Seulas Senyum Langit

Biarkanlah kupotong menit dalam kain waktuku itu, dan orang-orang meninggalkan sekuntum bunga diantara halaman-halaman buku, mengukung di situ…..

Kehidupan sangatlah singkat dan kehilangan waktu pribadi berarti dosa….

Kalau rasa was-was lagi-lagi mencekamku, itu berarti rasa jenak yang amat halus menggelincir di antara jari-jemariku seperti manik-manik air raksa.

Maka biarkan saja mereka yang mau membelakangi dunia.

Aku tidak berkeluh-kesah lantaran aku melihat bagaimana diriku lahir……

Maka, kapankah aku menjadi yang benar-benar lebih, ketimbang ketika aku menjadi dunia? Aku puas sekali sebelum sempat berhasrat.

Keabadian yang pernah kudambahkan ada disana.

Sekarang, yang aku harapkan bukan lagi menjadi bahagia, tetapi semata-mata menjadi sadar.

Seorang manusia merenung dan yang lain menggali pusaranya sendiri : bagaimana memisahkan mereka? Umat manusia dan keabsurdan mereka? Tetapi itulah senyuman langit.

Cahaya mengembang. Apakah itu berarti musim panas tidak lama lagi? Tetapi memang itulah mata dan suara dari mereka yang mesti dicintai.

Aku terikat pada dunia oleh semua tingkah lakuku, dan pada umat manusia oleh segenap rasa ibaku sekaligus rasa syukurku.

Ya, antara bagian luar dan bagian dalam dunia! Ah, aku tidak mau memilih, aku tidak suka orang memilih.

Cuplikan : Mati Dalam Jiwa – Albert Camus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s