Menabur Nikmat Menuai Masalah

Setiap saat  –jika memungkinkan— kita ingin terbebas dari segala bentuk kekurangnyamanan, termasuk dalam urusan makan. Dorongan ini menyebabkan sebagian orang memutuskan menambahkan penyedap rasa pada setiap makanan. Contoh klasik penyedap rasa adalah MSG (monosodium glukomat), yaitu bahan penyedap yang ditemukan pada tahun 1908 di Jepang oleh Kikunae Ikeda dan di Korea sebelum tahun 1960-an. Kemudian diekspor keluar Jepang dan Korea menjelang tahun 1970. Cukup menaburkan sekitar 30–60 mg zat aditif tersebut terbukti dapat menambah kelezatan.

Dalam perkembangannya, penggunaan MSG tidak menggunakan takaran kecuali logika. Bila hanya dengan 30-60 mg bisa menciptakan kelezatan, maka menaburkan satu sendok makan (setara dengan 15 g atau 1.500 mg) tentu akan semakin lezat. Karena dianggap efektif, takarannya bukan lagi sendok, tapi menuangkan langsung dari bungkusnya.

Menurut Matsumoko dkk (1977), Sugimura dan Sato (1983) dan Takayama dkk (1984), jika dipanaskan dalam suhu tinggi MSG terpecah menjadi Glutamic Pyrolised -1 (Glu-P-1) dan Glutamic Pyrolised -2 (Glu-P-2), yaitu zat yang bersifat mutagenik dan karsinogenik, dimana kedua zat ini telah terbukti menginduksi mutasi Salmonella Typhimurium dan menyebabkan kanker kerongkongan, lambung, usus, hati , otak dan payudara.

Ingin menghindari MSG?, bukan masalah mudah. Karena, selain telah membudaya, tidak sedikit yang secara sengaja menyembunyikan informasi penggunaan MSG, baik dengan tidak mencantumkan dalam produk makanan atau menyebutnya mononatrium glukomat, karena sodium dan natrium adalah zat yang sama. Sampai dengan perkembangan terakhir (setidaknya sampai dengan terbitnya sumber bacaan di bawah ini) penggunaan MSG masih menjadi kontroversi para ahli.

Satu hal yang pasti, rasa nikmat beruntun menumpulkan sensasinya, nikmat bukanlah segalanya.

Sumber bacaan : Dr Arisman, MB, M.Kes –  Buku Ajar Ilmu Gizi : Keracunan Makanan, EGC, 2008

12 thoughts on “Menabur Nikmat Menuai Masalah”

  1. Rizqi Aulia Ruwanda
    NIM: 14.10.2467
    Prodi: ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

    Monosodium Glutamat (MSG) banyak dipakai untuk keperluan rumah tangga maupun industri makanan dan diperjualbelikan secara bebas. MSG biasa digunakan sebagai penyedap makanan. Mengkonsumsi MSG secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit dan juga dapat mempengaruhi kecerdasan.
    Sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada tahun 2006 (Freeman, 2006), mengenai evaluasi keamanan monosodium glutamat, masih menyatakan bahwa banyak penelitian yang diterbitkan termasuk pada tahun 2000 lalu dalam Journal of Nutrition (penelitian Walker & Lupien, 2000) juga telah ditemukan dan menyatakan tidak ada data klinis untuk mencurigai adanya efek negatif yang nyata terhadap MSG.
    Namun ternyata, bukti bahaya yang baru mulai bermunculan pada tahun 2006, yang pertama muncul adalah dalam percobaan oleh model tikus. Pada penelitian itu telah menunjukkan hasil yang nyata yaitu kerusakan hati dan otak setelah MSG dosis serendah 4 mg/kg dicampurkan dan kerusakan itu dapat dikurangi dengan menggunakan vitamin C (penelitian Farombi et al, 2006).
    Dua tahun sesudahnya pada tahun 2008, sebuah studi masuk ke dalam Journal of Autoimmunology, memperkuat temuan yang menunjukkan adanya kerusakan hati, dan juga menunjukkan peran dalam memberikan kontribusi untuk obesitas pada model tikus (penelitian Nakanishi et al, 2008).
    Kerusakan pada hati sekali lagi dikonfirmasi pada tahun 2009, kali ini berkontribusi terhadap penyakit hati berlemak non-alkohol atau non-alcoholic fatty liver disease (penelitian Collison et al, 2009).
    Semua bukti itu semakin menguatkan, karena baru-baru ini ditemukan terkaitnya MSG dengan kelebihan berat badan (overweight) yang menghasilkan obesitas dalam studi populasi di Cina (penelitian Xun et al, 2011).
    Sejak tahun 2012, MSG telah digunakan dalam percobaan untuk menyebabkan kerusakan hati atau otak (penelitian Horvath et al, 2013) yang menyelidiki perkembangan saraf dengan menggunakan MSG untuk menghambat pengembangan syaraf secara tepat.
    Sekarang cukup jelas bahwa dampak negatif MSG pada dasarnya telah “menghajar secara perlahan” minimal hati dan otak semua hewan mamalia, termasuk kepada manusia tanpa kecuali, dan bukan hanya orang-orang yang hipersensitif.
    Untuk menempatkan masalah yang mengerikan ini dalam perspektif kita adalah: kita telah beralih dari menyimpulkan melalui meta-analisis bahwa MSG memiliki efek nyata negatif jika menggunakannya dan menyebabkan masalah neurologis dalam model tikus.
    Sains memang tidak sempurna, dan seakan sering “termakan oleh waktu” selama bertahun-tahun untuk dapat menentukan suatu dampak yang ternyata kedepannya dapat berjangkauan secara lebih luas efeknya terhadap banyak zat aditif (zat tambahan) lainnya di dalam makanan kita.
    Meskipun hasil penelitian oleh pakar-pakar laboratorium ini merupakan temuan baru, namun anehnya pihak Badan Pengawasan Makanan AS atau FDA (Food and Drug Administration) masih tidak memperbarui sikap mereka sejak tahun 2012 lalu! Hal ini terbukti dari informasi berdasarkan situs mereka yang tak lagi ter-updated hingga kini, dan masih menyatakan bahwa MSG umumnya tak berbahaya dan aman!
    Begitu juga info mengenai MSG pada laman wikipedia yang mengkonfirmasi bahwa FDA (Food and Drug Administration) di AS itu, masih mengklasifikasikan MSG sebagai Generally Recognized as Safe (GRAS /atau secara umum diakui aman) dan di Uni Eropa digunakan sebagai zat tambahan makanan, lalu akhirnya mendunia.
    Namun semua efek berbahaya itu menjadi tidak mengejutkan lagi bagi kebanyakan orang, walau telah terbukti banyak zat aditif (zat tambahan) pada makanan lain yang umumnya kita makan, ternyata telah ditemukan dampak biologinya terhadap kesehatan kita, tapi anehnya justru kita tidak mau mengantisipasinya.
    Hal ini sangat mungkin karena efeknya cenderung lama bahkan menahun, namun dengan pasti, terbukti dari pasien dan penderitanya yang selalu bertambah dan semakin bertambah dari tahun ke tahun, seperti yang ditunjukkan dalam sebuah studi baru-baru ini ketika menyelidiki efek neurologis (syaraf) akibat dari MSG dan aspartam ( penelitian Abu-Taweel GM et al, 2014 ).
    Itulah semua hasil penelitian oleh para ahli-ahli farmasi dan laboratorium di dunia selama beberapa tahun terakhir tentang dampak MSG bagi tubuh kita.
    Walau sudah dibukukan bahkan banyak terdapat di internet, namun hasil penelitian mereka seakan “ditelan” oleh Bumi dan tak diangkat kepermukaan.
    Inilah salah satu bukti lagi, bahwa Depopulasi Dunia memang sudah dijalankan untuk memangkas populasi manusia secara massive agar jauh lebih sedikit akibat semakin minimnya sumber daya dan stok pangan di Bumi yang tak lagi dapat menyuplai seluruh umat manusia di dunia. Semoga bermanfaat. (IndoCropCircles)

    Sumber :
    1. https://journal.uad.ac.idindex.phpKesMasarticleview1040771
    2. https://indocropcircles.wordpress.com/2014/11/18/dampak-msg-terhadap-kesehatan-anda/

    Suka

  2. Nama : Arlis Mahlufi N 14.10.2416
    Eva Yulianti 14.10.2426
    Prodi : kesehatan masyarakat semester 5

    Mononatrium glutamat, atau MSG, adalah penguat rasa yang kerap digunakan di makanan Asia dan makanan komersial lain. Penelitian menunjukkan bahwa MSG dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka pendek dan panjang, misalnya sakit kepala, rasa letih, mual-mual, ADHD, bahkan obesitas. Efek samping MSG tidak dirasakan semua orang, namun beberapa orang mungkin sangat sensitif terhadap MSG. Untuk menghindari MSG, jadilah proaktif di restoran, dan pelajari cara membaca label produk dengan benar.
    Metode 1 dari 3:
    1. Menghindari MSG di Kehidupan Sehari-hari :
    • Hindari produk yang mungkin mengandung MSG
    • Konsumsi makanan alami dan segar.
    • Memasak makanan sendiri.
    2. Menghindari MSG saat Berbelanja
    • Bacalah label produk.
    • Berhati-hatilah saat membeli makanan ringan asin karena produk makanan ringan asin, seperti keripik, kreker, dan kacang, biasanya mengandung MSG
    • Hindari olahan daging.
    • Berhati-hatilah saat memilih bumbu selada
    • Berhati-hatilah saat membeli kaldu dan sup.
    3. Menghindari MSG saat Makan di Luar.
    • Beri tahu pelayan bahwa Anda ingin makanan bebas MSG.
    • Hindari makanan tertentu saat makan di luar.
    • Berhati-hatilah saat membeli makanan cepat saji.

    Suka

  3. Nama :Mira Irawati
    Nim: 14.10.2450
    Smester V Kesehatan Masyarakat

    Mungkin benar MSG boleh digunakan untuk bahan campuran makanan untuk dikonsumsi Karena dalam peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 penggunaan MSG dibatasi secukupnya , tidak boleh berlebihan. Karena titik optimal rasa gurih yang bisa dirasakan seseorang yaitu maksimal 5 gram/hari.
    Namun Sebaiknya kita menghindari makanan yang mengandung MSG salah satu caranya dengan melihat label kemasan pada makanan yang mencantumkan nama sodium dan natrium atau nama lain dari MSG itu.
    Selain itu juga dapat menghindari MSG di dalam masakan dengan meminta agar makanan tidak dibuat dengan MSG .namun apabila MSG sudah termakan maka dapat diatasi dengan meminum banyak air putih agar MSG cepat larut dan dikeluarkan melalui urine ketika kita buang air kecil.
    SUMBER: http://www.klikdokter.com dan http://www.refrensisehat.com

    Suka

  4. NAMA : MEGA HARDIYANTI
    NIM : 14.10.2449
    PRODI : KESEHATAN MASYARAKAT SEM-5

    Sebelum tahun 60-an MSG digunakan golongan masyarakat baik ibu rumah tangga maupun restoran di Cina, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Takarannya pun sangat kecil sekali, yakni 1-2 korek kuping (setara dengan 30-60 Mg) untuk setiap porsi masakan ala Cina, mie atau bakso. pangsit.
    Pada dasarnya MSG tidak dibutuhkan untuk jenis masakan Indonesia karena sudah banyak bahan bahan yang membuat lezat pada makanan Indonesia, jika ditambah lagi MSG maka itu berarti berlebihan. Disamping itu, MSG berfungsi mengintensifkan rasa gurih dari produk daging-dagingan utamanya.
    Jika pun diperlukan pengganti MSG biasanya adalah yeast extract (ekstrak khamir), atau moromi (hasil fermentasi kedele) atau bubuk kecap.
    Beberapa laporan menyatakan bahwa orang-orang yang makan di restoran Cina, setelah pulang timbul gejala-gejala alergi sebagai berikut: mula-mula terasa kesemutan pada punggung dan leher, bagian rahang bawah, lengan serta punggung lengan menjadi panas, juga gejala-gejala lain seperti wajah berkeringat, sesak dada dan pusing kepala akibat mengkonsumsi MSG berlebihan. Gejala-gejala ini mula-mula ditemukan oleh seorang dokter Cina yang bernama Ho Man Kwok pada tahun 1968 yaitu timbulnya gejala-gejala tertentu setelah kira-kira 20 sampai 30 menit konsumen menyantap makanan di restoran China.
    Komisi penasehat FDA (FDA”s Advisory Committee) bidang Hypersensitivity to Food Constituents dari hasil penelitiannya melaporkan 2 hal mengenai gejala CRS tersebut yaitu: MSG dicurigai sebagai penyebab CRS dan pada saat itu ditemukan bahwa ternyata hidangan sup itulah yang dianggap sebagai penyebab utama timbulnya gejala CRS tersebut.
    Kesimpulan Komisi Penasihat FDA terhadap penelitian tersebut yaitu reaksi hipersensitif atau alergi akibat mengkonsumsi MSG memang dapat terjadi pada sebagian kecil masyarakat dengan dosis lebih dari 5 g maka gejala alergi (CRS) akan muncul dengan kemungkinan 30 persen.
    Bahaya mengosumsi MSG yaitu dapat menyebabkan kegemukan, kerusakan otak, memacu peradangan hati dan dapat memperlambat perkembangan kecerdasan anak.

    https://bikinngiler.wordpress.com/2011/05/19/mengenal-bahaya-mengkonsumsi-penyedap-rasa-yang-ber-msg/
    https://nurkusumastuti.wordpress.com/2011/02/08/bahaya-mengkonsumsi-msg/
    https://www.tiara-food.com/6-bahaya-msg-bagi-tubuh-manusia/

    Suka

  5. Nama : Salasiah
    Nim : 14.10.2524
    Prodi : Kesehatan Masyarakat

    Saai ini banyak sekali makanan beragam bentuk warna dan rasa. Produsen makanan skala kecil hingga yang sudah berskala nasional berlomba-lomba menciptakan jenis dan rasa makanan yang dapat membuat pembeli tergiur untuk membeli produk mereka. Minuman dengan aneka rasa, cemilan dengan sejuta rasa dan warna tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi kita sebagai konsumen. Namun tahukah anda dibalik itu semua ternyata makanan-makanan tersebut menyimpan bahaya yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan kita.
    Makanan atau minuman yang mengusung rasa buah atau sayuran sekalipun, berdasarkan banyak penelitian yang telah ditemukan, ternyata tetap saja mengandung bahaya bagi kesehatan. Ini karena penyedap rasa yang digunakan didalam berbagai makanan tersebut merupakan penyedap rasa buatan.
    Adapun bahaya penyedap rasa jangka pendek terdapat pada makanan yaitu :
    1. Sakit kepala
    2. Keringat berlebihan
    3. Wajah terasa kaku
    4. Mati rasa, terasa kesemutan dan juga rasa terbakar di area wajah, leher, dan area lainnya.
    5. Detak jantung berdetak lebih kencang.
    6. Sakit pada bagian dada
    7. Mual
    8. Kesulitan bernafas
    9. Mudah mengantuk
    Efek bahaya dari penyedap rasa di atas hanya dalam jangka waktu pendek. Artinya, penyedap rasa pada makanan yang kita konsumsi secara langsung dapat membuat kita merasa mual seketika setelah dia mengkonsumsi makanan yang mengandung penyedap rasa tersebut.
    Bahaya penyedap Rasa MSG sebagai salah satu dari bentuk penyedao rasa, sudah digunakan dalam kurung waktu yang berdekade-dekade. Selama kurung waktu tersebut, banyak laporan akan efek dari MSG sebagai penyedap rasa. Walaupun memang pengguanaan MSG sendiri diperbolehkan oleh pemerintah. Efek dari penyedap rasa berupa MSG ini menimbulkan reaksi yang dinamakan sympton complex MSG.

    Sumber

    http://halosehat.com/farmasi/kimia/60-bahaya-penyedap-rasa-makanan-dan-msg-bagi-kesehatan

    Suka

  6. Nama : Selvi Permata Sari
    Nim : 14102470
    Prodi : S1 Kesehatan Masyarakat
    Semester V

    MSG atau vetsin atau sering disebut micin bukanlah bumbu masak yang sering dipakai sebagai penyedap MSG berawal dari penelitian Prof. Kikunae Ikeda (1908) yang menemukan bahwa Glutamat sumber rasa gurih (dalam bahasa jepang disebut umami) saat itu berhasil mengisolasi glutamat dari kaldu rumput laut dari jenis Kombu. Setahun kemudian Saburosuke Suzuki mengkomersialkan glutamat yang diisolasi oleh Ikeda.MSG tersusun atas 78% Glutamat, 12% Natrium dan 10% air. Kandungan glutamat yang tinggi itulah yang menyebabkan rasa gurih dalam segala macam masakan. Glutamat itu sendiri termasuk dalam kelompok asam amino non esensial penyusun protein yang terdap[at juga dalam bahan makanan lain seperti daging, susu, keju, ASI dan dalam tubuh kita pun mengandung glutamat. Di dalam tubuh, glutamat dari MSG dan dari bahan lainnyadapat dimetabolime dengan baik oleh tubuh dan digunakan sebagai sumber energi usus halus.Di Indonesia penggunaan MSG terbuat dari tetes tebu dan singkong melalui proses fermentasi. Jika dirunut dari sejarahnya, pada awalnya MSG diambil dari rumput laut, kemudian diubah menggunakan sumberl lain karena mengingat keterbatasan rumput laut apabila dipakai terus menerus akan menyebabkan kerusakan ekosistem laut. Badan-badan kesehatan dunia saat ini seperti JEFCA (FAO+WHO khusus bahan pangan), Komunitas Kesehatan Eropa, US FDA dan BPOM pun mengamini hal tersebut, karena menyatakan aspek keamanan nya dan memberikan batas asupan harian dalam penggunaan MSG adalah NOT SPECIFIED atau secukupnya. Tidak ada penetapan angka dalam penggunaanya dalam mengkonsumsi MSG. .Penemuan terbaru pada tahun 2007, menunjukan bahwa lidah dan lambung memiliki reseptor glutamat. keberadaan resewptor ini membantu dalam proses pencernaan dalam memperlancar proses pencernaan itu.Sekitar pada tahun 1968 terdapat sebuah laporan di New England Journal of Medicine yang memberikan laporan jika terjadi gangguan kesehatan setelah makan di sebuah restaurant Cina sehingga dikenal dengan sebutan “Chinese Restauran Syndrome”. Penyebab utama dari kejadian tersebut di duga berasal dari kandungan MSG yang biasa digunakan di restaurant tersebut, namun sampai saat ini masih belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Sedangkan menurut laporan dari Federation of American Societies for Experimental Biology (FEDSA) sekitar pada tahun 1995 mengungkapkan bahwa penggunaan MSG pada makanan terbukti aman asalkan dalam batas pemakaian yang wajar.
    Sumber: https://klinikanakonline.com/2010/10/01/mitos-salah-tentang-msg-fakta-ilmiah-msg-aman/
    http://manfaat.co/bahaya-msg.html

    Suka

  7. Nama : Prida Eka Rahayu
    NIM : 14.10.2458
    Prodi : Kesehatan Masyarakat
    MSG juga merupakan zat penyedap rasa yang banyak digunakan oleh produsen makanan untuk membuat produknya menjadi lebih enak. Zat tersebut merupakan pembentuk protein, sehingga apabila zat makanan ditambahkan vetsin (MSG) akan berasa seperti ditambah kaldu daging (protein).
    MSG juga merupakan zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, dia memberikan fungsi yang sama seperti glutamat yaitu memberikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium, glutamat. Sebenarnya MSG yang berbentuk kristal putih ini tidak memiliki rasa, tetapi mempunyai fungsi sebagai penegas cita rasa (flavour enhancer) makanan, terutama dari protein hewani (daging, ikan, ayam).
    Mungkin kita berpikir, tak ada masalah jika mengkonsumsi MSG dalam jumlah besar karena glutamat secara alami sudah ada di dalam tubuh. Selain itu, proses pembuatannya pun alami (secara fermentasi) tidak memakai bahan kimia yang berbahaya. Tapi, beberapa penelitian menyebutkan MSG dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah kesehatan seperti kegemukan, kerusakan otak, kerusakan sistem syaraf, depresi sampai kanker. Hal tersebut dikarenakan glutamat yang ada dalam makanan segar seperti daging dan beberapa sayuran ada dalam bentuk terikat dengan asam amino lain membentuk protein. Sedangkan glutamat dalam bentuk bebas seperti MSG merupakan senyawa exitotoxin atau beracun.
    Oleh karena sulit mencari produk atau bahan makanan yang tidak mengandung MSG, maka untuk meminimalkan efek negatif dari penggunaan MSG, konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C dan vitamin E dalam buah-buahan dan dengan mengurangi mengkonsumsi MSG secara berlebihan, maksimal 0-120 mg/kg setiap harinya pada orang dewasa akan sangat membantu.

    Sumber : (http://www.hanyawanita.com/clickwok/health/health01.htm, diakses 11 Nopember 2007)
    Gsianturi. 2003. Cegah Hipertensi Dengan Pola Makan, (online), (http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid046314663,6713, diakses 25 November 2007).
    Jenie, Umar Anggara. 2005. Zat Aditif Makanan, (online), (http://id.wikipedia.org/wiki/aditif_makanan, diakses 4 November 2007).
    Maryam, Irma Nuril. 2006. MSG Tak Sekedar Penyedap Rasa, (online), (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/31/cakrawala/lainnya03.htm, diakses 11 November 2007).
    Nurlianti, Wilda. 2006. Waspadai Penggunaan MSG Berlebihan, (online), (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/30/geulis/ lainnya
    http://www.landasanteori.com/2015/09/pengertian-monosodium-glutamat-msg.html
    https://indocropcircles.wordpress.com/2014/11/18/dampak-msg-terhadap-kesehatan-anda/

    Suka

  8. Nama : Rahmiatul Fitriati
    Nim : 14.10.2462
    Prodi : Kesehatan Masyarakat Semester 5
    Penggunaan monosodium glutamat (MSG) sebagai penguat rasa kini banyak ditemukan dalam jajanan anak-anak. Padahal penggunaan MSG yang berlebihan disebut memiliki dampak buruk bagi kesehatan.
    Sayangnya, sampai sekarang batas maksimal penggunaan MSG sebagai salah satu bahan tambahan pangan (BTP) belum diatur oleh pemerintah.
    “Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 033 tahun 2012 tidak tercantum berapa batas maksimal penggunaan penguat rasa seperti MSG,” ujar Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM, Drs. Mustofa, Apt, M. Kes pada temu media bertajuk ‘Cermati Kandungan Nutrisi Jajanan Anak’ di Jakarta, Kamis (17/9/2015).
    Sementara itu dokter spesialis anak sekaligus Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, Rini Sekartini mengatakan bahwa MSG tidak berbahaya dikonsumsi asal digunakan sesuai takaran, tapi pada beberapa orang yang alergi dengan MSG maka bisa berbahaya.
    Banyak fakta yang menuduh bahwa MSG sebagai biang penyakit, akan tetapi fakta baru juga mengatakan penggunaan MSG juga memberikan dampak positif bagi kita. Berikut ini adalah dampak positif dan negatif dari mengunakan MSG:
    Beberapa dampak negatif penggunaan MSG berlebih :
    1. Sakit kepala
    2. Mempengaruhi saraf
    3. Mengakibatkan masalah jantung, detak jantung lebih kencang
    4. Berbahaya untuk kesehatan ibu dan bayi
    5. Keringat berlebihan
    6. Wajah terasa kaku
    7. Sakit pada bagian dada
    8. Mual
    9. Mudah mengantuk
    Beberapa dampak positif penggunaan MSG :
    1. MSG tersusun oleh unsur-unsur nutrisi seperti 75% glutamat, 12% natrium, dan 10% air. Dimana glutamat merupakan salah satu dari 20 asam amino pembentuk protein yang terdapat dalam makanan dan tubuh manusia, begitu juga dengan natrium.
    2. Glutamat memainkan peranan fisiologi penting pada tubuh. Makanan yang enak karena glutamat, baik dari makanan ataupun MSG dapat merangsang produksi cairan pencernaan sehingga daya cerna makanan menjadi lebih baik. Glutamat yang berada didalam usus halus juga berfungsi sebagai sumber tenaga absorpsi unsur-unsur nutrisi kedalam darah, dan memainkan peranan sentral dalam bebagai metabolisme tubuh. Jika saat mengonsumsi makanan yang mengandung glutamat dan merasa haus, berarti ada yang tidak benar dengan tubuh anda
    3. Badan-badan kesehatan dunia menyatakan MSG aman. MSG baik dikonsumsi sejauh tidak berlebihan. Walaupun aman untuk dikonsumsi, MSG hendaknya tidak diberikan kepada orang yang tengah mengalami cidera otak karena stroke, terbentur, terluka, atau penyakit syaraf. Penumpukan asam glutamat pada jaringan sel otak dapat menyebabkan kelumpuhan.
    Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa MSG dapat menimbulkan efek samping jangka pendek (keracunan MSG) maupun jangka panjang. Maka dari itu, sebaiknya kita menghindari makanan yang mengandung MSG. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melihat label kandungan yang terdapat dalam kemasan makanan.
    Selain itu, Anda juga dapat menghindari MSG di dalam makanan dengan meminta agar makanan tidak dibuat dengan MSG. Bila MSG sudah termakan maka dapat diatasi dengan minum banyak cairan. Namun, penanganan yang paling tepat adalah dengan menghindari konsumsi MSG.
    Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

    Sumber :
    http://www.suara.com/lifestyle/2015/09/19/070500/seberapa-besar-bahaya-penggunaan-msg-pada-makanan
    http://tonyotonyo.com/20151002dampak-positif-dan-negatif-dari-penggunaan-msg
    https://www.klikdokter.com/tanyadokter/gizi/mengatasi-msg-dalam-makanan

    Suka

  9. NAMA:NOR SETIAWATI
    NIM :15.20.2587
    NAMA:ELSA NOVIA
    NIM :15.10.2584
    Efek Samping MSG bagi Kesehatan
    Monosodium glutamat, atau MSG, adalah garam natrium yang berasal dari asam glutamat.
    MSG umum digunakan sebagai penyedap rasa makanan.
    Monosodium glutamat lazim ditemukan pada bumbu instan, salad dressing, makanan olahan (makanan kaleng), serta dalam makanan Cina.
    Efek Samping Umum


    Meskipun disinyalir memiliki efek samping bagi kesehatan, jika dikonsumsi dalam jumlah moderat MSG masih dianggap aman.
    Namun, bagi mereka yang memiliki sensitivitas terhadap MSG, berbagai keluhan mungkin saja timbul setelah mengkonsumsi MSG.
    Efek samping yang paling umum dari konsumsi MSG diantaranya adalah sensasi terbakar pada wajah, lengan atau dada; mati rasa dari leher ke lengan; kesemutan di lengan, wajah, atau leher; sakit kepala; nyeri dada; mual; jantung berdebar-debar; rasa kantuk; kesulitan bernapas; dan kelemahan umum.
    MSG Symptom Complex


    MSG symptom complex yang sering pula disebut sebagai Chinese Food Syndrome merupakan kumpulan gejala yang timbul setelah konsumsi monosodium glutamat.
    Beberapa gejala MSG symptom complex meliputi sakit kepala, jantung berdebar, kulit kemerahan, berkeringat, sakit perut, badan lemah, mati rasa di sekitar mulut, dan nyeri dada.
    Efek Samping Serius

Terutama pada penderita asma, MSG bisa memicu kesulitan bernapas yang parah. Dalam beberapa kasus, penderita mungkin memerlukan perhatian medis segera.
    Studi lain juga menunjukkan bahwa MSG bisa memicu kerusakan sel-sel otak dan sistem saraf pusat. Bahkan diduga MSG memiliki korelasi langsung dengan penyakit Alzheimer.
    Pada kasus yang jarang, beberapa individu bisa begitu sensitif terhadap monosodium glutamat hingga mengakibatkan kesulitan bicara dan mati rasa sementara di sekitar mulut.
    Individu dengan keluhan seperti ini disebut mengalami alergi MSG dan harus sangat berhati-hati untuk tidak mengkonsumsi MSG. Eksitotoksin


    Monosodium glutamat termasuk dalam kelas bahan kimia yang disebut eksitotoksin (excitotoxins).
    Eksitotoksin merupakan zat yang diyakini menyebabkan kerusakan otak dan kerusakan sistem saraf pusat.
    Eksitotoksin disinyalir mempengaruhi bagian hypothalmus otak yang mengontrol fungsi penting tubuh seperti pertumbuhan, pola tidur, pubertas, dan nafsu makan. beberapa studi menunjukkan bahwa MSG menghambat fungsi normal dari hypothalmus yang berpotensi memicu efek negatif jangka panjang seperti obesitas, gangguan tidur, dan masalah reproduksi.
    SUMBER http://www.amazine.co/11698/tips-diet-sehat-efek-samping-msg-bagi-kesehatan/

    Suka

  10. Nama: M.irwan
    Nim: 15.10.2626
    Semester 3 kesehatan masyarakat

    World Health Organization (WHO) dan Food and Agricultural Organization (FAO) menyatakan bahwa ancaman potensial dari residu bahan makanan terhadap kesehatan manusia dibagi dalam 3 katagori yaitu:
    1) aspek toksikologis, katagori residu bahan makanan yang dapat bersifat racun terhadap organ-organ tubuh,
    2) aspek mikrobiologis, mikroba dalam bahan makanan yang dapat mengganggu keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan,
    3) aspek imunopatologis, keberadaan residu yang dapat menurunkan kekebalan tubuh.
    Dampak negatif zat aditif terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak langsung, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    Asam glutamat telah digunakan di berbagai macam jenis produk makanan di berbagai negara sejak tahun 1940, khususnya dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Asam glutamat merupakan salah satu dari 20 asam amino yang ditemukan pada protein dan MSG merupakan monomer dari asam glutamat. MSG memberikan rasa gurih dan nikmat pada berbagai macam masakan, walaupun masakan itu sebenarnya tidak memberikan rasa gurih yang berarti. Penambahan MSG ini membuat masakan seperti daging, sayur, sup berasa lebih nikmat dan gurih.
    MSG dijual dalam berbagai bentuk produk dan kemasan, produk penyedap rasa seperti Ajinomoto, Miwon, Sasa, Royco atau merek dagang lainnya mengandung MSG sebagai salah satu bahan penyedap rasa. Produk makanan siap saji, makanan beku maupun makanan kaleng juga mengandung MSG dalam jumlah yang cukup besar. Selain lada dan garam, botol berlabel penyedap rasa yang mengandung MSG juga dapat dengan mudah ditemukan di rak bumbu dapur maupun di atas meja restoran. Umumnya, Restoran Cina banyak menggunakan MSG untuk menyedapkan masakan-masakannya. Walaupun sebagian besar orang dapat mengkonsumsi MSG tanpa masalah, beberapa orang memiliki alergi bila mengkonsumsi berlebihan yaitu gejala seperti pening, mati rasa yang menjalar dari rahang sampai belakang leher, sesak nafas dan keringat dingin. Secara umum, gejala-gejala ini dikenal dengan nama sindrom restoran cina.
    Asam glutamat dan gamma-asam aminobutirat mempengaruhi transmisi signal di dalam otak. Asam glutamat meningkatkan transmisi signal dalam otak, sementara gamma-asam aminobutirat menurunkannya. Oleh karenanya, mengkonsumsi MSG berlebihan pada beberapa individu dapat merusak kesetimbangan antara peningkatan dan penurunan transmisi signal dalam otak.
    Itu sangat lah berbahaya bagi organ manusia apa bila zat tersebut di cerna oleh tubuh.

    http://wicaramina.blogspot.co.id/2014/08/msg-pengaruhnya-terhadap-kesehatan.html

    Suka

  11. Nama : Muhammad norfannsyah & Napriandi Rupocks

    Berdasarkan riset, penguat rasa makanan yang lazim disebut MSG (Monosodium Glutamate), dapat merusak nafsu makan seseorang dengan merusak jaringan otak yang bertugas untuk mengendalikan nafsu makan. Rasa penguat yang ditimbulkan dapat menyebabkan seseorang ketagihan luar bisa pada makanan yang mengandung MSG ini. Berikut ini 6 bahaya MSG bagi tubuh manusia, antara lain.
    1.MSG dapat menyebabkan gemuk
    2.MSG dapat menyebabkan kerusakan otak
    3.MSG dapat memacu perandangan hati
    4.Mayoritas makanan dapat saji menggunakan MSG
    5.MSG adalah penguat rasa yang paling banyak digunakan didunia
    6.MSG dapat memperlambat perkembangan kecerdasan otak
    Sumber : www. tiara-food.com

    Suka

  12. Nama : Lourenza Deborah .S
    Nim : 15.10.2585
    Nama : Togga Senja .C
    Nim : 15.10.2588
    Prodi : Kesehatan Masyarakat
    Semester : 3

    Monosodium glutamat (MSG) merupakan zat aditif yang berbahaya bagi kesehatan, tetapi bahan ini beredar bebas di pasaran dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat, walaupun mereka tahu akan efek sampingnya. Ada juga yang mulai mengurangi mengonsumsi MSG, misalnya dengan membeli produk atau bahan makanan yang bertuliskan “NO MSG”. Namun, seperti tak mau kalah pintar para produsen makanan menyiasati peraturan, misalnya mengganti nama MSG menjadi mononatrium glutamat (natrium dalam bahasa inggrisnya disebut sodium). Nama MSG yang lain adalah hydrolysed protein (protein terhidrolisa), hydrolysed vegetable protein (protein sayuran terhidrolisa), sodium caseinate, autolysed yeast (ekstrak ragi), tepung gandum terhidrolisa, dan minyak jagung. Penyedap yang sering kali berisi MSG adalah whey extract (ekstrak gandum), malt extract, seasonings (biasanya terdapat dalam mie instan), flavourings (termasuk yang natural ataupun rasa lain seperti daging), broth (istilah yang sering dipakai di laboratorium mikrobiologi untuk medium pertumbuhan bakteri, misalnya yeast extract). Produsen bisa jadi tidak bersalah, yang ditambahkan pada makanan kemasan memang bukan MSG, melainkan bentuk lain, bernama lain, namun hasil dan efek sampingnya bisa jadi sama dengan MSG, Monosodium glutamat (MSG) merupakan zat aditif yang berbahaya bagi kesehatan, tetapi bahan ini beredar bebas di pasaran dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat, walaupun mereka tahu akan efek sampingnya. Ada juga yang mulai mengurangi mengonsumsi MSG, misalnya dengan membeli produk atau bahan makanan yang bertuliskan “NO MSG”. Namun, seperti tak mau kalah pintar para produsen makanan menyiasati peraturan, misalnya mengganti nama MSG menjadi mononatrium glutamat (natrium dalam bahasa inggrisnya disebut sodium). Nama MSG yang lain adalah hydrolysed protein (protein terhidrolisa), hydrolysed vegetable protein (protein sayuran terhidrolisa), sodium caseinate, autolysed yeast (ekstrak ragi), tepung gandum terhidrolisa, dan minyak jagung. Penyedap yang sering kali berisi MSG adalah whey extract (ekstrak gandum), malt extract, seasonings (biasanya terdapat dalam mie instan), flavourings (termasuk yang natural ataupun rasa lain seperti daging), broth (istilah yang sering dipakai di laboratorium mikrobiologi untuk medium pertumbuhan bakteri, misalnya yeast extract). Produsen bisa jadi tidak bersalah, yang ditambahkan pada makanan kemasan memang bukan MSG, melainkan bentuk lain, bernama lain, namun hasil dan efek sampingnya bisa jadi sama dengan MSG. MSG merupakan zat penambah rasa pada makanan dan merupakan senyawa sintetik yang dapat menekan rasa yang tidak diingankan dari suatu bahan makanan. MSG dibuat melalui proses fermentasi dari tetes gula (molases) oleh bakteri. Dalam proses fermentasi ini dihasilkan asam glutamat yang kemudian ditambah soda (sodium carbonte), sehingga akan terbentuk MSG.
    Glutamat dalam MSG merupakan salah satu komponen utama yang memberikan rasa lezat pada makanan, sehingga MSG banyak digunakan oleh masyarakat untuk membuat masakannya menjadi enak dan digemari. Akan tetapi, MSG, dimana glutamatnya dalam bentuk bebas dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, diantaranya menurunnya fungsi otak, kanker, hipertensi, menimbulkan gejala chinese restaurant syndrome dan berbagai masalah kesehatan lainnya seperti asma dan diabetes.
    Oleh karena sulit mencari produk atau bahan makanan yang tidak mengandung MSG, maka untuk meminimalkan efek negatif dari penggunaan MSG, konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C dan vitamin E dalam buah-buahan dan dengan mengurangi mengonsumsi MSG secara berlebihan, maksimal 0-120 mg/kg setiap harinya pada orang dewasa akan sangat membantu.

    Sumber :
    http://revoluscience.blogspot.co.id/2008/01/monosodium-glutamat-apa-ya-bahayanya.html?m=1

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: