Kegunaan Rasa Sakit

Mengalami rasa sakit atau nyeri adalah kondisi yang tidak dikehendaki, terlebih ketika sedang sakit atau terluka. Mulai dari memijit, melakukan gerakan atau tindakan tertentu sampai mengkonsumsi obat-obatan, kita berupaya menyingkirkan atau meredakan sesegera mungkin. Artinya, rasa sakit atau nyeri mendatangkan penderitaan, lalu bagaimana mungkin dikatakan memiliki kegunaan?.

Berdasarkan teori Gate Control (Melzack dan Wall, 1965) dijelaskan adanya substansia gelatinosa yang berfungsi sebagai alat utama membuka dan menutup pintu gerbang menimbulkan pengalaman nyeri yang terdiri dari tiga komponen : sensori/ persepsi, emosional, dan kognitif. Sistem sensori/ persepsi mentransmisikan informasi dasar sensori seperti lokasi nyeri, panas, berdenyut atau menusuk, sehingga dapat diketahui bagian mana yang sakit dan bagaimana rasa sakitnya.  Komponen emosional menentukan respons kita terhadap nyeri, sehingga diputuskan kapan untuk menghindari atau menghilangkannya. Sedangkan aspek kognitif menentukan arti dari pengalaman sensori.

Rasa nyeri juga terkait psikologis. Toleransi terhadap rasa nyeri, masing-masing individu berbeda, tergantung faktor yang mempengaruhinya. Selain derajat cedera, ansietas, banyak faktor lainnya yang juga mempengaruhi respon tingkat toleransi seseorang terhadap rasa nyeri. Diantaranya faktor budaya.  Zhorowski (1969) melaporkan, orang  Amerika dan Irlandia memiliki kemiripan dalam mengekspresikan rasa nyeri, merespons rasa nyeri dengan biasa-biasa saja, dan mereka kesulitan mengkomunikasikan rasa nyeri dengan orang yang melakukan observasi. Respons yang lebih terbuka ditunjukkan oleh orang Italia dan Yahudi. Mereka memandang rasa nyeri sebagai sesuatu yang harus segera dihindarkan dengan cara apapun.

Selain faktor tersebut diatas, toleransi terhadap nyeri juga dipengaruhi oleh kelainan individual sebagaimana pernah dialami oleh seorang gadis di Kanada (Melzack, 1973). Ia memiliki tingkat inlegensia yang cukup tinggi dan tampak normal kecuali ia tidak pernah mengalami nyeri seumur hidupnya. Ketika masih kanak-kanak, ketika mengunyah makanan ia menggigit ujung lidahnya sampai putus, lututnya pernah mengalami luka bakar setelah berlutut di atas radiator yang masih panas. Yang lebih aneh, ia tidak menunjukkan perubahan tekanan darah, denyut jantung atau pernapasan ketika semua stimulus diberikan.

Jadi rasa nyeri bukanlah penyakit seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Rasa nyeri merupakan “keadaan membutuhkan”, sebagaimana rasa haus dan lapar yang membutuhkan minum dan makan. Bersyukurlah kita dikaruniai rasa nyeri sehingga kita dengan cepat mengerti bahwa kita sedang menyentuh benda panas atau tajam sehingga dengan gerakan refleks menjauhi titik sentuh nyeri, dan kita pun terhindar dari akibat yang lebih fatal.

Sumber bacaan :

Niven Neil – Psikologi Kesehatan, Slamet IS – Markam, Pengantar Psikologi Klinis, Shea shawn C – Wawancara Psikiatri Seni Pemahaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s