Ironi di Ujung Penemuan Jati Diri

Jawaban atas pertanyaan “who am I ?” menentukan seberapa tinggi kita berdiri. Dalam batas kenormalan yang bisa diterima, setiap orang tidak memilki otoritas memetakan sendiri identitasnya. Cara paling jamak dilakukan adalah membangun keyakinan umum dengan memaparkan kepemilikan simbol-simbol superioritas berupa kemewahan properti termasuk identifikasi warna kulit.

Cerita absurd tentang penemuan jati diri terjadi pada seorang anak laki-laki kulit berwarna. Ia mengkhayalkan dirinya sebagai sosok pahlawan bertopeng pemberantas kejahatan. Namun, seketika ia menghentikan khayalannya manakala menyadari tokoh idolanya tersebut adalah pria kulit berwarna. Anak laki-laki ini tengah merepresentasikan benak jaman dimana terang identik dengan bersih dan pandai, gelap identik dengan kotor dan bodoh. Ia meyakini bahwa kulit berwarna menjadi gelap setelah melalui proses pengotoran, dan  kulit putih adalah bentuk kulit berwarna yang telah dicuci dan diputihkan.

Di ujung perjuangan menemukan jati diri, dimana lingkungan bertekad menelan identitas secara permanen, terlalu banyak orang kulit berwarna mengidap regresi neurotik identitas ego seorang budak. Mereka merasa lelah dengan karikaturnya sendiri. Mereka gagal melawan godaan untuk mengidentifikasi diri sebagai individu yang tidak valid.

 Sumber : Erik H.Erikson – Childhood and Society

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s