Memproduksi Nasib Palsu, Menangguk Untung

Kita tidak hidup di dalam ruang kosong nilai, melainkan dikelilingi beragam gagasan, pemikiran dan ajaran, yang semuanya mengatasnamakan kebenaran.

Ketika ada yang bertanya, mengapa “nasib” manusia berbeda satu sama lain?. Tanpa mempermasalahkan kaya atau miskin, terpandang atau rata-rata, tidak akan menjadi lebih jelas dengan mendijawab : “itu adalah bagian dari takdir”. Karena sulit untuk menyangkal bahwa apa yang sering disebut “nasib” adalah produk dari sebuah permainan, yaitu permainan sosial.

Setiap permainan, termasuk permainan sosial, selalu ditandai dengan 3 karakteristik. Pertama, memiliki aturan sendiri. Ada ketentuan siapa yang boleh dan tidak boleh melakukan. Kedua, permainan dipelajari melalui pengajaran. Banyak yang bisa mengikuti, bukan membikin sendiri. Ketiga, setiap permainan pasti memiliki tujuan.

Dunia sosial bukan sekedar representasi kumpulan perilaku individu atau tindakan-tindakan yang terstruktur, tapi merupakan praktik sosial. Siapa yang lebih dominan mengendalikan jalannya permainan, merekalah yang memiliki banyak kesempatan untuk ‘mempermainkan’ jalannya permainan, termasuk mempertahankan dominasi beserta keuntungannya.

Bukan hanya terlalu lugu, tapi juga melawan akal dan moralitas, jika di tengah pemahaman umum bahwa disparitas kualitas layanan kesehatan akan selalu berjalan pararel dengan besarnya biaya pengobatan, dengan tenangnya dikatakan bahwa banyaknya orang miskin yang mati dalam usia relatif muda merupakan konsekuensi logis yang tak terelakkan.

Nasib palsu yang diproduksi kelompok dominan benar-benar terlihat lebih nyata dari yang semestinya. Tidak ada yang merasa terusik ketika disodori fakta bahwa segelintir orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh persen, tidak hanya berhasil menguasai 90 persen total kekayaan, tapi secara dominan juga mempengaruhi “nasib” mereka.

Apa yang kita sebut “nasib” sesungguhnya tak lebih dari sebuah perangkap yang direncanakan lewat permainan sosial. Sehingga siapa saja yang terperosok di dalamnya, baik dalam keadaan kaya atau miskin, elit atau marjinal, akan merasa hidup semestinya yang mustahil bisa berubah.

Tuhan hanya tersenyum, ketika begitu banyak orang yang meratapi “nasibnya” sambil mengumbar prasangka Tuhan telah berlaku tidak adil.

Sumber bacaan : Intelektual Kolektif Piere Bourdieu – Arizal Mutahir, Masyarakat Konsumsi – Jean P Baudrillard, Budaya Konsumen – Celia Lury

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s