Jejak Rahim pada Penderita Agoraphobia

Agoraphobia atau ketakutan yang abnormal terhadap tempat terbuka merupakan bentuk penyerahan diri terhadap godaan perasaan bahaya instingtif. Penderita agoraphobia tidak akan mendatangi suatu tempat, kecuali tempat tersebut telah dikenalnya dengan baik. Layaknya anak kecil, rasa amannya terbatas pada jarak tertentu dari tempat tinggalnya.

Menurut Freud, gejala agoraphobia sangat rumit, karena ego tidak meninggalkan jejak apapun. Untuk menghilangkan rasa bahayanya bisa dilakukan regresi atau membawanya mundur ke masa lalu, tepatnya ke masa kanak-kanak. Pada kasus ekstrim, bisa berupa tindakan regresi ke kondisi yang paling terlindungi, yaitu alam rahim (uterus).

Jejak rasa aman dalam rahim ibu ternyata tidak pernah hilang, terbawa terus hingga dewasa. Jejak ini terlalu eksis bagi penderita agoraphobia, sehingga toleransi terhadap perasaan bahaya relatif rendah.

Inti permasalahannya bukan tentang rendahnya toleransi penderita agoraphobia terhadap perasaan bahaya, tapi tentang panggilan (regresi) alam rahim. Bagaimana jika regresi berlanjut ke masa sebelum alam rahim?. Dari situlah manusia berasal dan kembali. Sejak detik pertama kelahiran, manusia sedang berjalan menuju “asal” melewati pintu bernama kematian.

Sumber bacaan : Sigmund Freud, Dictionary of Psychoanalysis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s