Kegilaan Berguna

 

Virginia Woolf
Virginia Woolf

Untuk menentukan normalitas perilaku seseorang biasanyadihubungkan dengan norma atau etika yang berlaku umum di masyarakat. Artinya normal-tidaknya perilaku seseorang tidak bisa dinilai begitu saja, mengingat masing-masing budaya memiliki cara, ukuran dan norma sendiri. Di Amerika, sikap “diam” bisa dianggap sebagai bentuk penolakkan. Sementara, di Asia atau budaya Timur pada umumnya, bisa diartikan menghormati, terutama kepada yang lebih tua. Lalu, bagaimana halnya  dengan perilaku atau prestasi luar biasa  para atlit, seniman atau ilmuwan yang notabene tidak bisa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya?. Dapat dipastikan, tidak ada yang menyebutnya sebagai bentuk ketidaknormalan (perilaku abnormal). Mereka justru diapresiasi dan diidolakan sebagaimana yang dilakukan kepada pada para bintang lapangan sepakbola. Namun berdasarkan hasil satu studi terhadap orang-orang “luar biasa” tersebut, terdapat sejumlah fakta bahwa dibalik kreativitas yang luar biasa tersimpan potensi ketidakstabilan mental. Felix Post (1994) menebitkan survey kepribadian pada jurnal The British Jour-nal of Psychiatry terhadap 291 pria terkemuka dalam kurun waktu 150 tahun terakhir dari berbagai profesi, menunjukkam adanya korelasi antara keunggulan kreatif dengan ketidakstabilan mental. Berdasarkan jenis profesi, potensi ancaman ketidakstabilan mental digambarkan sebagai berikut :

Ilmuwan 42,2 %
Pemusik 61,6 %
Negarawan 63 %
Seniman 75 %
Cendekiawan 74 %
Pengarang 90 %
Kay Redfield Jamison  yang melakukan penelitian terhadap seniman seperti  William BlakeLord ByronDylan ThomasVirginia WoolfErnest Hemingway, diperoleh fakta bahwa beberapa diantaranya pernah lama dirawat di rumah sakit jiwa. Sebagian lainnya, terutama penyair dan pengarang, mengakiri hidupnya dengan bunuh diri. Apa yang terjadi pada musisi Kurt CobainJim Morrison, Jimmy Hendrix, serta sastrawan Inggris Virginia Woolf yang hidupnya berakhir tragis, semakin menguatkan kecurigaan tersebut.
MAW Brouwer dan Mira Sidharta (1989) dalam buku  Kegelisahan Seorang Feminis – Sosok Virginia Woolf. Brouwer dan Sidharta mengatakan bahwa sebagaimana dunia yang terbagi atas dunia luar, yaitu dunia benda-benda dan orang-orang yang kita temui sehari-hari. Dunia batin tempat bersemayamnya khayalan dan pikiran. Dunia ketiga adalah bukan alam riil maupun khayalan. Dunia ini disebut realitas transisional, yaitu dunia permainan, kreativitas, dan kesenian. Dalam dunia ketiga itulah Virginia Woolf mendiami alam eksistensialnya. Suatu waktu kakaknya Vanessa mengeluh, bahwa ia diganti dengan suatu kepribadian khayalan hasil rekaan adiknya, dan virginia sering melihat Vanessa berdasarkan gam-baran khayalan, bukan sebagai pribadi yang nyata. Beberapa kali Virginia menderita serangan kegilaan, dan lebih dari satu kali dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri. Badan psikis Virgnia adalah badan yang rusak. Kondisi ini menimbulkan rasa minder yang tak terhingga. Dia tidak lagi sanggup merespons lingkungannya dengan positif. Karena orang di sekitarnya tidak menghormati dia, wanita yang pernah gila. Buku yang ditulisnya bukan sekresi badan seperti keringat atau air liur. Buku dilahirkan badan fenomenal dalam suatu proses yang tidak kalah menderita dibanding dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya. Virginia sangat peka terhadap kritikan atas karyanya, namun Virginia tanpa sadar telah berusaha menyelamatkan jiwanya dengan mengarang, meskipun akhirnya harus menyerah dengan mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Osse.
Para ahli (Zohar, 2000) menyebut fenomena “abnormal” ini sebagai kegilaan berguna, bukan hanya menimbulkan penderitaan berat, tetapi juga kreativitas yang luar biasa.

 


PERILAKU FIKSI

Picture

Baudrillard sampai pada kesimpulan bahwa realitas telah melahap segalanya. Masyarakat melakukan peniruan secara sadar terhadap media yakni mengadopsi kepribadian karakter fiksi sebagai cara untuk mengekspresikan diri. Mereka membahas kehidupan pribadi melalui analogi dengan cerita opera sabun, dan berbincang-bincang mengutip ucapan para selebritis dan slogan-slogan iklan. Secara reflektif mereka sebenarnya sadar bahwa iklan sedang berusaha membujuk mereka untuk membeli produk-produk tertentu. 
Manusia tidak lagi merasa perlu untuk membedakan yang fiksi dan yang nyata. Manusia terlanjur terbiasa hidup dalam alam transisional, antara kesadaran permainan dan realita, antara yang tiruan dan yang asli.
Mereka benar-benar tahu saat mereka dikalahkan dan termakan !.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: