SECORET TAKDIR PALSU

Dari balik pandangan suram ia datang mendekat, mendekap kemudian beringsut menjauh sambil menggenggam jiwa. Selain jiwa-jiwa merdeka yang tak takluk oleh intimidasi pesona, bakal mati terkubur kerinduan. Mereka sering menengadah ke langit mengharapkan apa yang belum ada laksana cicak merindukan sayap.

Penulis berdarah Aborijin, Sally Morgan adalah salah satu pemilik jiwa tak tertaklukkan itu. Di tengah takdir palsu yang mendera bangsanya, ia genggam sepenggal harapan. Hatinya selalu terusik oleh satu pertanyaan : “mengapa sepanjang hidupnya harus mengaku pada semua orang bahwa ia orang India sementara tanpa ada keraguan dirinya berdarah Aborijin?”. Jika terhadap khayalan masa kecilnya yang ingin menjadi seorang kulit putih atau menjadi anggota keluarga kulit putih, –meskipun dengan rasa malu– ia bisa memakluminya. Tidak demikian halnya terhadap kesaksiannya bahwa di Australia pada saatnya nanti tidak akan bisa ditemui anak-anak Aborijin yang berkulit hitam berambut ikal. Semua dari sedikit yang tersisa terancam sirna. Ia hanya ingin mengatakan, bagaimanapun juga ini tanah kami, benarkah tidak ada yang dapat kami berikan?

Secoret takdir palsu yang merapuhkan jiwa ini bisa menimpa siapa saja, termasuk bangsa kita. Sayangnya, kebanyakan bangsa memilih mendiami penjara kekinian, lebih disibukkan oleh pilihan maju atau tertinggal, terpandang atau terbelakang, yang mana semua itu tak lebih ritme sesaat zaman. Sementara, meskipun tidak terlalu diyakini keberadaannya, takdir sesungguhnya dari sebuah bangsa selalu setia menanti di ujung jalan fundamental yang dipilihnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s