Remaja dan Enmeshment

Masa remaja adalah waktu yang paling bergelojak dalam siklus hidup. Anna Freud mengatakan bahwa apa yang normal pada masa remaja tersebut akan dianggap sangat neurotik pada periode hidup lainnya. Jika masa bergejolak ini telah diselesaikan dengan cara yang sehat pada semua tahapan masa kanak-kanak sebelumnya, kita bisa membayangkan kembali batin masa anak-anak kita setelah terluka parah. Sayangnya, banyak diantara kita tidak mampu membayangkannya, karena kita tinggal di dalamnya.

Difusi peran sosial yang ditimpakan kepada remaja adalah apa yang disebut  oleh Erikson sebagai titik bahaya masa remaja. Bereksperimen dengan terlalu banyak memberi peran membuat remaja kehilangan konteks dalam memadukan kekuatan egonya. Dalam kebingungan dan kesendiriannya remaja merasa sangat ketakutan. Merasa kehilangan  sosok yang bisa dijadikan alasan untuk memberontak atau dijadikan model dalam mengambil peran. Ketiadaan orientasi ini mendorong remaja menjatuhkan pilihan pada prinsip anti-pahlawan. Produk pergolakan batin yang berlangsung di balik apa yang disebut ‘identitas negatif’. Remaja kebingungan, tidak tahu siapa dirinya, sehingga mereka mengidentifikasi diri sebagai ‘yang bukan’ atau ‘yang lain’. Dengan mengembangkan subkultur penolakan, remaja merasa telah ‘menemukan’ jati dirinya yaitu identitas negatif yang terputus sekaligus berjuang menuntut pengakuan.

Meningkatnya tuntutan peran seiring bertambahnya usia menciptakan alam isolasi dan meningkatkan kekosongan batin. Memilih sebuah peran yang paling signifikan dalam sistem keluarga (seperti dorongan untuk berkecimpung di bidang kesehatan, hukum, pendidikan, politik) sampai saat ini dianggap sebagai cara yang paling tersedia untuk menciptakan identitas. Meskipun, tidak dapat dipungkiri, keputusan menentukan pilihan karier sering memicu perselisihan dengan keluarga.

Pada usia 21 remaja berada dalam puncak kebingungan. Mereka merasakan kekosongan, tidak aman, takut dan marah. Menilai dirinya tidak berdaya berhadapan dengan masa depannya sendiri. Ketika berada di pusat kota, mereka hanya bisa diam terpaku sambil bertanya pada diri sendiri bagaimana orang-orang itu bisa memiliki pekerjaan, mobil, rumah, dan sebagainya. Di puncak kebingungannya ini keinginan untuk menenggelamkan diri dalam rasa malu menjadi sangatlah menggoda. Remaja mulai meyakini ternyata tidak bisa membuat pilihan sendiri selain menyerah dan jatuh kembali pada peran yang telah ditetapkan keluarga.

Remaja bersama subkulturnya tak ubahnya sebuah mosaik yang tersusun atas apa yang ditularkan oleh keluarga. Endapan alam keremajaan merupakan bagian dari ‘dunia’, impian, harapan, maupun kecemasan semua anggota keluarga. Jika ibunya sedih, mau tidak mau harus mendiami alam kesedihan. Demikian pula bila ayah hadir sebagai sosok yang dipenuhi rasa penyesalan atau kemuakan atas apa yang dianggapnya sebagai kegagalan hidup, anak remaja tidak memiliki pilihan selain tumbuh dan berkembang dalam dunia pesimisme dan keputusasaan.

Untuk membebaskan anak remaja dari cengkeraman enmeshment (keterperangkapan) setidaknya ada 2 hal yang layak dicermati. Pertama, badai krisis identitas bersama subkultur remaja bukan semata-mata manifestasi hormonal tapi juga merupakan proses pembangunan konstruksi sosial yang bisa dirancang dan dipengaruhi. Kedua, remaja tidak lahir, tumbuh dan berkembang di ruang kosong kecuali telah diwarnai oleh impian maupun kecemasan keluarga, dan eksistensi setiap keluarga selalu dihadapkan dengan apa yang disebut kehendak jaman. Lalu bagaimana cara menyikapinya?, disitulah kualitas dan integritas keluarga  –tepatnya orang tua–  diuji. Bukan hanya menyangkut kemampuan, kemauan dan ketulusan, tapi juga kadar komitmen atas apa yang telah menjadi keyakinannya.

 Bacaan :

  1. Growth Disorder – Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, John Bradshaw
  2. Subkultur Generasi Muda – Budaya Konsumen, Celia Lury

One thought on “Remaja dan Enmeshment”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s