Kreativitas dan Perilaku Abnormal

Untuk dapat menentukan apakah perilaku seseorang normal atau tidak (abnormal), ternyata tidak sesederhana seperti yang banyak dipahami secara umum. Biasanya, seseorang dikatakan abnormal bila perilakunya tidak biasa, terlihat aneh, tidak lazim, bertentangan dengan norma, dan lain sebagainya.

Sebagai gambaran, perilaku cemas yang ditunjukkan oleh seorang yang akan berpidato di muka umum, adalah hal yang dianggap wajar (normal). Sedangkan perilaku cemas yang ditunjukkan seseorang ketika memasuki tempat keramaian, seperti mall, maka dapat dikategorikan tidak wajar (abnormal). Seorang atlit yang mampu berlari tidak wajar (melebih kecepatan rata-rata pada umumnya), tidak dikategorikan sebagai perilaku abnormal, tapi justru dianggap keunggulan atau prestasi. Ketika dikaitkan dengan norma budaya, maka akan tampak lebih jelas lagi. Sikap diam dalam dalam satu budaya yang dianggap sebagai bentuk penghormatan ternyata dianggap sebagai bentuk ketidaksukaan pada budaya yang lain. Intinya, untuk menentukan normal tidaknya perilaku seseorang perlu pendekatan tertentu dan pengkajian mendalam.

Lalu, bagaimana keterkaitan kreativitas dengan perilaku abnormal?. Apakah keunggulan orang-orang yang kreatif sebagai pertanda keabnormalan, atau justru sebagai bentuk kelebihan yang patut dibanggakan?. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikiater Key Redfield Jamisson, terdapat sejumlah fakta bahwa dibalik kreativitas dan prestasi yang luar biasa, tersimpan ketidakstabilan mental. Fakta ini ditemukan pada sejumlah orang-orang ternama dengan prestasi luar biasa. Bahkan menurut Jamisson, banyak diantaranya pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Fenomena tersebut oleh para ahli disebut sebagai KEGILAAN BERGUNA

Berkaitan dengan hal tersebut, 88 mahasiswa program studi Ilmu Keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cahaya Bangsa Banjarmasin, lewat rujukan yang diperoleh dari berbagai sumber, mencoba memahami lebih jauh tentang relasi kreativitas dan perilaku abnormal. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari peningkatan pengetahuan perilaku manusia (khususnya perilaku abnormal), dengan harapan bisa memberikan pemahaman secara komprehensif tentang keterkaitan perilaku manusia dengan norma, budaya, keyakinan, termasuk keterkaitan prestasi dengan ketidakstabilan mental. Dengan tambahan sedikit pengetahuan tersebut, diharapkan dapat membantu para perawat dalam menghadapi kompleksitas problematika yang ditemui ketika menjalankan tugas keprofesiannya.

Kepada semua mahasiswa yang memberikan komentar (pemikiran) di bawah ini diucapkan terimakasih dan penghargaan. Demikian juga kepada semua website maupun blog yang telah dijadikan sumber referensi, juga disampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih.

Mudah-mudahan kumpulan komentar (pemikiran) ini bisa bermanfaat.

88 thoughts on “Kreativitas dan Perilaku Abnormal”

  1. nama : Hj. Juairiyah
    N I M : 11.20.1633

    perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum.perilaku kreatif seakan-akan ”abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. hal ini yang membuat orang kreatif mendapat stigma ”gila”. tetapi,stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat tertentu. Banyak ahli yang sudah merumuskan ciri-ciri perilaku kreatif. dibawah ini akan dijelaskan satu-persatu.
    ciri-ciri kreatif yang ditemukan oleh torrence (dalam utami munandar, 1988 )adalah :
    1.berani dalam pendirian,berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang;
    2. memiliki sifat ingin tau
    3. mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu.
    4.menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    5. bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    6. orang yang teguh,
    7.tidak mudah menerima penilaian dari orang lain,meskipun banyak orang yang menyetujuinya.
    Sedangkan Guilford (dalam Munandar, 1988) mengemukakan ciri-ciri individu yang kreatif ditentukan dari:
    Flexibility, yaitu bagaimana keterbukaan seseorang pada gagasan baru, pengalaman dan kemampuan menggabungkan ide (dengan evaluasi mingguan, bulanan, tahunan)
    Fluency, yaitu bagaimana seseorang menuangkan ide -ide kreatif secara lancar (dengan cara memusyawarahkan ide-ide dengan karyawan)
    Redefinition, yaitu kemampuan seseorang dalam merespon sesuatu yang unik (seperti seorang pimpinan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh karyawan ataupun keluarga karyawan.
    Originality, yaitu kemampuan seseorang dalam menangkap esensi dari informasi yang ditampilkan dalam bentuk figura/yang tertuang dalam judul karya (memberikan bonus apabila karyawan memiliki prestasi kerja)
    Elaboration, yaitu kemampuan memperluas ide serta kemampuan asosiatif untuk mengolah stimulus abstrak menjadi nyata.
    Sementara itu dinyatakan oleh Utami Munandar (1988) bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    >Orang yang bebas dalam berpikir
    >Orang yang memiliki daya imajinasi
    > Bersifat ingin tahu
    > Ingin mencari pengalaman baru
    >Mempunyai inisiatif
    >Bebas dalam mengemukakan pendapat
    >Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    > Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    > Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    > Tidak pernah bosan, dalam arti jarang putus asa dan akan selalu mencoba lagi sampai dapat memecahkan masalahnya.
    Dari uraian di atas dapat disimpulkan ciri-ciri perilaku kreatif antara lain:
    Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serat menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis.
    Para ahli seperti Torrance dan Dembo (979), Utami Munandar (2004), Conny Semiawan (1984), Cohen (1976), Siegelman (1973) mengemukakan beberapa ciri-ciri orang kreatif, diantaranya;
    a.Suka humor, tidak kaku dan tidak tegang dalam bekerja.
    b.Suka pada pekerjaan yang menantang
    c.Cukup kuat memusatkan perhatian
    d.Suka mengemukakan ide-ide baru dan bersifat imajinatif
    e.Lebih sensitif terhadap keadaan orang lain
    f.Tidak banyak terikat pada kelompknya
    g.Mampu memunculkan ide-ide yang aneh
    h.Terbuka terhadap ide/penemuan baru
    i.Fleksibel/tidak kaku
    j.Memiliki konsep diri positif

    sumber : http://konselorindonesia.blogspot.com/)
    http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

    1. Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis. Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

      Suka

    2. Relasi Kreativitas dan Perilaku Abnormal

      kreativitas
      a.Pengertian kreativitas:
      – Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam membuat sesuatu menjadi baru dalam keberadaannya.
      – Kreativitas perubahan ide
      – Kreativitas kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan mencari tahu cara-cara baru dalam melihat suatu permasalahan serta peluang-peluang (Zimmerer dan Scarborough, 2005)
      b.atribut dari kreativitas
      Ciri-ciri orang kreatif,antara lain:
      • Pintar tetapi tak harus brilian
      • Berkemampuan baik dalam menjalankan ide-ide berbeda dalam waktu singkat
      • Berpandangan positif pada diri sendiri
      • Peka terhadap lingkungan dan perasaan orang-orang disekitarnya
      • Termotivasi oleh masalah-masalah yang menantang
      • Dapat memendam keputusan sampai fakta cukup terkumpul
      • Menghargai kebebasan dan tidak hanya memerlukan persetujuan rekan lainnya
      • Cenderung kaya hidup fantasi
      • Fleksibel
      • Lebih mementingkan arti dan implikasi sebuah problem daripada detailnya

      Karakteristik orang yang kreatif terdiri dari beberapa atribut seperti:

      _ Terbuka dengan pengalaman.
      _ Observasi – melihat sesuatu hal dengan sudut pandang lain.
      _ Memiliki rasa penasaran tinggi.
      _ Mau menerima dan mempertimbangkan pendapat berbeda.
      _ Indepen dalam mengambil keputusan, pikiran dan tindakan.
      _ Percaya diri.
      _ Mau mengambil resiko terhitung.
      _ Sensitif terhadap masalah.
      _ Fleksibel
      _ Responsif pada pemikiran.
      _ Motivasi tinggi.
      _ Kemampuan untuk konsentrasi.
      _ Selektif
      _ Bebas dari rasa takut dan gagal.
      _ Memiliki daya pikir imajinasi yang baik.
      Proses Kreativitas

      Perilaku Abnormal

      a. Perilaku Abnormal
      Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
      1. Kriteria Statistik
      Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
      2. Kriteria Norma
      Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
      3. Kriteria Patologis
      Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.
      Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
      Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas. Sementara, menurut kriteria patologis pun mungkin saja tidak akan dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal selama yang bersangkutan masih mampu menunjukkan orientasi dan objek sexual yang normal alias tidak mengalami psikosexual neurosis.
      Beberapa perwujudan dari relevansi kreativitas dengan prestasi dari perilaku abnormal

      Yuli Prasetiawan adalah seorang seniman kreatif dari Magelang, Jawa Tengah . Karena karyanya yang unik, menggunakan obat nyamuk bakar dan merokok Bara.

      Natalie Irish asal Houston, Texas yang melukis wajah sosok -sosk terkenal dengan cap bibir . Dia menyentuhkan bibirnya yang sudah dihiasi lipstik berwarna merah ke kanvas kosong.

      Dennis Avner adalah seorang pria keturunan Amerika Indian yang telah menghabiskan biaya yang tak terhitung jumlahnya untuk membuat dirinya terlihat seperti kucing besar alias harimau.

      Sumber http://vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=104:perilaku-abnormal&catid=52:psikologi-abnormal&Itemid=70 http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=kreativitas&source=web&cd=10&cad=rja&ved=0CFMQFjAJ&url=http%3A%2F%2Fwardoyo.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F12534%2FKreativitas
      http://kamar-asik.blogspot.com/2012/09/kreatif-lukisan-sosok-terkenal-dengan.html
      http://reddamuralart.wordpress.com/2012/07/18/keren-seni-lukis-dari-obat-nyamuk-bakar-dan-rokok/#more-479
      http://disinibma.blogspot.com/2012/03/dennis-avner-si-manusia-harimau.

      Suka

  2. Nama : Meylani Emilia Sandy
    NIM : 11.20.1657

    RELASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL

    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan.
    Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup :
    • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi
    • Sebab-sebab gejala
    • Cara mengatasi

    Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan.

    Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut.

    Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html

    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain:
    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis.

    Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

  3. nama : pujianto
    N I M : 11.20.1671
    Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal.
    B. Kriteria Perilaku Abnormal
    Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
    1. Statistical infrequency
    · Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
    · Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb.
    · Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
    · Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.
    2. Unexpectedness
    · Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

    3. Violation of norms
    · Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
    · Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.
    · Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
    · Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.
    4. Personal distress
    · Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
    · Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
    · Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
    · Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
    5. Disability
    · Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
    · Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.
    Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

    http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-abnormal.html

    Suka

  4. Nama : Sudarwati
    Nim : 11.20.1687
    kelas : B

    Makna Perkembangan Abnormal
    Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal.
    B. Kriteria Perilaku Abnormal
    Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
    1. Statistical infrequency
    • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
    • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb.
    • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
    • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.
    2. Unexpectedness
    • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

    3. Violation of norms
    • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
    • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.
    • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
    • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.
    4. Personal distress
    • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
    • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
    • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
    • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.

    sumber : http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-abnormal.html

    Suka

    1. Nama : selvia rahmiati
      Nim : 11.20.1586

      Relasi Kreativitas dan Perilaku Abnormal

      kreativitas
      a.Pengertian kreativitas:
      – Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam membuat sesuatu menjadi baru dalam keberadaannya.
      – Kreativitas perubahan ide
      – Kreativitas kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan mencari tahu cara-cara baru dalam melihat suatu permasalahan serta peluang-peluang (Zimmerer dan Scarborough, 2005)
      b.atribut dari kreativitas
      Ciri-ciri orang kreatif,antara lain:
      • Pintar tetapi tak harus brilian
      • Berkemampuan baik dalam menjalankan ide-ide berbeda dalam waktu singkat
      • Berpandangan positif pada diri sendiri
      • Peka terhadap lingkungan dan perasaan orang-orang disekitarnya
      • Termotivasi oleh masalah-masalah yang menantang
      • Dapat memendam keputusan sampai fakta cukup terkumpul
      • Menghargai kebebasan dan tidak hanya memerlukan persetujuan rekan lainnya
      • Cenderung kaya hidup fantasi
      • Fleksibel
      • Lebih mementingkan arti dan implikasi sebuah problem daripada detailnya

      Karakteristik orang yang kreatif terdiri dari beberapa atribut seperti:

      _ Terbuka dengan pengalaman.
      _ Observasi – melihat sesuatu hal dengan sudut pandang lain.
      _ Memiliki rasa penasaran tinggi.
      _ Mau menerima dan mempertimbangkan pendapat berbeda.
      _ Indepen dalam mengambil keputusan, pikiran dan tindakan.
      _ Percaya diri.
      _ Mau mengambil resiko terhitung.
      _ Sensitif terhadap masalah.
      _ Fleksibel
      _ Responsif pada pemikiran.
      _ Motivasi tinggi.
      _ Kemampuan untuk konsentrasi.
      _ Selektif
      _ Bebas dari rasa takut dan gagal.
      _ Memiliki daya pikir imajinasi yang baik.
      Proses Kreativitas

      Perilaku Abnormal

      a. Perilaku Abnormal
      Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
      1. Kriteria Statistik
      Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
      2. Kriteria Norma
      Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
      3. Kriteria Patologis
      Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.
      Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
      Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas. Sementara, menurut kriteria patologis pun mungkin saja tidak akan dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal selama yang bersangkutan masih mampu menunjukkan orientasi dan objek sexual yang normal alias tidak mengalami psikosexual neurosis.
      Beberapa perwujudan dari relevansi kreativitas dengan prestasi dari perilaku abnormal

      Yuli Prasetiawan adalah seorang seniman kreatif dari Magelang, Jawa Tengah . Karena karyanya yang unik, menggunakan obat nyamuk bakar dan merokok Bara.

      Natalie Irish asal Houston, Texas yang melukis wajah sosok -sosk terkenal dengan cap bibir . Dia menyentuhkan bibirnya yang sudah dihiasi lipstik berwarna merah ke kanvas kosong.

      Dennis Avner adalah seorang pria keturunan Amerika Indian yang telah menghabiskan biaya yang tak terhitung jumlahnya untuk membuat dirinya terlihat seperti kucing besar alias harimau.

      Sumber http://vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=104:perilaku-abnormal&catid=52:psikologi-abnormal&Itemid=70 http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=kreativitas&source=web&cd=10&cad=rja&ved=0CFMQFjAJ&url=http%3A%2F%2Fwardoyo.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F12534%2FKreativitas
      http://kamar-asik.blogspot.com/2012/09/kreatif-lukisan-sosok-terkenal-dengan.html
      http://reddamuralart.wordpress.com/2012/07/18/keren-seni-lukis-dari-obat-nyamuk-bakar-dan-rokok/#more-479
      http://disinibma.blogspot.com/2012/03/dennis-avner-si-manusia-harimau.

      Suka

  5. Nama : M. Riswan Yanuardi
    N I M : 11.20.1652

    Beberapa orang kreatif itu memang juga sekaligus gila, tapi tentu tidak semuanya. Rasanya kita tahu beberapa kisah mengenai tokoh-tokoh kreatif yang sebenarnya baik-baik saja, tapi pada awal karirnya dikira kurang waras atau pada masa kecilnya malah dianggap agak idiot. Hingga kini, bahkan ekspresi kekaguman kita terhadap manusia semacam ini berbentuk gelengan kepala yang menunjukkan sejumput rasa tidak percaya dan tidak mengerti. Apa yang membuat kita sulit sekali untuk memahami mereka?

    Menurut Mihaly Csikszentmihalyi, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh. Apa saja sifat-sifat kontradiktif mereka?

    Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat. Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.

    Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan. Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.

    Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan. Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.

    Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas. Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.

    Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.

    Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya. Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.

    Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.

    Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama. Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.

    Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya. Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.

    Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.

    sumber : http://pertapamental.wordpress.com/

    yang saya dapatkan dari bahan yang ada diatas, relasinya memang sangat erat sekali, karena tulisan diatas mengatakan orang-orang yang kreatif berbeda dengan orang-orang yang ‘tidak’ kreatif, baik itu dari pola pikir dan perilakunya.

    Suka

    1. NAMA : YUNITA INDAH LESTARI
      NIM : 11.20.1698
      KELAS : B
      SEMESTER : III

      KREATIVITAS
      Sebenarnya apakah yang disebut dengan kreativitas?
      Kreativitas berasal dari kata dasar kreatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreatif memiliki pengertian yaitu (1) memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; (2) bersifat (mengandung) daya cipta. Sehingga pengertian kreativitas adalah (1) kemampuan untuk mencipta; daya cipta; (2) perihal berkreasi (Olson, 1992:11). Menurut Henrik Lisby (Majalah Desain Grafis Concept Vol. 02 Edisi 07’05:14), seorang arsitek, desainer dan branding specialist yang mendapatkan gelar Master of Arts in Architecture and Design dari The Royal Academy of Arts, Copenhagen, Denmark, “Kreativitas adalah menjadi unik.. di tengah-tengah dunia yang segala sesuatunya menjadi semakin mirip…”
      Sedangkan menurut David Campbell (1986 :11- 12), kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya (1) baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan ; (2) berguna (useful): lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/banyak ; (3) dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja, tak dapat dimengerti, tak dapat diramalkan, tak dapat diulangi – mungkin saja baru dan berguna, tetapi lebih merupakan hasil keberuntungan (luck), bukan kreativitas.
      Bagi beberapa orang, kreativitas dianggap sebagai suatu kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru atau wawasan segar, sebagai hasil dari pola pikir yang “out of the box”. Dalam sebuah kamus, kreativitas dikemukakan sebagai proses yang menghasilkan sesuatu yang tidak berkembang secara alamiah atau tidak dibuat dengan cara yang biasa. Kreativitas didefinisikan sebagai suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu seseorang secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan alam (Olson, 1992 :12,14). Ditinjau dari sisi yang lain, kreativitas adalah proses yang digunakan seseorang untuk mengekspresikan sifat dasarnya melalui suatu bentuk atau medium sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa puas bagi dirinya; menghasilkan suatu produk yang mengkomunikasikan sesuatu tentang diri orang tersebut kepada orang lain. Sehingga kreativitas menjadi sangat pribadi sifatnya karena kreativitas adalah menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri sendiri (Bean, 1995:3,5).

      CIRI-CIRI ORANG KREATIF
      Menurut Campbell (1986:27) ciri-ciri orang kreatif secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori. (1) Ciri-ciri pokok: merupakan kunci awal untuk melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru, penemuan. (2) Ciri-ciri yang memungkinkan: adalah suatu keadaan yang membuat seseorang mampu mempertahankan ide-ide kreatif sekali sudah ditemukan tetap hidup. (3) Ciri-ciri sampingan: tidak langsung berhubungan dengan penciptaan atau menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap hidup, tetapi kerap mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif.

      PERILAKU MENYIMPANG ATAU ABNORMAL
      Definisi perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud di gerakan (sikap); tidak saja badan atau ucapan.
      Simpang, sebagai kata dasar menyimpang memiliki pengertian sebagai (1) sesuatu yang memisah (membelok, bercabang, melencong, dan sebagainya) dari yang lurus (induknya); (2) tempat berbelok atau bercabang dari yang lurus (tentang jalan). Sedangkan pengertian menyimpang sendiri adalah (1) membelok menempuh jalan yang lain atau jalan simpangan; (2) membelok supaya jangan melanggar atau terlanggar (oleh kendaraan dan sebagainya); menghindar (3) tidak menurut apa yang sudah ditentukan; tidak sesuai dengan rencana dan sebagainya; (4) menyalahi (kebiasaan dan sebagainya); (5) menyeleweng (dari hukum, kebenaran, agama, dan sebagainya).

      HUBUNGAN ANTARA KREATIVITAS DAN PERILAKU MENYIMPANG
      Beberapa ciri orang kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menelorkan ide, gagasan, pemecahan, cara kerja yang tidak lazim (meski tak selalu baik), yang jarang, bahkan ”mengejutkan”; memiliki kemampuan berpikir segala arah untuk mencari jawaban yang berbeda dari umumnya, yang mungkin ada. Ciri orang kreatif ini, hampir selalu dapat kita temukan dalam karakter seorang penggagas kreatif. Kreativitas yang dimiliki oleh penggagas kreatif tak jarang seringkali membuat orang lain menjadi takjub ketika melihat hasil akhir dari sebuah proses kreatif.
      Dalam kehidupannya, para penggagas kreatif dikarenakan tuntutan untuk bisa outstanding selalu menjadi problem solver bagi orang lain, maka seringkali kemudian menjadi tidak peka terhadap perasaan ataupun pemikiran orang lain. Banyak yang tidak mengambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka dan akhirnya mendorong mereka untuk tidak mempedulikan juga adat ataupun aturan yang ada. Bagi beberapa pihak yang pengendalian dirinya kurang, maka tuntutan-tuntutan kreativitas yang berlebihan bisa memunculkan efek kekacauan psikologis yang membawa mereka ke gaya hidup yang menyimpang, misalkan minum-minum berlebihan sehingga lepas kendali, atau dengan mengadakan party yang mengundang striptease dancer dengan alasan menghilangkan kepenatan.

      Sumber :http://dgi-indonesia.com/perilaku-menyimpang-dapatkah-mendorong-terciptanya-kreativitas/

      Suka

      1. NAMA : ISNA LIDYA
        NIM : 11.20.1639
        Salah satu indikasi perilaku yang dianggap tidak normal adalah adanya perbedaan, di luar kelaziman pada umumnya. Namun untuk menentukan, apakah perilaku seseorang tersebut abnormal atau normal, tidak bisa dilakukan dengan serta merta mengingat pengertian lazim dan umum sangatlah relatif. Tergantung ukuran yang digunakan, dan hal itu akan selalu berhubungan dengan tata nilai-nilai budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat.
        Diantara perilaku abnormal, nilai-nilai yang digunakan untuk mengukur perilaku seseorang, serta bentuk-bentuk prestasi luar biasa, telah dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang berprestasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dibalik prestasi luar biasa yang berhasil dicapai seseorang, tersimpan potensi ketidakstabilan mental.
        Felix Post (1994) menebitkan survey kepribadian di jurnal The British Jour-nal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkam adanya korelasi antara keunggulan kreatif dengan ketidakstabilan mental. Potensi ancaman ketidakstabilan mental berdasarkan ketegori profesi disimpulkan sebagai berikut :
        Ilmuwan 42,2 %
        Pemusik 61,6 %
        Negarawan 63 %
        Seniman 75 %
        Cendekiawan 74 %
        Pengarang 90 %
        Sebagai contoh :
        Pernah melihat seseorang terlihat berwara-wiri di depan umum dengan pakaian yang biasa dipakai dengan lawan jenis? Perempuan berambut pendek dan memakai kemeja atau jas layaknya laki-laki, laki-laki memakai rok layaknya perempuan, tetapi mereka tetap berperilaku sebagaimana jenis kelaminnya. Perempuan berperilaku seperti perempuan, laki-laki berperilaku seperti laki-laki. Adam Lambert, Prince, David Bowie, adalah contoh-contoh besarnya. Dengan bedak tebal, alis yang dirapikan layaknya wanita, atau kadang memakai lipstick, mereka merepresentasikan sebuah istilah: androgini.Androgini bukan semata-mata fashion, tetapi ia juga merupakan identitas gender manusia.
        Seperti contoh untuk model dalam negeri yang androgini yaitu Dareel Ferhostan. Model Indonesia asal Jakarta ini sebenarnya merupakan pendatang baru dalam dunia modeling.Sedangkan untuk luar negeri, model papan atas yang ternyata androgini yaitu seperti :Adrej Pejic (Model Australia Serbia)
        Androgini dan kreativitas
        Pada tahun 1980, Weinstein and Bobko menemukan bahwa IQ tidak berkorelasi dengan kreativitas. Lalu apakah yang berkorelasi dengan kreativitas? Androgini. Mengapa? Scott Barry Kaufman memberikan alasan bahwa “Menjadi individu androgini, terutama berada di masyarakat yang memiliki pandangan (stereotype) tertentu terhadap jenis kelamin, harus lebih terbuka pada pengalaman, fleksibel, menerima hal yang bersebrangan, tidak ambil pusing dengan norma-norma sosial, dan mandiri—sebagaimana sifat-sifat yang ada pada orang-orang kreatif.”
        Dalam sebuah penelitian tahun 1981, Harrington dan Anderson menemukan bahwa partisipan yang masuk ke dalam kategori maskulin dan androgini memiliki skor yang tinggi pada kreativitas, daripada orang-orang yang ada dalam kategori feminin atau undifferentiated. Selain itu, Ellis Paul Torrance (1963) menunjukkan bahwa laki-laki yang kreatif memiliki karakteristik feminin yang lebih banyak dibandingkan kelompoknya, dan perempuan yang kreatif lebih maskulin dari perempuan lainnya.
        Namun perlu dicatat bahwa androgini dan kreativitas tidak berkorelasi secara langsung tapi ada dua konsep yang tertanam yaitu kepribadian dan lingkungan.
        Lalu apakah kreativitas hanya dimiliki oleh orang androgini? Tentu tidak. Layaknya kemampuan berpikir yang lain, kreativitas adalah sesuatu yang secara potensial dimiliki oleh setiap orang dan perlu dilatih untuk dikuasai. Selain beberapa ahli menyetujui bahwa kreativitas dapat diajarkan, dan dengan demikian ia dapat dimiliki oleh setiap manusia, meskipun mungkin dalam tingkatan yang berbeda.
        Jadi,Menjadi diri sendiri tanpa perlu terpatri dengan suatu identitas gender tertentu dan memaksimalkan seluruh potensi adalah jalan terbaik.

        Suka

      2. Nama : Nita Zaitunnisa
        NIM : 11.20.1665
        Relasi Kreativitas Dengan Perilaku Abnormal
        Dari yang saya baca,
        Penderita Gangguan Jiwa Lebih Kreatif?
        Para pecinta seni mungkin sudah lama mengetahui bahwa Van Gogh, yang memotong telinganya sendiri, menderita gangguan jiwa. Para penggemar Virginia Woolf juga tahu bahwa novelis asal Inggris itu bertahun-tahun menderita depresi.
        Kenyataan tersebut tampaknya sama dengan kesimpulan studi yang dilakukan tim dari Sweden’s Karolinska Institute yang menyebutkan bahwa kreativitas seorang seniman mungkin terkait dengan gangguan jiwa yang dideritanya.
        Dengan mempelajari 1,2 juta pasien, termasuk pasien rawat inap atau rawat jalan, para peneliti menemukan bahwa seniman, ilmuwan, serta profesi yang membutuhkan kreativitas umumnya berasal dari keluarga yang punya riwayat gangguan bipolar, schizophrenia, depresi, kecemasan, autisme, anoreksia, bunuh diri, ADHD, serta kecanduan alkohol dan narkotika.
        Hasil penelitian juga menegaskan bahwa gangguan bipolar lebih banyak diderita oleh mereka yang berkecimpung di dunia kreatif seperti penulis, penari, atau fotografer. Para penulis bahkan punya kaitan yang spesifik dengan gangguan psikiatri dibanding pada populasi umum. Mereka juga berpotensi lebih besar bunuh diri.
        Sedangkan Perilaku abnormal sendiri adalah Dalam percakapan sehari – hari psikologi abnormal sering ditemukan namun pengertiannya terutama secara teknis tidak selalu menunjukkan pengertian yang sama atau seragam. Hal ini bisa jadi menimbulkan masalah ketika kita menggunakan untuk keperluan yang lebih spesifik daripada sekedar berwacana saja. Istilah – istilah lain dari psikologi abnormal atau sering juga disebut perilaku abnormal atau abnormal behaviour adalah perilaku maladaptive kemudian ada yang menyebutnya mental disorder, psikopatology, emotional discomfort, mental illness atau gangguan mental. KRITERIA YANG MENENTUKAN ABNORMALITAS
        1. Perilaku yang tidak biasa
        2. Perilaku yang tidak dapat diterima secara social atau melanggar norma sosial.
        3. Persepsi atau tingkah laku yang salah terhadap realitas
        4. Orang – orang tersebut berada dalam stress personal yang signifikan
        5. Perilaku maladaptive
        6. Perilaku Berbahaya
        Kesimpulan yang dapat saya ambil : Perilaku kreatif kadang “abnormal” karena tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.

        Salah satu contoh lagi yaitu NANCY MATTHEWS EDISON, tak banyak orang mengenal siapa Nancy Mattews, namun bila kita mendengar nama Edison, kita langsung tahu bahwa dialah penemu paling berpengaruh dalam sejarah. Thomas Alva Edison menjadi seorang penemu dengan 1.093 paten penemuan atas namanya. Waktu berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut, ” Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.” sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ” anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.” Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju. Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Nancy yang memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi pendidikan Edison dirumah, telah menjadikan puteranya menjadi orang yang percaya bahwa dirinya berarti. Nancy yang memulihkan kepercayaan diri Edison.

        Sumber : file:///C:/Users/Public/Documents/ciri-ciri-perilaku-kreatif.html
        file:///J:/psikologi-abnormal.html
        Kumpulan cerita motivasi (dari Ebook)

        Suka

      3. Dalam kehidupan sehari-hari kreatifitas memang sangat penting, karena kreatifitas merupakan suatu kemampuan yang sangat berarti dalam proses kehidupan.
        Pengertian kreatifitas :
        Kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan hubungan baru dan membuat kombinasi baru yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinil dalam berfikir sehingga dapat meciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini sesuatu yang baru bukan berarti sebelumnya tidak ada, tetapi sesuatu yang baru ini dapat berupa sesuatu yang belum dikenal sebelumnya.

        Pengertian prestasi menurut Sandiman A. M. (2001:46) adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar. Sedangkan menurut A. Tabrani (1991:22) prestasi adalah kemampuan nyata yang dicapai individu dari suatu kegiatan atau usaha. Dari kedua pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi merupakan suatu hasil yang telah dicapai sebagai bukti usaha yang telah dilakukan.

        Definisi dan ciri-ciri perilaku abnormal adalah perilaku yang dilakukan diluar batas wajar orang lain pada umumnya, menyimpang dari norma sosial atau tata aturan dalam hidup berkelompok sosial (masyarakat), kurang berhasilnya memanfaatkan kemampuan diri individu itu sendiri dalam menghadapi, menanggapi, menangani, atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya, maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri.

        Kreatifitas dan prestasi seseorang sangat berkaitan dengan perilaku abnormal. Misalnya, seseorang yang memiliki kreatifitas yang tinggi dan akan menghasilkan suatu prestasi yang bisa di terima masyarakat, padahal didalam diri sebagian orang yang kreatif terdapat ketidakstabilan mental, hal inilah yang nantinya akan mempengaruhi mereka dan mengarah kehal yang negatif atau tidak diinginkan, suatu hal yang negatif bagi sebagian masyarakat adalah suatu hal yang tidak biasa atau bisa disebut ABNORMAL. ketiga hal ini memang sangat berkaitan karena seorang yang kreatif dan berprestasi memang sangat berbeda dengan orang-orang lain pada umumnya.

        Sumber :
        Id.shvoong.com>halaman utama shvoong>ilmu sosial>pendidikan
        Tentangkomputerkita.blogspot.com
        Tyanisa12.blogspot.com

        Suka

      4. Nama : Auliyani
        NIM : 11.20.1619
        Abnormal adalah setiap hal yang luar biasa,tidak wajar,tidak lazim ,atau secara harfiah,yang menyimpang dari norma pada manusia umumnya.
        Orang yang secara umum di pandang normal-sehat suatu saat bisa saja melakukan perbuatan yang tergolong Abnormal, mungkin saja di luar kesadarannya. Dan malah sebaliknya, tidak jarang orang yang secara umum j elas-jelas berperilaku abnormal melakukan atau mengucapkan kata-kata yang sungguh-sungguh normal-waras.
        Beberapa istillah Perilaku Abnormal :
        >Perilaku maladaptive
        >Gangguan mental
        >Psikopatologi
        >Gangguan emosional
        >Penyakit jiwa
        >Gangguan perilaku
        >Penyakit mental
        >Ketidakwarasan
        Model Perilaku Abnormal yang cukup penting ada 6 :
        *Model Biologis
        *Model Psikoanalitik
        *Model Behavioristik
        *Model Humanistik-Eksistensi
        *Model Interpersonal
        *Model Sosiokultural

        Perilaku Abnormal
        Psikologi Abnormal ( Abnormal Psychology ) merupakan salah satu cabang psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal dan cara menolong orang – orang yang mengalaminya.
        Dari waktu ke waktu sebagian dari kita merasa cemas ketika menghadapi interview kerja yang penting atau ujian akhir . Lalu bagaimana kita di anggap melanggar batas antara perilaku abnormal dengan normal ?
        Satu jawabannya adalah kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi dapat dikatakan abnormal bila tidak sesuai dengan situasinya. Hal yang normal bila kita tertekan dalam tes tetapi menjadi tidak normal ketika rasa cemas itu muncul ketika sedang memasuki department store atau menaiki lift. Perilaku abnormal juga diindikasikan melalui besarnya / tingkat keseriusan problem. Walaupun bentuk kecemasan sebelum interview kerja dianggap cukup normal namun merasa seakan – akan jantung akan copot yang mengakibatkan batalnya interview adalah tidak normal.
        Perilaku abnormal (abnormal behavior) bagi para ahli seringkali disebut dengan gangguan perilaku (behavior disorder), atau ada juga yang menyebutnya lagi dengan mental ilness (Morgan dkk, 1984).
        Hubungan kreativitas dan perilaku abnormal
        Diantara perilaku abnormal, nilai-nilai yang digunakan untuk mengukur perilaku seseorang, serta bentuk-bentuk prestasi luar biasa, telah dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang berprestasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dibalik prestasi luar biasa yang berhasil dicapai seseorang, tersimpan potensi ketidakstabilan mental.
        Psikiater Kay Redfield Jamison berdasarkan survey yang dilakukannya terhadap seniman seperti William Blake, Lord Byron, Dylan Thomas, Vrginia Woolf, Ernest Hemingway yang beberapa diantaranya pernah lama dirawat di rumah sakit jiwa, dan banyak diantaranya, terutama penyair dan pengarang, mengakiri hidupnya dengan bunuh diri.
        Fakta lain juga terjadi pada kehidupan para musisi seperti Kurt Cobain, Jim Morrison, Jimmy Hendrix yang hidupnya berakhir dengan bunuh diri atau over dosis obat-obatan. Demikian juga dengan yang terjadi pada diri sastrawan Inggris Virginia Woolf. Atas apa yang dialami Virgina Woolf, Brouwer dan Sidharta (1989) membedah kepribadiannya melalui pendekatan fenomenologis.
        Sebagaimana dunia yang terbagi atas dunia luar, yaitu dunia benda-benda dan orang-orang yang kita temui sehari-hari. Dunia batin tempat bersemayamnya khayalan dan pikiran. Dunia ketiga adalah bukan alam riil maupun khayalan. Dunia ini disebut realitas transisional, yaitu dunia permainan, kreativitas, dan kesenian. Dalam dunia ketiga itulah Virginia Woolf mendiami alam eksistensialnya. Suatu waktu kakaknya Vanessa mengeluh, bahwa ia diganti dengan suatu kepribadian khayalan hasil rekaan adiknya, dan virginia sering melihat Vanessa berdasarkan gambaran khayalan, bukan sebagai pribadi yang nyata. Beberapa kali Virginia menderita serangan kegilaan, dan lebih dari satu kali dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri. Badan psikis Virgnia adalah badan yang rusak. Kondisi ini menimbulkan rasa minder yang tak terhingga. Dia tidak lagi sanggup merespons lingkungannya dengan positif. Karena orang di sekitarnya tidak menghormati dia, wanita yang pernah gila. Buku yang ditulisnya bukan sekresi badan seperti keringat atau air liur. Buku dilahirkan badan fenomenal dalam suatu proses yang tidak kalah menderita dibanding dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya. Virginia sangat peka terhadap kritikan atas karyanya, namun Virginia tanpa sadar telah berusaha menyelamatkan jiwanya dengan mengarang, meskipun akhirnya harus menyerah dengan mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Osse.
        Sebagian ahli menyebut fenomena ini sebagai kegilaan berguna, bukan hanya menimbulkan penderitaan berat, tetapi juga kreativitas yang luar biasa.
        Sumber : file:///E:/kegilaan-berguna-diantara-kreativitas.html

        Suka

    2. kreativitas
      Kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan fakta, informasi atau unsur-unsur yang ada.
      — Berpikir kreatif/berpikir divergen adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
      — Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. (Clark Moustatis)
      — Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme (Rogers).
      — Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
      Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
      Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/ banyak.
      Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. (David Cambell)
      Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai “kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan” (Munandar, S.C.U., 1977).
      Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan:
      1. Kemampuan untuk mengkombinasikan
      2. Memecahkan/ menjawab masalah
      3. Cerminan kemampuan operasional anak kreatif (Utami Munandar: 1992)
      Creativity is
      — The ability to generate innovative ideals and manifest them from thought into reality.
      — The process involves original thinking and then producing.
      — The process involves original thinking and then producing.
      Ciri Perilaku Kreatif
      — Perilaku yang tidak biasa (unusual), yang bernilai berdasarkan konvensi atau norma tertentu, dan ditandai oleh originalitas
      — Ciri utama Kreativitas: Sikap Kreatif
      — Sikap Kreatif: purpose, values, and a number of personality traits that together predispose an individual to think ia an independent, flexible, and imaginative way (Davis 1976).
      — Kreative: Proses yang menghasilkan produk kreatif
      — Kreativitas menghasilkan “KEBAHARUAN”
      — Creativity result not in imitation, but new, original, independent, and imagination way of thinking about or doing something.
      abnormal
      Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
      1. Statistical infrequency
      • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur
      didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan
      berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung
      kurva.
      • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan,
      intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.
      • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya
      orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
      • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai
      kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat
      ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

      2. Unexpectedness
      • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya
      seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika
      berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan
      kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang
      ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

      3. Violation of norms
      • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
      • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan
      norma yang berlaku, berarti abnormal.
      • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan
      budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku
      abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
      • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah
      dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan
      perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi
      abnormal.

      4. Personal distress
      • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
      • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau
      melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
      • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit
      karena disuntik.
      • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar
      dapat diberlakukan secara umum.

      5. Disability
      • Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang
      dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah
      mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
      • Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang
      yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip
      orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami
      disability dalam masalah seksual.

      Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun
      kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya
      kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan
      sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta
      waktu.

      Campbell, David.1986. Mengembangkan Kreativitas. Yogyakarta: Kanisius

      Munandar, Utami. 2002. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

      Munandar, Utami. 1999. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

      http://www.e-jurnal.com/kreativitas-identifikasi-perkembangan-kreativitas/

      Suka

  6. Nama : Santi Hariyati
    NIM : 11. 20. 1682

    Salah satu indikasi perilaku yang di anggap tidak normal adalah adanya perbedaan, diluar kelaziman pada umumnya. Prestasi yang dicapai seseorang secara factual merupakan bentuk kemenonjolan atau perbedaan. Tapi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, atlet yang berprestasi tidak dikategorikan sebagai perilaku abnormal. Yang terjadi justru sebaliknya, diberikan penghargaan, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok idola atau panutan. Namun demikian, berdasarkan sebuah penelitian, dibalik sebuah prestasi menyimpan potensi ancaman terjadinya ketidakstabialan mental.
    Felix post (1994) menerbitkan survey kepribadian di jurnal The British Journal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkan adanya kolerasi keunggulan kreatif dan ketidakstabilan mental :
    Ilmuwan 42,2%
    Pemusik 61,6%
    Negarawan 63%
    Cendikiawan 74%
    Seniman 75%
    Pengarang 90%
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Banyak ahli yang sudah merumuskan ciri-ciri perilaku kreatif. Berikut simpulan ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence (dalam Utami Munandar, 1988) dan Guilford (dalam Munandar, 1988) :
    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serat menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis

    Sementara itu Utami Munandar (1988) menyatakan bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    1. Orang yang bebas dalam berpikir
    2. Orang yang memiliki daya imajinasi
    3. Bersifat ingin tahu
    4. Ingin mencari pengalaman baru
    5. Mempunyai inisiatif
    6. Bebas dalam mengemukakan pendapat
    7. Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    8. Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    9. Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    10. Tidak pernah bosan, dalam arti jarang putus asa dan akan selalu mencoba lagi sampai dapat memecahkan masalahnya.

    Menurut Mihaly Csikszentmihalyi,seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh.

    Berikut sifat-sifat kontradiktif orang yang berperilaku kreatif :

    1. Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat.
    Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.

    2. Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan.
    Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.

    3. Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan.
    Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.

    4. Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas.
    Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.

    5. Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert.
    Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.

    6. Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya.
    Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.

    7. Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka.
    Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.

    8. Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama.
    Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.

    9. Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya.
    Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.

    10. Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan.
    Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.

    Sumber: Umar Effendi, Perilaku Manusia, Catilla, Banjarmasin, 2011
    http://www.senikreasikaryaamanah.com/2012/02/ciri-orang-kreatif.html
    http://www.psychologymania.com/2012/07/ciri-ciri-perilaku-kreatif.html

    Suka

  7. Relasi Kreativitas dan Perilaku Abnormal

    Ada anggapan bahwa orang yang kreatif identik berperilaku menyimpang. Hal ini dipicu oleh tampilan gaya hidup pada sebagian kalangan desainer yang tidak umum, ekstentrik, dan sejenisnya yang dikait-kaitkan dengan kreativitas. Perilaku yang demikian biasanya didasari alasan bahwa orang yang kreatif harus berani tampil beda. Sehingga muncul pernyataan bahwa tidak apa-apa dan justru “wajar” bila orang kreatif berperilaku menyimpang dari norma.
    Beberapa ciri orang kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menelorkan ide, gagasan, pemecahan, cara kerja yang tidak lazim (meski tak selalu baik), yang jarang, bahkan ”mengejutkan”; memiliki kemampuan berpikir segala arah untuk mencari jawaban yang berbeda dari umumnya, yang mungkin ada. Ciri orang kreatif ini, hampir selalu dapat kita temukan dalam karakter seorang penggagas kreatif. Kreativitas yang dimiliki oleh penggagas kreatif tak jarang seringkali membuat orang lain menjadi takjub ketika melihat hasil akhir dari sebuah proses kreatif.
    Dalam kehidupannya, para penggagas kreatif dikarenakan tuntutan untuk bisa outstanding selalu menjadi problem solver bagi orang lain, maka seringkali kemudian menjadi tidak peka terhadap perasaan ataupun pemikiran orang lain. Banyak yang tidak mengambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka dan akhirnya mendorong mereka untuk tidak mempedulikan juga adat ataupun aturan yang ada. Bagi beberapa pihak yang pengendalian dirinya kurang, maka tuntutan-tuntutan kreativitas yang berlebihan bisa memunculkan efek kekacauan psikologis yang membawa mereka ke gaya hidup yang menyimpang, misalkan minum-minum berlebihan sehingga lepas kendali, atau dengan mengadakan party yang mengundang striptease dancer dengan alasan menghilangkan kepenatan.
    Secara tidak langsung, ciri-ciri yang dimiliki diatas adalah suatu perilaku menyimpang. Kenyataan ini seakan-akan mendorong masyarakat pada umumnya untuk menyetujui bahwa perilaku menyimpang itu dapat dibenarkan, karena sekalipun orang kreatif berperilaku menyimpang, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mereka berhasil.
    Yang mungkin perlu digarisbawahi disini adalah ciri-ciri sampingan yang dimiliki oleh orang kreatif, yang memang mempengaruhi perilaku orang kreatif, itu tidak ada hubungan apa-apa dengan ciri-ciri pokok yang ada pada orang-orang kreatif. Apabila kita mengamatinya secara terpisah, maka ciri-ciri sampingan yang sempat disebutkan itu tidak mampu menciptakan hal-hal baru. Ciri-ciri itu hanya menunjukkan keberadaan orang-orang aneh, suka minum, asosial, namun tidak dengan sendirinya berperilaku demikian bisa menjadi kreatif. Ciri-ciri sampingan ini lebih merupakan akibat dari kekuatan kepribadian para penggagas kreatif dan situasi batin yang diakibatkan oleh kreativitas. Maka dapat diamati, diarahkan, dikurangi dan diatasi dengan refleksi dan olah diri. Ketika seseorang memiliki pengendalian diri yang cukup, maka ia akan dapat menekan dan mengurangi ciri-ciri sampingan tersebut. Menjadi kreatif tidak berarti menjadi aneh. Kreatif dapat juga sekaligus biasa, sopan dan memasyarakat.
    SIMPULAN
    Berdasarkan dari pemaparan di atas, maka dapat diambil sebuah simpulan bahwa pembenaran diri untuk berperilaku menyimpang hanya karena seseorang adalah orang kreatif, adalah tidak dibenarkan. Perilaku menyimpang hanyalah akibat sampingan dari kreativitas itu sendiri, bukan penyebab terciptanya kreativitas.
    Ciri-ciri baik yang berhubungan dengan bakat kreatif sudah seharusnya dikembangkan, sebaliknya ciri-ciri buruk yang kebanyakan merupakan ekses atau akibat sampingan dari bakat itu dapat dikurangi. Dengan demikian bakat kreatif menjadi lebih produktif bukan hanya dalam bidangnya, tetapi juga dalam seluruh kehidupan.
    Untuk mencapai terciptanya kreativitas yang optimal, maka seseorang perlu melatih diri dengan permainan-permainan kreatif, melakukan kegiatankegiatan kreatif secara rutin untuk meningkatkan kemampuan kreatifnya, keluar dari ’kotak’ aturan namun tidak menyimpang dari norma, dan tidak lupa juga harus didukung dengan hidup melekat dengan sang Pencipta itu sendiri. Tuhan adalah Tuhan yang kreatif. Ia adalah seorang Kreator, Pribadi paling kreatif yang pernah ada. Tidak peduli seberapa besar kreativitas yang sudah Tuhan beri kepada kita, dengan melibarkan Dia, maka kreativitas kita menjadi lebih meningkat dan lebih meningkat lagi.
    Sumber : http://dgi-indonesia.com/perilaku-menyimpang-dapatkah-mendorong-terciptanya-kreativitas/

    Suka

  8. NAma :Herawati Diah
    N I M : 11.20.1632

    Disadari atau tidak,dunia ini dikuasai oleh orang-orang abnormal, yaitu orang-orang yang mau mendobrak kebiasaan lama yang berlaku umum di masyarakat untuk lebih maju dengan ide-ide kreatif. Sebut saja Steve Jobs, Richard Branson, bahkan Bob Sadino sekalipun.

    Jangan takut untuk berbeda, sebab normal tidak selamanya baik. Menjadi beda tidak pernah mudah banyak yang tidak suka dengan kita karena kita dianggap menjadi musuh mereka jangan takut untuk berbeda, karena menjadi beda adalah istimewa. Sebab perbedaan itulah yang menjadikan kita lebih dibicarakan oleh orang lain. Sebagai orang yang kreatif, lo harus berbeda dengan orang lain, tetapi perbedaan yang harus disertai alasan yang tepat “be different by reason“.

    “Creative is able to produce something new or a work or art / involving the use of skill and the imagination to produce something new.”

    Abnormal itu sendiri berarti prilaku yang menyimpang dari normal. Dimana standar prilaku normal itu sendiri bervariyasi, misalnya perbedaan kultur atau budaya, di indonesia meludahi orang lain berarti berprilaku tidak sopan, namun di belahan dunia lain meludahi orang yang baru datang berarti menyambutnya dan sebagainya. Namun dari pengertian tersebut, prilaku yang abnormal tidak serta merta dianggap patologis.

    dalam pandangan psikologis,untuk menjelaskan seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari 3 kriteria yaitu kriteria statistik,norma dan patologis .
    perilaku abnormal pun dapat digolongkan menjadi empat berdasarkan sifatnya :
    (1) yang bersifat akut dan sementara, yang disebabkan oleh peristiwa yang penuh dengan stress
    (2) yang bersifat kronis dan selama-lamanya ;
    (3) yang disebabkan oleh penyakit atau kerusakan pada sistem syaraf ;
    (4) yang merupakan akibat dari lingkungan sosial yang tidak menguntungkan dan / atau pengalaman.

    https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/15/tiga-kriteria-perilaku-abnormal/
    http://dodipramaditya.wordpress.com/tag/kreativitas/
    http://coretanpenasyadza.blogspot.com/2012_06_01_archive.html

    Suka

  9. Relasi kreatifitas dan perilaku abnormal
    PERILAKU MENYIMPANG/ABNORMAL
    Definisi perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud di gerakan (sikap); tidak saja badan atau ucapan.
    Simpang, sebagai kata dasar menyimpang memiliki pengertian sebagai (1) sesuatu yang memisah (membelok, bercabang, melencong, dan sebagainya) dari yang lurus (induknya); (2) tempat berbelok atau bercabang dari yang lurus (tentang jalan). Sedangkan pengertian menyimpang sendiri adalah (1) membelok menempuh jalan yang lain atau jalan simpangan; (2) membelok supaya jangan melanggar atau terlanggar (oleh kendaraan dan sebagainya); menghindar (3) tidak menurut apa yang sudah ditentukan; tidak sesuai dengan rencana dan sebagainya; (4) menyalahi (kebiasaan dan sebagainya); (5) menyeleweng (dari hukum, kebenaran, agama, dan sebagainya).
    Perilaku menyimpang ini, pada mulanya berasal dari kebiasaan seseorang pada masa remajanya yang terus terbawa di bawah sadar sampai seseorang tersebut dewasa. Untuk itu alangkah baiknya dicari tahu tentang perilaku menyimpang pada remaja. Salah satu upaya untuk mendefinisikan penyimpangan perilaku remaja dalam arti kenakalan anak (juvenile delinquency) dilakukan oleh M. Gold dan J. Petronio (Weiner, 1980, hlm.497) yaitu sebagai berikut:
    Kenakalan anak adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.
    Dalam definisi tersebut di atas faktor yang penting adalah unsur pelanggaran hukum dan kesengajaan serta kesadaran anak itu sendiri tentang konsekuensi dari pelanggaran itu. Oleh karena itu, merokok menurut definisi tersebut bukanlah kenakalan selama tidak ada undang-undang yang melarang anak di bawah umur untuk merokok. Demikian juga halnya dengan seorang anak yang berumur 17 tahun yang minum bir di negara bagian (di Amerika) yang tidak melarang anak di bawah umur 18 tahun untuk minum. Ia tidak dianggap nakal selama ia tidak mengetahui adanya ketentuanketentuan hukum itu dan karenanya ia tidak sengaja melanggar hukum yang berlaku (misalnya karena remaja itu sedang berlibur ke negara bagian lain, sedangkan di negara bagiannya sendiri batas usia minum minuman keras adalah 16 tahun) (Sarwono, 1989:196-197).
    Seandainya definisi diatas digunakan, maka yang termasuk kenakalan remaja menjadi sangat terbatas. Padahal kelakuan-kelakuan yang menyimpang dari peraturan orang tua, peraturan sekolah atau normanorma masyarakat yang bukan hukum juga bisa membawa remaja kepada kenakalan-kenakalan yang lebih serius, atau bahkan kejahatan yang benar-benar melanggar hukum pada masa dewasanya remaja. Dengan perkataan lain, dari sudut psikologi perkembangan dan dari sudut kesehatan mental remaja, juga perlu didefinisikan kenakalan remaja secara lebih luas. Di fihak lain, jangan sampai begitu saja mencap anak sebagai nakal hanya dari penampilannya yang berambut gondrong dan berpakaian jorok.
    Secara keseluruhan, semua tingkah laku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga, dan lain-lain) dapat disebut sebagai perilaku menyimpang (Sarwono, 1989:197).
    Perilaku menyimpang sendiri yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah tanggapan atau reaksi yang terwujud di action (sikap); tidak saja badan atau ucapan; yang tidak menurut apa yang sudah ditentukan, yang menyalahi kebiasaan pada umumnya, ataupun menyeleweng dari hukum, kebenaran, agama, dan sebagainya.
    Dalam pengertian ini, maka gaya hidup minum-minum berlebihan, party berlebihan yang akhirnya melibatkan obat-obatan terlarang, gaya hidup seks bebas dan sebagainya dapat dikategorikan sebagai perilaku menyimpang.
    KESALAHAN PERSEPSI TENTANG KREATIVITAS
    Salah satu pemicu adanya anggapan bahwa perilaku menyimpang dapat mendorong terciptanya kreativitas adalah adanya kesalahan persepsi mengenai kreativitas. Dalam bukunya Serious Creativity, Edward de Bono (1993:30-42) mengungkapkan kesalahan persepsi tersebut, antara lain:
    (1) Creativity is a Natural Talent and Cannot be Taught. Apabila seseorang tidak dapat melakukan apapun untuk meningkatkan kreativitas maka dapat dipastikan bahwa kreativitas hanya bergantung pada bakat alami saja. Namun, kenyataannya adalah apabila seseorang mengadakan pelatihan, memberikan dasar-dasar dan teknik sistematik, maka kemampuan kreativitas bisa ditingkatkan melebihi kemampuan kreativitas ratarata. Memang benar, beberapa orang akan memiliki kemampuan kreatif lebih daripada orang yang lain, tapi tiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat meningkatkan kemampuan kreatif yang dimilikinya.
    (2) Creativity Comes from The Rebels. Di sekolah, remaja yang lebih pintar terlihat lebih konformis/ konvensional. Mereka dengan cepat belajar “permainan” yang dibutuhkan: bagaimana menyukakan hati gurunya. Bagaimana dapat lulus ujian dengan usaha minimal. Di satu sisi, ada para pemberontak, yang karena suatu alasan temperamen atau adanya kebutuhan untuk diperhatikan, mereka tidak mau menjalani “permainan” yang sedang berlangsung.
    Sangat alamiah apabila kemudian kreativitas justru muncul dari para pemberontak. Hal ini dikarenakan para orang konvensional terlalu sibuk mempelajari permainan yang sedang berlangsung, bermain di dalamnya, dan berproses di dalamnya. Sehingga sangatlah bergantung pada para pemberontak untuk menantang konsep yang sudah ada dan bertindak berbeda dari yang lain. Perlu diketahui bahwa para pemberontak memiliki semangat, energi, dan sudut pandang yang berbeda.
    Sebenarnya ini adalah cara pandang yang lama mengenai kreativitas. Namun, begitu kita mulai memahami nature dari kreativitas, kita akan mulai menyadari bahwa para konvensional dapat mempelajari permainan kreativitas. Karena mereka telah terbiasa untuk beradaptasi dengan mempelajari permainan dan ikut terlibat dalam permainan, maka para konvensional ini bisa saja dengan cepat menjadi lebih kreatif dari pada para pemberontak yang tidak mau belajar dan bahkan tidak mau terlibat dalam permainan.
    Pandangan ini mungkin akan terlihat aneh bagi beberapa orang, yaitu bahwa sebenarnya orangorang yang konvensional ternyata dapat menjadi lebih kreatif dari pada para pemberontak. Namun begitu fenomena ini terjadi, maka akan tercipta lebih banyak ide kreatif yang konstruktif.
    Para pemberontak seringkali menemukan kreativitas dengan cara menentang ide-ide yang sudah ada dan mencoba melawan idiom yang ada. Kreativitas dari para pemberontak ini tercipta karena adanya keinginan untuk menentang sesuatu. Tapi kreativitas dari para konvensional tidak perlu untuk menentang sesuatu–jadi kreativitas tersebut dapat menjadi lebih konstruktif dan bisa saja tercipta karena ide yang sudah ada sebelumnya.
    (3) Right Brain/Left Brain. Seringkali dikatakan bahwa otak kiri adalah bagian yang “berpendidikan” dari otak karena ia memuat bahasa, simbol, dan melihat sesuatu seperti yang seharusnya kita lihat. Otak kanan diibaratkan sebagai bagian “polos” yang tidak berpendidikan yang tidak mempelajari apapun. Jadi dalam masalah menggambar, musik, dan sebagainya, otak kanan dapat melihatnya dengan pandangan polos. Bagian yang harus dikembangkan untuk memiliki kreativitas lebih.
    Otak kanan memungkinkan untuk adanya suatu pandangan holistic daripada membangun poinpoin dalam menjelaskan segala sesuatunya.
    Hal-hal diatas memang benar, namun ketika kreativitas terlibat dalam perubahan konsep dan persepsi, maka tidak dipungkiri bahwa kreativitas membutuhkan otak kiri, sama seperti ia membutuhkan otak kanan, karena di otak kirilah konsep dan persepsi itu dibangun.
    Jadi tidaklah benar apabila disarankan kalau kreativitas hanya ada di otak kanan saja. Tidaklah benar apabila dikatakan untuk menjadi kreatif, jangan gunakan otak kiri, namun maksimalkan otak kanan. Karena untuk konsep berpikir kreatif, diperlukan kedua-duanya.
    (4) Art, Artists, and Creativity. Secara alamiah, “kreativitas” termanifes banyak sekali di karya para seniman sehingga muncul asumsi bahwa kreativitas dan seni itu serupa. Karena itu masyarakat percaya bahwa untuk mengajarkan kreativitas, maka masyarakat harus diajarkan untuk berperilaku seperti seniman. Muncul pula anggapan bahwa seniman mungkin saja adalah orang terbaik untuk mengajarkan kreativitas.
    Ketika kreativitas memiliki arti untuk perubahan konsep dan persepsi – maka pengertian kreativitas lebih cenderung diartikan sebagai cara berpikir lateral. Dengan memakai pengertian diatas, maka tidak semua seniman adalah orang yang kreatif. Banyak seniman memiliki powerful stylists dan memiliki pandangan/persepsi dan ekspresi dengan gayanya masing-masing yang bernilai.
    Seniman, seperti anak-anak, dapat menjadi fresh dan original dan sangat polos semuanya dalam waktu yang bersamaan. Seniman dapat juga menjadi lebih analitis daripada orang kebanyakan dan seniman memiliki kepedulian yang besar terhadap teknologi dari karya mereka.
    Adalah benar bahwa seniman-seniman mempunyai ketertarikan untuk menemukan sesuatu yang ”baru” daripada melakukan pengulangan-pengulangan yang mirip satu dengan yang lainnya. Ada suatu kemauan untuk bermain-main dengan konsep dan persepsi-persepsi yang beranekaragam.
    Jadi, bukan berarti bahwa seniman itu tidak kreatif. Tapi yang dimaksud melalui tulisan ini adalah kesalahan persepsi masyarakat bahwa kreativitas berkaitan dengan seni dan karena itu seniman adalah orang yang paling baik berkaitan dengan mengajar kreativitas.
    Memang tidak dipungkiri bahwa ada beberapa seniman yang kreatif dan sekaligus guru yang baik dalam kreativitas. Orang-orang ini adalah orang yang kreatif dan guru yang baik dalam kreativitas. Dan mereka menjadi seniman. Bukan karena mereka seniman maka mereka menjadi kreatif dan guru yang baik dalam kreativitas. Jadi jangan sampai kita terjebak dengan persepsi yang terbolak-balik ini.
    (5) Release. Di Amerika Utara, kebanyakan dengan apa yang disebut sebagai pelatihan kreativitas mengacu langsung pada ”membebaskan” orang dan ”melepaskan” potensi kreativitas yang dipercaya memang sudah ada.
    Memang benar, bahwa dengan menghilangkan peraturan, rasa takut untuk salah, atau ketakutan untuk terlihat menggelikan memiliki pengaruh untuk meningkatkan kreativitas. Seseorang bisa menjadi lebih kreatif ketika ia bebas untuk bermain-main dengan ide-ide yang aneh dan mengekspresikan pikiran-pikiran barunya.
    Namun, jangan sampai kita terjebak ke dalam persepsi bahwa kita hanya perlu membebaskan diri untuk membangun kreativitas. Latihan kreativitas bukan sekedar rangkaian latihan supaya orang merasa bebas dari larangan dan bisa mengatakan apapun yang ada dalam pikiran mereka.
    Larangan menekan pemikiran kita dibawah tingkatan kreativitas yang ”normal”. Bila kita menyingkirkan segala larangan-larangan yang ada, maka yang terjadi sebenarnya adalah bahwa kita kembali ke keadaan kreativitas kita yang ”normal”. Sehingga ketika kita ingin menjadi benar-benar kreatif, maka kita harus melakukan beberapa ”tindakan yang tidak wajar”, yaitu melalui latihanlatihan.
    The Need for “craziness”. ”Kegilaan” bisa dengan mudah membangun suasana yang ceria, bersemangat karena terlihat tidak wajar dan fun. Seseorang akan menjadi lupa terhadap adanya peraturan-peraturan ataupun batasan-batasan ketika mereka berkompetisi untuk menjadi lebih ”gila” dibandingkan dengan yang lain dalam suatu kelompok.
    Kenyataannya, kreativitas tidak akan hanya sekedar berkisar dalam ide-ide yang sudah ada sebelumnya, jadi banyak ide-ide baru, yang mungkin saja pada awalnya terlihat gila apabila dibandingkan dengan ide yang sudah ada sebelumnya. Karena itu, mudah sekali bagi seseorang untuk memiliki asumsi dan impresi yang salah mengenai kreativitas, yaitu bahwa kreativitas berawal dari ”kegilaan”.
    Apa yang terjadi sebenarnya adalah kreativitas membutuhkan provokasi dan jalan kerja dari provokasi itu cukup berbeda dari pemberian impresi bahwa kegilaan itu adalah akhir dari segalanya dan adalah bagian yang esensi dari pemikiran kreatif. Dari kebanyakan poin yang telah disebutkan, maka kebanyakan pengajar kreativitas terpaku pada poin kebutuhan ”kegilaan” ini dan menjadikannya sebagai bagian yang esensi dari proses membangun kreativitas. Hal ini yang akhirnya memberikan impresi yang salah dan akhirnya bisa saja ”menyesatkan” orang yang mau menggunakan kreativitas untuk tujuan yang lebih serius.

    SUMBER : http://dgi-indonesia.com/perilaku-menyimpang-dapatkah-mendorong-terciptanya-kreativitas/

    Suka

  10. nama : Inayatul Mukaromah
    NIM : 11.20.1636
    klas : B

    RELASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL
    Kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya askalasi dalam kemampuan berpikir di tandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi dan integrasi antara setiap tahap perkembangan . perilaku yang di anggap tidak normal adalah adanya perbedaan, diluar kelajiman pada umumnya. Prestasi yang dicapai seseorang secara factual merupakan bentuk yang menonjaol dan yang beda. Seperti pengarang yang berprestasi tidak dikatergrikan sebagai perilaku abnormal yang terjadi malah sebaliknya, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok, idola, atau panutan. Tetapi sebalik sebuah itu, menyimpan potensi ancam terjadinya ketidakstabilan mental
    Menurut mihaly csikzenmihaly, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meniliti kehidupan ornag-orang kreatif kesalahpahaman dalam menghadpi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks disbanding orang lain. Jika kepribadian manusia bisa pada umumnya memiliki kecendrungan kea rah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus menerus “bertarung” tapi disisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh.

    Perilaku Abnormal
    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.

    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologislainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.

    Nevid Jeffrey,spencer A.rathus, Beverly green, psikologi abnormal, 2003 shea shawn C, Wawancara psikiatri seni pemahaman 1996
    Zohar Danah, Ian Marshall SQ,2001
    http//www psicolgytoday.com/articles/ 199607/the creative-personality

    Suka

  11. Relasi kreativitas dan perilaku abnormal
    Perilaku Abnormal
    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologislainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.

    Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.
    Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama. Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.
    Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya. Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.
    Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.
    sumber :
    http://www.psychologytoday.com/articles/199607/the-creative-personality

    Suka

  12. Relasi kreativitas dan perilaku abnormal
    Kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya askalasi dalam kemampuan berpikir di tandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi dan integrasi antara setiap tahap perkembangan . perilaku yang di anggap tidak normal adalah adanya perbedaan, diluar kelajiman pada umumnya. Prestasi yang dicapai seseorang secara factual merupakan bentuk yang menonjaol dan yang beda. Seperti pengarang yang berprestasi tidak dikatergrikan sebagai perilaku abnormal yang terjadi malah sebaliknya, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok, idola, atau panutan. Tetapi sebalik sebuah itu, menyimpan potensi ancam terjadinya ketidakstabilan menta

    Psikolgi abnormal adalah suatu cabang dari psikologi yang mempelajari tentang prilaku yang abnormal (abnormal behavior), khususnya yang berkaitan dengan patologis yang disebut juga sebagai gangguan prilaku (behavior disorder).

    Abnormal itu sendiri berarti prilaku yang menyimpang dari normal. Dimana standar prilaku normal itu sendiri bervariyasi, misalnya perbedaan kultur atau budaya, di indonesia meludahi orang lain berarti berprilaku tidak sopan, namun di belahan dunia lain meludahi orang yang baru datang berarti menyambutnya dan sebagainya. Namun dari pengertian tersebut, prilaku yang abnormal tidak serta merta dianggap patologis.

    Menurut Szasz, prilaku seseorang dianggap patologis apabila pola prilaku yang telah dipelajarinya secara minimal sekalipun tidak mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh masyarakatnya(socially maladjusted).

    Dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi ke III, yang merujuk pada buku Diagnostic and Statistic Manual (DSM) edisi IV, dan juga The ICD- 10 Classification of Mental and Behavioral Disorders, yang dimaksud dengan gangguan jiwa adalah Mental disorder is conceptualized as clinically significant behavioral or psychological syndrome or pattern that occurs in an individual and that is associated whit present distress (eg., a painful sympton) or disability (ie., impairment in one or more important areas of functioning) or with a significant increased risk of suffering death, pain, disability, or important loss of freedom.

    Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep gangguan jiwa itu meliputi adanya gejala klinis yang bermakna berupa sindrom perilaku atau sindrom psikologik, gejala klinis tersebut menimbulkan penderitaan (distress), dan menimbulkan disabilitas (disability; misalnya tidak bisa makan sendiri, tidak bisa mandi sendiri).

    Sumber:
    Diktat Psikologi Abnormal, 2007
    Diposkan oleh Ratu Nisa Indriasari, S.Psi
    http://ratunisaindriasari.blogspot.com/2011/06/pengertian-psikologi-abnormal.html

    Perilaku Abnormal
    Perilaku abnormal dapat dilakukan dengan pendekatan tiga perspektif
    1. Frekuensi statistik
    2. Norma sosial, dan
    3. Penyimpangan perilaku.

    Suka

  13. Nama : Suci Rahayu
    Nim : 11.20.1686
    Prodi : Keperawatan

    Dalam kehidupan sehari-hari kreatifitas memang sangat penting, karena kreatifitas merupakan suatu kemampuan yang sangat berarti dalam proses kehidupan.
    Pengertian kreatifitas :
    Kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan hubungan baru dan membuat kombinasi baru yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinil dalam berfikir sehingga dapat meciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini sesuatu yang baru bukan berarti sebelumnya tidak ada, tetapi sesuatu yang baru ini dapat berupa sesuatu yang belum dikenal sebelumnya.

    Pengertian prestasi menurut Sandiman A. M. (2001:46) adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar. Sedangkan menurut A. Tabrani (1991:22) prestasi adalah kemampuan nyata yang dicapai individu dari suatu kegiatan atau usaha. Dari kedua pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi merupakan suatu hasil yang telah dicapai sebagai bukti usaha yang telah dilakukan.

    Definisi dan ciri-ciri perilaku abnormal adalah perilaku yang dilakukan diluar batas wajar orang lain pada umumnya, menyimpang dari norma sosial atau tata aturan dalam hidup berkelompok sosial (masyarakat), kurang berhasilnya memanfaatkan kemampuan diri individu itu sendiri dalam menghadapi, menanggapi, menangani, atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya, maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri.

    Kreatifitas dan prestasi seseorang sangat berkaitan dengan perilaku abnormal. Misalnya, seseorang yang memiliki kreatifitas yang tinggi dan akan menghasilkan suatu prestasi yang bisa di terima masyarakat, padahal didalam diri sebagian orang yang kreatif terdapat ketidakstabilan mental, hal inilah yang nantinya akan mempengaruhi mereka dan mengarah kehal yang negatif atau tidak diinginkan, suatu hal yang negatif bagi sebagian masyarakat adalah suatu hal yang tidak biasa atau bisa disebut ABNORMAL. ketiga hal ini memang sangat berkaitan karena seorang yang kreatif dan berprestasi memang sangat berbeda dengan orang-orang lain pada umumnya.

    Sumber :
    Id.shvoong.com>halaman utama shvoong>ilmu sosial>pendidikan
    Tentangkomputerkita.blogspot.com
    Tyanisa12.blogspot.com

    Suka

  14. Nama : Husnul Wafa
    Nim : 11.20.1635

    • Abnormal : Perilaku yang tidak lazim, tidak umum dan kadang tidak sesuai norma. (Abnormal = Perbedaan)
    • Kreativitas : Proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atas sebuah konsep yang baru maupun konsep yang telah ada.
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku manusia pada umumnya. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Contoh : seorang atlit lari cepat pemegang rekor berbeda dari masyarakat umum dalam hal lari, namun hal ini tidak dikatakan Abnormal. Karena, ke-AbnormalanNya sudah berubah menjadi suatu kreatifitas yang menghasilkan prestasi.
    Namun, berdasarkan penelitian dibalik sebuah prestasi menyimpan potensi ancaman terjadinya ketidakstabilan mental. Psikiater Kay Redfield Jamison, berdasarkan surpey yang dilakukannya terhadap seniman dan pengarang dunia, seperti : Virginia Woolf, William Blake, Dylan Thomas maupun juga pada Jim Morison. Diantaranya pernah lama dirawat di Rumah sakit jiwa dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Spender menyebutkan pemomena ini sebagai “kegilaan berguna”, bukan hanya menimbulkan penderitaan berat , tetapi juga kreatifitas yang luar biasa.
    Berikut ini beberapa ciri-ciri perilaku kreatif menurut para ahli, diantaranya :
    • Ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence (dalam Utami Munandar, 1988) adalah:
    1. Berani dalam pendirian, berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang.
    2. Memiliki sifat ingin tahu
    3. Mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu
    4. Menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    5. Bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    6. Orang yang teguh
    7. Tidak mudah menerima penilaian dari orang lain, meskipun banyak orang yang menyetujuinya.
    • Sedangkan Guilford (dalam Munandar, 1988) mengemukakan ciri-ciri individu yang kreatif ditentukan dari:
    1. Flexibility, yaitu bagaimana keterbukaan seseorang pada gagasan baru, pengalaman dan kemampuan menggabungkan ide (dengan evaluasi mingguan, bulanan, tahunan)
    2. Fluency, yaitu bagaimana seseorang menuangkan ide -ide kreatif secara lancar (dengan cara memusyawarahkan ide-ide dengan karyawan)
    3. Redefinition, yaitu kemampuan seseorang dalam merespon sesuatu yang unik (seperti seorang pimpinan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh karyawan ataupun keluarga karyawan.
    4. Originality, yaitu kemampuan seseorang dalam menangkap esensi dari informasi yang ditampilkan dalam bentuk figura/yang tertuang dalam judul karya (memberikan bonus apabila karyawan memiliki prestasi kerja)
    5. Elaboration, yaitu kemampuan memperluas ide serta kemampuan asosiatif untuk mengolah stimulus abstrak menjadi nyata.
    • Menurut Mihaly Csikszentmihalyi, seorang pakar kreatifitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif

    Berpendapat bahwa, kesalah pahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain.
    Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh.

    1. Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat.

    2. Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan. Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’),

    3. Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan.

    4. Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas.

    5. Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert.

    6. Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya.

    7. Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka.

    8. Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama.

    9. Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya.

    10. Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan.

    Sumber: The Creative Personality – Psychology Today
    http://www.psychologymania.com/2012/07/ciri-ciri perilaku-kreatif.html

    Suka

    1. Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis. Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

      Suka

  15. Sebenarnya apakah yang disebut dengan kreativitas?
    Kreativitas berasal dari kata dasar kreatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
    kreatif memiliki pengertian yaitu
    (1) memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk
    menciptakan;
    (2) bersifat (mengandung) daya cipta.
    Sehingga pengertian kreativitas adalah :
    (1)kemampuan untuk mencipta; daya cipta;
    (2) perihal berkreasi (Kamus, Olson, 1992:11).
    Kreativitas secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu proses ataupun kegiatan yang
    menghasilkan sesuatu yang inovatif, tidak harus baru namun ia dapat outstanding dan menjadi
    unik di tengah segala sesuatu yang kian hari kian mirip, bukan hanya sekedar kebetulan,
    merupakan suatu pemecahan masalah yang efektif dan berguna, dan yang paling penting
    adalah ia juga harus dapat dimengerti oleh orang lain. Sehingga ketika pembahasan adalah
    mengenai desain yang kreatif, maka ia harus merupakan desain yang dapat outstanding,
    memorable,dan understable serta merupakan problem solving bagi produk, jasa ataupun bagi
    orang-orang yang terlibat1Banyak orang kreatif memiliki ciri-ciri sampingan yang membuat mereka tak teramalkan,
    sulit untuk bergaul dan hidup dengan mereka, sukar diatur. Ciri-ciri ini biasanya
    mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif, diantaranya ialah:
    (1) Tidak mengambil pusing
    apa yang dipikirkan orang lain. Orang-orang kreatif berpikir sendiri. Mereka tidak mengambil
    pusing mengenai apa yang dipikirkan orang lain. Akibatnya mereka menjadi tidak peka
    terhadap perasaan orang-orang sekitarnya. Karena mereka tidak mempedulikan orang dan
    kurang memperhatikan adat yang berlaku, seringkali mereka tampak aneh, angkuh dan asosial.
    (2) Kekacauan psikologis. Orang-orang kreatif lebih menyukai kompleksitas daripada
    simplisitas, tidak mengendalikan perasaan, dan tidak mengambil pusing pendapat orang-orang
    lain. Memandang dunia dengan kaca-mata berbeda dari yang lazim, hidup dengan aturan yang
    tidak biasa, bertindak atas dasar perhitungan khusus, dapat membawa orang-orang kreatif ke
    dunia batin yang penuh dengan gejolak dan kekacauan. Hal ini dapat membawa mereka ke
    tengah kekacauan psikologis dan dapat mengakibatkan keberantakan hidup: perkawinan
    hancur, kehilangan pekerjaan, minum-minum, bahkan membunuh diri (Campbell, 1986:44).
    Pemaparan diatas adalah pemaparan mengenai ciri-ciri orang kreatif secara umumnya.
    Dari ciri-ciri tersebut, maka dapat ditemukan ciri-ciri yang sama pada para penggagas kreatif.
    Ketika seorang Creative Director mendapatkan brief dari klien, maka ia harus mengerahkan
    segala kemampuan kreatifnya untuk dapat menjadi problem solver bagi klien. Sehingga
    langkah yang diambil selanjutnya adalah bagaimana ia akan mengeluarkan semua ide-ide,
    kata-kata, melihat hubungan yang tidak biasa antara ide-ide, gagasan dan konsep. Ia akan
    berpikir secara konvergen dan berusaha melihat dari berbagai macam sisi, baik dari produk,
    konsumen, produsen, dan lain sebagainya. Ia akan mengumpulkan fakta-fakta yang penting
    dan mengarahkan fakta-fakta tersebut untuk pemecahan masalah. Dan pada akhirnya ia akan
    berpikir secara ”mengejutkan” dan menghasilkan pemecahan masalah dengan cara yang tidak
    terpikirkan oleh orang lain, meskipun mungkin hal tersebut bisa jadi berupa sesuatu yang
    sederhana.

    Hubungan antara Kreativitas dan Perilaku Menyimpang
    Beberapa ciri orang kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menelorkan ide, gagasan,
    pemecahan, cara kerja yang tidak lazim (meski tak selalu baik), yang jarang,
    bahkan ”mengejutkan”; memiliki kemampuan berpikir segala arah untuk mencari jawaban
    yang berbeda dari umumnya, yang mungkin ada. Ciri orang kreatif ini, hampir selalu dapat
    kita temukan dalam karakter seorang penggagas kreatif. Kreativitas yang dimiliki oleh
    penggagas kreatif tak jarang seringkali membuat orang lain menjadi takjub ketika melihat
    hasil akhir dari sebuah proses kreatif.
    Dalam kehidupannya, para penggagas kreatif dikarenakan tuntutan untuk bisa outstanding
    selalu menjadi problem solver bagi orang lain, maka seringkali kemudian menjadi tidak peka
    terhadap perasaan ataupun pemikiran orang lain. Banyak yang tidak mengambil pusing
    dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka dan akhirnya mendorong mereka
    untuk tidak mempedulikan juga adat ataupun aturan yang ada. Bagi beberapa pihak yang
    pengendalian dirinya kurang, maka tuntutan-tuntutan kreativitas yang berlebihan bisa
    memunculkan efek kekacauan psikologis yang membawa mereka ke gaya hidup yang
    menyimpang, misalkan minum-minum berlebihan sehingga lepas kendali, atau dengan
    mengadakan party yang mengundang striptease dancer dengan alasan menghilangkan
    kepenatan.
    Secara tidak langsung, ciri-ciri yang dimiliki diatas adalah suatu perilaku menyimpang.
    Kenyataan ini seakan-akan mendorong masyarakat pada umumnya untuk menyetujui bahwa
    perilaku menyimpang itu dapat dibenarkan, karena sekalipun orang kreatif berperilaku
    menyimpang, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mereka berhasil.
    http://fportfolio.petra.ac.id

    Suka

  16. NAMA : WITA ERMAYANI
    NIM : 11.20.1697

    RELASI KREATIFITAS DAN PERILAKU ABNORMAL

    Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal.
    Ada beberapa criteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal antara lain :
    1. statistical infrequency
    perspektif ini menggunakan ukuran statistic dimana semua variable yang akan diukur didistribusikan kedalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukan pada distribusi dikedua ujung kurva. Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi,keterampilan membaca, dsb. Namun kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan), misalnya orang yang mempunyai IQ 150 tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
    2. Unexpectedness
    Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba cemas (misalnya ditunjukan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada ditengah-tengah keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang yang mengkhawatirkan keuangan keluarganya padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat.
    3. Violation of norms
    Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks social dimana perilaku tersebut terjadi. Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.
    4. Personal distress
    Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
    5. Disability
    Individu mengalami ketidak mampuan ( kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, social atau pekerjaan.
    Menurut Mihaly Csikszentmihalyi, meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh. Apa-apa saja sikap kontradiktif mereka?
    Orang-orag kreatif memiliki tingkat kreatif yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu yang lama untuk beristirahat. Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, da gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga biasa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka. Dimata orang luar mereka terlihat seperti orang termalas didunia.
    Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi disisi lain mereka tidak segan-segan untuk berfikir ala orang goblok dalam memandang persoalan. Mereka memulai pemecahan masalah dengan berfikir divergen: mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.
    Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas. Mereka mampu menyalurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi disiang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bias ikut megerti dan menikmatinya.
    Orang –orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin da ketekunan. Tidak seperti orag lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaanya dengan antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan mainannya.
    Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitive pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sring gelisah, bahkan mederita. Sesuatu yang tidak beres disekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya atau pencapaian yag tidak dihargai sebagaimana mestinya. Hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.
    Sumber :
    http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-abnormal.html
    http://senikreasikaryaamanah.com/2012/02/ciri-orang-kreatif-html.

    Suka

  17. Relasi Kreativitas dan Prilaku Abnormal

    Kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya askalasi dalam kemampuan berpikir di tandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi dan integrasi antara setiap tahap perkembangan .
    Salah satu indikasi perilaku yang dianggap tidak normal adalah adanya perbedaan, di luar kelaziman pada umumnya. Namun untuk menentukan, apakah perilaku seseorang tersebut abnormal atau normal, tidak bisa dilakukan dengan serta merta mengingat pengertian lazim dan umum sangatlah relatif. Tergantung ukuran yang digunakan, dan hal itu akan selalu berhubungan dengan tata nilai-nilai budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat.
    Disisi lain, atlit, seniman atau ilmuwan yang berhasil mengukir prestasi tingkat dunia, yang pada dasarnya merupakan perwujudan dari perilaku yang tidak lazim, tidak dikategorikan sebagai perilaku abnormal. Atlit, seniman atau ilmuwan yang berprestasi justru mendapatkan apresiasi, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok idola, sebagaimana yang dialami para bintang lapangan sepakbola.
    Diantara perilaku abnormal, nilai-nilai yang digunakan untuk mengukur perilaku seseorang, serta bentuk-bentuk prestasi luar biasa, telah dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang berprestasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dibalik prestasi luar biasa yang berhasil dicapai seseorang, tersimpan potensi ketidakstabilan mental.
    Felix Post (1994) menebitkan survey kepribadian di jurnal The British Jour-nal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkam adanya korelasi antara keunggulan kreatif dengan ketidakstabilan mental. Potensi ancaman ketidakstabilan mental berdasarkan ketegori profesi disimpulkan sebagai berikut :
    Ilmuwan 42,2 %
    Pemusik 61,6 %
    Negarawan 63 %
    Seniman 75 %
    Cendekiawan 74 %
    Pengarang 90 %
    Psikiater Kay Redfield Jamison berdasarkan survey yang dilakukannya terhadap seniman seperti William Blake, Lord Byron, Dylan Thomas, Vrginia Woolf, Ernest Hemingway yang beberapa diantaranya pernah lama dirawat di rumah sakit jiwa, dan banyak diantaranya, terutama penyair dan pengarang, mengakiri hidupnya dengan bunuh diri.
    Fakta lain juga terjadi pada kehidupan para musisi seperti Kurt Cobain, Jim Morrison, Jimmy Hendrix yang hidupnya berakhir dengan bunuh diri atau over dosis obat-obatan. Demikian juga dengan yang terjadi pada diri sastrawan Inggris Virginia Woolf. Atas apa yang dialami Virgina Woolf, Brouwer dan Sidharta (1989) membedah kepribadiannya melalui pendekatan fenomenologis.
    Sebagaimana dunia yang terbagi atas dunia luar, yaitu dunia benda-benda dan orang-orang yang kita temui sehari-hari. Dunia batin tempat bersemayamnya khayalan dan pikiran. Dunia ketiga adalah bukan alam riil maupun khayalan. Dunia ini disebut realitas transisional, yaitu dunia permainan, kreativitas, dan kesenian. Dalam dunia ketiga itulah Virginia Woolf mendiami alam eksistensialnya. Suatu waktu kakaknya Vanessa mengeluh, bahwa ia diganti dengan suatu kepribadian khayalan hasil rekaan adiknya, dan virginia sering melihat Vanessa berdasarkan gam-baran khayalan, bukan sebagai pribadi yang nyata. Beberapa kali Virginia menderita serangan kegilaan, dan lebih dari satu kali dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri. Badan psikis Virgnia adalah badan yang rusak. Kondisi ini menimbulkan rasa minder yang tak terhingga. Dia tidak lagi sanggup merespons lingkungannya dengan positif. Karena orang di sekitarnya tidak menghormati dia, wanita yang pernah gila. Buku yang ditulisnya bukan sekresi badan seperti keringat atau air liur. Buku dilahirkan badan fenomenal dalam suatu proses yang tidak kalah menderita dibanding dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya. Virginia sangat peka terhadap kritikan atas karyanya, namun Virginia tanpa sadar telah berusaha menyelamatkan jiwanya dengan mengarang, meskipun akhirnya harus menyerah dengan mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Osse.
    Sebagian ahli menyebut fenomena ini sebagai kegilaan berguna, bukan hanya menimbulkan penderitaan berat, tetapi juga kreativitas yang luar biasa.

    Sumber: http://sriwotospd.blogspot.com/2012/02/kegilaan-berguna-diantara-kreativitas.html

    Suka

  18. Nama : Isma’ul Nikmah
    NIM : 11.20.1638

    Psikologi abnormal mencakup sudut pandang yang lebih luas tentang perilaku abnormal dibandingkan studi tentang gangguan mental ( psikologis ). Studi gangguan mental umumnya diasosiasikan dengan perspektif model medis (medical model) yang menganggap bahwa perilaku abnormal merupakan simtom dari penyakit atau gangguan yang mendasarinya.
    Untuk memahami perilaku abnormal psikolog menggunakan acuan DSM (Diagnostic and Statistical manual of mental disorder). DSM menggunakan criteria diagnostic specific untuk mengelompokkan pola – pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri – ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi yang multiaksial.
    Psikologi Abnormal ( Abnormal Psychology ) merupakan salah satu cabang psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal dan cara menolong orang – orang yang mengalaminya. Satu jawabannya adalah kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi dapat dikatakan abnormal bila tidak sesuai dengan situasinya. Hal yang normal bila kita tertekan dalam tes tetapi menjadi tidak normal ketika rasa cemas itu muncul ketika sedang memasuki department store atau menaiki lift. Perilaku abnormal juga diindikasikan melalui besarnya / tingkat keseriusan problem. Walaupun bentuk kecemasan sebelum interview kerja dianggap cukup normal namun merasa seakan – akan jantung akan copot yang mengakibatkan batalnya interview adalah tidak normal.
     Pengelompokan Definisi Abnormal
    1. Pendekatan Statistic
    2. Pendekatan Fungsional
    3. Pendekatan Kultural
     Kriteria Yang Menentukan Abnormalitas
    1. Perilaku yang tidak biasa
    2. Perilaku yang tidak dapat diterima secara social atau melanggar norma sosial.
    3. Persepsi atau tingkah laku yang salah terhadap realitas
    4. Orang – orang tersebut berada dalam stress personal yang signifikan
    5. Perilaku maladaptive
    6. Perilaku Berbahaya
     Faktor-Faktor Penentu Abnormalitas
    Sebab – sebab perilaku Abnormal dapat ditinjau dari beberapa sudut, misalnya berdasarkan tahap berfungsinya dan menurut sumber asalnya. Kedua macam penggolongan tersebut disajikan sebagai berikut:

    a). Menurut Tahap Berfungsinya
    Menurut tahap – tahap berfungsinya, sebab – sebab perilaku abnormal dapat dibedakan sebagai berikut :
    1. Penyebab Primer ( Primary Cause )
    Penyebab primer adalah kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan tidak akan muncul.
    2. Penyebab yang Menyiapkan ( Predisposing Cause )
    Kondisi yang mendahului dan membuka jalan bagi kemungkinan terjadinya gangguan tertentu dalam kondisi – kondisi tertentu di masa mendatang.
    3. Penyebab Pencetus ( Preciptating Cause )
    Penyebab pencetus adalah setiap kondisi yang tak tertahankan bagi individu dan mencetuskan gangguan.
    4. Penyebab Yang Menguatkan ( Reinforcing Cause )
    Kondisi yang cenderung mempertahankan atau memperteguh tinkah laku maladaptif yang sudah terjadi.
    5. Sirkulasi Faktor – Faktor Penyebab
    Dalam kenyataan, suatu gangguan perilaku jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal. Serangkaian faktor penyebab yang kompleks, bukan sebagai hubungan sebab akibat sederhana melainkan saling mempengaruhi sebagai lingkaran setan, sering menadi sumber penyebab sebagai abnormalitas.

    b). Menurut Sumber Asalnya
    Berdasarkan sumber asalnya, sebab – sebab perilaku abnormal dapat digolongkan sedikitnya menjadi tiga yaitu :
    1. Faktor Biologis
    Adalah berbagai keadaan biologis atau jasmani yang dapat menghambat perkembangan ataupun fungsi sang pribadi dalam kehidupan sehari – hari seperti kelainan gen, kurang gizi, penyakit dsb.

    2. Faktor – faktor psikososial
    a. Trauma Di Masa Kanak – Kanak
    b. Deprivasi Parental
    c. Hubungan orang tua – anak yang patogenik
    d. Struktur keluarga yang patogenik
    e. Stress berat

    3. Faktor – Faktor Sosiokultural
    Meliputi keadaan obyektif dalam masyarakat atau tuntutan dari masyarakat yang dapat berakibat menimbulkan tekanan dalam individu dan selanjutnya melahirkan berbagai bentuk gangguan.

    Kreativitas pada dasarnya merupakan suatu kemampuan seseorang untuk melihat dan memikirkan hal-hal yang luar biasa atau sesuatu yang kurang lazim, mencetuskan gagasan-gagasan baru yang menunjukkan kelancaran dalam berfikir rasional. Jadi kreativitas merupakan suatu daya kreasi seseorang yang muncul dari dalam diri seseorang untuk mampu menelorkan sesuatu yang berharga. Tanpa adanya kreativitas, maka sulit sekali bagi seseorang untuk dapat berkembangan, apalagi keinginan-keinginan untuk dapat mencapai tingkat produksi kerja yang maksimal. Maka oleh karena itulah setiap manusia harus memiliki kreativitas dalam melakukan tugas dan pekerjaan.

    Prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atau dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya. (Depdikbud, 1995 :787). Purwodarminto (1984) menyatakan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan.

    Ketiga hal di atas sangat berhubungan erat. Prestasi tidak bisa dicapai tanpa kreativitas, karena dengan kreativitas dan ide-ide baru kita bisa menghasilkan prestasi yang memuaskan. Tetapi disaat semua itu sudah berada pada puncaknya, dengan atau tanpa kita sadari mungkin saja kita akan melakukan perilaku yang abnormal. Misalnya saja seorang pengarang yang telah banyak menelorkan karya-karya besar, disaat puncak kejayaannya dia lebih memilih bunuh diri. Karena dia takut kalau kreativitasnya menurun sehingga dia lebih memilih mengakhiri hidupnya sampai disitu.

    Sumber : http://kusbiantari.blogspot.com/

    Suka

  19. Nama : Muhdi
    NIM : 11.20.1663

    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.

    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.

    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan, seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
    Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas. Sementara, menurut kriteria patologis pun mungkin saja tidak akan dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal selama yang bersangkutan masih mampu menunjukkan orientasi dan objek sexual yang normal alias tidak mengalami psikosexual neurosis.

    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Banyak ahli yang sudah merumuskan ciri-ciri perilaku kreatif.
    Ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence
    1. Berani dalam pendirian, berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang.
    2. Memiliki sifat ingin tahu
    3. Mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu
    4. Menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    5. Bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    6. Orang yang teguh
    7. Tidak mudah menerima penilaian dari orang lain, meskipun banyak orang yang menyetujuinya.

    Sumber :
    http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/15/tiga-kriteria-perilaku-abnormal/
    http://www.psychologymania.com/2012/07/ciri-ciri-perilaku-kreatif.html

    Suka

  20. RELASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL…..

    kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan hubunganhubungan
    baru dan membuat kombinasi-kombinasi baru yang mencerminkan
    kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir sehingga dapat
    menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini sesuatu yang baru tidak berarti
    sebelumnya tidak ada, akan tetapi sesuatu yang baru ini dapat berupa sesuatu
    yang belum dikenal sebelumnya.

    Perilaku Abnormal
    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1.kriteria statistic
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
    Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas. Sementara, menurut kriteria patologis pun mungkin saja tidak akan dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal selama yang bersangkutan masih mampu menunjukkan orientasi dan objek sexual yang normal alias tidak mengalami psikosexual neurosis.

    Suka

  21. Nama: Dina Bunga Kasih
    Nim : 11.20.1624
    Semester III

    I. KREATIVITAS
    Definisi Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru(inovatif)atau belum ada sebelumnya , segar ,menarik , aneh dan mengejutkan,berguna dan dapat dimengerti. Kegiatan kreatif 1. Persiapan (Preparation): Meletakan dasar.Mempelajari latar belakang perkara,seluk beluk,dan problematikanya
    2. Konsentrasi (Consentration) : Sepenuhnya memikirkan ,masuk luluh,terserap dalam perkara yang dihadapi
    3. Inkubasi (Incubation) : Mengambil waktu untuk meningalkan perkara,Istirahat,
    waktu santai .Mencari kegiatan-kegiatan yang melepaskan diri dari kesibukan pikiran mengenai perkara yang sedang dihadapi
    4. Iluminasi(Ilmunination): tahap mendapatkan ide gagasan ,pemecahan,peyelesaian,cara kerja,jawaban baru.
    5. Verifikasi / Produksi (Verification/production) : menghadapi dan memecahkan masalah-masalah praktis sehubungan dengan perwujudan ide, gagasan ,pemecahan,peyelesaian, cara kerja,jawaban baru,Seperti menghubungi, meyakinkan dan mengajak orang,meyusun rencana kerja, dan melaksanakannya.
    mengandung perubahan arah.Dalam hal pencarian ide ,kita berada untuk menemukan ide ,gagasan,pemecahan masalah ,peyelesaian perkara atau cara kerja baru.dan ketika jalan buntu merupakan titik akhir usaha kita maka bila kita melakukan hal yang sudah kita pernah kerjakan dan semuanya sudah di coba maka tiada k ata lain berfikir secara kreatif adalah hal yang perlu dilakukan.Ada Tahap-tahap kreativitas yang perlu dilakukan antara lain :
    Sumber : http://kawanlama95.wordpress.com/2010/08/01/definisi-kreativitas/
    II. PERILAKU ABNORMAL
    Psikologi Abnormal ( Abnormal Psychology ) merupakan salah satu cabang psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal dan cara menolong orang – orang yang mengalaminya. Dari waktu ke waktu sebagian dari kita merasa cemas ketika menghadapi interview kerja yang penting atau ujian akhir . Lalu bagaimana kita di anggap melanggar batas antara perilaku abnormal dengan normal ?
    Satu jawabannya adalah kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi dapat dikatakan abnormal bila tidak sesuai dengan situasinya. Hal yang normal bila kita tertekan dalam tes tetapi menjadi tidak normal ketika rasa cemas itu muncul ketika sedang memasuki department store atau menaiki lift. Perilaku abnormal juga diindikasikan melalui besarnya / tingkat keseriusan problem. Walaupun bentuk kecemasan sebelum interview kerja dianggap cukup normal namun merasa seakan – akan jantung akan copot yang mengakibatkan batalnya interview adalah tidak normal.
    Sumber: http://kusbiantari.blogspot.com/

    Ciri Individu Kreatif menurut Para Ahli

    Ciri-ciri Perilaku Orang Kreatif
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Banyak ahli yang sudah merumuskan ciri-ciri perilaku kreatif. Di bawah ini akan dijelaskan satu-persatu.
    Ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence (dalam Utami Munandar, 1988) adalah:
    1. Berani dalam pendirian, berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang.
    2. Memiliki sifat ingin tahu
    3. Mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu
    4. Menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    5. Bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    6. Orang yang teguh
    7. Tidak mudah menerima penilaian dari orang lain, meskipun banyak orang yang menyetujuinya.
    Sedangkan Guilford (dalam Munandar, 1988) mengemukakan ciri-ciri individu yang kreatif ditentukan dari:
    1. Flexibility, yaitu bagaimana keterbukaan seseorang pada gagasan baru, pengalaman dan kemampuan menggabungkan ide (dengan evaluasi mingguan, bulanan, tahunan)
    2. Fluency, yaitu bagaimana seseorang menuangkan ide -ide kreatif secara lancar (dengan cara memusyawarahkan ide-ide dengan karyawan)
    3. Redefinition, yaitu kemampuan seseorang dalam merespon sesuatu yang unik (seperti seorang pimpinan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh karyawan ataupun keluarga karyawan.
    4. Originality, yaitu kemampuan seseorang dalam menangkap esensi dari informasi yang ditampilkan dalam bentuk figura/yang tertuang dalam judul karya (memberikan bonus apabila karyawan memiliki prestasi kerja)
    5. Elaboration, yaitu kemampuan memperluas ide serta kemampuan asosiatif untuk mengolah stimulus abstrak menjadi nyata.
    Sementara itu dinyatakan oleh Utami Munandar (1988) bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    1. Orang yang bebas dalam berpikir
    2. Orang yang memiliki daya imajinasi
    3. Bersifat ingin tahu
    4. Ingin mencari pengalaman baru
    5. Mempunyai inisiatif
    6. Bebas dalam mengemukakan pendapat
    7. Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    8. Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    9. Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    10. Tidak pernah bosan, dalam arti jarang putus asa dan akan selalu mencoba lagi sampai dapat memecahkan masalahnya.
    Sumber : http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

  22. Nama : Misdawiyah
    NIM : 11.20.1658

    Perkembangan Abnormal

    A. Makna Perkembangan Abnormal
    Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal.
    B. Kriteria Perilaku Abnormal
    Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
    1. Statistical infrequency
    • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
    • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb.
    • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
    • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.
    2. Unexpectedness
    • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

    3. Violation of norms
    • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
    • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.
    • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
    • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.
    4. Personal distress
    • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
    • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
    • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
    • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
    5. Disability
    • Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
    • Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.
    Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.
    C. AUTISME
    Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Autis adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya abnormal yang muncul sebelum usia tiga tahun dengan ciri fungsi yang abnormal dalam tiga bidang yaitu kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Mereka tidak mampu mengekspresikan perasaan maupun keinginannya, yang mengakibatkan perilaku dan hubungannya dengan orang tua terganggu.

    D. GEJALA-GEJALA AUTIS
    1. Terjadi gangguan komunikasi verbal maupun non-verbal seperti terlambat bicara, sering meniru (echolalia), sering menarik tangan orang didekatnya agar melakukan sesuatu untuknya.
    2. Terjadi gangguan interaksi sosial seperti menghindari tatapan mata orang lain, lebih asyik bermain sendiri, dan menolak bila dipeluk.
    3. Gangguan pada perilaku yang berlebihan (excessive), misalnya tak bisa diam dan mengulang-ulang gerakan tertentu. Atau gangguan perilaku kekurangan (deficient), misalnya diam dengan tatapan mata kosong, bermain secara monoton.
    4. Terjadi gangguan emosi, yakni tak ada atau kurangnya empati, tertawa-tawa, menangis atau marah-marah sendiri, dan sering mengamuk.
    5. Terjadi gangguan persepsi sensoris seperti suka mencium-cium atau menjilat-jilat benda apa saja, tak bisa mendengar suara keras, dan tak mau diraba.

    E. ANAK BERBAKAT
    Peserta didik yang mampu menumbuhkembangkan berbagai potensi kemanusiaannya pada taraf yang tinggi disebut sebagai peserta didik yang berbakat. Keberbakatan merupakan konsep yang berakar bilogis, yang menunjuk pada adanya taraf yang tinggi dari inteligensi sebagai hasil integrasi fungsi-fungsi otak, meliputi penginderaan, emosi, kognisi dan intuisi. Keberbakatan dengan demikian merupakan potensi anak yang terlihat dari kreativitas verbal maupun non verbal.

    Anak berbakat ialah anak yang mencapai kemampuan superior dalam suatu bidang yang dianggap bernilai oleh masyarakat. Dilihat dari skor IQ, anak berbakat berada dalam skore 135 s/d 200, mempunyai prestasi yang tinggi dalam belajar dan penonjolan yang luar bisa dalam bidang tertentu.

    Ciri-ciri anak berbakat:
    1. Ciri fisik sehat dan perkembangan psikomotori lebih cepat dari rata-rata, terutama dalam kemampuan koordinasi
    2. Ciri mental intelektual: usia mental lebih tinggi dari pada rata-rata anak normal. Daya tangkap dan pemahaman lebih cepat dan luas. Dapat berbicara lebih dini. Hasrat ingin tahu lebih besar, selalu ingin mencari jawab. Kreatif, mandiri dalam bekerja dan belajar serta mempunyai cara belajar yang khas
    3. Ciri mental emosional; mempunyai kepercayaan diri yang kua, persisten sampai keinginannya terpenuhi atau gigih. Peka terhadap situasi di sekitarnya, senang terhadap hal-hal yang baru dan ciri ini dapat berkembang menjadi negatif bosan dengan hal-hal rutin, egois dan sebagainya.
    4. Ciri sosial: senang bergaul dengan anak yang lebih tua, suka bermain dengan permainan yang mengandung pemecahan masalah, suka bekerja sendiri, sukar bergaul dengan teman sebaya, sukar menyesuaikan diri.
    5. Anak berbakat selalu rasional, responsif, senang belajar, kreatif, orisinil, apresiatif, elaboratif serta menerapkan metode ilmiah.

    F. PROGRAM PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERBAKAT
    1. Pengayaan atau enrichment adalah pembinaan anak berbakat dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat ekstensif dan intensif. Pengayaan diberikan kepada anak setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan untuk anak-anak sekelasnya. Pengayaan dapat diberikan seperti tugas perpustakaan, independent study, proyek penelitian, studi kasus dsb
    2. Percepatan atau akselerasi yaitu cara penanganan anak berbakat dengan memperbolehkan naik kelas secara meloncat atau menyelesaikan program reguler dalam jangka waktu yang lebih singkat. Variasi bentuk percepatan ini antara lain adalah:
    a. Eraly admission atau masuk lebih awal,
    b. Advanced placement atau naik kelas sebelum waktunya, mempercepat kenaikan kelas, advanced courses atau mempercepat pelajaran atau merangkap kelas dll.
    3. Pengelompokan khusus atau segregation yang dapat dilakukan sepenuhnya atau sebagian yaitu bila sejumlah anak berbakat dikumpulkan dan diberi kesempatan untuk secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya.

    Sumber : http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-abnormal.html

    Suka

  23. Relasi Kreativitas dan Prilaku Abnormal

    Makna Perkembangan Abnormal
    Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal.

    Contohnya adalah anak Autisme
    Autis adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya abnormal yang muncul sebelum usia tiga tahun dengan ciri fungsi yang abnormal dalam tiga bidang yaitu kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Mereka tidak mampu mengekspresikan perasaan maupun keinginannya, yang mengakibatkan perilaku dan hubungannya dengan orang tua terganggu.
    GEJALA-GEJALA AUTIS
    1. Terjadi gangguan komunikasi verbal maupun non-verbal seperti terlambat bicara, sering meniru (echolalia), sering menarik tangan orang didekatnya agar melakukan sesuatu untuknya.
    2. Terjadi gangguan interaksi sosial seperti menghindari tatapan mata orang lain, lebih asyik bermain sendiri, dan menolak bila dipeluk.
    3. Gangguan pada perilaku yang berlebihan (excessive), misalnya tak bisa diam dan mengulang-ulang gerakan tertentu. Atau gangguan perilaku kekurangan (deficient), misalnya diam dengan tatapan mata kosong, bermain secara monoton.
    4. Terjadi gangguan emosi, yakni tak ada atau kurangnya empati, tertawa-tawa, menangis atau marah-marah sendiri, dan sering mengamuk.
    5. Terjadi gangguan persepsi sensoris seperti suka mencium-cium atau menjilat-jilat benda apa saja, tak bisa mendengar suara keras, dan tak mau diraba
    ANAK BERBAKAT
    Peserta didik yang mampu menumbuhkembangkan berbagai potensi kemanusiaannya pada taraf yang tinggi disebut sebagai peserta didik yang berbakat. Keberbakatan merupakan konsep yang berakar bilogis, yang menunjuk pada adanya taraf yang tinggi dari inteligensi sebagai hasil integrasi fungsi-fungsi otak, meliputi penginderaan, emosi, kognisi dan intuisi. Keberbakatan dengan demikian merupakan potensi anak yang terlihat dari kreativitas verbal maupun non verbal.

    Anak berbakat ialah anak yang mencapai kemampuan superior dalam suatu bidang yang dianggap bernilai oleh masyarakat. Dilihat dari skor IQ, anak berbakat berada dalam skore 135 s/d 200, mempunyai prestasi yang tinggi dalam belajar dan penonjolan yang luar bisa dalam bidang tertentu.

    Ciri-ciri anak berbakat:
    1. Ciri fisik sehat dan perkembangan psikomotori lebih cepat dari rata-rata, terutama dalam kemampuan koordinasi
    2. Ciri mental intelektual: usia mental lebih tinggi dari pada rata-rata anak normal. Daya tangkap dan pemahaman lebih cepat dan luas. Dapat berbicara lebih dini. Hasrat ingin tahu lebih besar, selalu ingin mencari jawab. Kreatif, mandiri dalam bekerja dan belajar serta mempunyai cara belajar yang khas
    3. Ciri mental emosional; mempunyai kepercayaan diri yang kua, persisten sampai keinginannya terpenuhi atau gigih. Peka terhadap situasi di sekitarnya, senang terhadap hal-hal yang baru dan ciri ini dapat berkembang menjadi negatif bosan dengan hal-hal rutin, egois dan sebagainya.
    4. Ciri sosial: senang bergaul dengan anak yang lebih tua, suka bermain dengan permainan yang mengandung pemecahan masalah, suka bekerja sendiri, sukar bergaul dengan teman sebaya, sukar menyesuaikan diri.
    5. Anak berbakat selalu rasional, responsif, senang belajar, kreatif, orisinil, apresiatif, elaboratif serta menerapkan metode ilmiah.

    Suka

  24. Relasi Kreativitas dan Perilaku Abnormal

    Psikologi abnormal mempunyai beberapa kriteria yang digunakan untuk pertimbangan, gangguan psikologis disebut juga gangguan mental yang mempunyai bentuk yang berbeda dalam budaya berbeda dan memiliki pandangan atau model-model yang menjelaskan perilaku abnormal juga bervariasi antar budaya.
    Dalam psikologi abnormal dimasukkan jenis-jenis psikologi sebagai berikut:
    a. Psikologi kriminal
    b. Psikopatologi
    c. Patologi sosial

    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu.

    Ahli kesehatan mental terdiri dari beberapa tipe yang berbeda-beda dalam latar belakang pelatihan mereka, tetapi meskipun begitu mereka mempunyai tujuan utama yaitu untuk dapat mengembalikan kenormalan seseorang yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor-faktor berikut ini :
    « Gangguan Kepribadian
    « Ganguan Mood
    « Gangguan Identitas Disosiatif
    « Kecemasan
    « Gangguan Penyesuaian dan Stress

    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu.
    Menurut Utami Munandar (1988) bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    1. Orang yang bebas dalam berpikir
    2. Orang yang memiliki daya imajinasi
    3. Bersifat ingin tahu
    4. Ingin mencari pengalaman baru
    5. Mempunyai inisiatif
    6. Bebas dalam mengemukakan pendapat
    7. Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    8. Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    9. Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    10. Tidak pernah bosan.

    Namun tidak semua orang yang abnormal tidak memiliki kreativitas atau prestasi. Contohnya saja adalah Albert Einsten, yang dikenal sebagai ilmuan “gila” , seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”.
    Dan juga Thomas Alva Edison adalah penemu dari Amerika dan merupakan satu dari penemu terbesar sepanjang sejarah. Selama karirnya, Thomas Alva Edison telah mempatentkan sekitar dari 1.093 hasil penemuannya, termasuk bola lampu listrik dan gramophone, juga kamera film. Edison di usia 12 tahun, memperoleh penghasilan dengan cara bekerja menjual koran dan surat kabar, buah apel, serta gula-gula di sebuah jalur kereta api. Di usia itu pula, Edison hampir mengalami kehilangan seluruh pendengaran karena penyakit yang dideritanya, penyakit itu membuatnya menjadi setengah tuli.

    Jadi, menurut saya tidak semua orang normal memilikin kreativitas atau prestasi dan tidak semua orang yang abnormal tidak memiliki kreativitas atau prestasi.

    Sumber : The Creative Personality – Psychology Today dari web: http://www.senikreasikaryaamanah.com/2012/02/ciri-orang-kreatif.html

    Suka

    1. Psikologi abnormal mempunyai beberapa kriteria yang digunakan untuk pertimbangan, gangguan psikologis disebut juga gangguan mental yang mempunyai bentuk yang berbeda dalam budaya berbeda dan memiliki pandangan atau model-model yang menjelaskan perilaku abnormal juga bervariasi antar budaya.
      Dalam psikologi abnormal dimasukkan jenis-jenis psikologi sebagai berikut:
      a. Psikologi kriminal
      b. Psikopatologi
      c. Patologi sosial

      Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu.

      Ahli kesehatan mental terdiri dari beberapa tipe yang berbeda-beda dalam latar belakang pelatihan mereka, tetapi meskipun begitu mereka mempunyai tujuan utama yaitu untuk dapat mengembalikan kenormalan seseorang yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor-faktor berikut ini :
      « Gangguan Kepribadian
      « Ganguan Mood
      « Gangguan Identitas Disosiatif
      « Kecemasan
      « Gangguan Penyesuaian dan Stress

      Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu.
      Menurut Utami Munandar (1988) bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
      1. Orang yang bebas dalam berpikir
      2. Orang yang memiliki daya imajinasi
      3. Bersifat ingin tahu
      4. Ingin mencari pengalaman baru
      5. Mempunyai inisiatif
      6. Bebas dalam mengemukakan pendapat
      7. Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
      8. Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
      9. Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
      10. Tidak pernah bosan.

      Namun tidak semua orang yang abnormal tidak memiliki kreativitas atau prestasi. Contohnya saja adalah Albert Einsten, yang dikenal sebagai ilmuan “gila” , seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”.
      Dan juga Thomas Alva Edison adalah penemu dari Amerika dan merupakan satu dari penemu terbesar sepanjang sejarah. Selama karirnya, Thomas Alva Edison telah mempatentkan sekitar dari 1.093 hasil penemuannya, termasuk bola lampu listrik dan gramophone, juga kamera film. Edison di usia 12 tahun, memperoleh penghasilan dengan cara bekerja menjual koran dan surat kabar, buah apel, serta gula-gula di sebuah jalur kereta api. Di usia itu pula, Edison hampir mengalami kehilangan seluruh pendengaran karena penyakit yang dideritanya, penyakit itu membuatnya menjadi setengah tuli.

      Jadi, menurut saya tidak semua orang normal memilikin kreativitas atau prestasi dan tidak semua orang yang abnormal tidak memiliki kreativitas atau prestasi.

      Sumber : The Creative Personality – Psychology Today dari web: http://www.senikreasikaryaamanah.com/2012/02/ciri-orang-kreatif.h

      Suka

  25. Didalam psikologi sering kita mendengar istilah normal dan abnormal. Seringkali orang mengatakan normal sama dengan sehat (healt). Tetapi sangat berbeda sekali penggunaan kedua struktur kata ini didalam dunia psikologi. Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurna secara biopsikososial, lebih sekedar terbebas dari penyakit atau kecacatan.
    Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental, dan kehidupan sosial yang lengkap dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau cacat/luka. Jadi bisa dikatakan sehat itu bisa dilihat dari fisik tiada cacat, mentalnya tidak terganggu. Sehat mental bisa dimaknai dengan penyesuain manusia terhadap dunia lingkungannya dan terhadap diri orang lain dengan keefektifan serta kebahagiaan yang maksimum.
    Ada lima pengertian normalitas dari hasil survei yang dilakukan offer dan sabsiro:
    1. tidak adanya gangguan atau kesakitan
    2. keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif
    3. normal sebagai rata-rata pengertian statistik
    4. diterima secara sosial
    5. proses berlangsung secara wajar, terutama dalam tahapan perkembangan.
    Didasarkan klasifikasi pengertian normal itu atau kategori perilaku diatas, maka istilah normal tidak selalu berarti sehat. sehat lebih bermakna pengertian khusus, yaitu keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif. meskipun istilah normal dapat digunakan untuk menyebut istilah sehat, namun tidak semua tepat dugunakan.
    Dalam pembicaraan sehari-hari, atau dalam pembahasan ilmiah, sering dijumpai istilah disorder (gangguan) dan deviasi. istilah ini sering kali dianggap sama, namun sebenarnya penekanannya berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan dalam beberapa hal, antara gangguan dan deviasi berhubungan, artinya orang yang mengalami gangguan sekaligus melakukan tindakan yang menyimpang secara sosial, misalnya orang mengalami gangguan kepribadian antisosial (psikopat) yang selalu melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan masyarakat.
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/10/perilaku-abnormal/

    Suka

  26. Nama : H. Muhammad Yusuf
    Nim : 11.20.1629
    Perilaku Abnormal

    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata.
    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
    Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas.
    Sumber: http://vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=104:perilaku-abnormal&catid=52:psikologi-abnormal&Itemid=70
    Pengertian Kreativitas :
    Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang belum pernah ada sebelumnya dengan menekankan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif
    Faktor pribadi yang kreatif menurut Roger (dalam Afifa, 2007) :
    •Keterbukaan kepada pengalaman,
    •Kemampuan untuk memberikan penilaian secara internal sesuai dengan lokus pribadinya,
    •Kemampuan untuk secara spontan bereksplorasi bermain dengan elemen-elemen dan konsep-konsep.
    ada beberapa faktor yang mendorong tumbuhnya kreativitas yaitu:
    •Predisposisi genetik (Genetic predisposition)
    Predisposisi genetik atau genetic predisposition sebagai faktor pertama yang memberikan peluang terhadap tumbuhnya kreativitas. Dengan memperoleh keberhasilan yang terus meningkat menjadi lebih baik pada ranahnya masing-masing, minat seorang anak akan lebih mendalam dan ingin mempelajari sesuatu yang diminatinya lebih jauh lagi.
    •Akses terhadap ranah (Acces to a domain)
    Untuk memicu tumbuhnya kreativitas menurut Csikszentmihalyi (dalam Afifa, 2007) diperlukan akses terhadap ranah yang diminati, yang ditentukan juga oleh faktor keberuntungan.
    •Akses terhadap bidang (Acces to a field)
    Pengakuan terhadap kreativitas seseorang penting bagi orang-orang yang sedang berkarya di bidangnya. Karenanya ia perlu membina hubungan baik di lapangan dengan para pakar dan orang yang relevan di bidangnya.
    Sumber : http://tyaset4.blog.com/2010/02/15/definisi-kreativitas/

    Suka

  27. Nama : M. Fauzi Rahman N.Y.
    NIM : 11.20.1650
    Perilaku Abnormal
    Didalam psikologi sering kita mendengar istilah normal dan abnormal. Seringkali orang mengatakan normal sama dengan sehat (healt). Tetapi sangat berbeda sekali penggunaan kedua struktur kata ini didalam dunia psikologi. Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurna secara biopsikososial, lebih sekedar terbebas dari penyakit atau kecacatan.
    Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental, dan kehidupan sosial yang lengkap dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau cacat/luka. Jadi bias dikatakan sehat itu bias dilihat dari fisik tiada cacat, mentalnya tidak terganggu. Sehat mental bias dimaknai dengan penyesuain manusia terhadap dunia lingkungannya dan terhadap diri orang lain dengan keefektifan serta kebahagiaan yang maksimum.
    Ada lima pengertian normalitas dari hasil survei yang dilakukan offer dan sabsiro:
    1. Tidak adanya gangguan atau kesakitan
    2. keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif
    3. normal sebagai rata-rata pengertian statistik
    4. diterima secara sosial
    5. proses berlangsung secara wajar, terutama dalam tahapan perkembangan.
    Didasarkan klasifikasi pengertian normal itu atau kategori perilaku diatas, maka istilah normal tidak selalu berarti sehat. Sehat lebih bermakna pengertian khusus, yaitu keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif. Meskipun istilah normal dapat digunakan untuk menyebut istilah sehat, namun tidak semua tepat digunakan.
    Dalam pembicaraan sehari-hari, atau dalam pembahasan ilmiah, sering dijumpai istilah disorder (gangguan) dan deviasi. Istilah ini sering kali dianggap sama, namun sebenarnya penekanannya berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan dalam beberapa hal, antara gangguan dan deviasi berhubungan, artinya orang yang mengalami gangguan sekaligus melakukan tindakan yang menyimpang secara sosial, misalnya orang mengalami gangguan kepribadian anti sosial (psikopat) yang selalu melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan masyarakat.
    Dalam kasus yang lain, tidak selalu keduanya sejalan, bahwa adakalanya orang yang mengalami gangguan tidak deviasi, atau orang yang berprilaku deviasi social tidak sedang mengalami gangguan.
    Sumber :http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/10/perilaku-abnormal/
    Kreativitas
    Kreativitas adalah proses timbulnya ide yang baru, sedangkan inovasi adalah pengimplementasian ide itu sehingga dapat merubah dunia. Kreativitas membelah batasan dan asumsi, dan membuat koneksi pada hal hal lama yang tidak berhubungan menjadi sesuatu yang baru. Orang kreatif memunculkan banyak ide yang bernilai. Tidak semua ide kreatif terlihat cerdas, berisi keajaiban, bermuatan guna, tetapi tidak jarang ide-ide kreatif terlihat jelek, karenanya dianggap hina, dicurigai dan diolok-olok. Pada umumnya, ide kreatif sering ditolak karena bertentangan dengan keadaan yang sedang berlaku. Penolakan oleh masyarakat tersebut, barangkali, untuk memberi kerangka berpikir yang benar –benar menurut takaran mereka. Masyarakat pada umumnya merasa, bahwa ide kreatif melawan status-quo. Dan masyarakat seringkali mengabaikan ide inovatif.
    Orang kreatif memiliki kemampuan menganalisa pada peristiwa baik atau peristiwa buruk. Dengan mengembangkan kemampuan analisis ini, memungkinkan mereka merubah ide jelek menjadi baik. Sedangkan kemampuan praktikal ialah kemampuan menerjemahkan teori kedalam praktek, dan merubah ide-ide abstrak ke arah kecakapan praktikal. Adapun implikasi penanaman teori kreatif –dengan disertai tiga kemampuan di atas– yaitu, kemampuan meyakinkan orang lain bahwa ide-idenya bisa diterapkan.
    Sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/01/21/kreativitas/

    Suka

  28. Nama : M. Syuhibdi
    NIM : 11.20.1654

    Abnormalitas dilihat dari sudut pandang biologis berawal dari pendapat bahwa patologi otak merupakan faktor penyebab tingkah laku abnormal. Pandangan ini ditunjang lebih kuat dengan perkembangan di abad ke-19 khususnya pada bidang anatomi faal, neurologi, kimia dan kedokteran umum.
    Berbagai penyakit neurologis saat ini telah dipahami sebagai terganggunya fungsi otak akibat pengaruh fisik atau kimiawi dan seringkali melibatkan segi psikologis atau tingkah laku.Akan tetapi kita harus perhatikan bahwa kerusakan neurologis tidak selalu memunculkan tingkah laku abnormal, dengan kata lain tidak selalu jelas bagaimana kerusakan ini dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang.
    Fungsi otak yang kuat bergantung pada efisiensi sel saraf atau neuron untuk mentransmisikan suatu pesan melalui synaps ke neuron berikutnya dengan menggunakan zat kimia yang disebut neurotransmiter. Dengan ketidakseimbangan bio kimia otak inilah yang mendasari perspektif biologis munculnya tingkah laku abnormal. Akan tetapi selain dari patologi otak sudut pandang biologis juga memandang bahwa beberapa tingkah laku abnormal ditentukan oleh gen yang diturunkan.

    Ciri-ciri perilaku abnormal adalah:

    1. Statistical infrequency
    2. Unexpectedness
    3. Personal distress
    Sumber :http://pandinaaa.blogspot.com/2012/02/contoh-kasus-abnormal.html
    http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html
    Kreativitas
    Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, dalam bentuk suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock dalam Basuki, 2010).
    Orang kreatif memunculkan banyak ide yang bernilai. Tidak semua ide kreatif terlihat cerdas, berisi keajaiban, bermuatan guna, tetapi tidak jarang ide-ide kreatif terlihat jelek, karenanya dianggap hina, dicurigai dan diolok-olok. Pada umumnya, ide kreatif sering ditolak karena bertentangan dengan keadaan yang sedang berlaku. Penolakan oleh masyarakat tersebut, barangkali, untuk memberi kerangka berpikir yang benar –benar menurut takaran mereka. Masyarakat pada umumnya merasa, bahwa ide kreatif melawan status-quo. Dan masyarakat seringkali mengabaikan ide inovatif.
    Sumber: http://tyaset4.blog.com/2010/02/15/definisi-kreativitas/
    http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/01/21/kreativitas/

    Suka

  29. Nama :Misnawiyah
    NIM: 11.20.1659

    DEFINISI ABNORMAL
    • Abnormal adalah : perilaku yg menyimpang dari yg normal (tidak biasa terjadi)
    • Perilaku Abnormal :perilaku yg tidak dapat diterima umum.
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
    Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination–menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu.
    Kriteria Pribadi Abnormal :
    1. Kelangkaan statistical (statistical Infrequency)
    T.L abnormal diasumsikan dlm “populasi kurva normal” yg menempatkan mayoritas individu berada ditengah & sangat sedikit yg berada pada posisi ekstrim. Jadi, seseorang dianggap normal bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata atau perilaku tsb.
    2. Pelanggaran Norma (Volition of Norm)
    T.L yg menyimpang dari norma social & mengancam atau membuat cemas orang yg mengamatinya.
    Misalnya: kekerasan, psikopat, schizofrenia
    3. Penderita Pribadi (Discomfort/personal Distress)
    Suatu perilaku dmn individu secara personal merasa berada dlm situasi penuh tekanan baik stress dari lingkungan maupun kondisi dari dlm dirinya.
    Misalnya : depresi, cemas yg berat (rasa sakit ketika melahirkan)
    4. Disabilitan/Disfungsi (Mal Adaptive Behavior)
    Ketidakmampuan individu dlm beberapa bidang penting dalam hidup baik hubungan kerja/pribadi.
    Contoh: penderita narkoba mengalami gangguan dlm pekerjaan / pribadi
    5. Tidak diharapkan (Unexpectedness)
    Suatu respon dari perilaku yg tidak diharapkan terhadap stressor lingkungan karena sudah diluar proporsi.
    Contoh: Kecemasan yg sangat & terus menerus terhadap hartanya walaupun tergolong kaya.

    DEFINISI PSIKOLOGI ABNORMAL

    Sehingga Psi. Abnormal adalah:
    1. Suatu ilmu yg mempelajari sifat-sifat & perkembangan gangguan jiwa
    2. Mempelajari mengapa orang berperilaku, berpikir dan merasa dalam cara yg tidak diharapkan
    3. mencegah, mengurangi dan menyembuhkan
    ETIOLOGI
    1. Primer (Primary Causes)
    2. Predisposisi
    3. Aktual (precipitating causes)
    4. Penguat (Reinforcing causes)
    Kreativitas
    Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Orang kreatif memunculkan banyak ide yang bernilai. Tidak semua ide kreatif terlihat cerdas, berisi keajaiban, bermuatan guna, tetapi tidak jarang ide-ide kreatif terlihat jelek, karenanya dianggap hina, dicurigai dan diolok-olok. Pada umumnya, ide kreatif sering ditolak karena bertentangan dengan keadaan yang sedang berlaku. Penolakan oleh masyarakat tersebut, barangkali, untuk memberi kerangka berpikir yang benar –benar menurut takaran mereka. Masyarakat pada umumnya merasa, bahwa ide kreatif melawan status-quo. Dan masyarakat seringkali mengabaikan ide inovatif. Orang kreatif memiliki kemampuan menganalisa pada peristiwa baik atau peristiwa buruk. Dengan mengembangkan kemampuan analisis ini, memungkinkan mereka merubah ide jelek menjadi baik. Namun kendalanya, seringkali kita temukan, seseorang memiliki ide sangat bagus, tetapi tidak bisa menjualnya.

    Sumber :http://retno-psikolog.blogspot.com/2010/11/psikologi-abnormal.html
    Sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/01/21/kreativitas/

    Suka

  30. Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis. Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html Balas ↓ pujianto pada November 13, 2012 pada 04:42 berkata: nama : pujianto N I M : 11.20.1671 Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal. B. Kriteria Perilaku Abnormal Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain: 1. Statistical infrequency · Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva. · Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb. · Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius. · Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal. 2. Unexpectedness · Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi. 3. Violation of norms · Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. · Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. · Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal. · Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal. 4. Personal distress · Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. · Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. · Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. · Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum. 5. Disability · Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan. · Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual. Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu. http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-abnormal.html Balas ↓ wati pada November 13, 2012 pada 04:51 berkata: Nama : Sudarwati Nim : 11.20.1687 kelas : B Makna Perkembangan Abnormal Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal. B. Kriteria Perilaku Abnormal Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain: 1. Statistical infrequency • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva. • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb. • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius. • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal. 2. Unexpectedness • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi. 3. Violation of norms • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal. • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal. 4. Personal distress • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum

    Suka

  31. Nama : Fitrianto
    N I M : 11.20.1628
    Salah satu indikasi perilaku yang dianggap tidak normal adalah adanya perbedaan, di luar kelaziman pada umumnya. Namun untuk menentukan, apakah perilaku seseorang tersebut abnormal atau normal, tidak bisa dilakukan dengan serta merta mengingat pengertian lazim dan umum sangatlah relatif. Tergantung ukuran yang digunakan, dan hal itu akan selalu berhubungan dengan tata nilai-nilai budaya atau keyakinan yang berlaku di masyarakat.
    Disisi lain, atlit, seniman atau ilmuwan yang berhasil mengukir prestasi tingkat dunia, yang pada dasarnya merupakan perwujudan dari perilaku yang tidak lazim, tidak dikategorikan sebagai perilaku abnormal. Atlit, seniman atau ilmuwan yang berprestas justru mendapatkan apresiasi, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok idola, sebagaimana yang dialami para bintang lapangan sepakbola.
    Diantara perilaku abnormal, nilai-nilai yang digunakan untuk mengukur perilaku seseorang, serta bentuk-bentuk prestasi luar biasa, telah dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang berprestasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dibalik prestasi luar biasa yang berhasil dicapai seseorang, tersimpan potensi ketidakstabilan mental.
    Felix Post (1994) menebitkan survey kepribadian di jurnal The British Jour-nal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkam adanya korelasi antara keunggulan kreatif dengan ketidakstabilan mental. Potensi ancaman ketidakstabilan mental berdasarkan ketegori profesi disimpulkan sebagai berikut :
    Ilmuwan 42,2 %
    Pemusik 61,6 %
    Negarawan 63 %
    Seniman 75 %
    Cendekiawan 74 %
    Pengarang 90 %
    Psikiater Kay Redfield Jamison berdasarkan survey yang dilakukannya terhadap seniman seperti William Blake, Lord Byron, Dylan Thomas, Vrginia Woolf, Ernest Hemingway yang beberapa diantaranya pernah lama dirawat di rumah sakit jiwa, dan banyak diantaranya, terutama penyair dan pengarang, mengakiri hidupnya dengan bunuh diri.
    Fakta lain juga terjadi pada kehidupan para musisi seperti Kurt Cobain, Jim Morrison, Jimmy Hendrix yang hidupnya berakhir dengan bunuh diri atau over dosis obat-obatan. Demikian juga dengan yang terjadi pada diri sastrawan Inggris Virginia Woolf. Atas apa yang dialami Virgina Woolf, Brouwer dan Sidharta (1989) membedah kepribadiannya melalui pendekatan fenomenologis.
    Sebagaimana dunia yang terbagi atas dunia luar, yaitu dunia benda-benda dan orang-orang yang kita temui sehari-hari. Dunia batin tempat bersemayamnya khayalan dan pikiran. Dunia ketiga adalah bukan alam riil maupun khayalan. Dunia ini disebut realitas transisional, yaitu dunia permainan, kreativitas, dan kesenian. Dalam dunia ketiga itulah Virginia Woolf mendiami alam eksistensialnya. Suatu waktu kakaknya Vanessa mengeluh, bahwa ia diganti dengan suatu kepribadian khayalan hasil rekaan adiknya, dan virginia sering melihat Vanessa berdasarkan gam-baran khayalan, bukan sebagai pribadi yang nyata. Beberapa kali Virginia menderita serangan kegilaan, dan lebih dari satu kali dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri. Badan psikis Virgnia adalah badan yang rusak. Kondisi ini menimbulkan rasa minder yang tak terhingga. Dia tidak lagi sanggup merespons lingkungannya dengan positif. Karena orang di sekitarnya tidak menghormati dia, wanita yang pernah gila. Buku yang ditulisnya bukan sekresi badan seperti keringat atau air liur. Buku dilahirkan badan fenomenal dalam suatu proses yang tidak kalah menderita dibanding dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya. Virginia sangat peka terhadap kritikan atas karyanya, namun Virginia tanpa sadar telah berusaha menyelamatkan jiwanya dengan mengarang, meskipun akhirnya harus menyerah dengan mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Osse.
    Sebagian ahli menyebut fenomena ini sebagai kegilaan berguna, bukan hanya menimbulkan penderitaan berat, tetapi juga kreativitas yang luar biasa.

    Sumber : http://sriwotospd.blogspot.com/2012/02/kegilaan-berguna-diantara-kreativitas.html

    Suka

  32. Nama: Dewi Mustika
    Nim : 11.20.1621
    Kelas : B

    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu.
    Suatu prilaku dikatakan abnormal biasanya berkaitan dengan norma, aturan dan cara pandang tertentu.
    Salah satu indikasi perilaku yang di anggap tidak normal adalah adanya perbedaan, diluar kelaziman pada umumnya. Prestasi yang dicapai seseorang secara fakual merupakan bentuk kemenonjolan atau perbedaan. Tapi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, atlet yang berprestasi tidak dikategorikan sebagai perilaku abnormal. Yang terjadi justru sebaliknya, diberikan penghargaan, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok idola atau panutan. Namun demikian, berdasarkan sebuah penelitian, dibalik sebuah prestasi menyimpan potensi ancaman terjadinya ketidakstabialan mental.

    KRITERIA YANG MENENTUKAN ABNORMALITAS
    1. Perilaku yang tidak biasa
    2. Perilaku yang tidak dapat diterima secara social atau melanggar norma sosial.
    3. Persepsi atau tingkah laku yang salah terhadap realitas
    4. Orang – orang tersebut berada dalam stress personal yang signifikan
    5. Perilaku maladaptive
    6. Perilaku Berbahaya

    Kreativitas merupakan kemampuan seseorang
    dalam membuat sesuatu menjadi baru dalam
    keberadaannya.
    • Kreativitas perubahan ide
    • Kreativitas kemampuan untuk mengembangkan
    ide-ide baru dan mencari tahu cara-cara baru dalam
    melihat suatu permasalahan serta peluang-peluang
    (Zimmerer dan Scarborough, 2005)

    Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.
    Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking) (kadang disebut pemikiran bercabang) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.
    Daya cipta dalam kemasakinian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor: keturunan dan lingkungan.
    Secara umum kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuuan untuk berpikir sesuatu yang baru dan tidak biasa dan menghasilkan penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan. Perlu kita ketahui ciri-ciri yang mencerminkan kepribadian kreatif, diantaranya, mempunyai daya imajinasi yang kuat, mempunyai inisiatif dan minat yang luas, bebas dalam berpikir, bersifat ingin tahu, selalu ingin mendapat pengalaman baru, percaya diri, penuh semangat dan berani mengambil resiko.
    Perkembangan kreativitas anak
    Sejumlah studi kreativitas menunjukan bahwa perkembangan kreativitas mengikuti suatu pola yang memiliki beberapa variasi. Beberapa factor yang berpengaruh terhadap variasi tersebut diantaranya, jenis kelamin, status ekonomi, posisi urutan kelahiran, lingkungan kota versus desa, dan intelegensi. Anak laki-laki cenderung lebih kreatif dibandingkan dengan anak perempuan karena anak laki-laki mempunyai kesempatan yang lebih luas daripada anak perempuan. Anak yang berlatar belakang ekonomi tinggi lebih kreatif daripada anak yang mempunyai latar belakang ekonomi yang rendah karena lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mengakses pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan untuk pengembangan kreativitas. Untuk anak-anak yang sebaya, anak yang cerdas menunjukan kemampuan yang lebih bila dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas.

    7 cara mengasah kreativitas kita:
    -Jangan terlalu cepat membuat asumsi
    – Lihat hal dari sudut pandang orang lain
    -Menghilangkan kebiasaan males berpikir
    -Think like a child
    -Lihat the detail serta the big picture
    -Mengasah kreativitas dengan menghindari berpikir Yo-yo
    -pikirkan untuk diri anda
    Ciri-ciri Perilaku Orang Kreatif
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Banyak ahli yang sudah merumuskan ciri-ciri perilaku kreatif. Di bawah ini akan dijelaskan satu-persatu.
    Ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence (dalam Utami Munandar, 1988) adalah:
    • Berani dalam pendirian, berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang.
    • Memiliki sifat ingin tahu
    • Mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu
    • Menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    • Bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    • Orang yang teguh
    • Tidak mudah menerima penilaian dari orang lain, meskipun banyak orang yang menyetujuinya.
    Sedangkan Guilford (dalam Munandar, 1988) mengemukakan ciri-ciri individu yang kreatif ditentukan dari:
    • Flexibility, yaitu bagaimana keterbukaan seseorang pada gagasan baru, pengalaman dan kemampuan menggabungkan ide (dengan evaluasi mingguan, bulanan, tahunan)
    • Fluency, yaitu bagaimana seseorang menuangkan ide -ide kreatif secara lancar (dengan cara memusyawarahkan ide-ide dengan karyawan)
    • Redefinition, yaitu kemampuan seseorang dalam merespon sesuatu yang unik (seperti seorang pimpinan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh karyawan ataupun keluarga karyawan.
    • Originality, yaitu kemampuan seseorang dalam menangkap esensi dari informasi yang ditampilkan dalam bentuk figura/yang tertuang dalam judul karya (memberikan bonus apabila karyawan memiliki prestasi kerja)
    • Elaboration, yaitu kemampuan memperluas ide serta kemampuan asosiatif untuk mengolah stimulus abstrak menjadi nyata.
    Sementara itu dinyatakan oleh Utami Munandar (1988) bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    • Orang yang bebas dalam berpikir
    • Orang yang memiliki daya imajinasi
    • Bersifat ingin tahu
    • Ingin mencari pengalaman baru
    • Mempunyai inisiatif
    • Bebas dalam mengemukakan pendapat
    • Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    • Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    • Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    • Tidak pernah bosan, dalam arti jarang putus asa dan akan selalu mencoba lagi sampai dapat memecahkan masalahnya.
    Dari uraian di atas dapat disimpulkan ciri-ciri perilaku kreatif antara lain:
    • Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    • Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    • Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    • Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serat menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    • Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    • Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    • Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis.

    Para ahli seperti Torrance dan Dembo (979), Utami Munandar (2004), Conny Semiawan (1984), Cohen (1976), Siegelman (1973) mengemukakan beberapa ciri-ciri orang kreatif, diantaranya;
    a. Suka humor, tidak kaku dan tidak tegang dalam bekerja.
    b. Suka pada pekerjaan yang menantang
    c. Cukup kuat memusatkan perhatian
    d. Suka mengemukakan ide-ide baru dan bersifat imajinatif
    e. Lebih sensitif terhadap keadaan orang lain
    f. Tidak banyak terikat pada kelompknya
    g. Mampu memunculkan ide-ide yang aneh
    h. Terbuka terhadap ide/penemuan baru
    i. Fleksibel/tidak kaku
    j. Memiliki konsep diri positif

    Menurut Mihaly Csikszentmihalyi,seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, ciri-ciri orang kreatif adalah :
    a. Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat. Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.
    b. Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan. Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.
    c. Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan. Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.
    d. Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas. Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.
    e. Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.
    f. Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya. Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.
    g. Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.
    h. Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama.Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.
    i. Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya. Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.
    j. Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.
    KESIMPULAN
    Jadi dari beberapa referensi yang saya baca dapat saya simpulkan bahwa suatu prilaku dapat dikatakan/ dianggap abnormal apabila prilaku tersebut tidak biasa sehingga tidak sesuai dengan norma,aturan dan cara sudut pandang masyarakat yang akhirnya menimbulkan ketidak laziman untuk dterima dimasyarakat umum.
    Seorang dikatakan abnormal bukan berarti intelegensinya buruk, bukan berarti mereka tidak mempunyai kreativitas ataupun prestasi .Tapi justru sebagian dari mereka mempunyai kreativitas yang akhirnya dapat menhasilkan /menciptakan prestasi.

    Prilaku abnormal, kreativitas dan prestasi merupakan sesuatu yang saling berelasi(berhubungan).Karena kreativitas dan prestasi yang ad pada seseorang dapat menimbukan prilaku abnormal pada orng tersebut.
    salah satu contoh : Seseorang yang kreatif biasanya akan lebih menonjol dilingkungan masyarakat dan tidak jarang mereka dapat menghasilkan suatu prestasi,, yang akhirnya dapat menimbulkan keegoaan pada dirinya seperti merasa berguna , bangga, populer , dll. Dimana semua hal tersebut dapat membentuk prilaku abnormal pada orng tersebut apabila orang tersebut salah menyikapi kondisi yang dialaminya. Prilaku2 yang sering muncul adalh kecemasan yang berlebihan karena takut tak dikenal lg,takut tak dapat berkarya lagi, takut kehilangan apa yang dia miliki. Karena ketakutan inilah kadng bnyak dari mereka yang menjadi gila atau mengakhirnya dengan bunuh diri.
    Tapi bukan berarti semua prilaku abnormal bersifat buruk.

    Sumber:
    http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html
    Umar Effendi, Perilaku Manusia, Catilla, Banjarmasin, 2011
    http://syamsiahcb.blogspot.com/2012/11/relasi-kreativitas-dan-perilaku-abnormal.html
    Kreativitas.pdf-Adobe Reader

    Suka

    1. • Abnormal adalah : perilaku yg menyimpang dari yg normal (tidak biasa terjadi)
      • Perilaku Abnormal :perilaku yg tidak dapat diterima umum.
      Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
      Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination–menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu.
      Kriteria Pribadi Abnormal :
      1. Kelangkaan statistical (statistical Infrequency)
      T.L abnormal diasumsikan dlm “populasi kurva normal” yg menempatkan mayoritas individu berada ditengah & sangat sedikit yg berada pada posisi ekstrim. Jadi, seseorang dianggap normal bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata atau perilaku tsb.
      2. Pelanggaran Norma (Volition of Norm)
      T.L yg menyimpang dari norma social & mengancam atau membuat cemas orang yg mengamatinya.
      Misalnya: kekerasan, psikopat, schizofrenia
      3. Penderita Pribadi (Discomfort/personal Distress)
      Suatu perilaku dmn individu secara personal merasa berada dlm situasi penuh tekanan baik stress dari lingkungan maupun kondisi dari dlm dirinya.
      Misalnya : depresi, cemas yg berat (rasa sakit ketika melahirkan)
      4. Disabilitan/Disfungsi (Mal Adaptive Behavior)
      Ketidakmampuan individu dlm beberapa bidang penting dalam hidup baik hubungan kerja/pribadi.
      Contoh: penderita narkoba mengalami gangguan dlm pekerjaan / pribadi
      5. Tidak diharapkan (Unexpectedness)
      Suatu respon dari perilaku yg tidak diharapkan terhadap stressor lingkungan karena sudah diluar proporsi.
      Contoh: Kecemasan yg sangat & terus menerus terhadap hartanya walaupun tergolong kaya.

      DEFINISI PSIKOLOGI ABNORMAL

      Sehingga Psi. Abnormal adalah:
      1. Suatu ilmu yg mempelajari sifat-sifat & perkembangan gangguan jiwa
      2. Mempelajari mengapa orang berperilaku, berpikir dan merasa dalam cara yg tidak diharapkan
      3. mencegah, mengurangi dan menyembuhkan
      ETIOLOGI
      1. Primer (Primary Causes)
      2. Predisposisi
      3. Aktual (precipitating causes)
      4. Penguat (Reinforcing causes)
      Kreativitas
      Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Orang kreatif memunculkan banyak ide yang bernilai. Tidak semua ide kreatif terlihat cerdas, berisi keajaiban, bermuatan guna, tetapi tidak jarang ide-ide kreatif terlihat jelek, karenanya dianggap hina, dicurigai dan diolok-olok. Pada umumnya, ide kreatif sering ditolak karena bertentangan dengan keadaan yang sedang berlaku. Penolakan oleh masyarakat tersebut, barangkali, untuk memberi kerangka berpikir yang benar –benar menurut takaran mereka. Masyarakat pada umumnya merasa, bahwa ide kreatif melawan status-quo. Dan masyarakat seringkali mengabaikan ide inovatif. Orang kreatif memiliki kemampuan menganalisa pada peristiwa baik atau peristiwa buruk. Dengan mengembangkan kemampuan analisis ini, memungkinkan mereka merubah ide jelek menjadi baik. Namun kendalanya, seringkali kita temukan, seseorang memiliki ide sangat bagus, tetapi tidak bisa menjualnya.

      Sumber :http://retno-psikolog.blogspot.com/2010/11/psikologi-abnormal.html

      Suka

  33. Beberapa orang kreatif itu memang juga sekaligus gila, tapi tentu tidak semuanya. Rasanya kita tahu beberapa kisah mengenai tokoh-tokoh kreatif yang sebenarnya baik-baik saja, tapi pada awal karirnya dikira kurang waras atau pada masa kecilnya malah dianggap agak idiot. Hingga kini, bahkan ekspresi kekaguman kita terhadap manusia semacam ini berbentuk gelengan kepala yang menunjukkan sejumput rasa tidak percaya dan tidak mengerti. Apa yang membuat kita sulit sekali untuk memahami mereka?
    Menurut Mihaly Csikszentmihalyi, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh. Apa saja sifat-sifat kontradiktif mereka?
    Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat. Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.
    Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan. Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.
    Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan. Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.
    Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas. Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.
    Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.
    Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya. Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.
    Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.
    Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama. Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.
    Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya. Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.
    Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.
    sumber :
    http://www.psychologytoday.com/articles/199607/the-creative-personality

    Suka

  34. Psikolgi abnormal adalah suatu cabang dari psikologi yang mempelajari tentang prilaku yang abnormal (abnormal behavior), khususnya yang berkaitan dengan patologis yang disebut juga sebagai gangguan prilaku (behavior disorder).

    Abnormal itu sendiri berarti prilaku yang menyimpang dari normal. Dimana standar prilaku normal itu sendiri bervariyasi, misalnya perbedaan kultur atau budaya, di indonesia meludahi orang lain berarti berprilaku tidak sopan, namun di belahan dunia lain meludahi orang yang baru datang berarti menyambutnya dan sebagainya. Namun dari pengertian tersebut, prilaku yang abnormal tidak serta merta dianggap patologis.

    Menurut Szasz, prilaku seseorang dianggap patologis apabila pola prilaku yang telah dipelajarinya secara minimal sekalipun tidak mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh masyarakatnya(socially maladjusted).

    kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan hubunganhubungan
    baru dan membuat kombinasi-kombinasi baru yang mencerminkan
    kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir sehingga dapat
    menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini sesuatu yang baru tidak berarti
    sebelumnya tidak ada, akan tetapi sesuatu yang baru ini dapat berupa sesuatu
    yang belum dikenal sebelumnya.

    Relasi kreativitas dan perilaku abnormal
    Kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya askalasi dalam kemampuan berpikir di tandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi dan integrasi antara setiap tahap perkembangan . perilaku yang di anggap tidak normal adalah adanya perbedaan, diluar kelajiman pada umumnya. Prestasi yang dicapai seseorang secara factual merupakan bentuk yang menonjaol dan yang beda. Seperti pengarang yang berprestasi tidak dikatergrikan sebagai perilaku abnormal yang terjadi malah sebaliknya, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok, idola, atau panutan. Tetapi sebalik sebuah itu, menyimpan potensi ancam terjadinya ketidakstabilan mental
    Menurut mihaly csikzenmihaly, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meniliti kehidupan ornag-orang kreatif kesalah pahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia bisa pada umumnya memiliki kecendrungan kearah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus menerus “bertarung” tapi disisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh.
    Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.

    Suka

  35. Relasi kreativitas dan perilaku abnormal
    Kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya askalasi dalam kemampuan berpikir di tandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi dan integrasi antara setiap tahap perkembangan . perilaku yang di anggap tidak normal adalah adanya perbedaan, diluar kelajiman pada umumnya. Prestasi yang dicapai seseorang secara factual merupakan bentuk yang menonjaol dan yang beda. Seperti pengarang yang berprestasi tidak dikatergrikan sebagai perilaku abnormal yang terjadi malah sebaliknya, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok, idola, atau panutan. Tetapi sebalik sebuah itu, menyimpan potensi ancam terjadinya ketidakstabilan mental
    Menurut mihaly csikzenmihaly, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meniliti kehidupan ornag-orang kreatif kesalah pahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia bisa pada umumnya memiliki kecendrungan kearah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus menerus “bertarung” tapi disisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh.
    Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.
    Menentuka abnormalitas
    1. Perilaku yang tidak biasa
    2. Perilaku yang tidak dapat diterima secara social atau melanggar norma sosial.
    3. Persepsi atau tingkah laku yang salah terhadap realitas
    4. Orang – orang tersebut berada dalam stress personal yang signifikan
    5. Perilaku maladaptive
    6. Perilaku Berbahaya
    Perilaku Abnormal
    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal
    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologislainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.

    Nevid Jeffrey,spencer A.rathus, Beverly green, psikologi abnormal, 2003 shea shawn C, Wawancara psikiatri seni pemahaman 1996
    Zohar Danah, Ian Marshall SQ,2001
    http//www psicolgytoday.com/articles/ 199607/the creative-personality

    Suka

  36. Nama : Muhammad Syaifullah
    Nim : 11,20,1662
    kelas : B
    Semester : III
    Berdasarkan Pada Sejarah Psikopatologi
    Psikopatologi adalah suatu ilmu yang mempelajari proses dan perkembangan gangguan mental. Perkembangan penanganan gaangguan mental berkembang mulai dari zaman kuno (Yuhani) hingga zaman sekarang (modern). Terdapat perbedaan penanganan gangguan abnormalitas jiwa, karena perbedaan paradigma berpikir manusia dari zaman kezaman. Mari kita membahas sejarah psikopatologi berikut ini.
    Demonology Awal
    • • Demonology merupakan suatu doktrin yang menyebutkan bahwa perilaku abnormal seseorang disebabkan oleh pengaruh roh jahat atau kekuatan setan. Masyarakat saat itu meyakini bahwa kekuatan roh atau setan dapat merasuk ke dalam tubuh seseorang dan mengontrol pikiran serta tubuh orang tersebut.
    • • Demonology ditemukan dalam budaya Cina, Mesir dan Yunani.
    • • Para pemuka agama pada masa itu melakukan suatu upacara untuk mengeluarkan pengaruh roh jahat dari tubuh seseorang. Mereka menggunakan nyanyian mantra atau siksaan terhadap objek tertentu, bisa binatang atau manusia. Metode tersebut dinamakan exorcism.
    Pendekatan Medis pada Gangguan Mental
    • • Sejak 2 abad terakhir, konsep gangguan mental sebagai penyakit yang disebabkan oleh faktor natural dan dapat dijelaskan secara ilmiah merupakan pandangan yang cukup dominan.
    • • Para dokter berusaha menjelaskan bentuk dan jenis penyakit mental, menemukan penyebabnya, ciri-cirinya dan mengembangkan metode treatment yang tepat.
    • • Anggapan dokter adalah bahwa setiap terjadi perilaku yang patologis merupakan penyakit susunan saraf. Penelitian dalam hal ini sudah banyak dilakukan.
    • • Tradisi psikiatri medis paling terwakili oleh Emil Kraepelin (1855 – 1926). Ia mencoba mendaftar gejala-gejala yang tampak dari disfungsi mental, kemudian mengklasifikasikan pasien berdasarkan pola simtom dan mengidentifikasi serta mengklasifikasikan penyakit mental.
    • • Kraepelin melabel 2 penyakit mental parah yang paling umum yakni dementia praecox (sekarang lebih dikenal dengan sebutan skizofrenia, dari istilah Eugen Bleuler) dan manic-depressive psychosis.
    Pendekatan Psikologis pada Gangguan Mental
    • • Psikopatologi tidak hanya mengetengahkan konsep penyakit psychological functioning, tapi juga mengetengahkan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor psikologis.
    • • Orientasi psikogenik muncul pada studi tentang histeria, yaitu suatu kondisi neurotis yang sering ditandai dengan gejala fisik seperti, mati rasa, kebutaan dan juga gejala behavioral seperti kehilangan memori, kepribadian atau kondisi emosi yang tidak menentu. Pada abad 18 dan 19, di Eropa banyak dijumpai subjek yang mengalami simtom histeria tersebut.
    • • Untuk menjelaskan terjadinya histeria tersebut, muncul beberapa pandangan yang berorientasi psikogenik. Salah satunya adalah dokter Austria, Franz Anton Mesmer (1734 – 1815).
    • • Studi tentang histeria ini menggunakan metode hipnotis. Di bawah kondisi hipnotis, pasien dengan histeria dapat memunculkan kembali simtom histeria yang biasanya muncul. Hipnotis kemudian menjadi suatu metode yang penting dalam treatment psikologis, terutama psikoanalisa yang biasa menggunakan asosiasi bebas dan interpretasi mimpi untuk mengeksplorasi alam bawah sadar.
    • • Selain hipnotis, metode lain yang digunakan untuk melakukan terapi pada gangguan mental adalah katarsis yang dikenalkan oleh Josef Breuer dan kemudian dikembangkan oleh Sigmund Freud.
    • • Katarsis adalah suatu metode terapeutik dimana pasien diminta untuk mengingat kembali dan melepaskan emosi yang tidak menyenangkan, mengalami kembali ketegangan dan ketidakbahagiaannya dengan tujuan untuk melepaskan dari penderitaan emosional.
    • Mesmer, Charcot, Breuer dan Freud mengembangkan metode hipnotis dan katarsis. Hal itu menunjukkan adanya orientasi psikogenik terhadap gangguan mental
    http://www.e-jurnal.com/sejarah-psikopatologi-psikologi-abnormal/

    Sedangkan Kreatifitas Menurut psychology
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Banyak ahli yang sudah merumuskan ciri-ciri perilaku kreatif. Di bawah ini akan dijelaskan satu-persatu.
    Ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence (dalam Utami Munandar, 1988) adalah:
    1. Berani dalam pendirian, berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang.
    2. Memiliki sifat ingin tahu
    3. Mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu
    4. Menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    5. Bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    6. Orang yang teguh
    7. Tidak mudah menerima penilaian dari orang lain, meskipun banyak orang yang menyetujuinya.
    Sedangkan Guilford (dalam Munandar, 1988) mengemukakan ciri-ciri individu yang kreatif ditentukan dari:
    1. Flexibility, yaitu bagaimana keterbukaan seseorang pada gagasan baru, pengalaman dan kemampuan menggabungkan ide (dengan evaluasi mingguan, bulanan, tahunan)
    2. Fluency, yaitu bagaimana seseorang menuangkan ide -ide kreatif secara lancar (dengan cara memusyawarahkan ide-ide dengan karyawan)
    3. Redefinition, yaitu kemampuan seseorang dalam merespon sesuatu yang unik (seperti seorang pimpinan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh karyawan ataupun keluarga karyawan.
    4. Originality, yaitu kemampuan seseorang dalam menangkap esensi dari informasi yang ditampilkan dalam bentuk figura/yang tertuang dalam judul karya (memberikan bonus apabila karyawan memiliki prestasi kerja)
    5. Elaboration, yaitu kemampuan memperluas ide serta kemampuan asosiatif untuk mengolah stimulus abstrak menjadi nyata.
    Sementara itu dinyatakan oleh Utami Munandar (1988) bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    1. Orang yang bebas dalam berpikir
    2. Orang yang memiliki daya imajinasi
    3. Bersifat ingin tahu
    4. Ingin mencari pengalaman baru
    5. Mempunyai inisiatif
    6. Bebas dalam mengemukakan pendapat
    7. Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    8. Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    9. Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    10. Tidak pernah bosan, dalam arti jarang putus asa dan akan selalu mencoba lagi sampai dapat memecahkan masalahnya.:
    http://www.psychologymania.com/2012/07/

    Suka

  37. Nama : M.Badaruddin
    Nim : 11.20.1649
    RELASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan.

    Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup :
    • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi
    • Sebab-sebab gejala

    Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut.

    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.

    Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain:
    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis.

    Sumberhttp://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html
    http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

  38. NAMA : M. NAJAMUDDIN
    NIM : 11. 20. 1661

    REHALASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL

    Pengertian kreativitas adalah aktivitas imaginatif yang menghasilkan hasil yang baru dan bernilai (NACCCE/National Advisory Committee on Creative and Cultural Education, dalam Craft, 2005). Selanjutnya Feldman (dalam Craft, 2005) mendefinisikan kreativitas adalah: “the achievement of something remarkable and new, something which transforms and changes a field of endeavor in a significant way . . . the kinds of things that people do that change the world.”
    Menurut Munandar (1985), pengertian kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Hasil yang diciptakan tidak selalu hal-hal yang baru, tetapi juga dapat berupa gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, Csikszentmihalyi (dalam Clegg, 2008) menyatakan kreativitas adalah sebagai suatu tindakan, ide, atau produk yang mengganti sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru.
    Rhodes (dalam Munandar, 2009) menganalisis lebih dari 40 pengertian tentang kreativitas, menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi (person), proses, produk, dan lingkungan yang mendorong (press) individu ke perilaku kreatif.

    Perilaku Abnormal
    Menurut Akhmad Sudrajat
    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1.KriteriaStatistik

    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
    Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku ab
    normal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas. Sementara, menurut kriteria patologis pun mungkin saja tidak akan dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal selama yang bersangkutan masih mampu menunjukkan orientasi dan objek sexual yang normal alias tidak mengalami psikosexual neurosis.

    http://www.psychologymania.com/2012/07/pengertian-kreativitas.html

    http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/15/tiga-kriteria-perilaku-abnormal/

    Suka

  39. Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu.
    Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup :
    • Ide untuk mengidentifikasi gejala patologi
    • Sebab-sebab gejala
    • Bagaimana cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates.
    Perilaku kreatif memiliki ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan ABNORMAL karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu.
    Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain:
    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan atau orang yang bersikap optimis dan dinamis.

    Suka

  40. NAMA : FITRIANI
    NIM : 11.20.1626
    Beberapa orang kreatif itu memang juga skaligus gila, tapi tentu tidak semuanya. Rasanya kita tahu beberapa kisah mengenai tokoh-tokoh kreatif yang sebenarnya baik-baik saja, tapi pada awal karirnya dikira kurang waras atau pada masa kecilnya malah dianggap agak idiot. Hingga kini, bahkan ekspresi kekaguman kita terhadap manusia semacam ini berbentuk gelengan kepala yang menunjukkan sejumput rasa tidak percaya dan tidak mengerti. Apa yang membuat kita sulit sekali untuk memahami mereka?
    Menurut Mihaly Csikszentmihalyi, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh. Apa saja sifat-sifat kontradiktif mereka?
    Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat. Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.
    Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan. Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.
    Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan. Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.
    Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas. Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.
    Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.
    Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya. Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.
    Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.
    Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama. Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.
    Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya. Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.
    Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.
    sumber :
    http://www.psychologytoday.com/articles/199607/the-creative-personality

    Suka

  41. Relasi Kreativitas dan Perilaku Abnormal

    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.

    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologislainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.

    Felix post (1994) menerbitkan survey kepribadian di jurnal The British Journal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkan adanya kolerasi keunggulan kreatif dan ketidakstabilan mental :
    Ilmuwan 42,2%
    Pemusik 61,6%
    Negarawan 63%
    Cendikiawan 74%
    Seniman 75%
    Pengarang 90%

    Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.

    • Ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence (dalam Utami Munandar, 1988) adalah:
    1. Berani dalam pendirian, berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang.
    2. Memiliki sifat ingin tahu
    3. Mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu
    4. Menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    5. Bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    6. Orang yang teguh
    7. Tidak mudah menerima penilaian dari orang lain, meskipun banyak orang yang menyetujuinya.

    Sumber: The Creative Personality – Psychology Today
    http://www.psychologymania.com/2012/07/ciri-ciri perilaku-kreatif.html

    Suka

  42. NAMA ; Indra Maulana
    NIM : 11. 20. 1637

    Relasi Kreativitas dan Perilaku Abnormal

    KREATIVITAS
    Menurut Hurlock kreativitas menekankan pembuatan sesuatu yang
    baru dan berbeda. Sedangkan Munandar menyebutkan kreativitas adalah
    kemampuan untuk membuat kombinasi baru yang mencerminkan kelancaran,
    keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk
    mengkombinasikan suatu gagasan. Evans juga menjelaskan bahwa
    kreativitas adalah kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan baru,
    untuk melihat suatu obyek dari perspektif baru, dan untuk membentuk
    kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang sudah ada dalam pikiran.
    Berdasarkan beberapa pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan
    bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan hubunganhubungan
    baru dan membuat kombinasi-kombinasi baru yang mencerminkan
    kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir sehingga dapat
    menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hal ini sesuatu yang baru tidak berarti
    sebelumnya tidak ada, akan tetapi sesuatu yang baru ini dapat berupa sesuatu.

    PERILAKU ABNORMAL
    Didalam psikologi sering kita mendengar istilah normal dan abnormal. Seringkali orang mengatakan normal sama dengan sehat (healt). Tetapi sangat berbeda sekali penggunaan kedua struktur kata ini didalam dunia psikologi. Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurna secara biopsikososial, lebih sekedar terbebas dari penyakitataukecacatan.

    Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental, dan kehidupan sosial yang lengkap dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau cacat/luka. Jadi bisa dikatakan sehat itu bisa dilihat dari fisik tiada cacat, mentalnya tidak terganggu. Sehat mental bisa dimaknai dengan penyesuain manusia terhadap dunia lingkungannya dan terhadap diri orang lain dengan keefektifan serta kebahagiaan yang maksimum.

    Ada lima pengertian normalitas dari hasil survei yang dilakukan offer dan sabsiro:

    tidak adanya gangguan atau kesakitan

    keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif

    normal sebagai rata-rata pengertian statistik

    diterima secara sosial

    proses berlangsung secara wajar, terutama dalam tahapan perkembangan.

    Didasarkan klasifikasi pengertian normal itu atau kategori perilaku diatas, maka istilah normal tidak selalu berarti sehat. sehat lebih bermakna pengertian khusus, yaitu keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif. meskipun istilah normal dapat digunakan untuk menyebut istilah sehat, namun tidak semua tepat dugunakan.

    Dalam pembicaraan sehari-hari, atau dalam pembahasan ilmiah, sering dijumpai istilah disorder (gangguan) dan deviasi. istilah ini sering kali dianggap sama, namun sebenarnya penekanannya berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan dalam beberapa hal, antara gangguan dan deviasi berhubungan, artinya orang yang mengalami gangguan sekaligus melakukan tindakan yang menyimpang secara sosial, misalnya orang mengalami gangguan kepribadian antisosial (psikopat) yang selalu melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan masyarakat.

    http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2253528-pengertian-kreativitas/

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/10/perilaku-abnormal/

    Suka

  43. Relasi Kreativitas dan Prilaku Abnormal
    psikologi sering kita mendengar istilah normal dan abnormal. Seringkali orang Relivitas asi Kreativitas dan Prilaku Abnormal
    mengatakan normal sama dengan sehat (healt). Tetapi sangat berbeda sekali penggunaan kedua struktur kata ini didalam dunia psikologi. Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurna secara biopsikososial, lebih sekedar terbebas dari penyakit atau kecacatan.

    Menurut Utami Mundar (1988) menyatakan bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    1. Orang yang bebas dalam berpikir
    2. Orang yang memiliki daya imajinasi
    3. Bersifat ingin tahu
    4. Ingin mencari pengalaman baru
    5. Mempunyai inisiatif
    6. Bebas dalam mengemukakan pendapat
    7. Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    8. Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    9. Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    10. Tidak pernah bosan, dalam arti jarang putus asa dan akan selalu mencoba lagi sampai dapat memecahkan masalahnya.

    Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain:
    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis.

    Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

  44. Nama : Ahmad Faridh
    NIM : 11. 20. 1607

    Relasi Kreativitas Dengan Perilaku Abnormal

    Kreativitas

    Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang belum pernah ada sebelumnya dengan menekankan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif.

    Menurut Sternberg (dalam Afifa, 2007) seseorang yang kreatif adalah seorang yang dapat berpikir secara sintesis artinya dapat melihat hubungan-hubungan di mana orang lain tidak mampu melihatnya yang mempunyai kemampuan untuk menganalisis ide-idenya sendiri serta mengevaluasi nilai ataupun kualitas karya pribadinya, mampu menterjemahkan teori dan hal-hal yang abstrak ke dalam ide-ide praktis, sehingga individu mampu meyakinkan orang lain mengenai ide-ide yang akan dikerjakannya.

    Perilaku Abnormal

    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:

    1. Kriteria Statistik

    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.

    2. Kriteria Norma

    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.

    3. Kriteria Patologis

    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.

    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.

    Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas. Sementara, menurut kriteria patologis pun mungkin saja tidak akan dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal selama yang bersangkutan masih mampu menunjukkan orientasi dan objek sexual yang normal alias tidak mengalami psikosexual neurosis.
    By Akhmad Sudrajat

    Suka

  45. I. PENDAHULUAN

    Dalam percakapan sehari – hari psikologi abnormal sering ditemukan namun pengertiannya terutama secara teknis tidak selalu menunjukkan pengertian yang sama atau seragam. Hal ini bisa jadi menimbulkan masalah ketika kita menggunakan untuk keperluan yang lebih spesifik daripada sekedar berwacana saja. Istilah – istilah lain dari psikologi abnormal atau sering juga disebut perilaku abnormal atau abnormal behaviour adalah perilaku maladaptive kemudian ada yang menyebutnya mental disorder, psikopatology, emotional discomfort, mental illness atau gangguan mental.

    Psikologi abnormal mencakup sudut pandang yang lebih luas tentang perilaku abnormal dibandingkan studi tentang gangguan mental ( psikologis ). Studi gangguan mental umumnya diasosiasikan dengan perspektif model medis (medical model) yang menganggap bahwa perilaku abnormal merupakan simtom dari penyakit atau gangguan yang mendasarinya.

    Untuk memahami perilaku abnormal psikolog menggunakan acuan DSM (Diagnostic and Statistical manual of mental disorder) DSM adalah system klasifikasi gangguan – gangguan mental yang paling luas di terima. DSM menggunakan criteria diagnostic specific untuk mengelompokkan pola – pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri – ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi yang multiaksial. Sistem aksial terdiri dari 5 klasifikasi. Penilaian perilaku abnormal dapat di telaah menggunakan berbagai cara ( metode ) salah satunya metode – metode assestment yang harus reliabel dan valid yang dapat diukur melalui beberapa cara yang tetap memperhitungkan faktor – faktor budaya dan etnik yang juga penting untuk dilakukan.

    II. DEFINISI

    Psikologi Abnormal ( Abnormal Psychology ) merupakan salah satu cabang psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal dan cara menolong orang – orang yang mengalaminya. Dari waktu ke waktu sebagian dari kita merasa cemas ketika menghadapi interview kerja yang penting atau ujian akhir . Lalu bagaimana kita di anggap melanggar batas antara perilaku abnormal dengan normal ?

    Satu jawabannya adalah kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi dapat dikatakan abnormal bila tidak sesuai dengan situasinya. Hal yang normal bila kita tertekan dalam tes tetapi menjadi tidak normal ketika rasa cemas itu muncul ketika sedang memasuki department store atau menaiki lift. Perilaku abnormal juga diindikasikan melalui besarnya / tingkat keseriusan problem. Walaupun bentuk kecemasan sebelum interview kerja dianggap cukup normal namun merasa seakan – akan jantung akan copot yang mengakibatkan batalnya interview adalah tidak normal.

    III. PENGELOMPOKAN DEFINISI ABNORMAL

    1. Pendekatan statistik

    Di atas / di bawah normal di sebut “anormal” bukan abnormal. Istilah ini sering dipakai pada aliran behaviourisme dan kuantitatif

    2. Pendekatan Fungsional

    Fungsi – fungsi kepribadian yang ada pada orang yang bersangkutan berada pada taraf yang optimal / tidak

    3. Pendekatan Kultural

    Pendekatan yang melihat abnormalitas dari sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat tertentu

    IV. KRITERIA YANG MENENTUKAN ABNORMALITAS

    1. Perilaku yang tidak biasa

    Perilaku yang tidak biasa disebut abnormal . Hanya sedikit dari kita yang menyatakan melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Hal seperti itu hamper dikatakan abnormal dalam budaya kita.

    2. Perilaku yang tidak dapat diterima secara social atau melanggar norma sosial.

    Setiap masyarakat memiliki norma – norma / standar yang menentukan jenis perilaku yang dapat diterima dalam beragam konteks tertentu. Perilaku yang dianggap normal dalam satu budaya mungkin dianggap abnormal dalam budaya lain. Satu implikasi dari mendasarkan definisi dari perilaku abnormal pada norma social adalah bahwa norma – norma tersebut merefleksikan standar yang relative bukan kebenaran universal.

    3. Persepsi atau tingkah laku yang salah terhadap realitas

    Biasanya sistem sensori dan proses kognitif memungkinkan kita untuk membentuk representasi mental yang akurat tentang lingkungan sekitar.

    4. Orang – orang tersebut berada dalam stress personal yang signifikan

    Kondisi stress personal yang diakibatkan oleh gangguan emosi seperti kecemasan, ketakutan atau depresi. Namun terkadang kecemasan dan depresi merupakan respon yang sesuai dengan situasi tertentu.

    5. Perilaku maladaptive

    Perilaku yang menimbulkan ketidakbahagiaan dan membatasi kemampuan kita untuk berfungsi dalam peran yang diharapkan.

    6. Perilaku Berbahaya

    Perilaku yang menimbulkan bahaya bagi orang itu sendiri atau orang lain.

    V. FAKTOR – FAKTOR PENENTU ABNORMALITAS

    Sebab – sebab perilaku Abnormal dapat ditinjau dari beberapa sudut, misalnya berdasarkan tahap berfungsinya dan menurut sumber asalnya. Kedua macam penggolongan tersebut disajikan sebagai berikut :

    A. MENURUT TAHAP BERFUNGSINYA

    Menurut tahap – tahap berfungsinya, sebab – sebab perilaku abnormal dapat dibedakan sebagai berikut :

    1. Penyebab Primer ( Primary Cause )

    Penyebab primer adalah kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan tidak akan muncul. Misalnya infeksi sipilis yang menyerang system syaraf pada kasus paresis general yaitu sejenis psikosis yang disertai paralysis atau kelumpuhan yang bersifat progresif atau berkembang secara bertahap sampai akhirnya penderita mengalami kelumpuhan total. Tanpa infeksi sipilis gangguan ini tidak mungkin menyerang seseorang.

    2. Penyebab yang Menyiapkan ( Predisposing Cause )

    Kondisi yang mendahului dan membuka jalan bagi kemungkinan terjadinya gangguan tertentu dalam kondisi – kondisi tertentu di masa mendatang. Misalnya anak yang ditolak oleh orang tuanya (rejected child) mungkin menjadi lebih rentan dengan tekanan hidup sesudah dewasa dibandingkan dengan orang – orang yang memiliki dasar rasa aman yang lebih baik

    3. Penyebab Pencetus ( Preciptating Cause )

    Penyebab pencetus adalah setiap kondisi yang tak tertahankan bagi individu dan mencetuskan gangguan. Misalnya seorang wanita muda yang menjadi terganggu sesudah mengalami kekecewaan berat ditinggalkan oleh tunangannya. Contoh lain seorang pria setengah baya yang menjadi terganggu karena kecewa berat sesudah bisnis pakaiannya bangkrut.

    4. Penyebab Yang Menguatkan ( Reinforcing Cause )

    Kondisi yang cenderung mempertahankan atau memperteguh tinkah laku maladaptif yang sudah terjadi. Misalnya perhatian yang berlebihan pada seorang gadis yang ”sedang sakit” justru dapat menyebabkan yang bersangkutan kurang bertanggungjawab atas dirinya, dan menunda kesembuhannya.

    5. Sirkulasi Faktor – Faktor Penyebab

    Dalam kenyataan, suatu gangguan perilaku jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal. Serangkaian faktor penyebab yang kompleks, bukan sebagai hubungan sebab akibat sederhana melainkan saling mempengaruhi sebagai lingkaran setan, sering menadi sumber penyebab sebagai abnormalitas . Misalnya sepasang suami istri menjalani konseling untuk mengatasi problem dalam hubungan perkawinan mereka. Sang suami menuduh istrinya senang berfoya – foya sedangkan sang suami hanya asyik dengan dirinya dan tidak memperhatikannya. Menurut versi sang suami dia jengkel keada istrinya karena suka berfoya – foya bersama teman – temannya. Jadi tidak lagi jelas mana sebab mana akibat.

    B. MENURUT SUMBER ASALNYA

    Berdasarkan sumber asalnya, sebab – sebab perilaku abnormal dapat digolongkan sedikitnya menjadi tiga yaitu :

    1. Faktor Biologis

    Adalah berbagai keadaan biologis atau jasmani yang dapat menghambat perkembangan ataupun fungsi sang pribadi dalam kehidupan sehari – hari seperti kelainan gen, kurang gizi, penyakit dsb. Pengaruh – pengaruh faktor biologis lazimnya bersifa menyeluruh. Artinya mempengaruhi seluruh aspek tingkah laku, mulai dari kecerdasan sampai daya tahan terhadap stress.

    2. Faktor – faktor psikososial

    a. Trauma Di Masa Kanak – Kanak

    Trauma Psikologis adalah pengalaman yang menghancurkan rasa aman, rasa mampu, dan harga diri sehingga menimbulkan luka psikologis yang sulit disembuhkan sepenuhnya. Trauma psikologis yang dialami pada masa kanak – kanak cenderung akan terus dibawa sampai ke masa dewasa.

    b. Deprivasi Parental

    Tiadanya kesempatan untuk mendapatka rangsangan emosi dari orang tua, berupa kehangatan, kontak fisik,rangsangan intelektual, emosional dan social. Ada beberapa kemungkinan sebab misalnya :1. Dipisahkan dari orang tua dan dititipkan di panti asuhan, 2. Kurangnya perhatian dari pihak orang tua kendati tinggal bersama orang tua di rumah.

    c. Hubungan orang tua – anak yang patogenik

    Hubungan patogenik adalah hubungan yang tidak serasi, dalam hal ini hubungan antara orang tua dan anak yang berakibat menimbulkan masalah atau gangguan tertentu pada anak.

    d. Struktur keluarga yang patogenik

    Struktur keluarga sangat menentukan corak komunikasi yang berlangsung diantara para anggotanya. Struktur keluarga tertentu melahirkan pola komunikasi yang kurang sehat dan selanjutnya muncul pola gangguan perilaku pada sebagian anggotanya. Ada empat struktur keluarga yang melahirkan gangguan pada para anggotanya:

    1) Keluarga yang tidak mampu mengatasi masalah sehari-hari.

    Kehidupan keluarga karena berbagai macam sebab seperti tidak memiliki cukup sumber atau karena orang tua tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan secukupnya .

    2) Keluarga yang antisosial

    Keluarga yang menganut nilai – nilai yang bertentangan dengan masyarakat luas

    3) Keluarga yang tidak akur dan keluarga yang bermasalah

    4) Keluarga yang tidak utuh

    Keluarga dimana ayah / ibu yang tidak ada di rumah, entah karena sudah meninggal atau sebab lain seperti perceraian, ayah memiliki dua istri dll.

    e. Stress berat

    Stress adalah keadaan yang menekan khususnya secara psikologis. Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab, seperti :

    1) Frustasi yang menyebabkan hilangnya harga diri

    2) Konflik nilai

    3) Tekanan kehidupan modern

    3. Faktor – Faktor Sosiokultural

    Meliputi keadaan obyektif dalam masyarakat atau tuntutan dari masyarakat yang dapat berakibat menimbulkan tekanan dalam individu dan selanjutnya melahirkan berbagai bentuk gangguan seperti :

    a. Suasana perang dan suasana kehidupan yang diliputi oleh kekerasan,

    b. Terpaksa menjalani peran social yang berpotensi menimbulkan gangguan, seperti menjadi tentara yang dalam peperangan harus membunuh.

    c. Menjadi korban prasangka dan diskriminasi berdasarkan penggolongan tertentu seperti berdasarkan agama, ras, suku dll

    C. DEFINISI NORMALITAS PSIKOLOGI

    Definisi normalitas psikologis seseorang adalah fungsi mental yang akurat dan efisien, meliputi :

    1. Kognisi
    2. Motivasi
    3. Perilaku
    4. Emosi.
    5. Self Awareness
    6. Self Control
    7. Self Esteem
    8. Hubungan Sosial Berdasarkan Afeksi
    9. Produktivitas dan kreativitas

    D. METODE PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI ABNORMAL

    Psikologi Abnormal adalah cabang disiplin ilmu psikologi . Oleh sebab itu penelitiannya di lapangan selalu didasarkan pada penerapan metode ilmiah (scienthific method ).

    Metode Penelitian yang dipakai dalam meneliti perilaku abnormal adalah :

    1. Metode Observasi Naturalistik

    Digunakan untuk mengobservasi perilaku di suatu tempat , dimana perilaku itu terjadi.

    2. Metode Korelasional

    Merupakan pengukuran statistik atas hubungan antara 2 faktor atau variable. Pada studi observasi naturalistic yang dilakukan di restoran cepat saji perilaku makan dihubungkan, dikorelasikan dengan brat badan para pelanggan.

    3. Model Eksperimental

    Prediksi didasarkan pada korelasi antara peristiwa – peristiwa atau faktor – faktor yang terpisahkan oleh waktu. Metode ini memungkinkan para ilmuwan untuk mendemonstrasikan hubungan kausal, pertama – tama dengan memanipulasi faktor kausal dan kemudian mengukur akibatnya dibawah kondisi terkontrol yang dapat meminimalkan risiko dari faktor lainnya yang menjelaskan akibat tersebut.

    4. Metode Epidemiologik

    Mempelajari tingkat perilaku abnormal dalam berbagai seting atau kelompok populasi. Studi epidemiologic dapat menunjukkan faktor penyebab potensial dari munculnya penyakt dan gangguan meskipun kekuatan eksperimennya rendah. Dengan mengetahui bahwa suatu penyakit atau gangguan dapat digolongkan pada kelompok atau lokasi tertentu, peneliti akan dapat mengidentifikasi karakteristik yang berbeda yang menempatkan kelompok atau daerah ini pada risiko yang lebih tinggi.

    5. Metode Studi Kasus

    Studi kasus mempunyai pengaruh penting dalam perkembangan teori dan penanganan perilaku abnormal. Freud mengembangkan teorinya pertama kali dengan studi kasus seperti kasus mengenai Anna O.

    E. PERSPEKTIF PSIKOLOGIS TENTANG PERILAKU ABNORMAL

    1. Model Psikodinamika

    Disebut teori psikoanalisis ( psychoanalyic theory )

    Dikemukakan oleh Sigmund Freud

    Hipotesis Strukturalnya adalah keyakinan bahwa kekuatan – kekuatan yang saling bertentangan dalam kepribadian dapat dibagi menjadi 3 ( tiga ) struktur yaitu id, ego dan superego.

    Kesehatan mental adalah fungsi dari keseimbangan dinamis antara struktur – struktur psikis dari id, ego dan superego.

    2. Model – Model Belajar

    Dikenal dengan teori behaviourisme. Dikemukakan oleh Ivan Pavlov dan John B. Watson. Berfokus pada refleks yang dikondisikan peran dari belajar dalam menjelaskan perilaku normal maupun abnormal. Dari perspektif belajar perilaku abnormal mencerminkan perolehan atau pembelajaran dari perilaku yang tidak sesuai dan tidak adaptif.

    3. Teori Kogniti – Sosial

    Kontribusi teoritikus seperti Albert Bandura, Julian B Rotter dan Walter Mischel. Menekankan peran – peran dari proses berpikir atau kognisi dari belajar melalui pengamatan atau modeling dari perilaku manusia. Manusia memberi pengaruh pada lingkungannya sebagaimana lingkungan memberi pengaruh kepada mereka. Memperluas lingkup dari behaviourisme tradisional. Terlalu sedikit memberi penekanan pada kontribusi genetik terhadap perilaku gagal.

    4. Model Model Humanistik

    Dikemukakan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow. Dalam diri terdapat dorongan untuk self actualization, untuk menjadi apapun yang mampu kita raih. Manusia sebagai actor dalam drama kehidupan bukan reactor. Keyakinan utamanya adalah bahwa perilaku abnormal adalah hasil dari perkembangan konsep tentang self terganggu.

    5. Model – model Kognitif

    Model kognitif yang paling menonjol dalam pola perilaku abnormal adalah pendekatan pemrosesan informasi dan model – model yang dikembangkan oleh Psikolog Albert Ellis dan Psikiater Aaron Beck.

    Distress emosional disebabkan oleh keyakinan yang dimiliki oleh seseorang tentang pengalaman hidup mereka bukan apa yang dialami sendiri oleh mereka

    6. Model Diatesis Stress

    Diatesis adalah suatu kerentanan atau predisposisi terhadap gangguan tertentu. Mengemukakan bahwa masalah – masalah perilaku abnormal meliputi interaksi antara kerentanan dan peristiwa atau pengalaman kehidupan yang penuh stress.

    F. PENGGOLONGAN DAN ASSESMENT PERILAKU ABNORMAL

    Penggunaan menggunakan metode DSM (Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disorders). Perlaku abnormal diperlakukan sebagai tanda – tanda atau simtom – simtom dari patologi yang mendasari yang disebut dengan ganggan mental.

    1. GANGGUAN KECEMASAN ( ANXIETY )

    Adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

    Tipe – Tipe Gangguan Kecemasan :

    1. Agorafobia
    2. Gangguan panic tanpa agoraphobia
    3. Gangguan panic dengan agoraphobia
    4. Gangguan kecemasan menyeluruh
    5. Fobia Spesifik
    6. Fobia Sosial
    7. Gangguan Obsesif Kompulsif
    8. Gangguan Stress pasca Trauma
    9. Gangguan Stress Akut

    2. GANGGUAN MOOD

    Mood adalah kondisi keadaan yang terus ada yang mewarnai kehidupan psikologis kita. Orang dengan gangguan mood akan mengalami gangguan mood yang luar biasa parah atau berlangsung lama dan mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi tanggungjawab secara normal.

    Tipe – Tipe Gangguan Mood

    a. Gangguan Depresi Mayor

    b. Gangguan Distimik

    c. Gangguan Bipolar

    d. Gangguan Siklotimik

    3. Gangguan Kepribadian

    Adalah Pola Perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar – benar kaku. Kekakuan mereka menghalangi untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan eksternal.

    Tipe – Tipe Gangguan Kepribadian

    a. Gangguan kepribadian yang ditandai dengan perilaku aneh.

    b. Gangguan kepribadian paranoid.

    c. Gangguan kepribadian schizoid.

    d. Gangguan kepribadian antisocial

    e. Gangguan kepribadian ambang.

    f. Gangguan kepribadian histronik.

    g. Gangguan kepribadian Narsistik.

    h. Gangguan kepribadian obsesif kompulsif.

    4. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Zat

    Penyalahgunaan zat melibatkan pola penggunaan berulang yang menghasilkan konsekwensi yang merusak. Penyalahgunaan zat dapat berlangsung untuk periode waktu yang panjang dan meningkat menjadi ketergantungan zat.

    5. Gangguan Makan

    a. Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa

    b. Gangguan makan berlebihan atau obesitas

    6. Gangguan Identitas Gender

    Adalah bagaimana seseorang merasa bahwa ia adalah seorang pria atau wanita. Identitas gender secara normal didasarkan pada anatomi gender. Namun pada gangguan identitas gender terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan odentitas gendernya

    7. Skizofrenia

    Adalah gangguan psikologis yang berhubungan dengan gila atau sakit mental. Hal ini sering menimbulkan rasa takut. Skizofrenia menyerang jati diri seseorang, memutus hubungan yang erat antara pemikiran dan perasaan serta mengisinya dengan persepsi yang terganggu, ide yang salah dan konsepsi yang tidak logis. Skizofrenia biasanya berkembang pada masa remaja akhir atau dewasa awal tepat pada saat orang mulai keluar dari keluarga menuju dunia luar. Orang yang mengidap skizofrenia semakin lama semakin terlepas dari masyarakat.

    8. Gangguan Abnormal Pada Anak dan Remaja

    1. Gangguan Perkembangan Pervasif

    Menunjukkan gangguan fungsi dari berbagai area perkembangan. Gangguan ini menjadi tampak nyata pada tahun – tahun pertama kehidupan.

    2. Autisme
    3. ADHD
    4. Retardasi Mental
    5. Gangguan Belajar
    6. Gangguan komunikasi
    7. Gangguan Eliminasi

    G. METODE – METODE PENANGANAN

    1. Terapi Psikodinamika

    Sigmund Freud mengembangkan model psikoterapi yang disebut psikoanalisis. Terapi psikodinamika membantu individu untuk memperoleh insight mengenai, mengatasi konflik bawah sadar yang dipercaya merupakan akar dari perilaku abnormal.

    2. Terapi Humanistik

    Berfokus pada pengalaman klien yang subyektif dan disadari. Bentuk utama dari terapi Humanistik adalah terapi berpusat pada individu ( Person Centered Therapy ) yang dikembangkan oleh Carl Rogers

    Sumber: http://vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=104:perilaku-abnormal&catid=52:psikologi-abnormal&Itemid=70

    Suka

  46. nama :wayudi
    n i m : 11.20.1694

    kreativitas
    Kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan fakta, informasi atau unsur-unsur yang ada.
    — Berpikir kreatif/berpikir divergen adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
    — Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. (Clark Moustatis)
    — Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme (Rogers).
    — Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
    Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
    Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/ banyak.
    Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. (David Cambell)
    Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai “kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan” (Munandar, S.C.U., 1977).
    Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan:
    1. Kemampuan untuk mengkombinasikan
    2. Memecahkan/ menjawab masalah
    3. Cerminan kemampuan operasional anak kreatif (Utami Munandar: 1992)
    Creativity is
    — The ability to generate innovative ideals and manifest them from thought into reality.
    — The process involves original thinking and then producing.
    — The process involves original thinking and then producing.
    Ciri Perilaku Kreatif
    — Perilaku yang tidak biasa (unusual), yang bernilai berdasarkan konvensi atau norma tertentu, dan ditandai oleh originalitas
    — Ciri utama Kreativitas: Sikap Kreatif
    — Sikap Kreatif: purpose, values, and a number of personality traits that together predispose an individual to think ia an independent, flexible, and imaginative way (Davis 1976).
    — Kreative: Proses yang menghasilkan produk kreatif
    — Kreativitas menghasilkan “KEBAHARUAN”
    — Creativity result not in imitation, but new, original, independent, and imagination way of thinking about or doing something.
    abnormal
    Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
    1. Statistical infrequency
    • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur
    didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan
    berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung
    kurva.
    • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan,
    intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.
    • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya
    orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
    • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai
    kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat
    ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

    2. Unexpectedness
    • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya
    seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika
    berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan
    kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang
    ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

    3. Violation of norms
    • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
    • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan
    norma yang berlaku, berarti abnormal.
    • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan
    budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku
    abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
    • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah
    dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan
    perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi
    abnormal.

    4. Personal distress
    • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
    • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau
    melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
    • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit
    karena disuntik.
    • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar
    dapat diberlakukan secara umum.

    5. Disability
    • Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang
    dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah
    mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
    • Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang
    yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip
    orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami
    disability dalam masalah seksual.

    Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun
    kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya
    kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan
    sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta
    waktu.

    Campbell, David.1986. Mengembangkan Kreativitas. Yogyakarta: Kanisius

    Munandar, Utami. 2002. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

    Munandar, Utami. 1999. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

    http://www.e-jurnal.com/kreativitas-identifikasi-perkembangan-kreativitas/

    https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:s_ftjZZjuG0J:fakhrurrozi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/2804/PSIKOLOGI%2BABNORMAL.doc+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjHnZHqVQdegXqLyEb8bPULbCPJ3zKPLz-_iXeucOsiyw0g_xOIoot61h8RTmPXAYa4op9iKafJKjgsEcySQwnO2kK84Q_Gq5XfLhnM8fCdfdtKMUSOWbWNHec1OkPDxUCgd3B2&sig=AHIEtbQOsj536VYCRl0JbybpuXwr5StN8A

    Suka

  47. DEFINISI ABNORMAL
    • Abnormal adalah : perilaku yg menyimpang dari yg normal (tidak biasa terjadi)
    • Perilaku Abnormal :perilaku yg tidak dapat diterima umum.
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
    Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination–menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu.
    Kriteria Pribadi Abnormal :
    1. Kelangkaan statistical (statistical Infrequency)
    T.L abnormal diasumsikan dlm “populasi kurva normal” yg menempatkan mayoritas individu berada ditengah & sangat sedikit yg berada pada posisi ekstrim. Jadi, seseorang dianggap normal bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata atau perilaku tsb.
    2. Pelanggaran Norma (Volition of Norm)
    T.L yg menyimpang dari norma social & mengancam atau membuat cemas orang yg mengamatinya.
    Misalnya: kekerasan, psikopat, schizofrenia
    3. Penderita Pribadi (Discomfort/personal Distress)
    Suatu perilaku dmn individu secara personal merasa berada dlm situasi penuh tekanan baik stress dari lingkungan maupun kondisi dari dlm dirinya.
    Misalnya : depresi, cemas yg berat (rasa sakit ketika melahirkan)
    4. Disabilitan/Disfungsi (Mal Adaptive Behavior)
    Ketidakmampuan individu dlm beberapa bidang penting dalam hidup baik hubungan kerja/pribadi.
    Contoh: penderita narkoba mengalami gangguan dlm pekerjaan / pribadi
    5. Tidak diharapkan (Unexpectedness)
    Suatu respon dari perilaku yg tidak diharapkan terhadap stressor lingkungan karena sudah diluar proporsi.
    Contoh: Kecemasan yg sangat & terus menerus terhadap hartanya walaupun tergolong kaya.

    DEFINISI PSIKOLOGI ABNORMAL

    Sehingga Psi. Abnormal adalah:
    1. Suatu ilmu yg mempelajari sifat-sifat & perkembangan gangguan jiwa
    2. Mempelajari mengapa orang berperilaku, berpikir dan merasa dalam cara yg tidak diharapkan
    3. mencegah, mengurangi dan menyembuhkan
    ETIOLOGI
    1. Primer (Primary Causes)
    2. Predisposisi
    3. Aktual (precipitating causes)
    4. Penguat (Reinforcing causes)
    Kreativitas
    Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Orang kreatif memunculkan banyak ide yang bernilai. Tidak semua ide kreatif terlihat cerdas, berisi keajaiban, bermuatan guna, tetapi tidak jarang ide-ide kreatif terlihat jelek, karenanya dianggap hina, dicurigai dan diolok-olok. Pada umumnya, ide kreatif sering ditolak karena bertentangan dengan keadaan yang sedang berlaku. Penolakan oleh masyarakat tersebut, barangkali, untuk memberi kerangka berpikir yang benar –benar menurut takaran mereka. Masyarakat pada umumnya merasa, bahwa ide kreatif melawan status-quo. Dan masyarakat seringkali mengabaikan ide inovatif. Orang kreatif memiliki kemampuan menganalisa pada peristiwa baik atau peristiwa buruk. Dengan mengembangkan kemampuan analisis ini, memungkinkan mereka merubah ide jelek menjadi baik. Namun kendalanya, seringkali kita temukan, seseorang memiliki ide sangat bagus, tetapi tidak bisa menjualnya.

    Sumber :http://retno-psikolog.blogspot.com/2010/11/psikologi-abnormal.html

    Suka

    1. Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis. Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

      Suka

  48. Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis. Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

  49. Pengertian Perilaku Abnormal
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
    Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination–menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu.
    Pada abad pertengahan kepercayaan tersebut makin meningkat pengaruhnya dan pada akhirnya mendominasi pemikiran di zaman pertengahan. Doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meyakini bahwa perilaku abnormal merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Rupanya, hal seperti ini masih dapat dijumpai di negara kita, khususnya di daerah pedalaman. Pernah saya melihat di tayangan televisi yang mengisahkan tentang seorang ibu dirantai kakinya karena dianggap gila. Oleh karena keluarga meyakini bahwa sang ibu didiami oleh roh jahat, maka mereka membawa ibu ini pada seorang tokoh agama di desanya.
    Dia diberi minum air putih yang sudah didoakan. Mungkin inilah gambaran situasi pada abad pertengahan berkaitan dengan penyebab perilaku abnormal.
    Lalu apa yang dilakukan waktu itu? Pada abad pertengahan, para pengusir roh jahat dipekerjakan untuk meyakinkan roh jahat bahwa tubuh korban yang mereka tuju pada dasarnya tidak dapat dihuni. Mereka melakukan pengusiran roh jahat (exorcism) dengan cara, misalnya: berdoa, mengayun-ayunkan tanda salib, memukul, mencambuk, dan bahkan membuat korban menjadi kelaparan. Apabila korban masih menunjukkan perilaku abnormal, maka ada pengobatan yang lebih kuat, seperti penyiksaan dengan peralatan tertentu.
    Keyakinan-keyakinan dalam hal kerasukan roh jahat tetap bertahan hingga bangkitnya ilmu pengetahuan alam pada akhir abad ke 17 dan 18. Masyarakat secara luas mulai berpaling pada nalar dan ilmu pengetahuan sebagai cara untuk menjelaskan fenomena alam dan perilaku manusia. Akhirnya, model-model perilaku abnormal juga mulai bermunculan, meliputi model-model yang mewakili perspektif biologis, psikologis, sosiokultural, dan biopsikososial. Di bawah ini adalah penjelasan-penjelasan singkatnya :
    • Perspektif biologis: Seorang dokter Jerman, Wilhelm Griesinger (1817-1868) menyatakan bahwa perilaku abnormal berakar pada penyakit di otak. Pandangan ini cukup memengaruhi dokter Jerman lainnya, seperti Emil Kraepelin (1856-1926) yang menulis buku teks penting dalam bidang psikiatri pada tahun 1883. Ia meyakini bahwa gangguan mental berhubungan dengan penyakit fisik. Memang tidak semua orang yang mengadopsi model medis ini meyakini bahwa setiap pola perilaku abnormal merupakan hasil dari kerusakan biologis, namun mereka mempertahankan keyakinan bahwa pola perilaku abnormal tersebut dapat dihubungkan dengan penyakit fisik karena ciri-cirinya dapat dikonseptualisasikan sebagai simtom-simtom dari gangguan yang mendasarinya.
    • Perspektif psikologis: Sigmund Freud, seorang dokter muda Austria (1856-1939) berpikir bahwa penyebab perilaku abnormal terletak pada interaksi antara kekuatan-kekuatan di dalam pikiran bawah sadar. Model yang dikenal sebagai model psikodinamika ini merupakan model psikologis utama yang pertama membahas mengenai perilaku abnormal.
    • Perspektif sosiokultural: Pandangan ini meyakini bahwa kita harus mempertimbangkan konteks-konteks sosial yang lebih luas di mana suatu perilaku muncul untuk memahami akar dari perilaku abnormal. Penyebab perilaku abnormal dapat ditemukan pada kegagalan masyarakat dan bukan pada kegagalan orangnya. Masalah-masalah psikologis bisa jadi berakar pada penyakit sosial masyarakat, seperti kemiskinan, perpecahan sosial, diskriminasi ras, gender,gayahidup,dansebagainya.
    • Perspektif biopsikososial: Pandangan ini meyakini bahwa perilaku abnormal terlalu kompleks untuk dapat dipahami hanya dari salah satu model atau perspektif. Mereka mendukung pandangan bahwa perilaku abnormal dapat dipahami dengan paling baik bila memperhitungkan interaksi antara berbagai macam penyebab yang mewakili bidang biologis, psikologis, dan sosiokultural.

    2.2 Model Perilaku Abnormal
    Untuk memperoleh informasi tentang perkembangan, gambaran, bentuk dan sebagainya dapat dilihat melalui :
    Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup :
    • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi
    • Sebab-sebab gejala
    • Cara mengatasi
    a. Model demonologis
     Dasar perilaku abnormal adalah kepercayaan pada unsure-unsur mistik, ghaib (kekuatan setan, guna2, sihir).
     Gejala-gejala
    Halusinasi, PL aneh, tanda jasmani khusus (warna kulit, pigmen, dsb )dianggap sebagai tanda setan
     Gangguan mental
    Bersifat “jahat” -dianggap berbahaya, bisa merugikan / membunuh orang.
    Cara mengatasi:
    • Zaman batu
    o Tengkorak dibor (dibolong), sebagai jalan keluar roh jahat.
    • Abad pertengahan
    o Disiksa, dibunuh, dimusnahkan, dipenjara, RSJ

    • Perkembangan di Gereja
    o Pendeta yang mengobati (doa, sembahyang, penebusan dosa).
    b. Model Naturalistis
     Dasar penyebab :
    Proses-proses fisik / jasmani perilaku abnormal selalu berhubungan dengan fungsi- fungsi jasmani yang abnormal (bukan karena gejala spiritual). Misal : Hipocrates – Galenus Perilaku abnormal — karena gangguan pada sistem humoral (cairan dalam tubuh).
     Cara mengatasi :
    Perlakuan terhadap penderita lebih humanistic/manusiawi – lebih lembut, wajar dan menghilangkan bentuk siksaan-siksaan.
    c. Model Organis
     Dasar perilaku abnormal :
    Kerusakan pada jaringan syaraf / gangguan biokimia pada otak karena kerusakan genetic, disfungsi endokrin, infeksi, luka2, khususnya pada otak.
    d. Model Psikologis
     Dasar perilaku abnormal :
    Pola-pola yang patologis, Pendekatan — Psikoanalisis, Behavioristis, kognitif, humanistic.
    2.3 Kriteria Perilaku Abnormal
    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
    2. Kriteria Norma
    Banyak ditentukan oleh norma-norma yng berlaku di masyarakat,ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Personal distress
    Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.

    2.4 Penyembuhan Perilaku Abnormal
    Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan.
    1. Kemoterapi(Chemotherapy)
    Chemotherapy atau Kemoterapi dalam kamus J.P. Chaplin diartikan sebagai penggunaan obat bius dalam penyembuhan gangguan atau penyakit-penyakit mental.Adapun penemuan obat-obat ini dimulai pada awal tahun 1950-an, yaitu ditemukannya obat yang menghilangkan sebagian gejala Schizophrenia.
    Beberapa tahun kemudian ditemukan obat yang dapat meredakan depresi dan sejumlah obat-obatan dikembangkan untuk menyembuhkan kecemasan.
    2. Electroconvulsive
    Terapi elektrokonvulsif (electroconvulsive therapy) dijelaskan oleh psikiater asal Itali Ugo Carletti pada tahun 1939. Pada terapi ini dikenal electroschot therapy, yaitu adanya penggunaan arus listrik kecil yang dialirkan ke otak untuk menghasilkan kejang yang mirip dengan kejang epileptik. Pada saat ini ECT diberikan pada pasien yang mengalami depresi yang parah dimana pasien tidak merespon pada terapi otak.
    3. Psychosurgery
    Pada terapi ini, tindakan yang dilakukan adalah adanya pemotongan serabut saraf dengan penyinaran ultrasonik. Psychosurgery merupakan metode yang digunakan untuk pasien yang menunjukan tingkah laku abnormal, diantaranya pasien yang mengalamai gangguan emosi yang berat dan kerusakan pada bagian otaknya.
    Pada pasien yang mengalami gangguan berat, pembedahan dilakukan terhadap serabut yang menghubungkan frontal lobe dengan sistim limbik atau dengan area hipotalamus tertentu.
    Terapi ini digunakan untuk mengurangi simptom psikotis, seperti disorganisasi proses pikiran, gangguan emosionalitas, disorientasi waktu ruang dan lingkungan, serta halusinasi dan delusi. oleh zaini.Ar

    Suka

    1. kreativitas
      Kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan fakta, informasi atau unsur-unsur yang ada.
      — Berpikir kreatif/berpikir divergen adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
      — Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain. (Clark Moustatis)
      — Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme (Rogers).
      — Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
      Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
      Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/ banyak.
      Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. (David Cambell)
      Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai “kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan” (Munandar, S.C.U., 1977).
      Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan:
      1. Kemampuan untuk mengkombinasikan
      2. Memecahkan/ menjawab masalah
      3. Cerminan kemampuan operasional anak kreatif (Utami Munandar: 1992)
      Creativity is
      — The ability to generate innovative ideals and manifest them from thought into reality.
      — The process involves original thinking and then producing.
      — The process involves original thinking and then producing.
      Ciri Perilaku Kreatif
      — Perilaku yang tidak biasa (unusual), yang bernilai berdasarkan konvensi atau norma tertentu, dan ditandai oleh originalitas
      — Ciri utama Kreativitas: Sikap Kreatif
      — Sikap Kreatif: purpose, values, and a number of personality traits that together predispose an individual to think ia an independent, flexible, and imaginative way (Davis 1976).
      — Kreative: Proses yang menghasilkan produk kreatif
      — Kreativitas menghasilkan “KEBAHARUAN”
      — Creativity result not in imitation, but new, original, independent, and imagination way of thinking about or doing something.
      abnormal
      Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
      1. Statistical infrequency
      • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur
      didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan
      berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung
      kurva.
      • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan,
      intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.
      • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya
      orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
      • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai
      kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat
      ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

      2. Unexpectedness
      • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya
      seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika
      berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan
      kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang
      ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

      3. Violation of norms
      • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
      • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan
      norma yang berlaku, berarti abnormal.
      • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan
      budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku
      abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
      • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah
      dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan
      perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi
      abnormal.

      4. Personal distress
      • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
      • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau
      melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
      • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit
      karena disuntik.
      • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar
      dapat diberlakukan secara umum.

      5. Disability
      • Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang
      dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah
      mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
      • Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang
      yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip
      orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami
      disability dalam masalah seksual.

      Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun
      kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya
      kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan
      sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta
      waktu.

      Campbell, David.1986. Mengembangkan Kreativitas. Yogyakarta: Kanisius

      Munandar, Utami. 2002. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

      Munandar, Utami. 1999. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

      http://www.e-jurnal.com/kreativitas-identifikasi-perkembangan-kreativitas/

      Suka

  50. Nama : Ahmad Firdaus
    NIM : 11.20.1563

    KREATIVITAS
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Ciri-ciri kreativitas:
    Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat.
    Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.
    Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan.
    Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.
    Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan.
    Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.
    Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas.
    Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.
    Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert.
    Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.
    Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya.
    Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.
    Orang-orang kreatif adalah androgini;
    Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.
    Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama.
    Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.
    Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya.
    Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.
    Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan.
    Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.

    ciri-ciri perilaku kreatif lainnya antara lain:

    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serat menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis

    Perilaku Abnormal
    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1.KriteriaStatistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.

    2.KriteriaNorma

    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.

    3.KriteriaPatologis

    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.

    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.

    Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi.

    sumber :
    http://cermatcerdas.weebly.com/kriteria-perilaku-abnormal.html
    http://pertapamental.wordpress.com/
    http://www.psychologymania.com/2012/07/ciri-ciri-perilaku-kreatif.html

    Suka

  51. Nama : Rendra Seprima
    NIM : 11.20.1674
    AS DAN PERILAKU ABNORMAL
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis. Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html Balas ↓ pujianto pada November 13, 2012 pada 04:42 berkata: nama : pujianto N I M : 11.20.1671 Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal. B. Kriteria Perilaku Abnormal Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain: 1. Statistical infrequency · Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva. · Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb. · Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius. · Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal. 2. Unexpectedness · Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi. 3. Violation of norms · Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. · Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. · Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal. · Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal. 4. Personal distress · Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. · Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. · Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. · Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum. 5. Disability · Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan. · Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual. Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu. http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-abnormal.html Balas ↓ wati pada November 13, 2012 pada 04:51 berkata: Nama : Sudarwati Nim : 11.20.1687 kelas : B Makna Perkembangan Abnormal Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal. B. Kriteria Perilaku Abnormal Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain: 1. Statistical infrequency • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva. • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb. • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius. • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal. 2. Unexpectedness • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi. 3. Violation of norms • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal. • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal. 4. Personal distress • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum

    Suka

  52. hafidin zakili (fidin.77@gmail.com)
    NIM:11.20.1630
    Semester:III

    Pengertian kreativitas
    Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru, atau kemampuan untuk memberikan gagasan – gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi ciri – ciri kognitif, seperti kelancaran, keluwesan, keaslian, elaborasi, dan pemaknaan kembali dalam pemikiran, maupun ciri – ciri nonkognitif seperti motivasi, sikap, rasa ingin tahu, senang mangajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.
    Ciri – ciri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
    1. Kelancaran adalah kemampuan menghasilkan banyak gagasan.
    2. Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam – macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah.
    3. Keaslian adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara – cara yang asli, tidak klise.
    4. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terperinci.
    5. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang.

    Karakteristik
    SCU Munandar (1984) melakukan penelitian terhadap ahli psikologi tentang pendapat mereka mengenai ciri – ciri kepribadian kreatif, yang hasilnya adalah sebagai berikut :
    1. Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
    2. Mempunyai inisiatif.
    3. Mempunyai minat yang luas.
    4. Bebas dalam berpikir (tidak kaku dan terhambat).
    5. Bersifat ingin tahu.
    6. Selalu ingin mendapat pengalaman – pengalaman baru.
    7. Percaya pada diri sendiri.
    8. Penuh semangat (energetic).
    9. Berani mengambil resiko (tidak takut membuat kesalahan).
    10. Berani menyatakan pendapat dan keyakinan (tidak ragu – ragu dalam menyatakan pendapat meskipun mendapat kritik dan berani mempertahankan pendapat yang menjadi keyakinannya).

    Pengembangan Kreativitas
    Setiap orang diasumsikan memiliki kemampuan kreatif meskipun dengan tingkat yang seragam. Kreativitas seseorang berkembang dipengaruhi oleh faktor – faktor internal (diri sendiri) dan eksternal (lingkungan).
    Faktor – faktor yang bersumber dari dalam diri sendiri, seperti :
    1. Kondisi kesehatan fisik (sering sakit – sakitan, memiliki penyakit kronis, atau mengalami gangguan otak dapat menghambat perkembangan kreativitas).
    2. Tingkat kecerdasan (IQ), IQ yang rendah (di bawah normal) dapat menjadi faktor penghambat perkembangan kreativitas.
    3. Kondisi kesehatan mental, apabila seseorang sering mengalami stress, memiliki penyakit amnesia atau neurosis, maka dia cenderung akan mengalami hambatan dalam pengembangan kreativitasnya.
    Faktor – faktor lingkungan yang mendukung perkembangan kreativitas antara lain :
    1. Orang tua atau guru dapat menerima anak apa adanya, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya dia baik dan mampu.
    2. Orang tua atau guru bersikap empati kepada anak, dalam arti mereka memahami pikiran, perasaan dan perilaku anak.
    3. Orang tua atau guru memberi kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan pendapatnya.
    4. Orang tua atau guru (sekolah) memupuk sikap dan minat anak dengan berbagai kegiatan yang positif, seperti per;ombaan penulisan karya ilmiah, pidato, deklamasi dan drama.
    5. Orang tua atau guru (sekolah) menyediakan sarana – prasarana pendidikan yang memungkinkan anak mengembangkan keterampilannya dalam membuat karya – karya yang produktif – inovatif.

    http://arihdyacaesar.wordpress.com/2010/01/13/resume-kreativitas-konsep-indikator-pengukuran/#comment-477

    Intelligensi dan Kreativitas
    Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
    Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa hal ini terjadi. J.P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

    http://indonesiapsikologi.blogspot.com/search?q=kreativitas

    Perilaku Abnormal (Abnormal Behavior)

    Abnormal behavior berarti penampilan inner personality (kepribadian seseorang) dan penampilan perilaku luar atau kedua-duanya. Jadi, kalau kita menggunakan inner personality disebut psikologi abnormal atau abnormal psychology. Demikian pula jika kita menggunakan perilaku luar disebut juga perilaku abnormal atau abnormal behavior. Jika kita menggunakan perilaku luar disebut juga perilaku abnormal atau abnormal behavior. Jika kita menggunakan kedua-keduanya (inner personality dan over dan over personality) disebut disorder behavior.

    Antara psikologi abnormal dan psikopatologi pada dasarnya sama saja, sehingga pengucapan Psikolgi Abnormal Behavior dan psikopatologi tidak cukup tepat; seyogianya psikologi atau perilaku Abnormal, atau psikopatologi saja. Pengertian yang lainnya yang sering ditemukan dalam wacana ini adalah perilaku-perilaku spesifik fobia atau pola-pola perilaku yang lebih mendalam seperti skizofreni. Kemungkinan lain adalah sebutan untuk masalah-masalah yang berkepanjangan atau bersifat kronik dan gangguan-gangguan dimana gejala-gejala yang ditampilkan bersifat akut dan temporer, seperti intoksinasi (peracunan obat-obatan) terutama narkoba secara kasar. Istilah perilaku abnormal bersesuaian dengan gangguan mental atau mental disorder atau semacamnya, tetapi dalam konteks yang lebih luas perilaku abnormal ini bersamaan perilaku maladatif.

    Psikopatologi (psychopatology)

    Istilah mengacu pada studi mengenai perialku abnormal atau gangguan mental, menyangkut wilayah ilmu pengetahuan. Dalam praktisnya psikopatologi juga identik dengan psikologi abnormal dan gangguan mental.

    http://psiokogiabnormal.blogspot.com/

    Suka

  53. Novitasari pada November 19 2012 berkata:

    Nama : Novitasari
    NIM : 11.20.1667

    Kreativitas

    Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
    Kreativitas manusia melahirkan pencipta besar yang mewarnai sejarah kehidupan umat manusia dengan karya-karya spektakulernya.
    ciri-ciri kreatif yang ditemukan oleh torrence (dalam utami munandar, 1988 )adalah :
    1.berani dalam pendirian,berarti ia berani mempertahankan pendiriannya meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang;
    2. memiliki sifat ingin tau
    3. mandiri dalam berpikir dan menilai sesuatu.
    4.menjadi orang yang berpikir dengan tugas-tugasnya
    5. bersifat intuitif atau mendasarkan pada gerak hati dalam pemenuhan kebutuhan
    6. orang yang teguh,
    7.tidak mudah menerima penilaian dari orang lain,meskipun banyak orang yang menyetujuinya.

    Para ahli seperti Torrance dan Dembo (979), Utami Munandar (2004), Conny Semiawan (1984), Cohen (1976), Siegelman (1973) mengemukakan beberapa ciri-ciri orang kreatif, diantaranya;
    a.Suka humor, tidak kaku dan tidak tegang dalam bekerja.
    b.Suka pada pekerjaan yang menantang
    c.Cukup kuat memusatkan perhatian
    d.Suka mengemukakan ide-ide baru dan bersifat imajinatif
    e.Lebih sensitif terhadap keadaan orang lain
    f.Tidak banyak terikat pada kelompknya
    g.Mampu memunculkan ide-ide yang aneh
    h.Terbuka terhadap ide/penemuan baru
    i.Fleksibel/tidak kaku
    j.Memiliki konsep diri positif

    http://konselorindonesia.blogspot.com/)
    http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    TEORI PRESTASI
    Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti “dorongan atau daya penggerak”. Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang.

    Motivasi dapat ditimbulkan baik oleh faktor internal maupun eksternal tergantung dari mana suatu kegiatan dimulai. Kebutuhan dan keinginan yang ada di dalam diri seseorang merupakan motivasi internal. Begitu juga dalam suatu organisasi, setiap individu akan mempunyai kebutuhan dan keingian yang berbeda dan unik. Sedangkan motivasi eksternal menjelaskan kekuatan – kekuatan yang ada di dalam individu yang dipengaruhi faktor – faktor intern. Untuk itu, teori motivasi eksternal tidak mengabaikan teori motivasi internal, tetapi justru mengembangkannya.

    http://wulan-aza.blogspot.com/2009/11/teori-prestasi.html

    Pengertian Perilaku Abnormal
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.

    Abnormal Orang yang tingkah lakunya sangat berbeda dari norma yang berlaku dalam suatu masyarakat disebut “abnormal”. Seorang manusia disebut “normal” atau “waras” bila ia sama-sama waras seperti rata-rata orang sebayanya, tetapi pada rata-rata manusia, banyak mekanisme yang menentukan opini dan tindakannya sangat fantastik. Sedemikian banyaknya sehingga dalam dunia yang benar-benar waras, mereka dapat disebut gila atau “abnormal”.

    Bentuk-Bentuk Kepribadian Abnormal
    Penggolongan bentuk-bentuk perilaku abnormal selalu mengalami perubahan dan masa ke masa. Menurut Supranknya (1995 : 33), penggolongan paling tua dilakukan oleh Emil Kraepelin, seorang psikolog berkebangsaan Jerman, pada tahun 1983 dalam bukunya berjudul Lehrbuch der Psychiatrie Buku mi direvisi pada tahun 1927. Pada masa itu, kata Supratiknya, penggolongan ala Kraepelin inilah yang dipakai di mana-mana.

    http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.htm
    http://illsionst.blogspot.com/2011/06/kepribadian-ab-normal.html

    Suka

  54. NAMA : TATANG MARDIANSYAH
    NIM : 11.20.1691

    Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas. Kreativitas dimiliki oleh setiap orang meskipun dalam derajat dan bentuk yang berbeda. Kreativitas harus dipupuk dan diingkatkan karena jika dibiarkan saja maka bakat tidak akan berkembang bahkan bisa terpendam dan tidak dapat terwujud.
    Tumbuh dan berkembangnya kreasi diciptakan oleh individu, dipengaruhi oleh kebudayaan serta dari masyarakat dimana individu itu hidup dan bekerja. Tumbuh dan berkembangnya kreativitas dipengaruhi pula oleh banyak faktor terutama adalah karakter yang kuat, kecerdasan yang cukup dan lingkungan kultural yang mendukung.
    Munandar (2009) menyebutkan bahwa perkembangan kreativitas dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
    1. Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari atau terdapat pada diri individu yang bersangkutan. Faktor ini meliputi keterbukaan, locus of control yang internal, kemampuan untuk bermain atau bereksplorasi dengan unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep-konsep, serta membentuk kombinasi-kombinasi baru berdasarkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
    2. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu yang bersangkutan. Faktor-faktor ini antara lain meliputi keamanan dan kebebasan psikologis, sarana atau fasilitas terhadap pandangan dan minat yang berbeda, adanya penghargaan bagi orang yang kreatif, adanya waktu bebas yang cukup dan kesempatan untuk menyendiri, dorongan untuk melakukan berbagai eksperimen dan kegiatan-kegiatan kreatif, dorongan untuk mengembangkan fantasi kognisi dan inisiatif serta penerimaan dan penghargaan terhadap individual.
    Penelitian menunjukkan bahwa bukan hanya faktor-faktor non-kognitif seperti sifat, sikap, minat dan temperamen yang turut menentukan produksi lintas kreatif. Selain itu latihan dan pengembangan aspek non-kognitif seperti sikap berani mencoba sesuatu, mengambil resiko, usaha meningkatkan minat dan motivasi berkreasi, pandai memanfaatkan waktu serta kepercayaan diri dan harga diri akan sangat menentukan kreativitas (Munandar, 2009).
    Menurut Rogers (dalam Munandar, 2009), faktor-faktor yang dapat mendorong terwujudnya kreativitas individu diantaranya:
    Dorongan dari dalam diri sendiri (motivasi intrinsik)
    Menurut Roger (dalam Munandar, 2009) setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan dari dalam dirinya untuk berkreativitas, mewujudkan potensi, mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas yang dimilikinya. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya (Rogers dalam Munandar, 2009). Hal ini juga didukung oleh pendapat Munandar (2009) yang menyatakan individu harus memiliki motivasi intrinsik untuk melakukan sesuatu atas keinginan dari dirinya sendiri, selain didukung oleh perhatian, dorongan, dan pelatihan dari lingkungan. Menurut Rogers (dalam Zulkarnain, 2002), kondisi internal (interal press) yang dapat mendorong seseorang untuk berkreasi diantaranya:
    1. Keterbukaan terhadap pengalaman
    2. Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation)
    3. Kemampuan untuk bereksperimen atau “bermain” dengan konsep- konsep.
    Dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik)
    Munandar (2009) mengemukakan bahwa lingkungan yang dapat mempengaruhi kreativitas individu dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga merupakan kekuatan yang penting dan merupakan sumber pertama dan utama dalam pengembangan kreativitas individu. Pada lingkungan sekolah, pendidikan di setiap jenjangnya mulai dari pra sekolah hingga ke perguruan tinggi dapat berperan dalam menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas individu. Pada lingkungan masyarakat, kebudayaan-kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat juga turut mempengaruhi kreativitas individu.
    Rogers (dalam Munandar, 2009) menyatakan kondisi lingkungan yang dapat mengembangkan kreativitas ditandai dengan adanya:
    Keamanan psikologis
    Keamanan psikologis dapat terbentuk melalui 3 proses yang saling berhubungan, yaitu:
    1. Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.
    2. Mengusahakan suasana yang didalamnya tidak terdapat evaluasi eksternal (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau mempunyai efek mengancam.
    3. Memberikan pengertian secara empatis, ikut menghayati perasaan, pemikiran, tindakan individu, dan mampu melihat dari sudut pandang mereka dan menerimanya.
    Kebebasan psikologis
    Lingkungan yang bebas secara psikologis, memberikan kesempatan kepada individu untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya.
    Menurut Hurlock (dalam Munandar, 2009) kepribadian merupakan faktor yang penting bagi pengembangan kreativitas. tindakan kreativitas muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungan. Dari ungkapan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif.
    Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, terdapat berbagai faktor lainnya yang dapat menyebabkan munculnya variasi atau perbedaan kreativitas yang dimiliki individu, yang menurut Hurlock (1993) yaitu:
    Jenis kelamin
    Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar daripada anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebaya untuk lebih mengambil resiko dan didorong oleh para orangtua dan guru untuk lebih menunjukkan inisiatif dan orisinalitas.
    Status sosial ekonomi
    Anak dari kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih kreatif daripada anak yang berasal dari sosial ekonomi kelompok yang lebih rendah. Lingkungan anak kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi memberi lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan bagi kreativitas.
    Urutan kelahiran
    Anak dari berbagai urutan kelahiran menunjukkan tingkat kreativitas yang berbeda. Perbedaan ini lebih menekankan lingkungan daripada bawaan. Anak yang lahir di tengah, lahir belakangan dan anak tunggal mungkin memiliki kreativitas yang tinggi dari pada anak pertama. Umumnya anak yang lahir pertama lebih ditekan untuk menyesuaikan diri dengan harapan orangtua, tekanan ini lebih mendorong anak untuk menjadi anak yang penurut daripada pencipta.
    Ukuran keluarga
    Anak dari keluarga kecil bilamana kondisi lain sama cenderung lebih kreatif daripada anak dari keluarga besar. Dalam keluarga besar, cara mendidik anak yang otoriter dan kondisi sosioekonomi kurang menguntungkan mungkin lebih mempengaruhi dan menghalangi perkembangan kreativitas.

    sumber : http://konselorindonesia.blogspot.com/)
    http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

  55. RELASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL

    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan rcayaan biologis Sumberoleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain:
    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis.

    Perkembangan Abnormal tidak hanya mencakup gangguan perkembangan saja. Perkembangan abnormal juga berkaitan dengan perkembangan yang lebih cepat atau lebih bagus dari pada rata-rata. Misalnya: anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau disebut anak berbakat. Oleh karena itu, dalam penyajian ini perkembangan anak luar biasa, khususnya anak jenius atau berbakat disajikan dalam satu kesatuan dalam perkembangan abnormal.

    Kriteria Perilaku Abnormal Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:
    1. Statistical infrequency • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva. • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, keterampilan membaca, dsb. • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius. • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.
    2. Unexpectedness • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.
    3. Violation of norms • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal. • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.
    4. Personal distress • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
    5. Disability • Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan. • Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual. Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

    Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    http://agus-suroto.blogspot.com/2012/09/perkembangan-abnormal.html

    Suka

  56. Salah satu indikasi perilaku yang di anggap tidak normal adalah adanya perbedaan, diluar kelaziman pada umumnya. Prestasi yang dicapai seseorang secara factual merupakan bentuk kemenonjolan atau perbedaan. Tapi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, atlet yang berprestasi tidak dikategorikan sebagai perilaku abnormal. Yang terjadi justru sebaliknya, diberikan penghargaan, bahkan tidak jarang ditokohkan sebagai sosok idola atau panutan. Namun demikian, berdasarkan sebuah penelitian, dibalik sebuah prestasi menyimpan potensi ancaman terjadinya ketidakstabialan mental.
    Felix post (1994) menerbitkan survey kepribadian di jurnal The British Journal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkan adanya kolerasi keunggulan kreatif dan ketidakstabilan mental :
    Ilmuwan 42,2%
    Pemusik 61,6%
    Negarawan 63%
    Cendikiawan 74%
    Seniman 75%
    Pengarang 90%
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu.
    Banyak ahli yang sudah merumuskan ciri-ciri perilaku kreatif. Berikut simpulan ciri-ciri perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Torrence (dalam Utami Munandar, 1988) dan Guilford (dalam Munandar, 1988) :
    1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain.
    2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan.
    3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah.
    4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serat menyukai tantangan yang menguji kemampuan.
    5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan.
    6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin.
    7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis

    Sementara itu Utami Munandar (1988) menyatakan bahwa karakteristik orang kreatif berdasarkan penelitian adalah sebagai berikut:
    1. Orang yang bebas dalam berpikir
    2. Orang yang memiliki daya imajinasi
    3. Bersifat ingin tahu
    4. Ingin mencari pengalaman baru
    5. Mempunyai inisiatif
    6. Bebas dalam mengemukakan pendapat
    7. Memiliki minat yang luas dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
    8. Memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang cukup besar.
    9. Tidak mau menerima pendapat orang lain begitu saja
    10. Tidak pernah bosan, dalam arti jarang putus asa dan akan selalu mencoba lagi sampai dapat memecahkan masalahnya.

    Menurut Mihaly Csikszentmihalyi,seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh.

    Berikut sifat-sifat kontradiktif orang yang berperilaku kreatif :

    1. Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat.
    Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.

    2. Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan.
    Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.

    3. Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan.
    Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.

    4. Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas.
    Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.

    5. Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert.
    Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.

    6. Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya.
    Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.

    7. Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka.
    Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.

    8. Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama.
    Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.

    9. Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya.
    Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.

    10. Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan.
    Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.

    Sumber: Umar Effendi, Perilaku Manusia, Catilla, Banjarmasin, 2011
    http://www.senikreasikaryaamanah.com/2012/02/ciri-orang-kreatif.html
    http://www.psychologymania.com/2012/07/ciri-ciri-perilaku-kreatif.html

    Suka

  57. RELASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut. Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis. Sumber: http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-

    Suka

  58. nama : riza Fahlivi
    N i m : 11.20.1678

    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
    • Perspektif biologis: Seorang dokter Jerman, Wilhelm Griesinger (1817-1868) menyatakan bahwa perilaku abnormal berakar pada penyakit di otak. Pandangan ini cukup memengaruhi dokter Jerman lainnya, seperti Emil Kraepelin (1856-1926) yang menulis buku teks penting dalam bidang psikiatri pada tahun 1883. Ia meyakini bahwa gangguan mental berhubungan dengan penyakit fisik. Memang tidak semua orang yang mengadopsi model medis ini meyakini bahwa setiap pola perilaku abnormal merupakan hasil dari kerusakan biologis, namun mereka mempertahankan keyakinan bahwa pola perilaku abnormal tersebut dapat dihubungkan dengan penyakit fisik karena ciri-cirinya dapat dikonseptualisasikan sebagai simtom-simtom dari gangguan yang mendasarinya.
    • Perspektif psikologis: Sigmund Freud, seorang dokter muda Austria (1856-1939) berpikir bahwa penyebab perilaku abnormal terletak pada interaksi antara kekuatan-kekuatan di dalam pikiran bawah sadar. Model yang dikenal sebagai model psikodinamika ini merupakan model psikologis utama yang pertama membahas mengenai perilaku abnormal.
    • Perspektif sosiokultural: Pandangan ini meyakini bahwa kita harus mempertimbangkan konteks-konteks sosial yang lebih luas di mana suatu perilaku muncul untuk memahami akar dari perilaku abnormal. Penyebab perilaku abnormal dapat ditemukan pada kegagalan masyarakat dan bukan pada kegagalan orangnya. Masalah-masalah psikologis bisa jadi berakar pada penyakit sosial masyarakat, seperti kemiskinan, perpecahan sosial, diskriminasi ras, gender,gayahidup,dansebagainya.
    • Perspektif biopsikososial: Pandangan ini meyakini bahwa perilaku abnormal terlalu kompleks untuk dapat dipahami hanya dari salah satu model atau perspektif. Mereka mendukung pandangan bahwa perilaku abnormal dapat dipahami dengan paling baik bila memperhitungkan interaksi antara berbagai macam penyebab yang mewakili bidang biologis, psikologis, dan sosiokultural.

    Ada anggapan bahwa orang yang kreatif identik berperilaku menyimpang. Hal ini dipicu
    oleh tampilan gaya hidup pada sebagian kalangan desainer yang tidak umum, ekstentrik, dan
    sejenisnya yang dikait-kaitkan dengan kreativitas. Perilaku yang demikian biasanya didasari
    alasan bahwa orang yang kreatif harus berani tampil beda. Sehingga muncul pernyataan
    bahwa tidak apa-apa dan justru ”wajar” bila orang kreatif berperilaku menyimpang dari
    norma. Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah dengan berperilaku menyimpang
    ini maka kreativitas itu benar-benar akan meningkat.
    Bagi beberapa orang, kreativitas dianggap sebagai suatu kemampuan untuk menghasilkan
    gagasan baru atau wawasan segar, sebagai hasil dari pola pikir yang “out of the box”. Dalam
    sebuah kamus, kreativitas dikemukakan sebagai proses yang menghasilkan sesuatu yang tidak berkembang secara alamiah atau tidak dibuat dengan cara yang biasa. Kreativitas didefinisikan sebagai suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan

    identitas individu seseorang secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan alam (Olson, 1992 :12,14). Ditinjau dari sisi yang lain, kreativitas adalah proses yang digunakan seseorang untuk mengekspresikan sifat dasarnya melalui suatu bentuk atau medium sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa puas bagi dirinya; menghasilkan suatu produk yang mengkomunikasikan sesuatu tentang diri orang tersebut kepada orang lain. Sehingga kreativitas menjadi sangat pribadi sifatnya karena kreativitas adalah menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri sendiri (Bean, 1995:3, 5). Walaupun kreativitas dimulai sebagai proses di dalam perasaan atau gagasan – tetapi juga harus menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat. Pikiran dan perasaan mungkin menarik dan penting, tetapi pikiran dan perasaan bukanlah kreatif itu sendiri. Harus ada suatu produk yang mengungkapkan semua pikiran dan perasaan tersebut (Bean, 1995:6-7). Sebagus apapun ide yang kita miliki kalau tidak sampai menjadi kenyataan juga tidak akan dapat dinikmati oleh orang lain. Ini berarti memiliki ide cemerlang barulah awal dari suatu pekerjaan, selanjutnya adalah kerja keras, perencanaan yang matang, usaha persuasif yang jitu dan daya tahan untuk merealisasikan ide tersebut sampai menjadi kenyataan (Hartanto, Majalah Desain Grafis Concept Vol.02 Edisi 07’05:90).

    https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:2-RCsE8il6wJ:fportfolio.petra.ac.id/user_files/04-028/Perilaku%2520Menyimpang%2520Dapatkah%2520Mendorong%2520Terciptanya%2520Kreativitas.pdf+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiItSj-alRJ3DadLRKSdD1ZBqOpl9r52nci_EG7-niPtJIpw-DCU2nUxGq5zGH5SNCI0arjavfOFYml6YhlUns0GZUuSnlfUe7YLWO5kScueFDFTrANr3fenRwdayx_vkpva0OE&sig=AHIEtbQnfWHA1xTkyPOuH824oNy8NQWrVA

    http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html

    Suka

  59. Nama : Novitasari
    NIM : 11.20.1666
    Relasi kreativitas dan perilaku abnormal
    Perilaku kreatif memiliki cirri-siri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini membuat,orang kreatif mendapat stigma ”gila”. Tetapi stigma ini akan menghilang jika suatu perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat tertentu.
    Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain :
    1. Berani dalam berpendirian
    2. Tidak pernah putus asa
    3. Mempunyai inisiatif
    4. Menyukai pengalaman baru
    5. Mempunyai daya cipta
    6. Mempunyai minat luas
    7. Memiliki rasa percaya diri

    Abnormal itu sendiri berarti prilaku yang menyimpang dari normal. Dimana standar prilaku normal itu sendiri bervariyasi, misalnya perbedaan kultur atau budaya, di indonesia meludahi orang lain berarti berprilaku tidak sopan, namun di belahan dunia lain meludahi orang yang baru datang berarti menyambutnya dan sebagainya. Namun dari pengertian tersebut, prilaku yang abnormal tidak serta merta dianggap patologis.

    Perilaku Abnormal
    Perilaku abnormal dapat dilakukan dengan pendekatan tiga perspektif
    1. Frekuensi statistik
    2. Norma sosial, dan
    3. Penyimpangan perilaku.

    Perilaku abnormal ditinjau dari perspektif frekuensi statistik, apakah perilaku yang dilakukan jarang ada di populasi umum.

    Tinjauan dari perspektif kedua adalah norma sosial, perilakunya benar-benar menyimpang dari penerimaan standar sosial, nilai-nilai yang berlaku, dan norma-norma pada umumnya. Norma dari waktu ke waktu terbentuk secara mapan, dan secara bertahap mengalami perubahan. Apakah seseorang mengalami penyimpangan berdasarkan norma-norma masyarakat, bila dievaluasi berdasarkan persepktif ini? Mungkin lebih mudah mengevaluasinya, saat ia berjalan bertelanjang atau tidak menunjukkan diri dalam waktu satu minggu?

    Perspektif ketiga memandang perilaku abnormal, bila hal tersebut bertentangan dengan fungsi hidup kemampuan individu dalam masyarakat. Apakah seseorang dapat berfungsi, sebagaimana seharusnya dalam kehidupan sehari-hari? Hal ini mencakup kemampuan bekerja sama, merawat diri sendiri, dan memiliki interaksi sosial yang normal.

    Inti penjelasan perilaku normal atau abnormal berkaitan dengan banyaknya informasi yang dimungkinkan untuk diperoleh, agar suatu diagnosa dapat dilakukan. Hal ini penting dilakukan agar jelas, apakah suatu perilaku itu dapat digolongkan sebagai perilaku normal atau abnormal. Pemberian labelling, apakah perilaku tersebut digolongkan abnormal jelas bukan sesuatu yang mudah dilakukan.

    Beberapa perilaku abnormal seringkali disalahartikan dengan perilaku eksentrik. Perilaku yang tidak biasa atau aneh, tetapi tidak sakit mental. Pada beberapa kasus terdapat kesulitan untuk membedakan perilaku abnormal. Guna membantu hasil suatu diagnosa, perlu diperhatikan sejumlah faktor berkaitan dengan waktu, umur dan intensitas perilaku.

    Suka

  60. nama : Akhmad Kamil
    nim : 11.20.1608

    Perilaku Abnormal
    Perilaku abnormal merupakan tampilan dari kepribadian seseorang, dan tampilan luar atau tampilan atas kedua-duanya. Perilaku abnormal juga merupakan perilaku spesifik, phobia, atau pola-pola peilaku yang lebih mendalam, misalnya skizofren. Perilaku abnormal juga merupakan sebutan untuk masalah-masalah yang berkepanjangan atau bersifat kronis dan gangguan-gangguan yang gejala-gejalanya bersifat akut dan temporer, seperti intoksinasi (peracunan obat-obatan), terutama narkoba.

    Sumber : http://aswendo2dwitantyanov.wordpress.com/2012/05/14/makalah-
    psikologi-abnormal/

    Penyebab Abnormal
    a. Faktor keturunan (hereditas)
    b. Faktor sebelum lahir (pranatal)
    c. Faktor ketika lahir (natal)
    d. Faktor setelah lahir (pascanatal)

    sumber: http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=20&ved=0CF8QFjAJOAo&url=http%3A%2F%2Fimages.kepstikesmb.multiply.multiplycontent.com%2Fattachment%2F0%2FT%40Wy3QooCpoAAEB1mV81%2Fgangguan%2520kepribadian.ppt%3Fkey%3Dkepstikesmb%3Ajournal%3A59%26nmid%3D574153222&ei=rbatUL_MFcnirAey3oG4DQ&usg=AFQjCNGtDrp7a_M2m3GR_cKzCqaiRJO_dw

    Kreativitas
    Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.
    Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking) (kadang disebut pemikiran bercabang) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

    Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Daya_cipta

    simpulannya adari saya adalah
    perilaku abnormal itu berbeda dengan kreativitas karena, prilaku abnormal itu lebih dari pada kebiasaan yang biasa orang lakukan namun lebih kepada prilaku, tingkah laku, tetapi kreativitas adalah hasil dari sautu penemuan yang baru yang menjurus kepada hal yang berbeda namun berupa hal yang baru atau lebih baik dari penemuan sebelumnnya.

    Suka

  61. NAMA:SUKMA PRAYUDA
    NIM:11.20.1689

    Psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal dan cara menolong orang-orang yang mengalaminya. [ Psikologi abnormal mencakup sudut pandang yang lebih luas tentang perilaku abnormal dibandingkan studi terhadap gangguan mental (atau psikologis).
    Memahami perilaku abnormal

    Untuk memahami perilaku abnormal, psikolog menggunakan acuan DSM (Diagnostic and statistical manual of mental disorder). [2] DSM adalah sistem klasifikasi gangguan-gangguan mental yang paling luas diterima. [3] DSM menggunakan kriteria diagnostic spesifik untuk mengelompokkan pola-pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri-ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi yang multiaksiel.[3] Sistem DSM terdiri dari dari 5 klasifikasi yang juga mempunyai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan utama.[3] Penilaian perilaku abnormal dapat ditelaah menggunakan berbagai cara (metode) salah satunya metode-metode assessment yang harus reliabel dan valid yang dapat diukur melalui beberapa cara yang tetap memperhitungkan faktor-faktor budaya dan etnik yang juga penting untuk dilakukan.[3] Metode-metode tetap assessment meliputi wawancara klinis, tes psikologi, assessment neuropsikologis, behavioral assessment dan assessment kognitif.[3] Selain itu para peneliti dan klinisi penting unuk mempelajari fungsi fisiologis yang akan mengungkap bagaimana bekerjanya otak dan struktur dari otak
    http://id.wikipedia.org/wiki/Otak
    Kreativitas
    Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.
    Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking) (kadang disebut pemikiran bercabang) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

    Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Daya_cipta

    simpulannya adari saya adalah
    perilaku abnormal itu berbeda dengan kreativitas karena, prilaku abnormal itu lebih dari pada kebiasaan yang biasa orang lakukan namun lebih kepada prilaku, tingkah laku, tetapi kreativitas adalah hasil dari sautu penemuan yang baru yang menjurus kepada hal yang berbeda namun berupa hal yang baru atau lebih baik dari penemuan sebelumnnya.

    Suka

  62. Perilaku Abnormal

    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata.
    2. Kriteria Norma
    Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, – ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    3. Kriteria Patologis
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.
    Kriteria yang pertama (statististik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
    Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan kehidupan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas.
    Sumber: http://vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=104:perilaku-abnormal&catid=52:psikologi-abnormal&Itemid=

    kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.
    Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking) (kadang disebut pemikiran bercabang) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

    Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Daya_cipta
    HUBUNGAN ANTARA KREATIVITAS DAN PERILAKU MENYIMPANG
    Beberapa ciri orang kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menelorkan ide, gagasan, pemecahan, cara kerja yang tidak lazim (meski tak selalu baik), yang jarang, bahkan ”mengejutkan”; memiliki kemampuan berpikir segala arah untuk mencari jawaban yang berbeda dari umumnya, yang mungkin ada. Ciri orang kreatif ini, hampir selalu dapat kita temukan dalam karakter seorang penggagas kreatif. Kreativitas yang dimiliki oleh penggagas kreatif tak jarang seringkali membuat orang lain menjadi takjub ketika melihat hasil akhir dari sebuah proses kreatif.
    Dalam kehidupannya, para penggagas kreatif dikarenakan tuntutan untuk bisa outstanding selalu menjadi problem solver bagi orang lain, maka seringkali kemudian menjadi tidak peka terhadap perasaan ataupun pemikiran orang lain. Banyak yang tidak mengambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka dan akhirnya mendorong mereka untuk tidak mempedulikan juga adat ataupun aturan yang ada. Bagi beberapa pihak yang pengendalian dirinya kurang, maka tuntutan-tuntutan kreativitas yang berlebihan bisa memunculkan efek kekacauan psikologis yang membawa mereka ke gaya hidup yang menyimpang, misalkan minum-minum berlebihan sehingga lepas kendali, atau dengan mengadakan party yang mengundang striptease dancer dengan alasan menghilangkan kepenatan.

    Sumber :http://dgi-indonesia.com/perilaku-menyimpang-dapatkah-mendorong-terciptanya-kreativita

    Suka

  63. NAMA : NURUL MUNAWARAH
    NIM : 11.20.1668

    Michael Mumford menyarankan: “Selama dekade terakhir, namun, kami tampaknya telah mencapai kesepakatan umum bahwa kreativitas melibatkan produksi baru, produk yang berguna” Kreativitas juga dapat didefinisikan “sebagai proses menghasilkan sesuatu yang baik asli dan berharga”. Apa yang dihasilkan bisa datang dalam berbagai bentuk dan tidak secara khusus dipilih dalam subjek atau daerah. Penulis telah menyimpang secara dramatis dalam definisi yang tepat mereka di luar kesamaan tersebut umum:. Peter Meusburger menganggap bahwa lebih dari seratus analisis yang berbeda dapat ditemukan dalam literatur.

    Banyak tokoh dunia yang dikenal dengan kejeniusannya, namun justru mengalami gangguan kejiwaan. Kondisi semacam ini membuat banyak orang mengira bahwa jenius dan sakit jiwa tidak jauh berbeda. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa kedua hal tersebut memang terkait.
    Dasar pemikiran hubungan antara kejeniusan dengan kegilaan telah banyak menarik perhatian banyak orang sejak lama. Fakta tersebut muncul dari banyaknya tokoh jenius seperti, Isaac Newton, Ludwig van Beethoven, Edgar Allan Poe, dan John Nash, yang mengalami gangguan kejiwaan.
    Hasil penelitian baru yang menyebutkan hubungan keduanya, telah dibahas dalam sebuah acara 5th annual World Science Festival pada 31 Mei di New York, Amerika Serikat.
    Salah satu panelis acara tersebut adalah Kay Redfield Jamison, psikolog klinis dan profesor dari Johns Hopkins University School of Medicine. Ia mengatakan, temuan ini mendukung bahwa banyak orang jenius yang justru mengalami siksaan psikis. Kreativitas bagi mereka terkait dengan gangguan suasana hati atau bipolar.
    Sebuah penelitian lain yang diterbitkan tahun 2010 di Swedia pada 700.000 orang usia 16 tahun. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kecerdasan peserta dan menindaklanjuti apakah 10 tahun berikutnya ada kemungkinan mengalami penyakit mental.
    “Mereka menemukan bahwa orang yang unggul saat mereka berusia 16 tahun empat kali lebih mungkin untuk terus mengembangkan gangguan bipolar,” ungkap Jamison, seperti dilansir Livescience
    Gangguan bipolar merupakan merupakan perubahan suasana hati yang ekstrem, terdiri dari episode kebahagiaan (mania) dan depresi. Kemudian bagaimana siklus ini dapat menciptakan kreativitas?
    “Orang-orang dengan bipolar cenderung menjadi kreatif ketika mereka keluar dari depresi berat. Ketika suasana hati membaik, kegiatan otaknya pun bergeser. Aktivitas mati di bagian bawah otak yang disebut lobus frontal dan menyala di bagian yang lebih tinggi dari lobus,” jelas James Fallon, neurobiologis dari University of California-Irvine, yang ikut menjadi panelis.
    Fallon menambahkan, hebatnya, pergeseran yang sama juga terjadi saat kreativitas terjadi dengan sangat tinggi pada otak manusia.
    “Ada hubungan antar sirkuit yang terjadi antara bipolar dan kreativitas,” jelas Fallon.
    Namun, tidak selamanya dorongan kreativitas muncul saat setelah depresi muncul. Kondisi gangguan kejiwaan juga dapat melemahkan atau bahkan mengancam hidup seseorang.

    Referensi :
    http://ips.yahubs.com/kreativitas-potensi-tertinggi-manusia/
    http://gudangpsikologi.blogspot.com/2012/09/jenius-dan-gangguan-jiwa-tidak-jauh-beda.html
    http://mrn11062.blogspot.com/2012_06_01_archive.html
    http://tyradotcom.wordpress.com/

    Suka

  64. Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
    Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination–menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu
    Sumber : http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html

    Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.
    Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking) (kadang disebut pemikiran bercabang) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.
    Daya cipta dalam kemasakinian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor: keturunan dan lingkungan.
    Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Daya_cipta

    Kesimpulan dari saya :
    Bahwa prilaku abnormal dimana seseorang dapat berubah sifatnya yang awal normal bisa berubah menjadi liar dan tak terkendali di sebabkan oleh faktor keluarga, lingkungan sosial dan budaya
    Relasi kreativitas merupakan bentuk pemikiran seseorang dalam menciptakan suatu pendapat dalam suatu ciptaannya

    Nama : AKHMAD RIZANI
    NIM : 11.20.1609

    Suka

  65. Untuk memahami perilaku abnormal, psikolog menggunakan acuan DSM (Diagnostic and statistical manual of mental disorder). [2] DSM adalah sistem klasifikasi gangguan-gangguan mental yang paling luas diterima. [3] DSM menggunakan kriteria diagnostic spesifik untuk mengelompokkan pola-pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri-ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi yang multiaksiel.[3] Sistem DSM terdiri dari dari 5 klasifikasi yang juga mempunyai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan utama.[3] Penilaian perilaku abnormal dapat ditelaah menggunakan berbagai cara (metode) salah satunya metode-metode assessment yang harus reliabel dan valid yang dapat diukur melalui beberapa cara yang tetap memperhitungkan faktor-faktor budaya dan etnik yang juga penting untuk dilakukan.[3] Metode-metode tetap assessment meliputi wawancara klinis, tes psikologi, assessment neuropsikologis, behavioral assessment dan assessment kognitif.[3] Selain itu para peneliti dan klinisi penting unuk mempelajari fungsi fisiologis yang akan mengungkap bagaimana bekerjanya otak dan struktur dari otak.[3]
    SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_Abnormal
    Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.
    SUMBER : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/01/21/kreativitas/

    Kesimpulan menurut saya :
    Perilaku abnormal pada seseorang tidak dapat di sadarkan orang yang menderita penykit perilaku abnormal tersebut.
    Kreativitas itu dapat di lakukan oleh siapa pun dalam menjalani aktifitas sosial nya sehari-hari.

    Nama : ANCENI.
    NIM : 11.20.1613

    Suka

  66. NAMA : BAMBANG WAHYU RIHANSYAH
    NIM : 11.20.1620
    Relasi KREATIVITAS, PRESTASI dengan PERILAKU ABNORMAL

    1. pengertian kreatifitas
    Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang belum pernah ada.
    2. Pengertian Prestasi
    Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
    Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.
    .
    3. Pengertian Perilaku Abnormal
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
    Jadi , kreativitas dan prestasi memiliki korelasi dengan perilaku abnormal, dapat dibuktikan dari
    Felix Post (1994) menebitkan survey kepribadian di jurnal The British Jour-nal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkam adanya korelasi antara keunggulan kreatif dengan ketidakstabilan mental. Potensi ancaman ketidakstabilan mental berdasarkan ketegori profesi digambarkan sebagai berikut :
    Ilmuwan 42,2 %
    Pemusik 61,6 %
    Negarawan 63 %
    Seniman 75 %
    Cendekiawan 74 %
    Pengarang 90 %
    Penelitian lainnya dilakukan oleh Psikiater Kay Redfield Jamison.Berdasarkan survey, yang dilakukannya terhadap seniman seperti William Blake, Lord Byron, Dylan Thomas, Virginia Woolf, Ernest Hemingway, menunjukkan beberapa diantaranya pernah lama dirawat di rumah sakit jiwa, dan yang lainnnya, terutama penyair dan pengarang, mengakiri hidupnya dengan bunuh diri.
    Apa yang terjadi pada musisi Kurt Cobain, Jim Morrison, Jimmy Hendrix, serta sastrawan Inggris Virginia Woolf dimana hidup mereka berakhir dengan tragis, semakin memperkuat kesimpulan penelitian para ahli tersebut.
    Terhadap fenomena ini, MAW Brouwer dan Mira Sidharta (1989) menggambarkan dengan bagus dalam buku Kegelisahan Seorang Feminis – Sosok Virginia Woolf. Brouwer dan Sidharta mengatakan bahwa sebagaimana dunia yang terbagi atas dunia luar, yaitu dunia benda-benda dan orang-orang yang kita temui sehari-hari. Dunia batin tempat bersemayamnya khayalan dan pikiran. Dunia ketiga adalah bukan alam riil maupun khayalan. Dunia ini disebut realitas transisional, yaitu dunia permainan, kreativitas, dan kesenian. Dalam dunia ketiga itulah Virginia Woolf mendiami alam eksistensialnya. Suatu waktu kakaknya Vanessa mengeluh, bahwa ia diganti dengan suatu kepribadian khayalan hasil rekaan adiknya, dan virginia sering melihat Vanessa berdasarkan gam-baran khayalan, bukan sebagai pribadi yang nyata. Beberapa kali Virginia menderita serangan kegilaan, dan lebih dari satu kali dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri. Badan psikis Virgnia adalah badan yang rusak. Kondisi ini menimbulkan rasa minder yang tak terhingga. Dia tidak lagi sanggup merespons lingkungannya dengan positif. Karena orang di sekitarnya tidak menghormati dia, wanita yang pernah gila. Buku yang ditulisnya bukan sekresi badan seperti keringat atau air liur. Buku dilahirkan badan fenomenal dalam suatu proses yang tidak kalah menderita dibanding dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya. Virginia sangat peka terhadap kritikan atas karyanya, namun Virginia tanpa sadar telah berusaha menyelamatkan jiwanya dengan mengarang, meskipun akhirnya harus menyerah dengan mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Osse.
    Para ahli (Zohar, 2000) menyebut fenomena “abnormal” ini sebagai kegilaan berguna, bukan hanya menimbulkan penderitaan berat, tetapi juga kreativitas yang luar biasa.
    REFERENSI:
    http://kartikagaby.wordpress.com/2011/12/06/pengertian-kreativitas/
    http://ratni_itp.staff.ipb.ac.id/2012/06/06/pengertian-kreativitas/
    http://hengkiriawan.blogspot.com/2012/03/pengertian-prestasi-belajar.html
    http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html
    https://catilla.wordpress.com/2011/09/30/relasi-kreativitas-dan-perilaku-abnormal/

    Suka

  67. RELASI KREATIVITAS DAN PERILAKU ABNORMAL

    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup : • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi • Sebab-sebab gejala • Cara mengatasi Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan. Kepercayaan biologis penyebab perilaku abnormal harus dikaitkan dengan Hippocrates, dokter Yunani. Dia percaya bahwa perilaku abnormal dapat diperlakukan seperti penyakit lainnya dan otak, yang bertanggung jawab untuk kesadaran, kecerdasan, emosi dan kebijaksanaan, adalah akar penyebab dari perilaku tersebut.
    Perilaku kreatif memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan perilaku yang umum. Perilaku kreatif seakan-akan “abnormal” karena terkadang tidak lazim ada pada lingkungan tertentu. Hal ini yang membuat, orang kreatif mendapat stigma “gila”. Tetapi, stigma ini akan menghilang jika sebuah perilaku kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam suatu masayarakat tertentu. Ciri-ciri perilaku kreatif antara lain: 1. Berani dalam berpendirian, yaitu individu yang memiliki keberanian untuk menyatakan dan mempertahankan pendapat, yang diyakini kebenarannya meskipun bertentangan dengan sebagian besar orang lain. 2. Tidak pernah berputus asa, yaitu orang yang tidak pernah bosan untuk mencoba dan mencoba lagi, sampai ia dapat menemukan jawaban masalahnya atau dapat memecahkan masalah yang dilakukan. 3. Mempunyai inisiatif, yaitu orang yang selalu tampil di depan dalam menghadapi persoalan dan tidak pernah ragu untuk memulai sesuatu dimana orang lain ragu melakukannya serta selalu menjadi pencetus dalam pemecahan masalah. 4. Menyukai pengalaman baru, yaitu orang yang suka mencari pengalaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta menyukai tantangan yang menguji kemampuan. 5. Mempunyai daya cipta, yaitu orang yang mempunyai ide -ide serta mampu mewujudkan dalam perilaku dan mampu menciptakan hal-hal dan suasana baru dalam interaksinya dengan lingkungan. 6. Mempunyai minat luas, yaitu orang yang tertarik dalam berbagai hal dan berusaha menguasainya sebisa mungkin. 7. Memiliki rasa percaya diri, yaitu orang yang memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamis.
    Definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal. • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.

    Sumber: http://jainiyubmee.blogspot.com/2011/04/makalah-perilaku-abnormal.html
    : http://riniaprillia.blogspot.com/2012/10/ciri-individu-kreatif-menurut-para-ahli.html

    Suka

  68. Pengertian Psikologi Abnormal dan Ciri-Ciri Perilaku Abnormal
    Sebelum membahas pengertian psikologi abnormal serta ciri-ciri perilaku abnormal, kita cari tau dulu perbedaan pengertian normal dan abnormal.. cekidot !

    Konsep normal dan Abnormal
    Menurut Supratiknya (1995) merumuskan konsep normal dan abnormal agak susah dikarenakan
    1. Sulit menemukan model manusia yang ideal dan sempurna,
    2. Dalam banyak kasus tidak adanya batas-batas yang jelas antara perilaku normal dan abnormal

    Dalam keseharian orang normal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan perkataan yang tergolong abnormal di luar kesadarannya. Sebaliknya orang abnormal bisa saja melakukan perbuatan atau mengucapkan lisan seperti orang normal. terkadang, kita salah mempersepsikan apakah perbuatan atau perkataan diri sendiri atau orang lain termasuk kriteria normalkah ? atau abnormalkah? Oleh sebab itu, diperlukan batas-batas yang membedakan antara normal dan abnormal sehingga kita dapat membedakannya secara jelas.

    Definisi umum
    Berikut pengertian keadaan normal secara konseptual :

    Sehat adalah keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya atau keadaan lemah tertentu (World Health Organization-WHO)
    Karl Meninger, seorang psikiater, memberikan rumusan sebagai berikut “kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. Ia bukan hanya berupa efisiensi atau hanya perasaan puas atau keluwesan dalam mematuhi aturan permainan dengan riang hati. Kesehatan mental mencakup itu semua. kesehatan mental meliputi kemampuan menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain dan sikap hidup yang bahagia.”
    H.B. English, seorang psikolog, memberikan rumusan sebagai berikut: “kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap di mana sang pribadi menunjukkan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri. kesehatan mental merupakan keadaan positif bukan sekedar absennya gangguan mental”
    W.W. Boehm, seorang pekerja sosial, memberikan suatu pengertian “kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan.”

    Dari keempat rumusan tersebut menekankan normalitas sebagai keadaan sehat yang secara umum ditandai dengan keefektifan dan penyesuaian diri yaitu menjalankan kewajiban serta tuntutan hidup sehari-hari sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.
    Beberapa Ciri Orang yang Sehat – Normal
    Berikut ciri-ciri yang pribadi yang sehat-normal menurut aspek penyesuaian diri :

    Sikap terhadap diri sendiri –> Menunjukkan penerimaan diri (konsep diri); memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh diri sendiri.
    Persepsi terhadap realitas –> Memiliki pandangan yang realistik terhadap diri sendiri dan terhadap dunia, orang lain dan benda di sekelilingnya dalam kehidupan kesehariannya.
    Integrasi –> Berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stres (dapat menyelesaikan masalah dan memiliki coping stres yang sesuai).
    Kompetensi –> Memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai problema hidup dalam kesehariannya.
    Otonomi –> Memiliki kemandirian, tangggung jawab dan penentuan diri (self determination, self direction) yang memadai disertai kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial agar tidak terombang-ambing dan terpengaruh secara cepat oleh lingkungan sosial sekitar.
    Pertumbuhan aktualisasi diri –> Menunjukkan kecenderungan ke arah menjadi semakin matang, kemampuan-kemampuannya dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi, semakin bertambah umur diharapkan tingkat kematangan seseorang pun semakin membaik sesuai dengan tingkat kematangan umurnya.

    Nah, setelah mengetahui kriteria ciri orang yang sehat, marilah sekarang kita mengetahui beberapa kriteria abnormalitas. Beberapa kriteria yang dimaksud adalah penyimpangan dari norma statistik, penyimpangan dari norma-norma sosial, gejala “salah suai” (malajudgement), tekanan batin, dan ketidakmatangan.

    Penyimpangan dari norma-norma statistik abnormal adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. hampir setiap kepribadian tersebar dalam populasi orang mengikuti kurva normal yang bentuknya mirip genta/lonceng, di mana dua pertiga dari jumlah kasus terletak pada sepertiga dari keseluruhan bidang yang mewakili populasi tersebut. kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, di mana makin jauh dari nilai rata-rata baik ke arah kiri maupun kanan kita temukan orang-orang dengan tingkat agresifitas ekstrem (rendah atau tinggi), yang dua-duanya berkonotasi negatif. sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti inte;egensi sebab kendati sama-sama abnormal namun genius (ektrem tinggi) jelas mempunyai nilai positif, sedangkan sifat idiot (ekstrem rendah) punya nilai negatif.
    Penyimpangan dari norma-norma sosial Menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai non konformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. inilah yang disebut relativisme budaya bahwa apa saja yang umum atau lazim dalah normal. kendati tidak selalu sepakat, namun patokan semacam ini sering berlaku dalam masyarakat. patokan ini didasarkan pada dua pengandaian yang patut diragukan kebenarannya. pertama aalah apa yang dinaliali tinggi dan dilakukan oleh mayoritas selalu baik dan benar. kedua bahwa perbuatan individu yang sejalan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku selalu menunjang kepentingan individu itu sendiri maupun kepentingan kelompok atau masyarakat.
    Gejala “salah suai” (malajudgement) abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri. Kriteria semacam ini jelas bersifat negatif, artinya tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuannya. tidak sedikit orang yang secara umum disebut “berhasil” dalam menjalani hidup ini, adalam arti hidup “lumrah baik” namun sebagai pribadi tidak pernah berkembang secara maksimal optimal.
    Tekanan Batin abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih atau perasaan bersalah yang mendalam. namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya. Tekanan batin yang kronik seperti tak berkesudahan mungkin memang merupakn indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. sebaliknya sangat normal bila orang merasa sedih atau tertekan manakala mengalami musibah, kekecewaan dan ketidakadilan. Ketabahan memang merupakan suatu indikator kemasakan menghadpi bencana, namun dalam keadaan biasa wajar misalnya, akan terkesan aneh apabila seseorang merasa gembira menghadapi kematian otang yang terkasih.
    Ketidakmatangan Seseorang dikatakan abnormal apabila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, dan tidak sesuai dengan situasinya. misalnya sering sulit menemukan patokan tentang kepantasan dan kematangan. Colemen, Butcher dan Crason (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya akhirnya menggunakan dua kriteria yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif. yang terakhir berati apa saja yang tidak menunjang kesejahteraan sang individu sehingga pada akhirnya juga tidak menunjang kemaslahatan masyarakat. kesejahteraaan atau kemaslahatan masyarakat meliputi baik kemampuan bertahan maupun perkembangan-pencapaian pemenuhan diri atau aktualisasi dari berbagai kemampuan yang dimiliki.

    Jadi definisi dan ciri-ciri Perilaku abnormal adalah perilaku yang dilakukan di luar batas wajar orang lain pada umumnya (ektrem kiri maupun kanan), menyimpang dari norma sosial atau tata aturan dalam hidup berkelompok sosial (masyarakat), kurang berhasilnya memanfaatkan kemampuan diri individu itu sendiri dalam menghadapi, menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri, seseorang yang mengalami tekanan batin yang kronik mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan tingkat kematangan seseorang yang tidak sesuai dengan tingkat usianya yang sepantasnya tidak dilakukan.

    Nah udah tau kan ciri-ciri perilaku normal dan abnormal… sekarang cari tau definisi psikologi abnormal yuuuk !

    Definisi Psikologi Abnormal

    Menurut Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.

    Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.

    Pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009), pengertian psikologi abnormal dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”.

    Sedangkan pengertian abnormal di Merriem-Webster OnLine (2009). Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : a branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as neuroses, psychoses, and mental retardation) and with certain incompletely understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)”

    Dari keempat definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Psikologi abnormal adalah salah satu cabang ilmu psikologi (khusus) dan yang dibahas dalam psikologi abnormal adalah segala bentuk gangguan mental atau kelainan jiwa baik yang menyangkut isi (mengenai apa saja yang mengalami kelainan) maupun proses (mengenai faktor penyebab, manifestasi, dan akibat dari gangguan tersebut).
    Kreativitas membelah batasan dan asumsi, dan membuat koneksi pada hal hal lama yang tidak berhubungan menjadi sesuatu yang baru. Inovasi mengambil ide itu dan mejadikannya menjadi produk atau servis atau proses yang nyata di perusahaan.

    Sementara dalam wikipedia Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

    Orang kreatif memunculkan banyak ide yang bernilai. Tidak semua ide kreatif terlihat cerdas, berisi keajaiban, bermuatan guna, tetapi tidak jarang ide-ide kreatif terlihat jelek, karenanya dianggap hina, dicurigai dan diolok-olok. Pada umumnya, ide kreatif sering ditolak karena bertentangan dengan keadaan yang sedang berlaku. Penolakan oleh masyarakat tersebut, barangkali, untuk memberi kerangka berpikir yang benar –benar menurut takaran mereka. Masyarakat pada umumnya merasa, bahwa ide kreatif melawan status-quo. Dan masyarakat seringkali mengabaikan ide inovatif.

    Dalam catatan Najlah Naqiyah, Kerja kreatif akan berhasil jika menggunakan dan menyeimbangkan tiga kemampuan: sintetis, analisis dan praktikal. Ketiga hal ini bisa ditumbuh-kembangkan secara sadar dan terlatih. Kemampuan sintetik adalah kemampuan membangkitkan ide baru dan menarik. Seringkali seorang yang kreatif memiliki unsur berpikir sintetis yang bagus, mampu menghubungkan antara sesuatu hal dengan lainnya secara spontan. Sementara itu, kemampuan analisis adalah cara berpikir kritis, memiliki keterampilan analisis dan evaluasi ide.

    Orang kreatif memiliki kemampuan menganalisa pada peristiwa baik atau peristiwa buruk. Dengan mengembangkan kemampuan analisis ini, memungkinkan mereka merubah ide jelek menjadi baik. Sedangkan kemampuan praktikal ialah kemampuan menerjemahkan teori kedalam praktek, dan merubah ide-ide abstrak ke arah kecakapan praktikal. Adapun implikasi penanaman teori kreatif –dengan disertai tiga kemampuan di atas– yaitu, kemampuan meyakinkan orang lain bahwa ide-idenya bisa diterapkan. Namun kendalanya, seringkali kita temukan, seseorang memiliki ide sangat bagus, tetapi tidak bisa menjualnya.
    Pengertian Prestasi ,
    Pengertian Prestasi adalah.
    Menurut Sardiman A.M (2001:46) “Prestasi adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar”. Sedangkan pengertian prestasi menurut A. Tabrani (1991:22) “Prestasi adalah kemampuan nyata (actual ability) yang dicapai individu dari satu kegiatan atau usaha”.
    Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1996:186) “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya)”. Sedangkan menurut W.S Winkel (1996:165) “Prestasi adalah bukti usaha yang telah dicapai.

    Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi merupakan suatu hasil yang telah dicapai sebagai bukti usaha yang telah dilakukan.

    Suka

  69. PERILAKU ABNORMAL DAN RELASI KREATIVITAS
    bnormalitas dilihat dari sudut pandang biologis berawal dari pendapat bahwa patologi otak merupakan faktor penyebab tingkah laku abnormal. Pandangan ini ditunjang lebih kuat dengan perkembangan di abad ke-19 khususnya pada bidang anatomi faal, neurologi, kimia dan kedokteran umum.
    Berbagai penyakit neurologis saat ini telah dipahami sebagai terganggunya fungsi otak akibat pengaruh fisik atau kimiawi dan seringkali melibatkan segi psikologis atau tingkah laku.Akan tetapi kita harus perhatikan bahwa kerusakan neurologis tidak selalu memunculkan tingkah laku abnormal, dengan kata lain tidak selalu jelas bagaimana kerusakan ini dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang.
    Fungsi otak yang kuat bergantung pada efisiensi sel saraf atau neuron untuk mentransmisikan suatu pesan melalui synaps ke neuron berikutnya dengan menggunakan zat kimia yang disebut neurotransmiter. Dengan ketidakseimbangan bio kimia otak inilah yang mendasari perspektif biologis munculnya tingkah laku abnormal. Akan tetapi selain dari patologi otak sudut pandang biologis juga memandang bahwa beberapa tingkah laku abnormal ditentukan oleh gen yang diturunkan.
    Pengertian Perilaku Abnormal
    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat.
    Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination–menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu.
    Pada abad pertengahan kepercayaan tersebut makin meningkat pengaruhnya dan pada akhirnya mendominasi pemikiran di zaman pertengahan. Doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meyakini bahwa perilaku abnormal merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Rupanya, hal seperti ini masih dapat dijumpai di negara kita, khususnya di daerah pedalaman. Pernah saya melihat di tayangan televisi yang mengisahkan tentang seorang ibu dirantai kakinya karena dianggap gila. Oleh karena keluarga meyakini bahwa sang ibu didiami oleh roh jahat, maka mereka membawa ibu ini pada seorang tokoh agama di desanya.
    Dia diberi minum air putih yang sudah didoakan. Mungkin inilah gambaran situasi pada abad pertengahan berkaitan dengan penyebab perilaku abnormal.
    Lalu apa yang dilakukan waktu itu? Pada abad pertengahan, para pengusir roh jahat dipekerjakan untuk meyakinkan roh jahat bahwa tubuh korban yang mereka tuju pada dasarnya tidak dapat dihuni. Mereka melakukan pengusiran roh jahat (exorcism) dengan cara, misalnya: berdoa, mengayun-ayunkan tanda salib, memukul, mencambuk, dan bahkan membuat korban menjadi kelaparan. Apabila korban masih menunjukkan perilaku abnormal, maka ada pengobatan yang lebih kuat, seperti penyiksaan dengan peralatan tertentu.
    Keyakinan-keyakinan dalam hal kerasukan roh jahat tetap bertahan hingga bangkitnya ilmu pengetahuan alam pada akhir abad ke 17 dan 18. Masyarakat secara luas mulai berpaling pada nalar dan ilmu pengetahuan sebagai cara untuk menjelaskan fenomena alam dan perilaku manusia. Akhirnya, model-model perilaku abnormal juga mulai bermunculan, meliputi model-model yang mewakili perspektif biologis, psikologis, sosiokultural, dan biopsikososial. Di bawah ini adalah penjelasan-penjelasan singkatnya :
    • Perspektif biologis: Seorang dokter Jerman, Wilhelm Griesinger (1817-1868) menyatakan bahwa perilaku abnormal berakar pada penyakit di otak. Pandangan ini cukup memengaruhi dokter Jerman lainnya, seperti Emil Kraepelin (1856-1926) yang menulis buku teks penting dalam bidang psikiatri pada tahun 1883. Ia meyakini bahwa gangguan mental berhubungan dengan penyakit fisik. Memang tidak semua orang yang mengadopsi model medis ini meyakini bahwa setiap pola perilaku abnormal merupakan hasil dari kerusakan biologis, namun mereka mempertahankan keyakinan bahwa pola perilaku abnormal tersebut dapat dihubungkan dengan penyakit fisik karena ciri-cirinya dapat dikonseptualisasikan sebagai simtom-simtom dari gangguan yang mendasarinya.
    • Perspektif psikologis: Sigmund Freud, seorang dokter muda Austria (1856-1939) berpikir bahwa penyebab perilaku abnormal terletak pada interaksi antara kekuatan-kekuatan di dalam pikiran bawah sadar. Model yang dikenal sebagai model psikodinamika ini merupakan model psikologis utama yang pertama membahas mengenai perilaku abnormal.
    • Perspektif sosiokultural: Pandangan ini meyakini bahwa kita harus mempertimbangkan konteks-konteks sosial yang lebih luas di mana suatu perilaku muncul untuk memahami akar dari perilaku abnormal. Penyebab perilaku abnormal dapat ditemukan pada kegagalan masyarakat dan bukan pada kegagalan orangnya. Masalah-masalah psikologis bisa jadi berakar pada penyakit sosial masyarakat, seperti kemiskinan, perpecahan sosial, diskriminasi ras, gender,gayahidup,dansebagainya.
    • Perspektif biopsikososial: Pandangan ini meyakini bahwa perilaku abnormal terlalu kompleks untuk dapat dipahami hanya dari salah satu model atau perspektif. Mereka mendukung pandangan bahwa perilaku abnormal dapat dipahami dengan paling baik bila memperhitungkan interaksi antara berbagai macam penyebab yang mewakili bidang biologis, psikologis, dan sosiokultural.

    -PRESTASI
    Pengertian Definisi Prestasi Menurut Para Ahli – Banyak orang yang mengejar prestasi di segala bidang, mereka menilai kemampuan seseorang dari piala, penghargaan atas prestasi yang telah diraihnya.. tapi apakah kita sudah mengerti apa sebenarnya hakikat dari pengertian prestasi itu sendiri,, jika kita membahas tentang pengertian prestasi maka banyak orang yang mengemukakan pendapatnya tentang prengertian prestasi, baik dalam bidang belajar atau pun bidang lain, berikut saya mencoba mengumpulkan beberapa pendapat tentang pengrtian prestasi dari beberapa sumber..

    Jika berdasarkan istilah atau tata bahasa yang benar atau EYD atauMenurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1996:186) “ Pengertian Definisi Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya)”.

    Menurut Nasrun Harahap berpendapat bahwa prestasi adalah penilaianpendidikan tentang perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada siswa.

    Menurut Mas’ud Khasan Abdul Qohar prestasi adalah apa yang telah dapatdiciptakan hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan cara keuletan kerja. Prestasi dapat bersifat tetap dalam sejarah kehidupan manusia karena sepasang kehidupannya selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Prestasi belajar dapat memberikan kepuasan kepada orang yang bersangkutan, khususnya orang yang sedang menuntut ilmu di sekolah.Prestasi meliputi segenap ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa yang bersangkutan.

    Sedangkan Menurut Sardiman A.M (2001:46) “Prestasi adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar”.

    Sedangkan pengertian prestasi menurut A. Tabrani (1991:22) “Prestasi adalah kemampuan nyata (actual ability) yang dicapai individu dari satu kegiatan atau usaha”.

    Sedangkan menurut W.S Winkel (1996:165) “Prestasi adalah bukti usaha yang telah dicapai.

    -KREATIVITAS

    oKreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, dalam bentuk suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock dalam Basuki, 2010).

    oProses kreatif adalah munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu, dan dari pengalaman yang menekankan pada produk yang baru, interaksi individu dengan lingkungannya atau kebudayaannya (Rogers dalam Basuki, 2010).

    oKreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya dengan tujuan menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik (Alvian dalam Basuki, 2010).

    Suka

  70. NAMA: SAADILAH MURSYID
    NIM: 11.20.1681
    PERILAKU ABNORMAL

    Abnormalitas dilihat dari sudut pandang biologis berawal dari pendapat bahwa patologi otak merupakan faktor penyebab tingkah laku abnormal. Pandangan ini ditunjang lebih kuat dengan perkembangan di abad ke-19 khususnya pada bidang anatomi faal, neurologi, kimia dan kedokteran umum.
    Berbagai penyakit neurologis saat ini telah dipahami sebagai terganggunya fungsi otak akibat pengaruh fisik atau kimiawi dan seringkali melibatkan segi psikologis atau tingkah laku.Akan tetapi kita harus perhatikan bahwa kerusakan neurologis tidak selalu memunculkan tingkah laku abnormal, dengan kata lain tidak selalu jelas bagaimana kerusakan ini dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang.
    Fungsi otak yang kuat bergantung pada efisiensi sel saraf atau neuron untuk mentransmisikan suatu pesan melalui synaps ke neuron berikutnya dengan menggunakan zat kimia yang disebut neurotransmiter. Dengan ketidakseimbangan bio kimia otak inilah yang mendasari perspektif biologis munculnya tingkah laku abnormal. Akan tetapi selain dari patologi otak sudut pandang biologis juga memandang bahwa beberapa tingkah laku abnormal ditentukan oleh gen yang diturunkan.

    Perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan. Para arkeolog telah menemukan kerangka manusia dari Zaman Batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu interpretasi yang muncul adalah bahwa nenek moyang kita percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serbuan/invasi dari roh-roh jahat. Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination–menciptakan sebuah jalur bagi jalan keluarnya roh tertentu.
    Pada abad pertengahan kepercayaan tersebut makin meningkat pengaruhnya dan pada akhirnya mendominasi pemikiran di zaman pertengahan. Doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meyakini bahwa perilaku abnormal merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Rupanya, hal seperti ini masih dapat dijumpai di negara kita, khususnya di daerah pedalaman. Pernah saya melihat di tayangan televisi yang mengisahkan tentang seorang ibu dirantai kakinya karena dianggap gila. Oleh karena keluarga meyakini bahwa sang ibu didiami oleh roh jahat, maka mereka membawa ibu ini pada seorang tokoh agama di desanya

    PENGERTIAN KREATIVITAS

    1. Kreativitas sebagai Proses
    – Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock 1978)
    – Proses kreatif sebagai “ munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak” (Rogers, 1982)
    Penekanan pada : – aspek baru dari produk kreatif yang dihasilkan
    – aspek interaksi antara individu dan lingkungannya / kebudayaannya
    – Kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya. Tujuan pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik (Alvian, 1983)
    – Kretaivitas adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfiir (Utami Munandar, 1977).
    – Guilford (1986) menekankan perbedaan berfikir divergen ( disebut juga berfikir kreatif) dan berfikir konvergen.
    Berfikir Divergen : bentuk pemikiran terbuka, yang menjajagi macam-macam kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan/ masalah.
    Berfikir Konvergen: sebaliknya berfokus pada tercapainya satu jawaban yang paling tepat terhadap suatu persoalan atau masalah
    Dalam pendidikan formal pada umumnya menekankan berfikir konvergen dan kurang memikirkan berfikir divergen.
    Torrance (1979) menekankan adanya ketekunan, keuletan, kerja keras, jadi jangan tergantung timbulnya inspirasi

    2. Kreativitas sebagai Produk
    – Kretaivitas sebagai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru (1965).
    – Kecuali unsur baru, juga terkandung peran faktor lingkungan dan waktu (masa). Produk baru dapat disebut karya kreatif jika mendapatkan pengakuan (penghargaan) oleh masyarakat pada waktu tertentu (Stein, 1963). Namun menurut ahli lain pertama-tama bukan suatu karya kreatif bermakna bagi umum, tetapi terutama bagi si pencipta sendiri.
    – Kreativitas atau daya kreasi itu dalam masyarakat yang progresif dihargai sedemikian tingginya dan dianggap begitu penting sehinnga untuk memupuk dan mengembangkannya dibentuk laboratorium atau bengkel-bengkel khusus tang tersedia tempat, waktu dan fasilitas yang diperlukan (Selo Sumardjan 1983).
    Beliau mengingatkan pentingnya bagian Desain dan Penelitian dan Pengembangan sebagai bagian yang vital dari suatu industri

    3. Kreativitas ditinjau dari segi Pribadi
    – Kreatifitas merupakan ungkapan unik dari seluruh pribadi sebagai hasil interaksi individu, perasaan, sikap dan perilakunya.
    – Kreatifitas mulai dengan kemampuan individu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Biasanya seorang individu yang kreatif memiliki sifat yang mandiri. Ia tidak merasa terikat pada nilai-nilai dan norma-norma umum yang berlaku dalam bidang keahliannya. Ia memiliki system nilai dan system apresiasi hidup sendiri yang mungkin tidak sama yang dianut oleh masyarakat ramai.
    Dengan perkataan lain:
    “Kreativitas merupakan sifat pribadi seorang individu (dan bukan merupakan sifat social yang dihayati oleh masyarakat) yang tercermin dari kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang baru (Selo Soemardjan 1983)

    SUMBER: http://dhesny-hon.blogspot.com/2010/08/perilaku-abnormal.html
    DAN http://tamankreasiku.blogspot.com/2012/03/dari-beberapa-artikel-tentang.html

    Suka

  71. Relasi Kreativitas dan Perilaku Abnormal

    A. Kreativitas merupakan proses melibatkan penemuan ide atau konsep baru, atau hubungan baru antara konsep atau ide yang sudah ada, didorong oleh proses apakah sadar atau diluar kesadaran.

    Dari sudut pandang ilmiah, hasil pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran (divergent thought), biasanya dianggap sebagai memiliki keaslian dan kesesuaian.

    Meskipun secara intuitif fenomena sederhana, kreativitas sebenarnya sangat rumit dan telah dikaji dari segi psikologi perilaku, psikologi sosial, psikometrik, sains kognitif, kecerdasan buatan, filsafat, estetik, sejarah, ekonomi, penelitian reka-bentuk, bisnis, dan manajemen antaranya. Studi ini meliputi kreativitas harian, kreativitas luar biasa dan bahkan kreativitas buatan. Tidak seperti banyak fenomena dalam sains, tidak ada satu perspektifa tunggal atau definisi kreativitas. Dan tidak seperti banyak fenomena dalam psikologi, tidak ada satu teknik pengukuran yang sesuai

    Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/management/2293852-pengertian-kreativitas/#ixzz2DK4TusVW

    B. perilaku abnormal adalah kekalutan mental & melampaui titik kepatahan mental = dikenal sebagai nervous breakdown. (get mental breakdown). Sepanjang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk, dalam beberapa hal, oleh pandangan dunia waktu itu. Contohnya, masyarakat purba menghubungkan perilaku abnormal dengan kekuatan supranatural atau yang bersifat ketuhanan.
    Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang dan waktu mencakup :
    • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi
    • Sebab-sebab gejala
    • Cara mengatasi
    Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan

    Suka

  72. 2. MODEL PERILAKU ABNORMAL
    Untuk memperoleh informasi tentang perkembangan, gambaran, bentuk dan sebagainya dapat dilihat melalui :
    Model perilaku abnormal adalah penggambaran gejala dalam dimensi ruang & waktu mencakup :
    • Ide-ide untuk mengidentifikasi gejala patologi
    • Sebab-sebab gejala
    • Cara mengatasi

    a Model demonologis

    • Dasar perilaku abnormal adalah kepercayaan pada unsure-unsur mistik, ghaib (kekuatan setan, guna2, sihir).

    • Gejala-gejala
    Halusinasi, PL aneh, tanda jasmani khusus (warna kulit, pigmen, dsb )dianggap sebagai tanda setan

    • Gangguan mental
    Bersifat “jahat” -dianggap berbahaya, bisa merugikan / membunuh orang

    • Cara mengatasi
    a.Zaman batu
    – Tengkorak dibor (dibolong), sebagai jalan keluar roh jahat
    b.Abad pertengahan
    – Disiksa, dibunuh, dimusnahkan, dipenjara, RSJ
    c.Perkembangan di gereja
    – Pendeta yang mengobati (doa, sembahyang, penebusan dosa)

    b Model Naturalistis
    • Dasar penyebab :
    Proses-proses fisik / jasmani perilaku abnormal selalu berhubungan dengan fungsi- fungsi jasmani yang abnormal (bukan karena gejala spiritual).
    Misal :
    Hipocrates – Galenus
    Perilaku abnormal — karena gangguan pada sistem humoral (cairan dalam tubuh)
    • Cara mengatasi :
    Perlakuan terhadap penderita lebih humanistic/manusiawi – lebih lembut, wajar & menghilangkan bentuk siksaan-siksaan.

    c Model Organis
    • Dasar perilaku abnormal :

    Kerusakan pada jaringan syaraf / gangguan biokimia pada otak karena kerusakan genetic, disfungsi endokrin, infeksi, luka2, khususnya pada otak.

    d Model Psikologis
    • Dasar perilaku abnormal :

    Pola-pola yang patologis
    -Pendekatan — Psikoanalisis, Behavioristis, kognitif, humanistic,

    3. TIGA KRITERIA PERILAKU ABNORMAL

    Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
    1. Kriteria Statistik
    Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
    • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
    • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.
    • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
    • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

    2. Kriteria Norma
    Banyak ditentukan oleh norma-norma yng berlaku di masyarakat,ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
    • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.
    • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.

    3. Personal distress

    • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
    • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
    • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
    • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
    4.Unexpectedness
    • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

    5.Disability

    • Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
    • Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.

    Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

    4. PENYEMBUHAN PERILAKU ABNORMAL
    Pendekatan biologis dalam penyembuhan perilaku abnormal berpendapat bahwa gangguan mental, seperti penyakit fisik disebabkan oleh disfungsi biokimiawi atau fisiologis otak. Terapi fisiologis dalam upaya penyembuhan perilaku abnormal meliputi kemoterapi, elektrokonvulsif dan prosedur pembedahan.
    1.Kemoterapi(Chemotherapy)
    Chemotherapy atau Kemoterapi dalam kamus J.P. Chaplin diartikan sebagai penggunaan obat bius dalam penyembuhan gangguan atau penyakit-penyakit mental.Adapun penemuan obat-obat ini dimulai pada awal tahun 1950-an, yaitu ditemukannya obat yang menghilangkan sebagian gejala Schizophrenia.
    Beberapa tahun kemudian ditemukan obat yang dapat meredakan depresi dan sejumlah obat-obatan dikembangkan untuk menyembuhkan kecemasan
    a. Antianxiety Drugs
    Yaitu obat yang dapat menurunkan kecemasan dan termasuk pada golongan yang dinamakan benzodiazepin. Obat-obatan ini sering dikenal dengan transkuiliser (penenang).Transkuiliser ini terdiri dari transkuiliser minor dan transkuiliser mayor.

    Pengertian Kreativitas
    Kreativitas adalah suatu kondisi, sikap, atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tak mungkin dirumuskan secara tuntas. Sehingga untuk mendapatkan makna kreativitas yang tidak terbatas, maka harus didasarkan atau empat fungsi dasar yaitu: (a) berpikir rasional, (b) perkembang emosional atau perasaan tingkat tinggi, (c) perkembangan bakat khusus dalam kehidupan mental dan fisik pada tingkat tinggi, dan (d) tingkat tinggi kesadaran yang menghasilkan penggunaan imajinasi, fantasi, Read the rest of this entry »

    sumber:http://dhesny-hon.blogspot.com/2010/08/perilaku-abnormal.html dan http://dewasastra.wordpress.com/tag/pengertian-kreatifitas/

    Suka

  73. NAMA : FAZAR RISKI
    NIM : 11.20.1625

    TUMBUH KEMBANG ANAK ABNORMAL

    ibu dan anak

    ditulis oleh: Faiqotul Hasanah

    Tingkah laku abnormal adalah tingkah laku yang mal-adaptif dan berbahaya. Tingkah laku seperti ini tidak mampu mendukung kesejahteraan, perkembangan, dan pemenuhan masa remaja, dan juga akhirnya pada orang lain.

    Tingkah laku abnormal disebabakan oleh beberapa faktor yaitu dari aspek biologis, psikologis dan sosial budaya. Tingkah laku abnormal memiliki spektrum yang luas. Gangguanya bervariasi dalam tingkat keparahannya dan dalam hal tingkat perkembangan remaja, jenis kelamin, dan kelas sosial. Dari beberapa perilaku abnormalsalah satunya adalah “bunuh diri”.

    Bunuh diri jarang terjadi dimasa kanak-kanak dan masa remaja awal, namun kurang lebih mulai pada usia 15 tahun. Kemungkinan bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki daripada perempuan. Anak yang mencoba melakukan bunuh diri biasanya disebabkan beberapa faktor, yaitu:

    a. Keluarga yang tidak stabil dan tidak bahagia

    b. Tidak adanya hubungan persahabatan yang suportif

    c. Kecemasan, konflik batin

    d. Ketidakstabilan yang sangat nyata dalam pekerjaandan hubungan dengan orang lain

    e. Depresi

    f. Ketergantungannya terhadap alkohol

    g. Faktor-faktor genetis

    h. Perasaan putus asa

    i. Hargadiri yang rendah

    j. Sikap menyalahkan diri sendiri

    Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang mempunyai keinginan untuk bunuh diri biasanya terlihat dari tingkah laku sehari-hari yang sudah menyimpang dari anak yang normal. Remaja / anak yang mempunyai keinginan untuk bunuh diri akan memperlihatkan tanda-tanda awal sebagai berikut:

    1. Remaja mengancam akan bunuh dir, misalnya “Aku harap aku mati saja”; “keluargaku pasti akan lebih baik kalau aku tidak ada”; “Aku tidak punya apa-apa yang membuat aku hidup”.

    Orang tua harus peka dalam memperhatikan tumbuh kembang anak. Jika anak sudah mengatakan kata-kata seperti diatas maka orang tua harus ekstra perhatian dan segera mengantisipasinya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

    2. Sudah pernah ada percobaan bunuh diri sebelumnya, sekecil apapun. Empat dari lima orang yang melakukan bunuh diri sebelumnya telah melakukan sedikitnya satu percobaan bunuh diri.

    Jika anak pernah mencoba untuk melakukan bunuh diri maka orang tua harus lebih berhati-hati dan melakukan pengawasan yang ketat terhadap segala perilaku anak agar tidak terjadi kejadian yang sama. Walaupun percobaan bunuh diri yang pertama tidak berhasil atau tidak terjadi tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi.

    3. Tersirat unsur-unsur kematian dalam musik, seni, dan tulisan-tulisan pribadinya.

    Orang tua harus peka terhadap tumbuh kembang anak. Jika anak mulau menyukai hal-hal yang berbau kematian padahal sebelumnya tidak, maka segera lakukan pencegahan-pencegahan awal sebelum terlambat.

    4. Kehilangan anggota keluarga, binatang peliharaan atau kematian pacar, diabaikan dan putusnya suatu hubungan.

    Setelah kejadian tersebut anak berubah maka segera dekati beri perhatian yang khusus dan tingkatan frekuensi untuk bersama anak.

    5. Gangguan dalam keluarga, seperti tidak memiliki pekerjaan penyakit serius, pindah dan perceraian.

    Jika terjadi gangguan-gangguan dalam keluarga maka segera orang terdekat untuk menghibur dan membantu dalam memotivasi agar tidak down/ putus asa, sehingga dapat meminimalkan tindakan bunuh diri.

    6. Gangguan tidur dan kebiasaan makan, serta dalam kebersihan diri

    Anak yang awalnya tidak ada gangguan tidur, kebiasaan makan dan kebersihan diri tiba-tiba berubah maka sebagai orang tua harus segera mengantisipasinya kemungkinan anak tersebut punya banyak masalah dan takut untuk menceritakan pada orang tuasehingga berpengaruh pada kebiasaan tidur, makan, dll.

    7. Menurunnya nilai-nilai disekolah dan kurangnya minat terhadap sekolah atau kegiatan yang sebelumnya dianggap penting.

    Jika nilai-nilai disekolah menurun drastis, dan prestasi anal menurun. Maka orang tua harus peka dan segera memberikan perhatian khusus pada anak agar anak tidak sampai melakukan tindakan yang berbahaya.

    8. Perubahan pola tingkah laku yang dramatis, misalnya remaja yang senang sekali berteman dan berkumpul dengan banyak orang berubah menjadi pemalu dan menarik diri.

    Jika anak mengalami perubahan drastis, maka orang tua harus segera peka memberikan perhatian ekstra pada anak tersebut. Segera mencari informasi-informasi yang menyebabkan perubahan-perubahan drastis.

    9. Perasaan murung, tidak berdaya dan putus asa yang mendalam

    Jika anak mempunyai perilaku seperti itu, orang tua harus membuat anak menjadi tidak pemurung dan mudah bergaul dengan orang lain. Anak harus banyak diikutkan kegiatan-kegiatan yang bisa menambah banyak teman.

    10. Menarik diri anggota keluarga dan teman, merasa di singkirkan oleh orang yang berarti baginya.

    Didalam keluarga harus diciptakan suasana yang harmonis dan kekeluargaan agar anak merasa nyaman dan diakui keberadaannya.

    Pengertian Kreativitas
    Kreativitas adalah suatu kondisi, sikap, atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tak mungkin dirumuskan secara tuntas. Sehingga untuk mendapatkan makna kreativitas yang tidak terbatas, maka harus didasarkan atau empat fungsi dasar yaitu: (a) berpikir rasional, (b) perkembang emosional atau perasaan tingkat tinggi, (c) perkembangan bakat khusus dalam kehidupan mental dan fisik pada tingkat tinggi, dan (d) tingkat tinggi kesadaran yang menghasilkan penggunaan imajinasi, fantasi, Read the rest of this entry »

    sumber :http://bromocorra.wordpress.com/2008/05/19/tumbuh-kembang-anak-abnormal-2/ dan http://bromocorra.wordpress.com/2008/05/19/tumbuh-kembang-anak-abnormal-2/

    Suka

  74. Perilaku Abnormal
    Didalam psikologi sering kita mendengar istilah normal dan abnormal. Seringkali orang mengatakan normal sama dengan sehat (healt). Tetapi sangat berbeda sekali penggunaan kedua struktur kata ini didalam dunia psikologi. Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurna secara biopsikososial, lebih sekedar terbebas dari penyakitataukecacatan.
    Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental, dan kehidupan sosial yang lengkap dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau cacat/luka. Jadi bisa dikatakan sehat itu bisa dilihat dari fisik tiada cacat, mentalnya tidak terganggu. Sehat mental bisa dimaknai dengan penyesuain manusia terhadap dunia lingkungannya dan terhadap diri orang lain dengan keefektifan serta kebahagiaan yang maksimum.
    Ada lima pengertian normalitas dari hasil survei yang dilakukan offer dan sabsiro:
    1. tidak adanya gangguan atau kesakitan
    2. keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif
    3. normal sebagai rata-rata pengertian statistik
    4. diterima secara sosial
    5. proses berlangsung secara wajar, terutama dalam tahapan perkembangan.
    Didasarkan klasifikasi pengertian normal itu atau kategori perilaku diatas, maka istilah normal tidak selalu berarti sehat. sehat lebih bermakna
    pengertian khusus, yaitu keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif. meskipun istilah normal dapat digunakan untuk menyebut istilah sehat, namun tidak semua tepat dugunakan.
    Dalam pembicaraan sehari-hari, atau dalam pembahasan ilmiah, sering dijumpai istilah disorder (gangguan) dan deviasi. istilah ini sering kali dianggap sama, namun sebenarnya penekanannya berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan dalam beberapa hal, antara gangguan dan deviasi berhubungan, artinya orang yang mengalami gangguan sekaligus melakukan tindakan yang menyimpang secara sosial, misalnya orang mengalami gangguan kepribadian antisosial (psikopat) yang selalu melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan masyarakat.
    Dalam kasus yang lain, tidak selalu keduanya sejalan, bahwa adakalanya orang yang mengalami gangguan tidak deviasi, atau orang yang berprilaku deviasi sosial tidak sedang mengalami gangguan. Sebab itu orang yang melakukan korupsi dan tindakan asusila termasuk di dalam wilayah Psikopat??
    1. Pengertian Kreativitas
    Kreativitas sangat berperan dalam proses perkembangan pola pikir anak. Harus ada tindakan yang positif baik dari orang tua maupun dari sang guru dalam proses pengembangan kreatifitas. Di lingkungan keluarga peran orang tua sangat penting dalam perkembangan kreativitas, orang tua harus dapat memupuk motivasi sang anak agar dapat terus mengembangkan kreativitasnya. Di lingkungan sekolah peran orang tua digantikan oleh guru, guru harus dapat memberikan sarana dalam proses perkembangan kreativitas anak didiknya bukan sebaliknya
    . Karakteristik Kreativitas
    a. Diers (Adams : 1976) mengemukakan bahwa karakteristik :
    1) Memiliki dorongan (drive) yang tinggi
    2) Memiliki rasa ingin tahu yang besar
    3) Penuh percaya diri
    4) Toleran terhadap ambiguitas
    5) Bersifat sensitive, dan lain-lain
    b. Utami Munandar (1992) mengemukakan cirri-ciri kreativitas antara lain :
    1) Senang mencari pengalaman baru
    2) Memiliki inisiatif
    3) Selalu ingin tahu
    4) Mempunyai rasa humor
    5) Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi, dan lain-lain.
    c. Clark (1988) mengemukakan karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut :
    1) Memiliki disiplin diri yang tinggi
    2) Senang berpetualang
    3) Memiliki wawasan yang luas
    4) Mampu berpikir periodic
    5) Memerlukan situasi yang mendukung
    6) Sensitif terhadap lingkungan
    7) Memiliki nilai estetik yang tinggi
    d. Torance (1981) mengemukakan karakteristik kreativitas adalah :
    1) Memiliki rasa ingin tahu yang besar
    2) Tekun dan tidak mudah bosan
    3) Percaya diri dan mandiri
    4) Berani mengambil resiko
    5) Berpikir divergen
    http://www.psychologymania.com/2011/07/kreativitas-identifikasi-perkembangan.html
    http://www.yandanur.web.id/2011/01/perkembangan-kreativitas.html
    http://www.edukasi.kompasiana.com/2010/07/10/perilaku-abnormal/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: