Epilepsi dan Krisis Emosional Keluarga

Epilepsi atau ayan merupakan penyakit pada pusat susunan saraf yang timbul sewaktu-waktu berupa kekejangan disertai pingsan. Pemicu serangan epilepsi dimungkinkan karena adanya ambang batas rendah terhadap ledakan konvulsif atau gerakan tidak terkendali dari otot yang menimbulkan kekejangan. Penyebab maupun pencetus serangan epilepsi dibatasi pada dimensi otak, khususnya otak bagian atas (serebrum).

Lewat investigasi psikoanalisis, Erikson mengajukan pandangan berbeda mengenai serangan epilepsi. Pencetus serangan epilepsi bukan sebatas dimensi otak, tapi juga dimungkinkan oleh stumulus psikis. Meskipun pandangannya tidak berpretensi bahwa epilepsi bisa disembuhkan melalui psikoanalisis, namun dalam pengertian tertentu, Erikson menginginkan lebih dari itu.

Hasil Investigasinya menemukan fakta bahwa pada periode tertentu dalam siklus kehidupan pasien epilepsi, memanifestasikan potensi laten untuk serangan-serangan epileptik. Pendekatan ini diharapkan bisa mempengaruhi penyembuhan, terutama pada kasus dimana kerusakan disebabkan oleh kebiasaan dan gempuran serangan neurologis berat secara berulang. Investigasi terapeutik ke dalam salah satu segmen riwayat seorang anak (pasien epilepsi), bisa membuka jalan pemahaman seluruh keluarga untuk menerima krisis mereka sebagai krisis di dalam riwayat keluarga, mengingat krisis psikosomatis (kondisi di mana sejumlah konflik psikis atau psikologis dan kecemasan menjadi sebab dari timbulnya macam-macam penyakit jasmaniah atau justru membuat semakin parahnya suatu penyakit jasmaniah yang sudah ada) merupakan krisis emosional yang terjadi akibat individu (pasien epilepsi) secara spisifik merespon krisis-krisis laten yang terjadi pada orang-orang signifikan di sekitar dirinya.

Erikson menceritakan tentang seorang anak laki-laki tiga tahun yang mengalami serangan epileptik. Di tengah malam ia menangis keras, muntah-muntah, dan terkejat-kejat di seputar mata dan mulutnya. Pihak rumah sakit mendiagnosis gejala tersebut sebagai epilepsi yang kemungkinan diakibatkan lesi (luka) di belahan kiri otak.  Sedangkan investigasi Erikson menunjukkan fakta bahwa serangan epilepsi yang terjadi pada anak tersebut, lebih disebabkan oleh stimulus psikis daripada oleh ambang yang lebih rendah terhadap ledakan konvulsif. Stimulus psiksi tersebut bersumber dari rasa bersalah atas kematian Neneknya. Ia menganggap dirinya sebagai penyebab kematian neneknya. Gara-gara melihat ia bermain naik ke tas kursi dan terjatuh, neneknya mengalami serangan jantung dan harus dirawat beberapa bulan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Tidak hanya itu, Erikson juga melihat adanya peran krisis emosional yang terjadi pada keluarga anak laki-laki tersebut, yaitu ibunya. Berapa pun dalamnya stimulus psikis di dalam kehidupan seorang anak laki-laki tiga tahun, identik dengan sebagian besar konflik neurotik ibunya. Terungkap, suatu ketika entah sengaja atau tidak, anak laki-laki tersebut melemparkan sebuah boneka tepat mengenai gigi depan ibunya hingga tanggal. Ibunya memperlihatkan kemarahan begitu besar yang tidak pernah disangka oleh ibunya sendiri maupun dirinya. Toleransinya yang rendah terhadap kekerasan tersebut semakin diperendah oleh konotasi kekerasan dalam keluarganya.

Sumber bacaan : Erik. H. Erikson – Chilhood and Society, Wikipedia, KKBI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s