bersifat nurture berarti bahwa pemerolehan bahasa seseorang itu ditentukan oleh lingkungan sekitar dimana ia berada, sedangkan yang bersifat nature berarti bahwa pemerolehan bahasa itu pada dasarnya merupakan suatu bekal yang telah dimiliki seseorang ketika ia dilahirkan ke dunia.
    1. Nurture
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).

    • Ivan Pavlov
    Ivan Pavlov adalah seorang ahli psikologi dari Rusia yang melaksanakan serangkaian eksperimen yang kemudian terkenal dengan sebutan classical conditioning. Dalam eksperimennya tersebut Pavlov menggunakan anjing sebagai subyek. Pavlov kemudian memeroleh kesimpulan bahwa stimuli netral awal yang berupa suara dari garpu yang dibunyikan menghasilkan kekuatan yang mendatangkan respon yang berupa pengeluaran air liur anjing yang pada mulanya dihasilkan dari stimuli lain yaitu penglihatan atau bau makanan anjing. Dengan demikian maka Pavlov telah membuktikan bahwa proses belajar itu terdiri dari pembentukan beragam asosiasi antara stimuli dan respon refleksif (Brown, 2000:80).

    Selanjutnya Bell (1981:24) mengungkapkan pandangan aliran behaviorisme yang dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimanakah sesungguhnya manusia memelajari bahasa, yaitu:
    1. Dalam upaya menemukan penjelasan atas proses pembelajaran manusia, hendaknya para ahli psikologi memiliki pandangan bahwa hal-hal yang dapat diamati saja yang akan dijelaskan, sedangkan hal-hal yang tidak dapat diamati hendaknya tidak diberikan penjelasan maupun membentuk bagian dari penjelasan.
    2. Pembelajaran itu terdiri dari pemerolehan kebiasaan, yang diawali dengan peniruan.
    3. Respon yang dianggap baik menghasilkan imbalan yang baik pula.
    4. Kebiasaan diperkuat dengan cara mengulang-ulang stimuli dengan begitu sering sehingga respon yang diberikan pun menjadi sesuatu yang bersifat otomatis.

    2. Nature
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).

    • David McNeill
    Dalam Brown (2000:24) menyatakan bahwa LAD terdiri dari empat properti kebahasaan bawaan, yaitu:
    1. Kemampuan untuk membedakan bunyi ujaran manusia (speech sounds) dari bunyi lain dalam lingkungan
    2. Kemampuan untuk mengorganisir data kebahasaan menjadi beragam kelas yang dapat diperhalus atau diperbaiki di kemudian hari
    3. Pengetahuan bahwa hanya jenis sistem kebahasaan tertentu yang mungkin untuk digunakan dan jenis sistem lainnya tidak mungkin untuk digunakan
    4. Kemampuan untuk melakukan evaluasi secara konstan terhadap sistem kebahasaan yang terus berkembang sehingga dapat membangun sistem yang paling sederhana dari masukan kebahasaan yang ada.
    Sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana manusia memelajari bahasa, Bell (1981:24) juga berusaha mengajukan beberapa pandangan Chomsky, yaitu:
    1. Aktivitas yang terjadi di dalam pikiranlah, misalnya cara memproses, menyimpan dan mengambil pengetahuan dari simpanan tersebut, yang merupakan pusat perhatian utama dan bukan perwujudan secara fisik dari pengetahuan.
    2. Pembelajaran merupakan masalah “penerimaan secara masuk akal” dari data yang diterima otak melalui panca indera.
    3. Kemampuan individu untuk merespon situasi baru dimana jika hanya berbekal kebiasaan stimuli-respon semata tidak akan dapat membuat individu tersebut siap.
    4. Pembelajaran merupakan suatu proses mental karena adalah lebih baik untuk mengetahui dan tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata daripada berkata-kata tanpa pemahaman.

    Suka

  29. Nama : Nur Aeka Trysnawati
    Nim : 11.20.1751
    Kelas : A
    Semester : III

    FAKTOR NURTURE

    Faktor Nurture (Lingkungan), didalamnya terdapat pola asuh, pembentukan perilaku, proses pembelajaran, pembiasaan, penguatan, dan sebagainya. Pada faktor pola asuh, anak yang dibesarkan secara demokratis, orangtua banyak mendengarkan keinginan anak, mengajak anak berdiskusi, mengajarkan dengan cara trial-error, biasanya menghasilkan anak-anak yang lebih mandiri. Anak cepat akrab juga berkaitan dengan kemampuan mendominisasi lingkungan, bagus di sisi kepemimpinan, cepat bisa melobi, dan andal bernegosiasi. Anak-anak inilah yang biasanya akan lebih gampang akrab dengan lingkungan dan orang baru. ”ia menganggap lingkungan disekitarnya adalah tempat yang aman dan bersahabat, karena selama ini ia mendapat penguatan positif dari keluarganya”.

    Salah satu contoh kecil, ketika anak belajar menuangkan air sendiri dirumah. Ibu atau ayah yang demokratis akan memperbolehkan anak menuangkan air sendiri (meskipun masih batita). Tumpah tidak apa, karena setelah itu anak akan belajar dari kesalahannya. Orang tua yang sedikit-sedikit melarang anak akan menghasilkan anak yang gampang cemas dalam menghadapi situasi yang baru takut salah, atau takut gagal. Padahal, ”anak-anak ini akan merasa keberhasilannya melakukan sesuatu yang baru merupakan kesempatan menunjukan kemampuan diri”. Apalagi jika lingkungan memberinya penguatan atau reward setiap kali ia berhasil melakukan sesuatu yang baru.

    Selain faktor pola asuh, faktor pembiasaan lingkungan juga berpengaruh. Misalnya disekolah atau dirumah, anak diajarkan berani baertanya kepada guru, orang tua, atau tetangga. Orang tua atau guru juga membiasakan anak menyapa orang baru. Misalnya, ketika diajak jalan-jalan ke mal, anak dibiasakan pesan makanan atau membayar mainannya sendiri di kasir. Faktor berikutnya adalah faktor penguatan. Anak-anak yang selalu diberi penguatan positif terhadap setiap hasil tindakannya akan menjadi anak-anak yang cepat akrab. Misalnya, ketika anak mencoba berteman dengan orang baru, maka orang tua memberi penguatan seperti, ” wah, hebat, kaka punya teman baru, ya !”.

    FAKTOR NATURE

    Nature merujuk pada kekuatan biologis yang yang mengatur perkembangan. Sampai batas tertentu perkembangan kita diproses oleh kode genetik yang kita warisi. Faktor nature (bawaan) yang mengangkut karakter atau sifat oleh seorang anak sejak lahir. Jadi ada faktor keturunan ayah, ibu atau perpaduan keduanya. ” Faktor nature ini akan lebih dominan, pada saat usia anak masih dini. Karakter seorang anak biasanya mengalami proses pembentukan sejak usia 0-7 tahun. Di usia ini karakter anak masih bisa berubah atau diubah. Misalnya anak yang secara nature pemalu. kalau orangtua melatihnya dengan baik sebelum usia 7 tahun, sifat pemalu anak masih bisa diubah menjadi lebih berani, diusia 8 tahun, barulah akan terlihat sifat dan karakter anak seperti apa.

    Faktor nature dengan presentasi 60 persen memang lebih dominan dibanding faktor nurture. Tapi faktor nurture bisa mengalahkan faktor nature dengan dilatih. Perkembangan dikontrol sepenuhnya oleh alam (nature) atau sepenuhnya oleh memelihara (nurture). Tetapi anak- anak juga perkembangannya dipengaruhi oleh mereka sendiri. Untuk beberapa hal, anak-anak bebas untuk menbuat pilihan mereka sendiri, dan pilihan ini dapat memiliki konsekuensi untuk perkembangan.

    Sumber :
    http://www.education.com/reference/article/what-drives-development-nature-nurture
    Si Kecil Super Supel/Anak/Keluarga/Nova/Gramedia/Majalah-tabloidnova.com.

    Suka

  30. Nama: Putri Bungsu
    NIM : 11 20 1755
    Kelas : A
    Semester : III

    Pengertian Nurture:

    Issue nurture mengatakan bahwa perilaku ditentukan oleh lingkungan. Nurture melibatkan social influence dan significant other yaitu pengaruh individu-individu lain yang berada di lingkungan tersebut. Apabila nature dan nurture saling mempengaruhi, maka akan terjadi proses learning/belajar yaitu proses dimana manusia beradaptasi dengan lingkungan yang sifatnya dinamis. Proses belajar meliputi knowledge, skill, attitude,dan personality. Cara untuk mengukur perilaku yang paling mudah adalah dengan metode observasi.

    Pengertian Nature:
    Chomsky à komponen yang terpenting dari bahasa bersifat bawaan (nature).
    Manusia memiliki sebuah skema bawaan yang berfungsi sebagai sarana pemprosesan informasi & pembentukan struktur-struktur abstrak dalam bahasa à menjelaskan adanya LAD (perangkat perolehan bahasa), yaitu struktur kognitif yang berfungsi dalam pembelajaran aturan-aturan bahasa.
    Skinner à bahasa diperoleh dari pembelajaran (nurture), melalui penguatan (reinforcement).

    Setiap manusia memiliki proses dan pola perilaku yang dapat dikelompokkankedalam 2 bagian, yaitu :

    1. Proses individual, proses dan pola dimana manusia merupakanmakhluk individu yang berdiri sendiri dengan keinginannya sendiri untuk bertahan.

    2. Proses sosial, proses dan pola ini menunjukkan kedudukan manusiadalam kehidupan berkelompok dimana tingkat kebutuhan dan salingmembutuhkan menjadi prioritas untuk bertahan.

    Sumber
    http://dwandastri.blogspot.com/2012/03/about-psychodiagnostic.html

    Suka

  31. Nama : Tuti Maya Sari
    Nim : 11.20.1766
    Kelas : A
    Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan .Diambil dari beberapa sumber yaitu:
    1.perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis – lalu dikenal dengan penjelasan “nature” .
    Penjelasan “nature” dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif). Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat seseorang ketika nanti.
    Pada Penelitian John B.Watson (bapak behaviorism) menunjukkan bahwa bayi-bayi keturunan penipu, perampok, pembunuh, dan pelacur dapat tumbuh tanpa sarana sekali menunjukkan perilaku yang mirip dengan orangtuanya apabila diasuh dalam lingkungan yang sarna sekali berbeda dengan lingkungan orangtuanya. Sebaliknya, anak seorang pengusaha yang pintar dan sukses dapat menjadi sangat bodoh dan tumbuh menjadi perampok apabila dibesarkan dalam lingkungan yang buruk. Dan Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius – seorang filsuf terkenal Cina – menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003). Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan – baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas – sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.
    (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka – dikenal dengan penjelasan “nurture”.
    nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat seseorang. Ketika seseorang secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga kita tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku kita tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.
    Banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan – yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan “nurture explanation”. Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.
    Pada pendapat , para ahli Eropa yang menganut paham ethology menyatakan bahwa perilaku didasarkan pada instinctive behavior, yaitu perilaku yang umumnya muncul pada spesies yang saran meskipun tidak ada kesempatan untuk mempelajari perilaku itu terlebih dahulu. Contohnya perilaku menghisap pada bayi. Meskipun pada perkembangannya perilaku instinktif ini kurang banyak dianut orang, tetapi kondisi inilah yang menandai perkembangan awal psikologi.
    Sedangkan Menurut Thomas Lichona (Megawangi, 2003), pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Erik Erikson – yang terkenal dengan teori Psychososial Development – juga menyatakan hal yang sama. Dalam hal ini Erikson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara perlahan tapi pasti (dalam Hurlock, 1981). Dengan kata lain, bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini, maka dia akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki nilai-nilai kebajikan. Selanjutnya, White (dalam Hurlock, 1981)menyatakan bahwa usia dua tahun pertama dalam kehidupan adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial.
    Jadi, dalam usaha pengembangan atau pembangunan karakter pada tataran individu dan masyarakat, fokus perhatian kita adalah pada faktor yang bisa kita pengaruhi atau lingkungan, yaitu pada pembentukan lingkungan. Dalam pembentukan lingkungan inilah peran lingkungan pendidikan menjadi sangat penting, bahkan sangat sentral, karena pada dasarnya karakter adalah kualitas pribadi seseorang yang terbentuk melalui proses belajar, baik belajar secara formal maupun informal.
    Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah – nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.Dan Berdasarkan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi bila kita ingin merubah perilaku kita hal pertama yang harus kita cermati adalah factor yang berada disekiling kita. Terkadang bukan kita yang tidak mau berubah tetapi karena data pengalaman dan nilai yang masih terbatas membuat kita salah mengambil keputusan. Misalnya mahasiswa mungkin berpikir main sama teman-teman lebih menyenangkan daripada masuk kuliah apalagi itu mata kuliah yang sangat membosankan. Untuk itulah pola pikir kita dengan sistem tekanan dan ancaman menjadi tidak efektif lagi

    Suka

  32. Deni Kurniawan
    KELAS A

    Substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE

    Nature dan Nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik – karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan.

    A. NATURE

    Nature (alam, sifat dasar) atau genetika (hereditas) merupakan totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak atau segala potensi (baik fisik maupun psikis) yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen.

    Masa dalam kandungan sebagai periode yang kritis dalam perkembangan kepribadian individu, sebab tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai masa pembentukan kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran.

    Pengaruh gen terhadap kepribadian sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi gen secara langsung adalah: kualitas sistem syaraf, keseimbangan biokimia tubuh, dan struktur tubuh. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa fungsi hereditas dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah: sebagai sumber bahan mentah kepribadian seperti fisik, intelegensi dan tempramen, membatasi perkembangan kepribadian (meskipun kondisi lingkungan sangat kondusif), dan mempengaruhi keunikan kepribadian

    B. NURTURE

    Nurture (pemeliharaan, pengasuhan) adalah karakteristik yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.

    Sesungguhnya kedua faktor itu amat diperlukan dalam perkembangan manusia tanpa faktor herediter, faktor-faktor seperti makanan, udara, pendidikan, atau faktor- faktor lingkungan lainnya dengan sendirinya juga tidak akan menghasilkan perubahan. Sebaliknya, tanpa faktor lingkungan, faktor heriditer tentu saja akan lumpuh.

    Sejauh mana seseorang di lahirkan menjadi seorang individu atau sejauh mana seseorang di pengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak di pengaruhi oleh faktor lingkungan. Mengenai karakteristik individu, ada 3 hal yang perlu di perhatikan, yaitu:

    1. Karakteristik yang berkenaan dengan kemampuan awal (prerequisite skills), seperti kemampuan intelektual, berpikir, dan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor.

    2. Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosio – kultural.

    3. Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan kepribadian, seperti sikap, perasaan, minat, dan lainnya.

    Sumber :
    staff.uny.ac.id/…/Materi%20Psikologi%20Pendidikan_1.pdf
    http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/
    http://www.slideshare.net/deasykatiandagho/karakteristik-dan-perbedaan-individu
    http://egh-shalehah.blogspot.com/2012/11/faktor-faktor-yang-mempengruhi.html

    Suka

  33. Nama : Eriyana fauziah
    Nim : 11.20.1720
    Kelas : A (III)

    Substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE
    Nurture
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner.
    • Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34).
    • Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan merekabelajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anaktersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22)

    Nature

    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Padadasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).

    a.Noam Chomsky

    Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu mempelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2003:235-236).
    Skinner dipandang terlalu menyederhanakan masalah ketika ia menyama-ratakan proses pemerolehan pengetahuan manusia dengan proses pemerolehan pengetahuan binatang, yaitu tikus dan burung dara yang digunakan sebagai subyek dalam eksperimennya, karena menurut pendekatan nativis, bahasa bagi manusia merupakan fenomena sosial dan bukti keberadaan manusia (Pateda, 1991:102). Selain itu ada pula alasan lain mengapa pendekatan nativis merasa tidak setuju terhadap teori Skinner. Alasan tersebut berhubungan dengan bahasa itu sendiri, yaitu menurut para nativis bahasa merupakan sesuatu yang hanya dimiliki manusia sebab bahasa merupakan sistemyang memiliki peraturan tertentu, kreatif dan tergantung pada struktur (Dardjowidjojo, 2003:236).

    b. Derek Bickerton

    Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yangdibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan bahwa manusia itu sesungguhnya telah terprogram secara biologis
    untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proseskondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.

    c. David McNeill

    Dalam Brown (2000:24) menyatakan bahwa LAD terdiri dari empat properti kebahasaan bawaan, yaitu:
    1. Kemampuan untuk membedakan bunyi ujaran manusia (speech sounds) dari bunyilain dalam lingkungan
    2. Kemampuan untuk mengorganisir data kebahasaan menjadi beragam kelas yang dapat diperhalus atau diperbaiki di kemudian hari
    3. Pengetahuan bahwa hanya jenis sistem kebahasaan tertentu yang mungkin untukdigunakan dan jenis sistem lainnya tidak mungkin untuk digunakan
    4. Kemampuan untuk melakukan evaluasi secara konstan terhadap sistem kebahasaan yang terus berkembang sehingga dapat membangun sistem yang paling sederhana dari masukan kebahasaan yang ada.

    Contoh Kasus Nature dan Nurture

    Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa manusia.

    1. Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Iamencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secarateratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102).

    Pada contoh kasus pertama yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tuaatau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.

    sumber : http://andriew.blogspot.com/2011/02/faktor-nurture-dan-nature-pemerolehan.html

    Suka

  34. Nama: Novita Sari
    Nim: 11.20.1750
    Kelas: A
    Nature dan Nurture
    Nurture
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).

    Nature
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).
    a. Noam Chomsky
    Sebagai wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2003:235-236).

    Skinner dipandang terlalu menyederhanakan masalah ketika ia menyama-ratakan proses pemerolehan pengetahuan manusia dengan proses pemerolehan pengetahuan binatang, yaitu tikus dan burung dara yang digunakan sebagai subyek dalam eksperimennya, karena menurut pendekatan nativis, bahasa bagi manusia merupakan fenomena sosial dan bukti keberadaan manusia (Pateda, 1991:102). Selain itu ada pula alasan lain mengapa pendekatan nativis merasa tidak setuju terhadap teori Skinner. Alasan tersebut berhubungan dengan bahasa itu sendiri, yaitu menurut para nativis bahasa merupakan sesuatu yang hanya dimiliki manusia sebab bahasa merupakan sistem yang memiliki peraturan tertentu, kreatif dan tergantung pada struktur (Dardjowidjojo, 2003:236). Masih dalam kaitannya dengan bahasa, karena tingkat kerumitan bahasa pula, maka kaum nativis berpendapat bahasa merupakan suatu aktivitas mental dan sebaiknya tidak dianggap sebagai aktivitas fisik, inilah sebabnya mengapa pendekatan nativis disebut juga dengan pendekatan mentalistik (Pateda, 1991:101).
    b. Derek Bickerton
    Pendukung lain dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton (Brown, 2000:35). Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.
    Sumber : http://prasastie.multiply.com/journal/item/38?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

    Suka

  35. Nama:ETY MAYA RIZKI
    Nim:11.20.1721
    Semester: III
    KLS: A

    Nature merujuk pada kekuatan biologis yang mengatur perkembangan. Sampai batas tertentu perkembangan kita diprogram oleh kode genetik yang kita warisi. Program biologi terbentang sepanjang masa. Dalam beberapa hal, perkembangan anak dapat dibandingkan dengan berseminya bunga: A kecambah benih, bibit tumbuh menjadi rapuh, dan akhirnya menjadi tanaman berbunga matang. Alam menyediakan program genetik yang terkandung pada anak-benih sekarang Anda tahu bahwa gen mempengaruhi warna mata Anda, tetapi apakah Anda juga tahu bahwa mereka memainkan peran dalam menentukan tinggi dan berat badan, tingkat kecerdasan Anda, dan kepribadian anda ?
    Nurture mengacu pada kondisi lingkungan dan yangm endukung pengembangan. tanaman membutuhkan sinar matahari, air, dan suhu yang tepat untuk tumbuh-dan dibantu bantu seseorang untuk menarik rumput liar di sekitarnya dan menambahkan pupuk. Anak-anak juga perlu dipupuk: mereka membutuhkan cinta dan dukungan dari orang tua, saudara, keluarga, guru, teman sebaya, dan orang lain, hal tersebut penting dalam hidup mereka. Anak-anak bisa sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang-orang membina mereka.
    unsur-unsur lain dari nurture termasuk ekonomi dan sosial budaya anak di suatu lingkungan. Kemiskinan, kekurangan gizi, dan kurangnya perawatan medis yang memadai dapat mengubah jalur perkembangan anak. warisan budaya dan keanekaragaman dapat memperkaya kehidupan anak, dan lingkungan tempat tinggal anak bisa menentukan sekolah dan kelompok sebaya
    Sepanjang sejarah , filsuf dan ilmuwan memperdebatkan peran relatif nature dan nurture. John Watson, seorang psikolog Amerika terkenal dari awal abad kedua puluh, adalah pendukung kuat nurture (pengasuhan melalui sekolah). Dia menulis:
    [G]ive me a dozen healthy infants, well formed, and my own specified world to bring them up and I’ll guarantee to take anyone at random and train him to become any type of specialist I might select—doctor, lawyer, artist, merchant-chief and, yes, even beggarman and thief, regardless of his talents, penchants, tendencies, abilities, vocations, and ancestors (1930/1924, p. 104).
    Watson berpendapat bahwa pengalaman dan pembelajaran-memelihara-menentukan anak-anak akan menjadi apa. Namun para peneliti lain tidak setuju, menunjukkan bahwa karakteristik seperti kepribadian lebih ditentukan oleh genetika (alam) daripada nurture. Hari ini, Namun, para ilmuwan perkembangan memahami bahwa alam (nature) dan memelihara (nurture) bekerja sama dan tidak mungkin untuk membedakan efek mereka (Lerner, 2006; Rutter, 2002). Daripada berdebat tentang mana yang paling penting, kami tertarik untuk belajar persis bagaimana dua faktor berinteraksi satu sama lain. efek interaksi alam (nature) dan memelihara (nurture) yang jelas dalam bidang genetika perilaku.
    Dalam genetika perilaku, studi penelitian untuk meneliti peran relatif alam (nature) dan memelihara (nurture) dalam perkembangan. Dengan mempelajari anak-anak kembar dan yang diadopsi, genetika perilaku telah dapat memperkirakan bahwa variabilitas dalam ciri-ciri psikologis dan perilaku, termasuk intelijen, emosionalitas, dan variabel kepribadian dasar, adalah sekitar 40% sampai 60% karena variabilitas warisan genetik. Sebagai contoh, para peneliti telah menunjukkan bahwa skor IQ kembar identik jauh lebih mirip daripada skor kembar fraternal (Bouchard & McGue, 1981). Karena kembar identik berasal dari telur dibuahi yang sama, gen mereka adalah salinan persis (memberi atau mengambil beberapa kesalahan dalam pembelahan sel). Namun, kembar fraternal berasal dari telur dibuahi terpisah, sehingga mereka tidak lebih mirip secara genetik dibandingkan saudara pasangan lainnya. Mengingat fakta bahwa baik kembar identik dan fraternal cenderung keluarga dan lingkungan belajar yang sama, para ilmuwan menyimpulkan bahwa atribut kesamaan yang lebih besar dalam IQ antara kembar identik lebih besar kesamaan genetik mereka.
    studi anak yang diadopsi juga menunjukkan komponen genetik yang kuat di IQ. Studi anak-anak yang diadopsi sebagai bayi muda telah menunjukkan bahwa IQ anak-anak di usia 18 lebih mirip dengan IQ ibu biologis mereka daripada IQ dari ibu angkat yang mengasuh mereka (Loehlin, Tanduk, & Willerman, 1994; Scarr , Weinberg, & Waldman, 1993).
    Dampak dari alam (nature) atau warisan genetik, sudah jelas bila anak-anak dilahirkan dengan kelainan genetik seperti sindrom Down atau cystic fibrosis. Penelitian juga telah menunjukkan hubungan genetik untuk kondisi seperti skizofrenia, depresi, dan berat obesitas . Peran memelihara (nurture), bagaimanapun, juga muncul dalam banyak studi yang sama. Sebagai contoh, mewarisi gen terkait dengan skizofrenia, depresi, atau obesitas tidak menjamin bahwa seseorang benar-benar akan berkembang kondisinya. Banyak orang yang mewarisi gen tidak mengembangkan kondisi. Pemeliharaan (nurture) pasti juga memiliki dampak pada sifat-sifat seperti IQ. skor IQ untuk kembar identik, misalnya, lebih mirip ketika si kembar tumbuh bersama-sama daripada ketika mereka dibesarkan dalam keluarga yang terpisah (Bouchard & McGue, 1981). Baik persaudaraan dan kembar identik menunjukkan pola yang serupa emosional keterikatan kepada orangtua mereka, menunjukkan bahwa pengalaman keluarga berbagi (membina) memainkan peran yang lebih besar daripada genetik (alam) dalam pola perkembangan (O’Connor & Croft, 2001). Daripada berdebat tentang apakah perkembangan dikontrol sepenuhnya oleh alam (nature) atau sepenuhnya oleh memelihara (nurture), berkat hasil penelitian perilaku genetika, kita sekarang mulai bisa memahami peran interaktif yang dimainkan oleh kedua faktor tersebut.
    Anak-anak dipengaruhi oleh alam (nature) dan memelihara (nurture), tetapi anak-anak juga perkembangannya dipengaruhi oleh mereka sendiri. Untuk beberapa hal, anak-anak bebas untuk membuat pilihan mereka sendiri, dan pilihan ini dapat memiliki konsekuensi untuk perkembangan. Ketika orang tua meminta anak untuk membersihkan kamar mereka, misalnya, anak-anak dapat memilih untuk taat atau tidak. pilihan mereka kemudian dapat mempengaruhi bagaimana orangtua mereka menanggapi mereka. Dan memikirkan pilihan anak-anak yang lebih besar membuatnya mereka tumbuh dewasa: apakah akan bertarung dengan pengganggu atau mencari resolusi damai, apakah akan mencoba minum alkohol \ raja atau tidak, apakah akan putus sekolah atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Pilihan seperti ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal oleh mendasar seperti kepribadian mewarisi anak (nature) dan dengan dukungan dan tekanan dalam hidup anak (membina), tetapi mereka juga sering dibuat oleh kebebasan anak sendiri untuk memilih pilihan yang berbeda .

    Sumber :
    http://kongkoh.blogspot.com/2011/04/peran-nature-dan-nurture-terhadap.html

    Suka

  36. Nama:Anila
    Nim: 11.20.1712
    Kelas:A

    NURTURE DAN NATURE DALAM PSIKOLINGUISTIK
    Nurture
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman
    Nature
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).
    Contoh Kasus Nature dan Nurture
    Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa manusia.
    1. Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102).

    Pada contoh yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.
    . Kesimpulan
    Pendekatan behaviorisme yang tidak mengindahkan keberadaan kemampuan yang dibawa sejak lahir untuk dapat memelajari bahasa dianggap terlalu dangkal karena hanya mengandalkan penelitian terhadap binatang dan secara sederhana menyamakan proses pemerolehan pengetahuan binatang dengan proses yang terjadi pada manusia.
    Dengan demikian tampak bahwa baik nature maupun nurture merupakan dua hal yang sama-sama penting karena yang satu mendukung keberadaan yang lain. Memiliki kemampuan bawaan sejak lahir untuk memelajari bahasa atau nature semata tidak banyak bermanfaat jika tidak ada nurture atau pengaruh dari lingkungan. Sebaliknya, tanpa nurture atau pengaruh dari lingkungan semata juga tidak akan berpengaruh jika manusia tidak dibekali dengan kemampuan pribadi untuk memeroleh bahasa. Namun tentunya kenyataan bahwa baik nature maupun nurture merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting dalam pemerolehan bahasa manusia sebaiknya memerlukan lebih banyak lagi pembuktian baik melalui penelitian maupun eksperimen terhadap manusia, khususnya terhadap bagaimana manusia memelajari bahasa yang merupakan salah satu ciri yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.

    Sumber:prasastie_multiply.com/journal/item/38

    Suka

  37. Nama : Farid Al Hafiz
    Nim : 11.20.1722
    Kelas : A (Keperawatan)
    Nature dan Nurture
    (A). Nature adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia melalui sifat Biologis Atau sifat Bawaan dari lahir.
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.
    (B). Nurture adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia Yang di akibat kan oleh pengaruh lingkungan.
    Nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.

    Sumber : http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/

    Suka

  38. Nama : Agus Akbar Nugraha
    Nim : 11.20.1705
    Kelas : A (Keperawatan)

    Nature dan Nurture
    (A). Nature adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia melalui sifat Biologis Atau sifat Bawaan dari lahir.
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.
    Memilih pola pengasuhan anak harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakter bawaan anak tersebut. Kita harus cermati apakah anak kita termasuk yang bisa duduk diam ataukah yang senang berlari-larian. Harus kita perhatikan juga apakah anak kita lebih suka mendengarkan cerita atau lebih suka membaca dan melihat-lihat gambar. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih pola pengasuhan yang cocok untuk mereka.

    (B). Nurture adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia Yang di akibat kan oleh pengaruh lingkungan.
    Nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.
    Berdasarkan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi bila kita ingin merubah perilaku anak hal pertama yang harus kita cermati adalah cara kita mendidik dan menyampaikan sesuatu kepada anak. Terkadang bukan si anak yang tidak mau berubah tetapi karena data pengalaman dan nilai yang masih terbatas membuat anak salah mengambil keputusan. Misalnya anak mungkin berpikir main playstation lebih menyenangkan daripada membersihkan kamar. Untuk itulah pola pengasuhan anak dengan sistem tekanan dan ancaman menjadi tidak efektif lagi.

    Mendidik anak sebenarnya tak sesulit yang kita bayangkan, namun juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Satu hal yang membuat pendidikan menjadi mudah, karena kunci utamanya ternyata hanyalah keteladanan; namun hal itu menjadi sulit, karena menjadi teladan berarti berjuang untuk mengubah kebiasaan

    Sumber : http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/

    Suka

  39. Nama : Muhammad Febriyani
    Nim : 11.20.1738
    Kelas : A (Keperawatan)

    Nature dan Nurture
    (A). Nature adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia melalui sifat Biologis Atau sifat Bawaan dari lahir.
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.

    (B). Nurture adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia Yang di akibat kan oleh pengaruh lingkungan.
    Nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.
    Bayangkan ketika kita sedang merasa kesal pada anak-anak saat mereka membuat gaduh. Wajah kita berubah kusut, suara kita menjadi sedikit tegang, dan mungkin meledak jika tak sempat terkontrol. Lalu apa yang mungkin dipikirkan anak-anak tentang kita dengan sikap tersebut? Yakinlah mereka pun akan merasakan ketidaknyamanan itu secara otomatis.
    Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut.
    Untuk itu kita sebagai orang harus pandai memilih kata dan ekspresi yang tepat agar berpengaruh baik terhadap anak-anak.
    Seorang ahli pendidikan bertanya kepada beberapa orang ibu, “Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suami anda, tiba-tiba telepon berdering, anak menangis, dan roti bakar menjadi hangus. Lalu suami anda berkomentar,”Kapan kamu belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?” Bagaimana reaksi Anda” Ibu itu menjawab,”saya rasa saya akan menangis dan kecewa” Ibu yang lain menjawab,”Langsung saya lempar roti itu kepadanya”.
    Kemudian ahli pendidikan itu melanjutkan pertanyaannya,”Katakanlah bahwa roti itu memang hangus, tetapi suami anda mengatakan kepada Anda,”Tampaknya kamu lelah ya pagi ini?” Bagaimana reaksi Anda?” Beberapa orang ibu itu menjawab serempak,”Saya akan merasa senang dan bahagia”.
    Ahli pendidikan itu melanjutkan, “Seandainya suami anda berkata,”Ayo, saya ajari kamu membakar roti” Apa reaksi anda?” Ibu-ibu itu menjawab,”Saya tidak akan suka dengan reaksi suami saya itu karena itu berarti ia menganggap saya bodoh.”
    Ahli pendidikan itu melanjutkan,”Bagaimana kalau yang dilakukan oleh suami anda itu anda lakukan kepada anak anda?”
    Sekarang kita mengerti bahwa anak-anak kita tidak suka dengan kritik yang tidak pada tempatnya dan terus diulang-ulang atau bila kita terlalu mendikte mereka seolah mereka adalah makhluk terdungu di dunia.
    Apapun kondisi Nature dan Nurture seorang anak yang dibutuhkan seorang anak diatas segalanya adalah pengertian dan empati.

    Sumber : http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/

    Suka

  40. Nama: Muhamad Aris Norreza
    NIM: 11.201735
    Kelas: (A) semester 3

    Nature Dan Nurture

    Sifat bawaan anak sejak lahir kita kenal sebagai Nature sedangkan sifat anak yang terjadi akibat pengaruh lingkungan kita kenal sebagai Nurture. Kedua hal ini berpengaruh dengan seimbang pada anak.
    A.NATURE
    Faktor nature (faktor alami atau fitrah) bersifat potensial yang mengandung pengertian bahwa setiap manusia memiliki kecendrungan (fitrah) untuk mencintai kebaikan, namun belum termanifestasikan ketikaanakterlahir.
    B.NURTURE
    Faktor nurture (pendidikan dan lingkungan) bersifat aktual. Fitrah yang ada pada manusia tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pendidikan (Megawangi, 2004).

    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.

    Memilih pola pengasuhan anak harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakter bawaan anak tersebut. Kita harus cermati apakah anak kita termasuk yang bisa duduk diam ataukah yang senang berlari-larian. Harus kita perhatikan juga apakah anak kita lebih suka mendengarkan cerita atau lebih suka membaca dan melihat-lihat gambar. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih pola pengasuhan yang cocok untuk mereka.

    Sedangkan nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.

    Berdasarkan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi bila kita ingin merubah perilaku anak hal pertama yang harus kita cermati adalah cara kita mendidik dan menyampaikan sesuatu kepada anak. Terkadang bukan si anak yang tidak mau berubah tetapi karena data pengalaman dan nilai yang masih terbatas membuat anak salah mengambil keputusan. Misalnya anak mungkin berpikir main playstation lebih menyenangkan daripada membersihkan kamar. Untuk itulah pola pengasuhan anak dengan sistem tekanan dan ancaman menjadi tidak efektif lagi.

    Selain itu hal penting lain dalam mendidik anak adalah persepsi kita terhadap anak-anak. Persepsi kita terhadap anak-anak berpengaruh terhadap cara kita memperlakukan mereka dan cara kita berbicara atau bersikap terhadap mereka, dan hal itu pun akan menular pada anak-anak tanpa kita sadar

    Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut.
    Untuk itu kita sebagai orang harus pandai memilih kata dan ekspresi yang tepat agar berpengaruh baik terhadap anak-anak.

    Sumber: http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci- merubah-sifat-anak/

    Suka

  41. Nama : Ahmad Rizky Djamaludin
    Nim : 11.20.1703
    Kelas : A (Keperawatan)

    Nature dan Nurture
    (A). Nature adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia melalui sifat Biologis Atau sifat Bawaan dari lahir.
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.
    Nature merujuk pada kekuatan biologis yang mengatur perkembangan. Sampai batas tertentu perkembangan kita diprogram oleh kode genetik yang kita warisi. Program biologi terbentang sepanjang masa. Dalam beberapa hal, perkembangan anak dapat dibandingkan dengan berseminya bunga: A kecambah benih, bibit tumbuh menjadi rapuh, dan akhirnya menjadi tanaman berbunga matang. Alam menyediakan program genetik yang terkandung pada anak-benih sekarang Anda tahu bahwa gen mempengaruhi warna mata Anda, tetapi apakah Anda juga tahu bahwa mereka memainkan peran dalam menentukan tinggi dan berat badan, tingkat kecerdasan Anda, dan kepribadian anda ?

    (B). Nurture adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia Yang di akibat kan oleh pengaruh lingkungan.
    Nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.
    Issue nurture mengatakan bahwa perilaku ditentukan oleh lingkungan. Nurture melibatkan social influence dan significant other yaitu pengaruh individu-individu lain yang berada di lingkungan tersebut. Apabila nature dan nurture saling mempengaruhi, maka akan terjadi proses learning/belajar yaitu proses dimana manusia beradaptasi dengan lingkungan yang sifatnya dinamis. Proses belajar meliputi knowledge, skill, attitude,dan personality. Cara untuk mengukur perilaku yang paling mudah adalah dengan metode observasi.

    Sumber :
    http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/
    http://kongkoh.blogspot.com/2011/04/peran-nature-dan-nurture-terhadap.html
    http://dwandastri.blogspot.com/2012/03/about-psychodiagnostic.html

    Suka

  42. Nama : M. hendra
    Nim : 11.20.1739
    Kelas : A (Keperawatan)

    Nature dan Nurture
    (A). Nature adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia melalui sifat Biologis Atau sifat Bawaan dari lahir.
    Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.

    (B). Nurture adalah Merupakan pembentukan perilaku manusia Yang di akibat kan oleh pengaruh lingkungan.
    Nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.

    Lalu, mana yang lebih berpengaruh dalam perkembangannya?
    Dr. Donald Hebb, seorang pakar psikologi dari Kanada pernah menjawab pertanyaan para wartawan yang bertanya manakah yang lebih penting antara nature dan nurture. Dia pun menjawab, “Which contributes more to the area of a rectangle, its length or its width? “.
    Mari kita renungkan jawaban tersebut. Bila kita mengambar sebuah bangun datar persegi, anggap saja panjangnya adalah nature, sedangkan lebarnya adalah nurture. Bila kita menghapus salah satunya, maka gambar tersebut tidak bisa kita sebut sebagai persegi. Kemudian, jika kita membuat salah satunya lebih panjang dari yang lain, maka gambar tersebut juga tidak dapat kita sebut sebagai persegi. Seperti itulah pengaruh nature dan nurture dalam perkembangan manusia. Keduanya saling terkait dan memiliki pengaruh yang sama besar dalam pembentukan karakter dan sikap seseorang.Sekian Terima Kasih

    Sumber :
    http://genealogy.about.com/cs/geneticgenealogy/a/nature_nurture.htm
    http://en.wikipedia.org/wiki/Nature_versus_nurture
    http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-man

    Sumber :
    http://umikartikawati.wordpress.com/2009/02/27/memahami-nature-dan-nurture-kunci-merubah-sifat-anak/

    Suka

  43. Nama : Ahmad Shaufi Fahrizal
    NIM : 11.20.1702
    Prodi : Ilmu keperawatan
    Semester/ Kelas : III A

    “Substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE”

    Sebelum kita membahas masalah subtansi proses pembentukan perilaku manusia secara Nature dan Nuture, kita perlu mengetahui bagaimana psikologi sekarang ini tersebar di masyarakat, mereka berpandangan salah tentang psikologi. Karena banyak ulasan tentang masalah psikologi tetapi tidak ilmiah dan tidak tepat, serta praktek perdukunan yang dilakukan oleh kalangan yang “sok” psikologis yang menggunakan istilah psikologi. Pemahaman awam, informasi dari media, dan pengalaman pribadi bukanlah satu-satunya sumber kesalahpahaman akan perilaku manusia. Psikologi memiliki banyak pesaing yang tidak ilmiah, seperti “ilmu-ilmu” palmistri, grafologi, ramalan nasib, numerologi, dan yang paling populer, astrologi (Wade & Tavris, 2007). Para psikolog berusaha menjelaskan berbagai persoalan manusia dan meramalkan perilaku manusia. Sebelum kita memperoleh gambaran yang lebih jelas bagaimana psikologi itu kita harus tahu apa psikologi itu??
    Psikologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu psyche artinya “jiwa” dan logos artinya “ilmu atau ilmu pengetahuan”. Menurut istilah psikologi berarti ilmu tentang jiwa (Azhari, 2004). Pada dasarnya psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku. Objek yang difokoskan dalam psikologi adalah manusia. Telah bertahun-tahun para psikolog menggeluti masalah perbedaan antarmanusia dan mereka terpecah menjadi dua kubu. Kubu yang pertama yaitu nativist, adalah pihak yang menekankan pada gen dan karakteristik dasar (yang ada sejak lahir) atau nature. Kubu yang lain adalah golongan empiricist yang lebih menitikberatkan proses belajar dan pengalaman, yang disebut nurture.
    Nature dan nurture merupakan sebuah pembahasan yang banyak diperdebatkan dalam psikologi. Nature dapat kita artikan sebagai kekuatan biologis yang mengatur perkembangan. Sedangkan nurture mengacu pada kondisi lingkungan dan yang mendukung pengembangan. Faktor-faktor nurture yang mempengaruhi perkembangan manusia bisa berasal dari lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan faktor ekonomi dan budaya pun juga termasuk kedalamnya. Keduanya saling terkait dan memiliki pengaruh yang sama besar dalam pembentukan karakter dan sikap seseorang.

    Edward L. Thorndike (1903), salah seorang psikolog terkemuka pada tahun 1900-an memihak kubu pertama ketika ia membuat pernyataan bahwa “Dalam kehidupan manusia, faktor yang paling menentukan adalah hereditas”. Akan tetapi, peneliti yang sezaman dengannya, yaitu John B. Watson (1925), seorang tokoh behavioris dalam ungkapannya yang sangat terkenal, menyatakan bahwa pengalaman mampu menuliskan segala pesan pada tabula rasa-lembaran putih bersih-sifat dasar manusia.
    Konstribusi nature dan nurture membentuk kesamaan maupun perbedaan antarmanusia. Penelitian dalam genetika perilaku (behavioral genetic) berupaya mengungkap konstribusi dari hereditas (faktor keturunan) dan faktor lingkungan untuk menjelaskan perbedaan individual dalam karakteristik manusia. Kini hampir tidak ada lagi yang orang yang memperdebatkan masalah nature dan nurture. Sebagaimana pernah ditulis oleh seorang ilmuwan, “Perdebatan tentang nature dan nurture telah selesai”[1]. Hampir semua psikolog dewasa ini memahami bahwa pembawaan hasil keturunan dan lingkungan selalu berinteraksi dan menghasilkan bukan hanya sifat-sifat psikologis, namun juga sebagian besar ciri-ciri fisik. Pertama, gen mempunyai dampak bagi pengalaman kita. Di sisi lain, pengalaman memengaruhi gen. Tekanan stres, pola makan, emosi, dan perubahan hormon dapat memengaruhi gen yang aktif maupun yang tidak aktif pada saat-saat tertentu selama hidup seseorang.
    Pentingnya perbandingan hereditas dan lingkungan adalah persoalan besar di antara para psikolog dan masyarakat umum. Saat ini telah jelas bahwa walaupun beberapa gangguan fisik langka 100 persen adalah keturunan, kecenderungan untuk kebanyakan kondisi normal merupakan hasil kekuatan herediter dan lingkungan yang kompleks.
    nature berasal dari genetik, bawaan sejak lahir, sedangkan nurture adalah hasil interaksi manusia dengan lingkungannya. Interaksi antara nature dan nurture yang membentuk perilaku manusia, menghasilkan sebuah pembelajaran. Sebagian besar perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Untuk melihat pengaruh nurture terhadap perilaku, ada tahapan yang pertama kali muncul adalah sikap. Komponen dari sikap adalah kognitif, afeksi dan perilaku. Ilmu psikologi dapat mengukur motif dari perilaku individu. Dalam psikologi dari perilaku individu yang dapat diukur adalah knowledge dan skill, sikap kerja (attitude), dan personality. Knowledge dan skill dapat dilihat melalui IQ (yang dilihat adalah kapasitas individu tersebut).
    Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis – lalu dikenal dengan penjelasan “nature” – dan (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka – dikenal dengan penjelasan “nurture”. Penjelasan “nature” dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif).
    Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James,a seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan – yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan “nurture explanation”. Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.
    Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial – seperangkat asumsi dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu : perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).
    Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan jawaban yang berbeda atas sebuah pertanyaan : “Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?”. Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang.
    Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang.
    Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah : ” Sejauhmana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?”. Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat mengharapkan agar yang namanya mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa ? Karena masyarakat mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai “seorang ayah”. Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya untuk membentuk interaksi dan harapannya.

    Sumber yang didapat :
    *http://syamsiahcb.blogspot.com/2012/11/substansi-proses-pembentukan-perilaku.html
    *http://en.wikipedia.org/wiki/Nature_versus_nurture
    *http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-
    *http://oktaviavivi.blogspot.com/2012/03/psikodiagnostik.html
    *Theories of Social Psychology – Marvin E. Shaw / Philip R. Costanzo, Second Edition, 1985, McGraw-Hill, Inc.
    *Thinking Sociologically, Sheldon Goldenberg, 1987, Wadsworth, Inc.
    *Social Psychology, James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, James Vander Zanden, Fifth Edition, 1994, McGraw-Hill, Inc.
    *Sociology, Concepts and Uses , Jonathan H. Tuner, 1994. McGraw-Hill Inc

    Suka

  44. Nama : Rendy Lesmana
    NIM: 11.20.1758
    Kelas: A

    Proses terbentuknya perilaku manusia secara Nature dan Nurture

    Nature dapat kita artikan sebagai kekuatan biologis yang mengatur perkembangan.

    Sedangkan nurture mengacu pada kondisi lingkungan dan yang mendukung pengembangan.

    Kedua hal tersebut, sebenarnya saling terkait. Ini akan Nampak jelas bila kita mengamati perkembangan seorang anak. Dalam tubuhnya, terdapat berbagai macam sensory (nature), diantaranya sensory system, sensory neuron, sensory receptor, sensory perception, dan sensory ecology. Di sisi lain, lingkungan semasa perkembangan anak menyediakan rangsangan-rangsangan terhadap sensory tersebut, baik berdasarkan suatu desain tertentu maupun alami (nurture). Maka disinilah arti dan peran penting bagaimana rangsangan-rangsangan yang tepat untuk mengembangkan ketiga faktor penting yang menyangkut perkembangan anak, yaitu afectif, Intelektual, dan psikomotor. Hendak menuju kemana arah perkembangan anak atau hendak berwujud seperti apa perkembangan anak selanjutnya sangat tergantung kepada bagaimana rangsangan-rangsangan tersebut didesain dan muncul secara alami dalam interaksi yang alami pula. Kedua desain rangsangan sensori tersebut akan selalu menyertai perkembangan anak sejak lahir hingga dewasa, mulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan masyarakat.
    Mari kita renungkan jawaban tersebut. Bila kita mengambar sebuah bangun datar persegi, anggap saja panjangnya adalah nature, sedangkan lebarnya adalah nurture. Bila kita menghapus salah satunya, maka gambar tersebut tidak bisa kita sebut sebagai persegi. Kemudian, jika kita membuat salah satunya lebih panjang dari yang lain, maka gambar tersebut juga tidak dapat kita sebut sebagai persegi. Seperti itulah pengaruh nature dan nurture dalam perkembangan manusia. Keduanya saling terkait dan memiliki pengaruh yang sama besar dalam pembentukan karakter dan sikap seseorang.

    Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/#ixzz2BogVEsJm

    Suka

  45. nama : elvina sari
    Nim:11.20.1719
    kelas :A

    substansi proses terbentuknya perilaku manusia
    secara NATURE dan NURTURE

    Nature :
    Sifat sifat yang di turunkan semenjak di dalam kandungan ibu,yang di bawa oleh gen yang spesifik yang telah di kodekan pada DNA di dalam individu setiap orang sampai pada batas tertentu,tanpa adanya peran ikut serta dari orang lain. Nature merupakan sifat yang alami yang di miliki oleh setiap individu namun berbeda tingkatan kemampuan dari setiap individu.contohnya seperti : kecerdasan, kepribadian, agresi, dan orientasi seksual. Dan beberapa ahli filosofi seperti Plato dan Descrates berpendapat bahwa ada beberapa hal yang telah manusia miliki sejak dia lahir,terjadi begitu saja, tanpa campur tangan dari lingkungan di sekitanya.

    Nurture :
    Dalam aspek proses terbentuknya perilaku manusia secara Nurture peran dari lingkungan mempunyai pengaruh yang sagat besar terhadap peruses terbentuknya sifat sifat individu seseorang.
    Dari lingkungan seseorang mendapatkan pembelajaran dan pengalaman.faktor – faktor nurture yang mempengaruhi terbentuknya individu seseorang dari lingkungan antara lain :
    1. Keluarga.
    2. Masyarakat.
    3. Ekonomi dan Budaya

    1. Seorang psikolog Amerika John Watson, paling dikenal karena eksperimen kontroversial dengan yatim piatu muda bernama Albert, menunjukkan bahwa akuisisi fobia dapat dijelaskan dengan pengkondisian klasik. Sebuah pendukung kuat dari pembelajaran lingkungan, ia berkata: Beri aku selusin bayi sehat, baik terbentuk, dan saya sendiri dunia ditentukan untuk membawa mereka di dan saya akan menjamin untuk mengambil salah satu secara acak dan melatihnya untuk menjadi semua jenis spesialis aku mungkin memilih … terlepas dari bakatnya, penchants, kecenderungan, kemampuan, panggilan dan ras dari nenek moyangnya.

    2. Sebuah penelitian di New Scientist menunjukkan bahwa sense of humor adalah sifat dipelajari, dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan budaya, dan tidak ditentukan secara genetis
    Terlihat di atas yang dikatakan oleh jhon Watson,ia bisa mengubah seseorang hanya dengan faktor – faktor dari lingkungannya dan membentuk karakter seseorang berdasarkan apa yang individu itu pelajari serta pengalaman yang didapatnya disekitar individu tersebut,yang ia dapat dari keluarga,masyarakat,ekonomi dan budaya, tidak ditentukan secara genetis. Jika lingkungan tidak berperan dalam menentukan sifat individu dan perilaku, maka kembar identik harus, secara teoritis, akan persis sama dalam segala hal, bahkan jika dibesarkan terpisah. Tapi sejumlah studi menunjukkan bahwa mereka tidak pernah persis sama, meskipun mereka sangat mirip dalam banyak hal.

    Lalu, mana yang lebih berpengaruh dalam perkembangannya?
    Dr. Donald Hebb, seorang pakar psikologi dari Kanada pernah menjawab pertanyaan para wartawan yang bertanya manakah yang lebih penting antara nature dan nurture. Dia pun menjawab, “Which contributes more to the area of a rectangle, its length or its width? “.
    Mari kita renungkan jawaban tersebut. Bila kita mengambar sebuah bangun datar persegi, anggap saja panjangnya adalah nature, sedangkan lebarnya adalah nurture. Bila kita menghapus salah satunya, maka gambar tersebut tidak bisa kita sebut sebagai persegi. Kemudian, jika kita membuat salah satunya lebih panjang dari yang lain, maka gambar tersebut juga tidak dapat kita sebut sebagai persegi. Seperti itulah pengaruh nature dan nurture dalam perkembangan manusia. Keduanya saling terkait dan memiliki pengaruh yang sama besar dalam pembentukan karakter dan sikap seseorang.

    Sumber :
    http://genealogy.about.com/cs/geneticgenealogy/a/nature_nurture.htm
    http://en.wikipedia.org/wiki/Nature_versus_nurture
    http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/#ixzz2BnGiVBuhn

    Suka

  46. Nama : Rendra Riduan
    NIM : 11.20.1757
    Kelas : A ( Keperawatan )

    1. substansi proses terbentuknya perilaku manusia secara NATURE dan NURTURE

    Setiap anak manusia lahir dalam suatu lingkungan alam tertentu (nature) sedangkan lingkungan yang secara apriori menentukan proses pengasuhannya (nurture)

    Dalam pengembangannya sebagai anak manusia, dalam proses pembelajaran, sehingga dalam kenyataan, kebudayaan cenderung mengulang-ulang perilaku tertentu melalui pola asuh dan proses belajar yang kemudian memunculkan adanya kepribadian rata-rata, atau stereotipe perilaku yang merupakan ciri khas dan masyarakat tertentu yang mencerminkan kepribadian modal dalam lingkungan tersebut, dari pemahaman ini kemudian muncul stereotipe perilaku pada sekelompok individu pada masyarakat tertentu.

    Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

    Pada prinsipnya, perilaku manusia senantiasa dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya. Pola-pola tindakan juga sangat dipengaruhi oleh alam lingkungan yang dijadikannya sebagai tempat belajar mengenai apa yang baik ataupun tidak baik sebagaimana yang terkonstruk dalam sistem budayanya.

    2. link : http://id.scribd.com/doc/89383645/BAB-II

    Suka

  47. Nurture

    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan (Brown, 2000:22).

    Selanjutnya Bell (1981:24) mengungkapkan pandangan aliran behaviorisme yang dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimanakah sesungguhnya manusia memelajari bahasa, yaitu:

    1. Dalam upaya menemukan penjelasan atas proses pembelajaran manusia, hendaknya para ahli psikologi memiliki pandangan bahwa hal-hal yang dapat diamati saja yang akan dijelaskan, sedangkan hal-hal yang tidak dapat diamati hendaknya tidak diberikan penjelasan maupun membentuk bagian dari penjelasan.

    2. Pembelajaran itu terdiri dari pemerolehan kebiasaan, yang diawali dengan peniruan.

    3. Respon yang dianggap baik menghasilkan imbalan yang baik pula.

    4. Kebiasaan diperkuat dengan cara mengulang-ulang stimuli dengan begitu sering sehingga respon yang diberikan pun menjadi sesuatu yang bersifat otomatis.

    2.2 Nature

    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).

    a. Noam Chomsky

    Sebagai wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2003:235-236).

    Skinner dipandang terlalu menyederhanakan masalah ketika ia menyama-ratakan proses pemerolehan pengetahuan manusia dengan proses pemerolehan pengetahuan binatang, yaitu tikus dan burung dara yang digunakan sebagai subyek dalam eksperimennya, karena menurut pendekatan nativis, bahasa bagi manusia merupakan fenomena sosial dan bukti keberadaan manusia (Pateda, 1991:102). Selain itu ada pula alasan lain mengapa pendekatan nativis merasa tidak setuju terhadap teori Skinner. Alasan tersebut berhubungan dengan bahasa itu sendiri, yaitu menurut para nativis bahasa merupakan sesuatu yang hanya dimiliki manusia sebab bahasa merupakan sistem yang memiliki peraturan tertentu, kreatif dan tergantung pada struktur (Dardjowidjojo, 2003:236). Masih dalam kaitannya dengan bahasa, karena tingkat kerumitan bahasa pula, maka kaum nativis berpendapat bahasa merupakan suatu aktivitas mental dan sebaiknya tidak dianggap sebagai aktivitas fisik, inilah sebabnya mengapa pendekatan nativis disebut juga dengan pendekatan mentalistik (Pateda, 1991:101).

    b. Derek Bickerton

    Pendukung lain dari proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah Derek Bickerton (Brown, 2000:35). Ia melakukan sejumlah penelitian mengenai bekal yang dibawa manusia sejak lahir (innateness) dan mendapatkan beberapa bukti yang cukup signifikan. Bukti-bukti tersebut mengungkapkan bahwa manusia itu sesungguhnya telah “terprogram secara biologis” untuk beralih dari satu tahap kebahasaan ke tahap kebahasaan berikutnya dan bahwa manusia terprogram sejak lahir untuk menghasilkan sifat-sifat kebahasaan tertentu pada usia perkembangan yang tertentu pula (Brown, 2000:35). Dengan demikian pemerolehan bahasa tidak ditentukan oleh proses kondisi yang diberikan pada anak namun ditentukan oleh proses yang berjalan dengan sendirinya sejak anak lahir ke dunia seiring dengan kematangan pengetahuan bahasa dan usia anak tersebut.

    2.3 Contoh Kasus Nature dan Nurture

    Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa manusia.

    1. Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102).

    2. Di sebuah desa di Perancis, pada tahun 1800, ditemukan anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang tinggal di hutan dan sering menyusup ke desa untuk mencari makan. Ketika tertangkap dan dididik oleh direktur Institut Tuna Rungu yaitu Dr. Sicard, anak tersebut tidak dapat berbicara seperti manusia lain. Kemudian ia dididik oleh ahli lain, Jean-Marc-Gaspard Itard. Dibawah asuhan dan didikan yang baru ini, pola laku kehidupan Victor, nama yang diberikan pada anak laki-laki tersebut, dapat berubah namun tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:236-237).

    3. Di Los Angeles, pada tahun 1970, ditemukan seorang anak perempuan yang disekap oleh orang tuanya di gudang belakang rumahnya. Selama 13 tahun ia tinggal dan sering disiksa ayahnya di dalam gudang tersebut, dan hanya diberi makan namun tidak pernah diajak berbicara oleh orang tuanya. Setelah diselamatkan, anak perempuan tersebut diberi nama Ginie kemudian dilatih agar dapat berbahasa selama 8 tahun, namun ternyata sama halnya dengan Victor pada kasus sebelumnya, ia tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:237).

    4. Di Ohio, seorang anak perempuan berusia 6,5 tahun, yaitu Isabelle, diasuh oleh ibunya yang tuna wicara. Ia kemudian diasuh oleh Marie Mason, seorang pimpinan rumah sakit, dengan cara yang normal, dan ternyata Isabelle mampu menggunakan bahasa seperti anak-anak normal lainnya (Dardjowidjojo, 2003:237).

    Pada contoh kasus pertama yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.

    Sedangkan pada contoh kasus kedua dan ketiga, meskipun Victor dan Isabelle juga memiliki kemampuan bawaan untuk menguasai bahasa atau nature, namun karena tidak adanya pengaruh dari lingkungan semenjak mereka dilahirkan atau nurture, Victor tinggal di hutan dan Ginie yang meskipun tinggal dengan orangtuanya sendiri namun hanya disiksa dan tidak pernah diajak bicara, maka usaha yang diupayakan ketika mereka telah berusia lebih dari 10 tahun agar kedua anak tersebut dapat menggunakan bahasa menjadi sia-sia belaka.

    Untuk kasus keempat, yaitu Isabelle, proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture yang diberikan di usia yang tergolong lebih muda daripada Victor dan Ginie, yaitu 6,5 tahun, ternyata memberikan bantuan yang cukup besar terhadap kemampuan bawaannya atau nature sehingga ia mampu menggunakan bahasa. Dengan demikian tampak bahwa antara sifat pemerolehan bahasa nature dan nurture ternyata yang satu tidaklah lebih penting dari yang lain karena tanpa satu sama lain, pemerolehan bahasa tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat menemui kegagalan.

    DAFTAR PUSTAKA
    Bell, Roger T. 1981. An Introduction to Applied Linguistics. London: B.T. Batsford, Ltd.

    Brown, H. Douglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching. New York: Addison Wesley Longman, Inc.

    Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

    Lyons, John. 1977. Semantics. Cambridge University Press.

    Pateda, Mansoer. 1991. Linguistik Terapan. Flores: Penerbit Nusa Indah.

    Suka

  48. Nama : Heldianto
    Nim : 11.20.1727
    Prodi : Keperawatan
    Mk : Etika Keperawatan
    Email : heldiantolovejesus@gmail.com

    Nature dan Nurture.

    Seperti halnya tingkah laku manusia dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor pengalaman (lingkungan), pemerolehan bahasa juga dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan faktor alam sekitar (nurture). Oleh karena itu, semua jenis usaha membina pemerolehan bahasa harus memperhatikan kedua unsur yang saling melengkapi tersebut.

    Sejak dini bayi telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Seorang ibu seringkali memberi kesempatan kepada bayi untuk ikut dalam komunikasi sosial dengannya. Kala itulah bayi kali pertama mengenal sosialisasi bahwa dunia ini adalah tempat orang saling berbagi rasa.

    Sistem pikiran yang terdapat pada anak-anak dibangun sedikit demi sedikit apabila ada rangsangan dunia sekitarnya sebagai masukan atau input (yaitu apa yang dilihat, didengar, dan yang disentuh anak yang menggambarkan benda, peristiwa dan keadaan sekitar yang mereka alami). Lama kelamaan pikirannya akan terbentuk dengan sempurna. Setelah itu sistem bahasanya lengkap dengan perbendaharaan kata dan tata bahasanya pun terbentuk.

    Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orangtua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tindakan. Pada tahap satu kata anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang dijumpai. Kata-kata yang pertama diperoleh anak tahap ini lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemerian.

    Walaupun perkembangan bahasa setiap anak sangat unik, namun ada persamaan umum pada anak-anak, ada persesuaian satu sama lain semua mencakup eksistensi, noneksistensi, rekurensi, atribut objek dan asosiasi objek dengan orang. Sekian dan Terima kasih

    Sumber. http://id.wordpress.com/tag/

    Suka

  49. Nama : I Gede warta Kusuma
    Nim : 11.20.1728
    Kelas : A

    PEMEROLEHAN BAHASA YANG BERSIFAT NATURE DAN NURTURE

    NARTURE
    Nature merupakan contoh perilaku alami yang di alami oleh one person atau diri sendiri. Tetapi, mempunyai kesamaan dari mimik muka.
    Contoh : sedih dan senang itu merupakan sifat yang bisa di rasakan oleh semua orang tapi dari mimik muka tidak mungkin berbeda.
    Pada bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang seorang ahli, yaitu Derek Bickerton. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia (Brown, 2000:34).

    NURTURE
    2. Nurture merupakan contoh perilaku dari pengalaman bisa dari keluarga,teman,lingkungan Dan sebagainya jika pada bagian ini gagal dalam membentuk pengalaman maka perilakunya akan menyimpang. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34).
    Contoh Kasus Nature dan Nurture
    Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102).

    KESIMPULAN
    Pada contoh kasus di atas yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.

    http://prasastie.multiply.com/journal/item/38?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
    http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/

    Suka

  50. Nama : Agustina Ariyanty
    Nim :11.20. 1710
    Kelas :A

    Nurture
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture dari sudut pandang beberapa ahli yaitu Ivan Pavlov, John B. Watson dan B.F. Skinner. Pada intinya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture adalah bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian (Brown, 2000:34). Anak-anak memberikan respon kebahasaan melalui pemberian stimuli yang terus diperkuat dan mereka belajar memahami ujaran dengan cara memberikan respon terhadap ujaran tersebut dan dengan cara mendapat penguatan atas respon yang diberikannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli behaviorisme yang sangat meyakini bahwa anak-anak hadir di dunia disertai dengan sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis yang bersih tanpa ada pemahaman sebelumnya atas dunia maupun atas bahasa, dan bahwa anak-anak tersebut kemudian dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jada.
    Ivan Pavlov adalah seorang ahli psikologi dari Rusia yang melaksanakan serangkaian eksperimen yang kemudian terkenal dengan sebutan classical conditioning. Dalam eksperimennya tersebut Pavlov menggunakan anjing sebagai subyek. Pavlov kemudian memeroleh kesimpulan bahwa stimuli netral awal yang berupa suara dari garpu yang dibunyikan menghasilkan kekuatan yang mendatangkan respon yang berupa pengeluaran air liur anjing yang pada mulanya dihasilkan dari stimuli lain yaitu penglihatan atau bau makanan anjing. Dengan demikian maka Pavlov telah membuktikan bahwa proses belajar itu terdiri dari pembentukan beragam asosiasi antara stimuli dan respon refleksif.

    Nature
    Bagian ini membahas proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature dari sudut pandang beberapa ahli, yaitu Noam Chomsky, Derek Bickerton dan David McNeill. Pada dasarnya yang dimaksud dengan proses pemerolehan bahasa yang bersifat nature adalah bahwa proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh pengetahuan yang dibawa sejak lahir dan bahwa properti bawaan tersebut bersifat universal karena dialami atau dimiliki oleh semua manusia.
    Sebagai wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka.

    Suka

  51. Nama : Andri Iriawan
    Nim : 11.20.1711
    smtr/klas : 3/A

    Apa yang Nature vs Nurture?

    Telah dilaporkan bahwa penggunaan “alam” dan istilah “memelihara” sebagai frase menangkap-nyaman untuk peran keturunan dan lingkungan dalam pembangunan manusia dapat ditelusuri kembali ke Prancis abad ke-13. Beberapa ilmuwan berpikir bahwa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan sesuai dengan kecenderungan genetik atau bahkan “insting hewani.” Hal ini dikenal sebagai teori “alam” perilaku manusia. Ilmuwan lain percaya bahwa orang berpikir dan berperilaku dengan cara tertentu karena mereka diajarkan untuk melakukannya. Hal ini dikenal sebagai teori “memelihara” perilaku manusia.

    Cepat tumbuh pemahaman dari genom manusia baru-baru ini membuat jelas bahwa kedua belah pihak sebagian benar. Alam endows kita dengan kemampuan bawaan dan sifat-sifat, memelihara mengambil kecenderungan genetik dan cetakan mereka seperti yang kita belajar dan menjadi dewasa. Akhir cerita, kan? Nope. The “alam vs memelihara” debat masih mengamuk pada, sebagai ilmuwan berebut berapa banyak yang kita dibentuk oleh gen dan berapa banyak oleh lingkungan.

    Teori Alam – Keturunan

    Para ilmuwan telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa sifat-sifat seperti warna mata dan warna rambut yang ditentukan oleh gen spesifik dikodekan dalam setiap sel manusia. Teori Alam mengambil hal-hal langkah lebih lanjut untuk mengatakan bahwa sifat-sifat lebih abstrak seperti kecerdasan, kepribadian, agresi, dan orientasi seksual juga dikodekan dalam DNA individu.
    Pencarian untuk “perilaku” gen adalah sumber perdebatan terus-menerus. Takut bahwa argumen genetik dapat digunakan untuk memaafkan tindak pidana atau membenarkan perceraian banyak.
    Masalah yang paling diperdebatkan berkaitan dengan teori alam adalah exsistence dari “gen gay,” menunjuk ke sebuah komponen genetik untuk orientasi seksual.

    Sebuah April 1998 artikel di Majalah HIDUP, “Apakah Anda Lahir Bahwa Way” oleh George Howe Colt, mengklaim bahwa “studi baru menunjukkan hal itu terutama di gen Anda.”

    Jika genetika tidak berperan, maka kembar fraternal, dibesarkan di bawah kondisi yang sama, akan sama, terlepas dari perbedaan dalam gen mereka. Tapi, sementara studi menunjukkan mereka lebih mirip satu sama lain daripada non-kembar saudara-saudara, mereka juga menunjukkan kemiripan mencolok yang sama saat dibesarkan terpisah – seperti dalam penelitian serupa dilakukan dengan kembar identik.

    The Nurture Teori – Lingkungan

    Sementara tidak mengabaikan bahwa kecenderungan genetik mungkin ada, pendukung teori memelihara percaya bahwa mereka pada akhirnya tidak peduli – bahwa aspek perilaku kita berasal hanya dari faktor lingkungan pendidikan kita. Studi pada bayi dan temperamen anak telah mengungkapkan bukti yang paling penting untuk memelihara teori.
    Amerika psikolog John Watson, terkenal karena eksperimen kontroversial dengan yatim piatu muda bernama Albert, menunjukkan bahwa akuisisi fobia dapat dijelaskan dengan pengkondisian klasik. Sebuah pendukung kuat dari pembelajaran lingkungan, ia berkata: Beri aku selusin bayi sehat, baik terbentuk, dan saya sendiri dunia ditentukan untuk membawa mereka di dan saya akan menjamin untuk mengambil salah satu secara acak dan melatihnya untuk menjadi semua jenis spesialis aku mungkin memilih … terlepas dari bakatnya, penchants, kecenderungan, kemampuan, panggilan dan ras dari nenek moyangnya.

    Percobaan awal Harvard psikolog BF Skinner menghasilkan merpati yang bisa menari, melakukan delapan angka, dan bermain tenis. Hari ini dikenal sebagai bapak ilmu perilaku, ia akhirnya pergi untuk membuktikan bahwa perilaku manusia dapat dikondisikan dalam banyak cara yang sama seperti hewan.

    Sebuah penelitian di New Scientist menunjukkan bahwa sense of humor adalah sifat dipelajari, dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan budaya, dan tidak ditentukan secara genetis.

    Jika lingkungan tidak berperan dalam menentukan sifat individu dan perilaku, maka kembar identik harus, secara teoritis, akan persis sama dalam segala hal, bahkan jika dibesarkan terpisah. Tapi sejumlah studi menunjukkan bahwa mereka tidak pernah persis sama, meskipun mereka sangat mirip dalam banyak hal.

    Jadi, adalah cara kita berperilaku berurat berakar dalam diri kita sebelum kita dilahirkan? Atau telah berkembang dari waktu ke waktu dalam menanggapi pengalaman kita? Peneliti di semua sisi sifat vs memelihara debat setuju bahwa hubungan antara gen dan perilaku yang tidak sama sebagai sebab dan akibat. Sementara gen dapat meningkatkan kemungkinan bahwa Anda akan berperilaku dengan cara tertentu, itu tidak membuat orang melakukan hal-hal. Yang berarti bahwa kita masih bisa memilih siapa kita akan ketika kita tumbuh dewasa.

    Sumber :
    http://genealogy.about.com/cs/geneticgenealogy/a/nature_nurture_2.htm
    http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2284922-nature-vs-nurture-mana-yang/#ixzz2BnGiVBuh

    Suka

  52. NAMA : AGUS IRAWAN
    NIM : 11.20.1706
    KELAS : A

    TEORI
    Nature dan Nurture

    Telah bertahun-tahun para psikolog menggeluti masalah perbedaan antarmanusia dan mereka terpecah menjadi dua kubu. Kubu yang pertama yaitu nativist, adalah pihak yang menekankan pada gen dan karakteristik dasar (yang ada sejak lahir) atau nature.
    Kubu yang lain adalah golongan empiricist yang lebih menitikberatkan proses belajar dan pengalaman, yang disebut nurture.

    Edward L. Thorndike (1903), salah seorang psikolog terkemuka pada tahun 1900-an memihak kubu pertama ketika ia membuat pernyataan bahwa “Dalam kehidupan manusia, faktor yang paling menentukan adalah hereditas”. Akan tetapi, peneliti yang sezaman dengannya, yaitu John B. Watson (1925), seorang tokoh behavioris dalam ungkapannya yang sangat terkenal, menyatakan bahwa pengalaman mampu menuliskan segala pesan pada tabula rasa-lembaran putih bersih-sifat dasar manusia.

    Konstribusi nature dan nurture membentuk kesamaan maupun perbedaan antarmanusia. Penelitian dalam genetika perilaku (behavioral genetic) berupaya mengungkap konstribusi dari hereditas (faktor keturunan) dan faktor lingkungan untuk menjelaskan perbedaan individual dalam karakteristik manusia.
    Hampir semua psikolog dewasa ini memahami bahwa pembawaan hasil keturunan dan lingkungan selalu berinteraksi dan menghasilkan bukan hanya sifat-sifat psikologis, namun juga sebagian besar ciri-ciri fisik. Pertama, gen mempunyai dampak bagi pengalaman kita. Di sisi lain, pengalaman memengaruhi gen. Tekanan stres, pola makan, emosi, dan perubahan hormon dapat memengaruhi gen yang aktif maupun yang tidak aktif pada saat-saat tertentu selama hidup seseorang.
    Pentingnya perbandingan hereditas dan lingkungan adalah persoalan besar di antara para psikolog dan masyarakat umum. Saat ini telah jelas bahwa walaupun beberapa gangguan fisik langka 100 persen adalah keturunan, kecenderungan untuk kebanyakan kondisi normal merupakan hasil kekuatan herediter dan lingkungan yang kompleks.

    Referensi:
    Wade, Carol. dan Tavris, Carol.2007. Psikologi, Edisi Kesembilan, Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga
    Hazwanenda, Rizky Khairani. 2010. Gambaran Self Efficacy Penggunaan Kondom pada Pria Homoseksual di Masa Dewasa Muda. Skripsi. Jakarta: Prodi Psikologi Universitas Paramadina
    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1999/05/24/ILT/mbm.19990524.ILT95081.id.html
    http://m.kompas.com/news/2008.12.12.13584979

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: