Kajian Tentang Makanan

Perkembangan terakhir, sebagian besar program gizi kesehatan masyarakat terfokus pada pencegahan dan pengendalian penyakit kronis, seperti kardiovaskuler, obesitas.

Setelah karakteristik dan sumber penyakit bawaan makanan teridentifikasi, tenaga professional kesehatan masyarakat mulai menerapkan kendali terhadap penyakit tersebut melalui teknologi dan prosedur penjamahan makanan yang lebih aman, seperti :

  • Cuci tangan
  • Sanitasi yang baik
  • Refrigerasi
  • Pasteurisasi
  • Penggunaan pestisida
  • Pengurangan pathogen bawaan makanan
  • Pemeliharaan dan pemberian makanan yang lebih baik pada binatang
  • Pengolahan makanan yang aman.

Sedangkan pencegahan penyakit bawaan makanan dapat dilakukan dengan cara:

  • Masak bahan pangan hewani sampai benar-benar matang
  • Cuci sayuran dengan benar sebelum dimasak
  • Jaga agar makanan mentah tetap terpisah dari sayuran dan makanan siap santap
  • Hindari konsumsi susu mentah (tidak terpasteurisasi) atau makanan yang terbuat dari susu mentah
  • Cuci tangan, pisau dan telenan setelah masing-masing digunakan untuk menjamah maknanan.

Sumber bacaan : James F. McKenzie, Robert R. Pinger, Jerome E. Kotecki – Kesehatan Masyarakat Suatu Pengantar (2007)

6 thoughts on “Kajian Tentang Makanan”

  1. Muhammad Norfansah
    Nim:14.102585
    Napriandi Rupock
    Nim:14.102453

    @Kajian Tentang Makanan

    Kajian terkait makanan memang bukan hal baru dalam khazanah antropologi budaya. Setidaknya sejak abad ke-19, dengan munculnya tulisan Garrick Mallery berjudul Manners and Meals tahun 1888 dalam American Anthropologist Volume 1 No. 3 (Maryetti, 2007). Lalu diikuti William Robertson Smith (1889), Frank Hamilton Cushing (1920) dan Franz Boas (1921). Pada era 60-an ada Lvi-Strauss dan Mary Douglas, dan era 80-an ada Jack Goody, Mintz, Munn dan Messer. Masih banyak lagi tulisan mengenai makanan pada era 90-an sampai 2000-an (Mintz dan Du Bois, 2000).

    Ketertarikan para antropolog mengkaji makanan karena persoalan makan dan makanan tidak hanya masalah fisiologis, tetapi juga budaya. Sesuatu dapat diterima atau ditolak sebagai makanan, berada di bawah kontrol kebudayaan (Bates, 1996; Dauglas, 1966; 1983). Menurut Levi-Strauss makanan menduduki tempat yang esensial di dalam pemikiran manusia karena dua alasan. Keberadaan insani dan segala atributnya dapat terdefinisikan melalui sarana memasak. Dan, memasak dan menyantap makanan menandai transisi dari alam (nature) ke budaya (culture) (Maryetti, 2007).

    Luasnya kajian tentang makanan dapat dilihat dari beragamnya aspek yang dibahas. Beberapa membahas makanan dalam upacara ritual dan makna simbolik yang ada di makanan. Ada yang membahas peranan simbolik dari makanan serta hubungan makanan dengan perubahan sosial. Juga ada yang membahas makanan sebagai pembentuk identitas, baik identitas suku bangsa maupun identitas lain seperti gender, ras, status dan kelas.

    Makanan sebagai pembentuk identitas, seperti yang ditulis Maryetti (2007) pernah dibahas oleh Weichart (2004), Mintz dan Du Bois (2002), Caplan (1997), Foster dan Anderson (1986) dan Messer (1984). Identitas etnik dalam hal ini dapat dikenali dari masakan etnik yang punya karakteristik rasa khusus. Contoh makanan Minahasa ditandai dengan banyaknya penggunaan cabe dalam mengolah daging anjing, tikus atau kelelawar. Kuatnya rasa cabai, bahkan menghilangkan rasa daging itu sendiri (Weichart, 2004:67).

    Selain menentukan identitas etnik, makanan juga sebagai penentu identitas lain. Berkaitan dengan jender, makanan yang dianggap kuat dari segi warna dan rasa (pedas) dianggap pantas untuk laki-laki, seperti anggur merah dan daging sapi (Bos sp.). Sebaliknya makanan yang dianggap ringan, berwarna pucat dan empuk, dianggap lebih pantas untuk perempuan dan anak-anak. Contohnya, anggur putih dan daging anak sapi.

    Selain memiliki makna simbolik, makanan ternyata juga memiliki peran-peran simbolik. Foster dan Anderson (1986) mengemukakan ada empat peran simbolik dari makanan (sebagaimana dikutip dalam Maryetti, 2007) yaitu:

    1. Makanan Sebagai Ungkapan Ikatan Sosial.
    Hal ini terlihat pada kebiasaan saling mengirim makanan antar tetangga dalam suatu masyarakat. Mengirim atau menawarkan makanan memiliki makna bahwa si pemberi menawarkan kasih sayang, perhatian dan persahabatan. Bagi si penerima, dengan kesediaannya menerima makanan yang ditawarkan itu, berarti ia mengakui dan menerima perasaan yang diungkapkan oleh si pemberi dan membalasnya suatu saat. Sebaliknya jika seseorang tidak atau lalai menawarkan makanan dalam konteks seperti diharapkan, berarti menolak uluran cinta atau persahabatan, bahkan juga menunjukkan rasa permusuhan. Makanan sebagai ungkapan ikatan sosial juga terlihat dari rasa aman yang dirasakan jika seseorang dapat makan bersama teman-teman dan orang-orang yang disayangi. Siapa pun tidak akan membagi makanannya kepada musuhnya.
    2. Makanan Sebagai Ungkapan Kesetiakawanan Kelompok.
    Ini diwujudkan dalam bentuk makan bersama anggota keluarga. Karena tidak setiap hari hal itu bisa terlaksana, maka kesempatan tertentu seperti memperingati kejadian-kejadian penting dalam daur hidup seseorang (ulang tahun kelahiran, pernikahan) dan hari raya keagamaan dipilih sebagai saat yang tepat untuk mengungkapkan rasa solidaritas kelompok. Biasanya makanan yang disajikan pada kesempatan itu adalah makanan khas keluarga atau suku bangsanya.

    3. Makanan Sebagai Pemberi Rasa Ketentraman Dalam Keadaan Yang Menyebabkan Stres
    Makanan tertentu yang menggambarkan identitas kelompok pada dasarnya dapat mengembalikan ketenangan jiwa orang yang sedang mengalami stres. Itulah sebabnya mengapa para imigran, dalam keadaan apapun akan selalu mempertahankan makanan tradisionalnya sehari-hari di tempat pemukimannya yang baru. Orang Minang di Califonia, AS misalnya, akan berusaha untuk memasak rendang walaupun harga kelapa mahal di sana (Danandjaja, 1994: 189).

    4. Makanan Sebagai Simbolisme Bahasa.
    Pada banyak bahasa di dunia, sifat suasana hati seseorang sering diibaratkan dengan kualitas atau keadaan makanan. Dalam bahasa Inggris, orang yang sangat marah diungkapkan dengan ‘boiling mad’ (mendidih). Dalam bahasa Indonesia, orang yang jahat hatinya dikatakan busuk hati. Begitupun dalam bahasa Minang, orang yang baik kata-katanya tetapi tidak diwujudkan dalam tindakan atau tindakannya bertolak belakang dengan ucapannya, dikatakan ‘manih muluik’ (manis mulut).

    Oleh karena itu makan dan makanan merupakan proses penting dari kehidupan manusia yang bisa menunjukkan hakikat identitas dirinya sebagai bagian dari kehidupan sosial manusia itu sendiri.
    Suber:
    http://gastroina.blogspot.co.id/2015/05/kajian-tentang-makanan.html?m=1

    @Latar Belakang Kajian Tentang Makanan

    Makanan ialah suatu bahan yang boleh dimakan dalam bentuk pepejal atau cecair. Makanan mempunyai ciri-ciri seperti bentuk, rupa, warna, bau, rasa dan tekstur yang berbeza.

    Peranan makanan adalah untuk memenuhi keperluan fisiologi, psikologi dan sosial. Nutrien dan bahan makanan memenuhi fungsi fisiologi seperti pembinaan sel tubuh, tumbesaran dan pemulihan, membekalkan tenaga dan haba, memelihara dan mengawalproses tubuh.

    Makanan yang kita makan selalu diubah untuk menghasilkan tenaga dan digunakan oleh seluruh sistem tisu badan untuk memenuhi beberapa fungsi. Kegunaan tenaga ini, bukanlah sahaja untuk menjalankan aktiviti fizikal, seperti berjalan atau berlari tetapi samajuga kepentingannya iaitu untuk meneruskan proses pertumbuhan, perkembangan dan jugapembaikan semula segala tisu yang mengalami kerosakan biasa. Di sepanjang kehidupankita, tisu badan sentiasa terurai dan digantikan dengan sel-sel baru untuk mengekalkankesihatan dan meneruskan proses kehidupan. Kita patut menerima secukupnya bekalanmakanan untuk memenuhi keperluan tenga tubuh kita. Sebaliknya kalau kita makan terlalubanyak makanan, bahan yang berlebihan ini akan disimpan di dalam beberapa bahagianbadan kita seperti punggung, muka, kulit di hadapan perut, lengan dan kaki.
    Hal ini akanmenambahkan berat badan kita. Terdapat banyak jenis makanan dan salah satgu makanan yang menjadi pilihanramai masyarakat pada masa kini ialah makanan segera. Makanan segera adalah istilahyang diberikan kepada makanan yang boleh disediakan dan disajikan dengan cepat.Makanan proses atau segera adalah komponen makanan yang boleh dimakan terus tanpaperlu memasaknya terlebih dahulu. la mungkin makanan dalam tin, dalam bungkusan, makanan berasaskan corak pemakanan barat seperti burger dan hot dog, makanan sejukbeku dan sebagainya. Biasanya istilah makanan segera ini merujuk kepada makanan yangdijual di restoran atau di kedai di mana bahan makanan tersebut dipanaskan atau dimasaksemula untuk dihidangkan kepada pelanggan. Istilah makanan segera ini telah dijumpai didalam kamus oleh Merriam-Webster pada tahun 1991

    Sumber:
    http://dokumen.tips/documents/kajian-makanan-segera-561d4e4c62235.html

    Suka

  2. NAMA : RIZQI AULIA RUWANDA 14.10.2467
    MEGA HARDIYANTI 14.10.2449
    PRODI : KESEHATAN MASYARAKAT SEMESTER V

    Memelihara kesehatan masyarakat perlu sekali pengawasan terhadap pembuatan dan penyediaan bahan-bahan makanan dan minuman agar tidak membahayakan kesehatan masyarakat. Hal-hal yang dapat membahayakan itu antara lain:
    1. Zat-zat kimia yang bersifat racun;
    2. Bakteri-bakteri pathogen dan bibit penyakit lainnya;
    3. Parasit-parasit yang berasal dari hewan;
    4. Tumbuh-tumbuhan yang beracun.
    Selain itu, upaya perbaikan gizi masyarakat bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat, antara lain yaitu melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
    Pencegahan dilakukan melalui pendekatan kepada anak sekolah beserta orang-orang terdekatnya (orang tua, guru, teman, dll) untuk mempromosikan gaya hidup sehat meliputi pola dan perilaku makan serta aktivitas fisik. Strategi pendekatan dilakukan pada semua anak sekolah baik yang berisiko menjadi kegemukan dan obesitas maupun tidak. Usaha pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan. Lingkungan sekolah merupakan tempat yang baik untuk pendidikan kesehatan yang dapat memberikan pengetahuan, keterampilan serta dukungan sosial dari warga sekolah. Pengetahuan, keterampilan serta dukungan sosial ini memberikan perubahan perilaku makan sehat yang dapat diterapkan dalam jangka waktu lama. Tujuan pencegahan ini adalah terjadinya perubahan pola dan perilaku makan meliputi meningkatkan kebiasaan konsumsi buah dan sayur, mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis, mengurangi konsumsi makanan tinggi energi dan lemak, mengurangi konsumsi junk food, serta peningkatan aktivitas fisik dan mengurangi sedentary life style.
    Untuk mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan karena sanitasi makanan dan minuman yang buruk perlu dilakukan usaha-usaha:
    1. Pendidikan dan penerangan kepada masyarakat tentang perlunya hygiene dan sanitasi makanan dan minuman, antara lain: Makanan dan minuman harus dimasak sampai matang, jangan makan makanan yang telah dikerumun lalat, harus selalu menjaga kebersihan makanan beserta alat-alat makan pada umumnya, dan sebagainya.
    2. Perlu adanya pengawasan terhadap hewan-hewan potong yang dijual kepada masyarakat.
    3. Pengawasan terhadap penjualan dan pengedaran susu sapi dan hasil-hasilnya.
    4. Pengawasan terhadap pembuatan bahan makanan dan minuman pada perusahaan-perusahaan makanan dan minuman.
    5. Pengawasan terhadap kebersihan pasar dan tempat pemotongan hewan.
    6. Pengawasan terhadap kebersihan restoran dan hotel.

    Sumber terkait :
    1.http://www.depkes.go.id/resources/download/laporan/kinerja/kinerja-kemenkes-2009-2011.pdf
    2.http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/Obesitas.pdf
    3.http://www.mitrakesmas.com/2016/06/perlunya-sanitasi-makanan-dan-minuman.html

    Suka

  3. Arlis Mahlufi 14.10.2416
    Eva Yulianti 14.10.2426
    Prodi : Kesehatan Masyarakat semester V
    Makanan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan setelah dicerna serta diserap tubuh akan berguna bagi kesehatan dan kelangsungan hidup. Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya :
    1.Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki
    2.Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganannya.
    3.Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.
    4.Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness). Penyebab infeksi bawaan makanan yang paling umum adalah bakteri Campylobacter, Salmonella, E.coli O157:H7, dan grup virus yang bernama Calicivirus. Jenis perawatan disesuaikan dengan jenis penyakit bawaan makanan yang diderita, dan bergantung dari gejala yang dirasakan. Contoh diare penderita disarankan segera meminum cairan rehidrasi oral (oral rehydration solution : ORS),contohnya Ceralyte*, Pedialyte*, atau Oralyte*. Atau menggunakan air dan garam. Pilih perawatan lain untuk menolong gejala yang dialami. Cuci tangan dengan benar dapat mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain. Penggunaan antibiotik yang berlebihan adalah salah satu PENYEBAB UTAMA mengapa banyak bakteri yang mulai kebal terhadap antibiotik. Pencegahan yang lain dengan hygien sanitasi makanan dan pengolahan makanan sesuai SOP kesehatan pada makanan (jika dinegara itu terjadi wabah penyakit bawaan makanan). Terima kasih
    Sumber :http://garisdunia.blogspot.com/2009/03/penyakit-bawaan-bahan-pangan-foodborne.html
    http://www.landasanteori.com/2015/08/pengertian-higiene-sanitasi-makanan.html

    Suka

  4. nama : salasiah
    nim :14.10.2524
    semestar V studi kesehatan masyarakat

    Makanan yang berasal dari hewan, terutama daging dan telur, adalah penyebab paling umum penyakit bawaan makanan. Penyakit bawaan makanan (food-borne illness) disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang tertelan melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Sebagai tambahan, paparan zat kimia beracun maupun zat-zat dasar lain yang berbahaya juga dapat menyebabkan penyakit. Hingga saat ini ada ratusan penyakit bawaan makanan telah diidentifikasi. Penyakit akibat bawaan makanan tidak memiliki suatu gejala khusus, melainkan masing-masing memiliki gejala yang berbeda-beda tergantung dari agen penyebabnya. Jenis penyakit karena makanan dapat ringan sementara yang lain bisa begitu serius hingga mengakibatkan kematian.
    Berikut adalah beberapa jenis penyakit bawaan makanan yang bisa berasal dari makanan yang kita konsumsi :
    Campylobacteriosis
    Salah satu dari beberapa spesies bakteri Campylobacter dapat menyebabkan penyakit campylobacteriosis. Bakteri ini berasal dari saluran usus ayam dan dapat mencemari daging ayam selama pemrosesan. Unggas yang kurang matang dan kontaminasi makanan lainnya adalah sumber yang paling mungkin untuk penyakit ini. Orang yang terinfeksi mungkin tidak memiliki gejala atau mengalami sakit perut, diare, muntah, demam dan kelelahan. Diare juga dapat mengandung darah.
    • Infeksi E. Coli
    Kebanyakan strain Escherichia coli tidak membahayakan, dan diperlukan untuk saluran usus yang sehat. Meski demikian, bakteri ini dapat menyebabkan penyakit serius dan bahkan kematian. adalah bakteri sangat berbahaya, menyebabkan kerusakan pada lapisan usus dan mengakibatkan gagal ginjal. Jenis menyebar paling sering melalui hamburger yang kurang matang. Jus yang tidak dipasteurisasi dan produk mentah yang terkontaminasi oleh kotoran ternak juga bisa menjadi sumbernya. Infeksi menyebabkan kram perut parah dan diare berdarah.
    • Salmonellosis
    Salmonella enteritidis adalah bakteri yang paling sering menyebabkan salmonellosis. Bakteri dapat ditemukan pada buah-buahan, telur kurang matang atau daging mentah. Gejalanya ditandai dengan sakit dan kram perut, muntah, diare yang kadang-kadang berdarah dan demam. Gejala bisa bertahan antara empat hingga tujuh hari.
    • Shigellosis
    Beberapa spesies yang berbeda dari bakteri Shigella dapat menyebabkan penyakit usus yang disebut shigellosis. Bakteri ini menyebar melalui kontak makanan, air, atau orang-ke-orang, dan tempat penitipan anak. Gejalanya ditandai dengan infeksi gastrointestinal akut, mual dan muntah, diare berdarah dan demam. Pemulihan membutuhkan waktu lima sampai tujuh hari.
    • Infeksi Norovirus
    Norovirus adalah organisme yang sangat menular yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Kontaminasi dapat berasal dari sarana-sarana serta proses-proses pengolahan bahan pangan yang kurang higienis atau dari bahan makanan yang telah terkontaminasi. Gejala termasuk mual dan muntah, diare, demam, nyeri otot, sakit kepala dan kelelahan.
    • Hepatitis A
    Hepatitis A adalah virus yang menyebabkan peradangan pada hati. Gejala biasanya muncul antara dua sampai enam minggu setelah terpapar. Gejalanya ditandai dengan penyakit kuning, urin gelap, mual dan muntah, diare, demam, kelelahan dan hilangnya nafsu makan. Beberapa orang, terutama anak-anak, mungkin tidak memiliki gejala sama sekali. Gejala dapat berlangsung dari satu minggu sampai beberapa bulan.
    Meskipun jarang, penyakit bawaaan makanan dapat mengakibatkan komplikasi yang lebih parah, seperti anemia, kejang, dan penyakit darah, hati, jantung, atau paru-paru. Risiko dapat diminimalkan dengan penanganan makanan secara tepat untuk menghindari kontaminasi silang.
    Sumber : http://www.sehatfresh.com/penyakit-bawaan-dari-makanan/

    Kontaminasi pada makanan dan minuman dapat menyebabkan makanan dapat menjadi media bagi suatu penyakit. Penyakit ini disebut penyakit bawaan makanan (food-borned diseases).
    Penyakit bawaan makanan merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang paling banyak dan paling membebani yang pernah dijumpai di zaman modern ini. Penyakit tersebut menimbulkan banyak korban dalam kehidupan manusia dan menyebabkan sejumlah besar penderitaan, khususnya di bayi, anak, lansia dan mereka yang kekebalan tubuhnya terganggu (WHO, 2006).
    Sejumlah survei terhadap kejadian luar biasa (KLB) penyakit bawaan makanan yang berjangkit di seluruh dunia memperlihatkan bahwa sebagian besar kasus penyakit bawaan makanan terjadi akibat kesalahan penanganan pada saat penyiapan makanan tersebut baik di rumah, jasa katering, kantin rumah sakit, sekolah, perusahaan atau di pangkalan militer atau pada saat jamuan makanan.

    Sumber : http://mediakom.sehatnegeriku.com/penyakit-bawaan-makanan/

    Suka

  5. Nama : Rahmiatul Fitriati 14.10.2462
    Selvi Permata Sari 14.10.2470
    Prodi : Kesehatan Masyarakat Semester 5

    Pengertian Makanan
    Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Menurut WHO, yang dimaksud makanan adalah : “Food include all substances, whether in a natural state or in a manufactured or preparedform, wich are part of human diet.” Batasan makanan tersebut tidak termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan.

    Pengertian Sanitasi Makanan
    Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen (Prabu, 2008).

    Tujuan Sanitasi Makanan
    Menurut Prabu (2008) sanitasi makanan bertujuan untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli, mengurangi kerusakan/pemborosan makanan.
    Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit.Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya :
    1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki
    2. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.
    3. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.
    4. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness).

    Menurut Depkes RI (1994) prinsip-prinsip sanitasi makanan meliputi :
    a. Keadaan bahan makanan
    Semua jeis bahan makanan perlu mendapat perhatian secara fisik serta kesegarannya terjamin, terutama bahan-bahan makanan yang mudah membusuk atau rusak seperti daging, ikan, susu, telor, makanan dalam kaleng, buah, dsb. Baham makanan yang baik kadang kala tidak mudah kita temui, karena jaringan perjalanan makanan yang begirtu panjangdan melalui jarngan perdagangan yang begitu luas.
    b. Cara Menyimpan bahan makanan
    Cara penyimpanan yang memenuhi syarat hgiene sanitasi makanan adalah sebagai berikut:
    • Penyimpanan harus dilakukan ditempat khusus (gudang) yang bersih dan memenuhi syarat
    • Barang-barang agar disusun dengan baik sehingga mudah diambil, tidak memberi kesempatan serangga atau tikus untuk bersarang, terhindar dari lalat/tikus dan untuk produk yang mudah busuk atau rusak agar disimpan pada suhu yang dingin.
    c. Proses pengolahan
    Pada proses / cara pengolahan makanan ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian Yaitu:aa
    1. Tempat pengolahan makanan
    Tempat pengolahan makanan adalah suatu tempat dimana makanan diolah, tempat pengolahan ini sering disebut dapur. Dapur mempunyai peranan yang penting dalam proses pengolahan makanan, karena itu kebersihan dapur dan lingkungan sekitarnya harus selalu terjaga dan diperhatikan. Dapur yang baik harus memenuhi persyaratan sanitasi.
    2. Tenaga pengolah makanan / Penjamah Makanan
    Penjamah makanan menurut Depkes RI (2006) adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan pengangkutan sampai penyajian. Dalam proses pengolahan makanan, peran dari penjamah makanan sangatlah besar peranannya. Penjamah makanan ini mempunyai peluang untuk menularkan penyakit. Banyak infeksi yang ditularkan melalui penjamah makanan, antara lain Staphylococcus aureus ditularkan melalui hidung dan tenggorokan, kuman Clostridium perfringens, Streptococcus, Salmonella dapat ditularkan melalui kulit. Oleh sebab itu penjamah makanan harus selalu dalam keadan sehat dan terampil.
    3. Cara pengolahan makanan
    Cara pengolahan yang baik adalah tidak terjadinya kerusakan-kerusakan makanan sebagai akibat cara pengolahan yang salah dan mengikui kaidah atau prinsip-prinsip higiene dan sanitasi yang baik atau disebut GMP (good manufacturing practice).
    d. Cara pengangkutan makanan yang telah masak
    Pengangkutan makan dari tempat pengolahan ke tempat penyajian atau penyimpanan perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi kontaminasi baik dari serangga, debu maupun bakteri. Wadah yang dipergunakan harus utuh, kuat dan tidak berkarat atau bocor. Pengangkutan untuk waktu yang lama harus diatur shunya dalam keadaan panas 60 C atau tetap dingi 4 C.
    e. Cara penyimpanan makanan masak
    Penyimpanan makanan masak dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tempat penyimpanan makanan pada suhu biasa dan tempat penyimpanan pada suhu dingin. Makanan yang mudah membusuk sebaiknya disimpan pada suhu dingin yaitu < 40C. Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam, disimpan dalam suhu -5 s/d -10C.
    f. Cara penyajian makanan masak
    Saat penyajian makanan yang perlu diperhatikan adalah agar makanan tersebut terhindar dari pencemaran, peralatan yang digunakan dalam kondisi baik dan bersih, petugas yang menyajikan harus sopan serta senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan pakaiannya.

    Untuk mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal, makanan disarankan sbb;
    • Makanlah aneka ragam makanan
    • Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan gizi
    • Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energy
    • Batasi mengkonsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi
    • Gunakan garam beryodium
    • Makanlah makanan sumber zat besi
    • Berikan ASI pada bayi sampai umur empat bulan
    • Biasakan makan pagi
    • Minumlah air bersih aman yang cukup jumlahnya
    • Lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur
    • Hindari minuman beralkohol
    • Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
    • Bacalah label pada makanan yang dikemas

    Pengolahan bahan makanan disederhanakan dan didasarkan pada tiga fungsi gizi yaitu : sebagai sumber energi (padi-padian, tepung, umbi-umbian, pisang dan sagu), sebagai sumber zat pembangun (ikan, ayam, telor, daging dan susu) dan sebagai sumber zat pengatur, (sayuran dan bah-buahan).

    Sanitasi makanan ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli. mengurangi kerusakan / pemborosan makanan.

    Sumber :
    https://putraprabu.wordpress.com/2008/12/27/higiene-dan-sanitasi-makanan/
    http://www.landasanteori.com/2015/08/pengertian-higiene-sanitasi-makanan.html
    http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/plh/573-sanitasi-makanan-sehat

    Suka

  6. Nama : 1. Prida Eka Rahayu 14.10.2458
    2. Mira Irawati 14.10.2450
    Jurusan : Kesehatan Masyarakat semester V (ganjil)

    Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang dikonsumsi oleh manusia. Menurut Notoatmodjo (2003),ada empat fungsi pokok makanan bagi kehidupan manusia yaitu memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak,memperoleh energi guna melakukan aktivitas sehari-hari,mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air, mineral dan cairan tubuh yang lain, dan berperan di dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit.
    Makanan yang dibutuhkan manusia adalah makanan yang didapatkan dari hasil pertanian,perkebunan,peternakan,perikanan dan sumber daya alam lainnya. Ada 2 kategori makanan yang kita konsumsi setiap hari yaitu makanan sehat dan makanan tidak sehat.
    Makanan yang berasal dari hewan terutama daging dan telur adalah penyebab paling umum penyakit bawaan makanan. Para peneliti bekerja sama dengan Administrasi Makanan dan Obat (FDA) telah menemukan bahwa strain yang resisten terhadap salmonella sering terjadi pada daging giling ritel antara lain daging ayam, sapi, kalkun, dan babi. Tiram mentah dan kerang lainnya dapat menjadi sumber infeksi vibrio jika mereka datang dari perairan yang tercemar,terutama Teluk Meksiko. Ciri-ciri untuk makanan yang sehat yaitu yang tidak banyak mengandung lemak-lemak hewani,makanan yang tidak berformalin,rendah garam dan MSG, penggunaan penyedap rasa yg banyak, Tidak/sedikit menggunakan bahan pengawet,tidak bersantan,tidak terlalu pedas,dimasak matang agar tidak setengah matang atau over cook,menggunakan sedikit minyak goreng,makanan yang banyak mengandung sayuran atau serat,dan mengandung zat-zat gizi.
    Menghindari penyakit bawaan makanan barangkali tidak mungkin. Namun, risiko dapat diminimalkan dengan memasak yang tepat dan penanganan untuk menghindari kontaminasi silang. Risiko dikurangi lebih jauh dengan menghindari makanan yang berasal dari hewan. Namun,makanan nabati tertentu juga mungkin terkontaminasi selama produksi,pengolahan, atau penyentuhan dengan tangan. Kontaminasi pada makanan dapat disebabkan oleh parasit, zat kimia, toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme.
    Sangat penting dilakukannya Penyehatan makanan karena suatu upaya yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari bahaya-bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan.
    Maka dari itu sangat penting sanitasi dan hygiene untuk suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan manusia dan upaya menjaga dan memelihara seseorang, makanan,tempat kerja,atau peralatan agar hygienis. Jadi dalam hal ini sanitasi ditujukan kepada lingkungannya,sedangkan hygiene ditujukan kepada orangnya karena masalah hygiene tidak dapat dipisahkan dari sanitasi, dan pada kegiatan pengolahan makanan masalah sanitasi dan hygiene dilaksanakan bersama-sama kebiasaan hidup bersih,bekerja bersih sangat membantu dalam mengolah makanan yang bersih pula.

    Sumber:
    http://eprints.ung.ac.id/3031/6/2013-1-13201-811409019-bab2-27072013025202.pdf
    https://azardjr.wordpress.com/ciri-ciri-makanan-sehat-dan-makanan-tidak-sehat/
    • : https://infopemanasanglobal.wordpress.com/tag/pencegahan-penyakit-bawaan-makanan-dan-air/
    http://www.gagaje.blogspot.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: