RACUN ‘KEMANDIRIAN’

Tampilnya sosok-sosok inspiratif seperti wirausahawan yang suskses setelah di PHK dari tempat kerjanya atau pengrajin rumahan yang berhasil menyulap sampah menjadi komoditas bernilai, seringkali diidentikkan dengan pribadi-pribadi mandiri yang tegar dan tangguh di tengah keterpurukan.

Arti kata “mandiri” dalam konteks kehidupan sosial kabur dan ilusif. Bisa dimaknai sebagai deklarasi kemerdekaan diri yang tidak (banyak) bergantung dengan yang lain, atau sebagai penyangkalan terhadap fakta alami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain. Pemujaan terhadap sikap tegar, tangguh dan mandiri menjadikan pertanyaan: “berapa jumlah yang sukses dan berapa yang tetap atau lebih terpuruk?, mengapa keterpurukan sering diwariskan?,  dan mengapa sebagian terpuruk dan yang lain tidak?” terlupakan.

Ketidakingintahuan atau kemasabodohan tidak sengaja ini tidak hanya mengaburkan permasalahan yang sesungguhnya, tapi juga menekuk kemestian dan akal sehat. Demi sepenggal kata ‘mandiri’, mereka bukannya sibuk mencari jawaban mengapa mereka bisa terpuruk, tapi justru mengantri untuk dikorbankan. Sebuah pilihan luhur sekaligus menyedihkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s