Sumber Disparitas Perilaku Manusia

Ketika seseorang menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang ia cintai dengan cara yang begitu buruk, bukan sekedar fakta tentang adanya model keimanan ogah-ogahan, tapi juga tentang implikasi dari sebuah keyakinan, tepatnya keyakinan akan adanya kehidupan sesudah kematian.

Perilaku yang hanya berorientasi pada nilai guna rasionalistik materialistis dengan ekspresi keimanan ala kadarnya atau meniadakan sama sekali, dapat dipastikan merupakan representasi dari ketiadaan atau keraguan akan adanya kehidupan sesudah kematian. Karena konsekuensi logis dari keyakinan akan kehidupan sesudah kematian adalah lahirnya perilaku holistik yang tidak hanya berorientasi kepada kehidupan saat ini tapi juga nanti (sesudah mati). Tidak berhenti pada asas manfaat, masuk akal dan decak kagum orang banyak, tapi juga demi melaksanakan semua PerintahNya.

Adanya kesadaran umum tentang pentingnya pembentukan karakter disiplin, gigih, kompetitif, kreatif, inovatif, maka hal itu tak lebih dari upaya mempersenjatai diri untuk memenangkan persaingan. Esensi disparitas perilaku manusia bukan terletak pada tingkat keselarasannya dengan tuntutan obyektif kehidupan, tapi pada model keyakinan terhadap kehidupan ‘nanti’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s