Pikiran Kelompok

Kelompok sebagaimana individu memiliki jalan pikiran sendiri yang tidak selalu identik dengan pikiran semua anggotanya.

Kelompok yang terdiri dari orang yang saling mengenal dekat biasanya dapat bekerja sama dengan baik. Akan tetapi mereka memiliki masalah ketika harus mencari ide dan usaha yang terbaik dari anggotanya sementara harus menghindari bentuk konformitas (persesuaian) ekstrem yang disebut Pikiran Kelompok (groupthink), yaitu tendensi berpikir sama dan menghindari ketidaksepakatan.

Menurut Irving Janis (1982-1989), pikiran kelompok muncul ketika kebutuhan kelompok akan pencapaian mufakat melebihi kebutuhan kelompok akan keputusan yang bijak. Simtom dari pikiran kelompok adalah sebagai berikut :

  • Adanya ilusi bahwa kelompok tidak rawan atau rentan. Artinya kelompok percaya bahwa keputusannya 100 persen benar
  • Pencarian informasi bias. Kelompok tidak akan mencari pendapat ahli yang mempertanyakan keputusan kelompok
  • Pembatasan diri. Individu yang berbeda memilih diam daripada membuat masalah dengan teman sekelompok
  • Tekanan pada mereka yang berbeda pendapat untuk melakukan konformitas. Pemimpin kelompok menyudutkan anggota yang berbeda pendapat.
  • Ilusi adanya kesamaan pendapat yang mutlak. Mencegah adanya perbedaan pendapat sama artinya dengan mengagalkan masukan tindakan lain yang memungkinkan untuk dilakukan.

Sumber bacaan :  Carole Wade & Carol Tavris, Psikologi (2007)

5 thoughts on “Pikiran Kelompok”

  1. NAMA : MEGA HARDIYANTI
    NIM : 14. 10. 2449
    JURUSAN : KESEHATAN MASYARAKAT

    Menurut Kurt Lewin (1930-an), pemikiran kelompok adalah sebuah hasil langsung terhadap kepaduan kelompok. Kepaduan sendiri merupakan tingkatan minat ganda di antara anggota kelompok atau sebuah hasil dari tingkatan yang semua anggota merasa bahwa tujuan mereka dapat tercapai dalam golongan. Semakin kelompok padu, tekanan akan lebih mendesak anggota untuk menjaga kepaduan tersebut. Memang hal ini sangat positif dalam mempererat hubungan antarpribadi. Namun di balik semua itu, menyimpan potensi bahaya besar. Bagi seseorang, kelompok yang sangat padu akan menghabiskan banyak energi dalam menjaga niat baik dalam kelompok yang mengganggu pengambilan keputusan. Anggota menanamkan energi intrinsik yang terlalu banyak dalam kelompok karena mengharapkan hadiah, bisa berupa persahabatan, gengsi dan pengakuan harga diri. Karena harga diri yang sangat tinggi, seseorang terkadang mencurahkan energi terlalu banyak untuk membangun hubungan positif. Jelaslah, hal ini membawa konsekuensi logis pada pemikiran kelompok.
    Dalam buku karya Mc Graw Hill yang berjudul: Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi (Introduction Communication Theory: Anayssi and Application), pemikiran kelompok didefinisikan sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Kemudian merujuk dari hasil penelitian Janis, pemikiran kelompok dapat menghasilkan 6 hal bernilai negatif. Pertama, kelompok membatasi diskusi hanya untuk beberapa alternatif tanpa mempertimbangkan kemungkinan kreatif, kelompok tidak kritis dalam menguji percabangan solusi, kelompok gagal untuk menguji kembali semua alternatif yang bukan dari mayoritas. Pendapat minoritas dengan cepat dibubarkan dan diabaikan, tidak hanya oleh mayoritas, tapi oleh semua orang yang awalnya sepihak sekalipun, pendapat para ahli tidak dicari, kelompok merasa puas dengan pendapat dan kemampuannya sendiri untuk membuat keputusan dan justru merasa terancam oleh orang luar, kelompok sangat selektif dalam mengumpulkan dan menghadirkan informasi yang ada. Anggota cenderung memusatkan hanya pada satu informasi yang mendukung rencana, kelompok sangat percaya diri dengan ide-idenya yang tidak mempertimbangkan peluang-peluang dari rencana lain. Hal ini tidak dapat diramalkan atau kemungkinan rencana gagal.
    West dan Turner (2008: 274) mendefinisikan bahwa pemikiran kelompok (groupthink) sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Jadi groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.
    Dari sini, groupthink meninggalkan cara berpikir individu dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok.

    Sumber terkait :
    http://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/14/teori-pemikiran-kelompok-groupthink-theory/
    http://www.kompasiana.com/supadiyanto/aplikasi-aplikasi-teori-pemikiran-kelompok_55009b1d813311255efa7bf2

    Suka

  2. Nama : Maria Ulfah
    Nim : 13.10.2288
    Prodi : kes-Mas
    Teori Pemikiran Kelompok (groupthink) lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan satu mode berpikir sekelompok orang yang sifat kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat. Untuk mencapai kebulatan suara klompok ini mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis. Grouptink dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan timbulnya kemerosotan efesiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok (Mulyana, 1999).
    West dan Turner (2008: 274) mendefinisikan bahwa pemikiran kelompok (groupthink) sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Jadi groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.
    . adapun proses dalam pembuatan keputusan dalam kelompok, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
    Esensi Teori
    Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya, ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal. Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:
    1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok
    2. Struktural internal hubungan antar anggotA.
    3. Sifat keanggotaan kelompok.
    Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok.
    Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa terdapat suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang baik. Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan Turner dan West (2008: 276) adalah:
    1. Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mekmpromosikan kohesivitas tinggi.
    2. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu.
    3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks
    Perhatikan kisah di awal, upaya LSM Bumi Hijau membangun kohesivitas berimplikasi pada pengabaian pendapat personal yang bisa jadi pendapatnya lebih rasional. Kohesivitas ini dibangun atas semangat perjuangan bersama, semangat pengabdian melalui sebuah lembaga nonpemerintah.
    Hasil akhir dari analisis Janis menunjukkan beberapa dampak negatif dari pikiran kelompok dalam membuat keputusan, yaitu.
    1. Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja
    2. Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji uang
    3. Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali
    4. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya.
    5. Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.
    6. Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penantangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya.
    7. Sasaran kebijakan tidak disurvai dengan lengkap dan sempurna.
    Ilustrasi Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut:
    1. Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.
    2. Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.
    3. Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
    4. Streotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).
    5. Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.
    6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari sensus kelompok.
    7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
    8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards)
    Sumber:
    http://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/14/teori-pemikiran-kelompok-groupthink-theory/

    Suka

  3. NAMA : ELSA MARIANI
    NIM : 13.10. 2258
    Teori Pemikiran Kelompok (groupthink) lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan satu mode berpikir sekelompok orang yang sifat kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat.
    Irving Janis (1971) menyatakan bahwa pemikiran kelompok (grupthink) adalah mode dari pemikiran bahwa orang-orang bersatu pada saat pencarian persetujuan menjadi dominan dalam kelompok kohesif yang cenderung berlebihan dalam penilaian realistis dan tingkah alternatif, akkibatnya ketika proses pembuatan keputusan ini kurang baik maka besar kemungkinan akan menghasilkan sesuatu yang merugikan (dalam Sarwono, 2001:119 dan Myers, 2012:389).
    Adapun gejala-gejala pikiran kelompok adalah sebagai berikut:
    1. Persepsi yang keliru (ilusi) bahwa kelompok tidak akan terkalahkan.
    2. Rasionalisasi (membenarkan hal-hal yang salah sebagai sesuatu yang seakan-akan masuk akal) kolektif.
    3. Percaya kepada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
    4. Stereotip terhadap kelompok lain (out group).
    5. Tekanan langsung terhadap anggota yang berbeda pendapatnya dari pendapat kelompok.
    6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari konsensus kelompok.
    7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
    8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung.
    Dampak pikiran kelompok terhadap pembuatan keputusan adalah sebagai berikut:
    1. Diskusi terbatas hanya pada beberapa alternatif saja.
    2. Pemecahan yang sejak semula sudah cenderung dipilih tidak dievaluasi atau dikaji ulang.
    3. Alternatif yang sejak semula ditolak tidak pernah dipertimbangkan kembali.
    4. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat ahli.
    5. Kalau ada nasihat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.
    6. Tidak melihat kemungkinan-kemungkinan bagaimana kelompok lain atau lawan akan bereaksi sehingga tidak menyiapkan rencana pengamanan atau langkah-langkah darurat.
    7. Sasaran tidak disurvei dengan lengkap dan sempurna. (Sarwono, 2001:122-123)
    Untuk pencegahan pikiran kelompok dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut:
    1. Bersikap netral-jangan mendukung posisi manapun.
    2. Mendorong evaluasi kritis, bagaimana keberatan dan keraguan para anggota kelompok.
    3. Pada saat-saat tertentu kelompok dipecah, diminta untuk berdiskusi secara terpisah sebelum kemudian dipertemukan kembali dalam sate kelompok besar atau dalam keadaan yang berbeda.
    4. Menerima kritikan dari para ahli dan rekan sejawat.
    5. Sebelum mengimplementasikan hasil-hasil diskusi atau kesepakatan kelompok, ingatlah suatu “perubahan kedua” untuk mengungkapkan setiap keraguan (Myers, 2012:393).
    Seluruh proses ini memang akan membutuhkan waktu yang lebih lama, namun akhirnya akan memperlihatkan kurangnya kesalahan-kesalahan dan lebih efektif. Pikiran kelompok (group think) hams diubah menjadi pikiran tim (team think) dan untuk memberi kesempatan kepada pelaksanaan prosedur dengan sebaik-baiknya harus dikurangi desakan keterbatasan waktu atau time pressure (Neck & Moorhead, 1995 dalam Sarwono, 2001:123-124).
    SUMBER:
    http://sumberilmupsikologi.blogspot.co.id/2015/11/pemikiran-kelompok.html

    Suka

  4. Nama : Rahmiatul Fitriati
    Nim : 14.10.2462
    Prodi : Kesehatan Masyarakat Semester 5

    Groupthink (pikiran kelompok) merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya, ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal. Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu :
    1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok
    2. Struktural internal hubungan antar anggota
    3. Sifat keanggotaan kelompok.
    Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok. Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa terdapat suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang baik. Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan Turner dan West (2008: 276) adalah :
    1. Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas tinggi.
    2. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu.
    3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks.

    groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi. Berdasarkan gejala-gejala yang ada, umumnya kelompok yang memiliki banyak gejala yang ada ia akan semakin tidak baik. Para anggota kelompok akan memberikan penilaian yang berlebihan terhadap kelompoknya seperti kelompoknyalah yang paling benar.

    Contoh groupthink terjadi pada waktu meledaknya pesawat ruang angkasa Challenger. Padahal salah satu mekaniknya sudah faham kalau ada yang tidak beres dengan pesawat tersebut, sebelum diadakan peluncuran. Tetapi karena kepala mekanik sudah mengatakan bahwa pesawat dalam kondisi siap luncur, maka para anggota mekanik harus menjalankan tugasnya. Akhirnya, pesawat itu meledak diangkasa yang menewaskan seluruh awaknya. Namun para mekanik tetap membela kelompoknya dengan alasan bahwa suatu kecelakaan lumrah saja terjadi. Jadi tidak ada pihak yang salah. Namun tentunya, pengakuan mereka dianggap demikian oleh masyarakat sejauh media massa memberitakannya sesuai dengan alasan seluruh mekanik tersebut.
    Singkatnya tentang groupthink, terjadi manakala ada semacam konvergenitas pikiran, rasa, visi, dan nilai-nilai di dalam sebuah kelompok menjadi sebuah entitas kepentingan kelompok, dan orang-orang yang berada dalam kelompok itu dilihat tidak sebagai individu, tetapi sebagai representasi dari kelompoknya. Apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan adalah kesepakatan satu kelompok. Tidak sedikit keputusan-keputusan yang dibuat secara groupthink itu yang berlawanan dengan hati nurani anggotanya, maupun orang lain di luarnya. Namun mengingat itu kepentingan kelompok, maka mau tidak mau semua anggota kelompok harus kompak mengikuti arah yang sama agar tercapai suatu kesepakatan bersama.

    Sumber :
    http://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/14/teori-pemikiran-kelompok-groupthink-theory/
    http://dokumen.tips/documents/teori-pemikiran-kelompok.html
    https://afrilwibisono.wordpress.com/2009/04/02/analisa-groupthink/

    Suka

  5. Nama : Novita Listiani
    Nim : 13.10.2301
    Prodi : Kesehatan Masyarakat
    Teori Pemikiran Kelompok
    Teori Pemikiran Kelompok (groupthink) lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan satu mode berpikir sekelompok orang yang sifat kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat. Untuk mencapai kebulatan suara klompok ini mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis. Grouptink dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan timbulnya kemerosotan efesiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok (Mulyana, 1999).
    West dan Turner (2008: 274) mendefinisikan bahwa pemikiran kelompok (groupthink) sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Jadi groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.
    groupthink meninggalkan cara berpikir individu dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok. Janis juga menegaskan bahwa kelompok yang sangat kompak dimungkinkan karena terlalu banyak menyimpan energi untuk memelihara niat baik dalam kelompok ini, sehingga mengorbankan proses keputusan yang baik dari proses tersebut. adapun proses dalam pembuatan keputusan dalam kelompok, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
    Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya, ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal. Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:
    1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok
    2. Struktural internal hubungan antar anggota
    3. Sifat keanggotaan kelompok.

    Hasil akhir dari analisis Janis menunjukkan beberapa dampak negatif dari pikiran kelompok dalam membuat keputusan, yaitu.
    a. Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja
    b. Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji uang
    c. Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali
    d. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya.
    e. Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.
    f. Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penantangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya.
    g. Sasaran kebijakan tidak disurvai dengan lengkap dan sempurna.
    Ilustrasi Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut:
    1. Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.
    2. Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.
    3. Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
    4. Streotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).
    5. Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.
    6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari sensus kelompok.
    7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
    8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).
    Berdasarkan penelitian yang berkembang pada periode selanjutnya, ada beberapa hipotesis mengenai faktor-faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok.
    a. Faktor antesenden.
    Kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.
    b. Faktor kebulatan suara
    Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, dari pada yang menggunakan sistem suara terbanyak.
    c. Faktor ikatas sosial-emosional
    Kelompok yang ikatan sosial emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok. Sedangkan kelompok yang ikatannya lugas dan berdasarkan tugas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.
    d. Toleransi terhadap kesalahan
    Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan-kesalahan dibiarkan dari pada tidak ada toleransi atas kesalahan-kesalahan yang ada.

    Sumber :

    http://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/14/teori-pemikiran-kelompok-groupthink-theory/
    https://id.scribd.com/document/183285471/Teori-Pemikiran-Kelompok

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: