Memerdekakan Budak Masa Kini

Menghubungkan makna budak dengan dunia kekinian, selain sebatas bahan kajian sejarah masa lalu atau kasus perilaku sosial, hampir dapat dipastikan dianggap telah kehilangan relevansi. Namun bila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa selain diartikan ‘hamba sahaya’ atau ‘jongos’, budak juga diartikan ‘orang gajian’. Maka dengan menggunakan makna yang terakhir, bukan hanya relevan, dalam wujud yang jauh lebih beradab, ‘budak’ masih menjadi bagian tak terpisahan dari kehidupan dunia kerja saat ini.

Tentu saja, penggunaan makna ini tidak bermaksud merendahkan atau menyamakan orang gajian dengan budak, karena secara fundamental kedua istilah tersebut berasal dari konsep yang berbeda.  Hubungan budak dengan tuannya dibangun atas dasar yang menguasai dan yang dikuasai, sedangkan orang gajian didasarkan pada perjanjian yang disepakati. Hanya pada eskalasi ketidakberdayaan, ketidakleluasaan, atau tingkat keminiman pilihan, keduanya berada pada jalur yang sama.

Memerdekakan orang gajian bukan berarti melonggarkan atau membebaskan sama sekali dari semua bentuk ikatan, melainkan lebih kepada upaya mengikis sekat hubungan antar manusia, sehingga antara tuan dan orang gajian bukan hanya bisa saling menyaksikan dan memahami tapi juga saling merasakan. Seperti disitir lagu It’s Amazing (Jem) :  “…… You?re gonna have to work for it. Harder and harder……. Knocking on the doors with rejection……Patience, now frustrations in the air…..And people who don’t care….Well, it’s gonna get you down“, ketidakpedulian memupuskan harapan melukai jiwa. Jika secara obyektif, kalkulatif dan kualitatif, kehidupan yang layak mustahil bisa diperoleh orang gajian melalui sistem pengupahan yang ada, lalu bagaimana mungkin terdapat begitu banyak para tuan yang tidak terusik oleh keterpurukan di sekelilingnya hanya karena merasa telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Memerdekakan orang gajian bukan sekedar keputusan menjadi tuan yang murah hati atau tuan yang sampai hati. Memerdekakan merupakan bagian dari upaya memperoleh kebajikan, baik bagi tuan maupun budaknya, sebagaimana diajarkan kepada setiap muslim bahwa kebajikan bukan tentang menghadapkan wajah ke arah timur dan barat, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman, memberikan harta yang dicintainya kepada yang memerlukan pertolongan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesempitan dan memerdekakan hamba sahaya atau budak.

Nilai kebajikan suatu perbuatan ditentukan oleh cara memaknai kebajikan itu sendiri. Seberapa ikhlas seseorang bersedia memenuhi panggilan atau perintahNya (termasuk kesediaan ‘membuang’ sebagian harta yang dicintainya demi membebaskan sesama dari himpitan beban kehidupan), sebesar itu pula makna kebajikan akan mengendon dalam kepala sebelum akhirnya merembes ke pori-pori.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s