Cara Tanpa Tujuan Bukanlah Sistem Pendidikan Ideal

Tak diragukan, dimana ada manusia disitu lahir kebudayaan dan peradaban, meskipun dalam perkembangannya ada yang bangkit, berkembang, atau merosot sebelum akhirnya hilang lenyap. Faktor manusia menjadi penentu eksistensi dari sebuah kebudayaan. Memiliki sumber daya manusia yang berkemampuan bukan hanya bisa menjaga kelestariannya, tapi juga bisa menciptakan keunggulan. Dan semua itu hanya bisa diperoleh melalui proses pendidikan, tapi pendidikan yang bagaimana?.

Apa pun pilihan sistem pendidikannya, setiap produk dari sebuah proses pendidikan, baik berupa nilai, pengetahuan atau keterampilan teknis, selalu dipertemukan dengan nilai kegunaan. Sehingga sistem pendidikan berbasis manfaat praktis diposisikan sebagai satu-satunya pilihan paling laogis. Namun, semangat mengejar ketertinggalan seringkali disertai ketidakmampuan memahami implikasi alami jangka panjang atas pilihan tersebut. Teknologi nuklir sebagai salah satu prestasi fenomenal sekaligus simbol supremasi ilmu pengetahuan, meskipun secara implisit lewat berbagai aturan serta fakta seputar dampak penggunaannya memiliki sisi berbahaya yang berpotensi mengancam kehidupan, tetap diidolakan baik untuk alasan penyediaan sumber energi maupun militer.

E.F. Schumacher pernah mengatakan bahwa ketika berdiri sendiri, know-how (keterampilan teknis) :

  • tidak berarti apa-apa,
  • cara tanpa tujuan,
  • hanya sebuah potensi,
  • suatu kalimat yang tidak lengkap.

Know-how bukan suatu kebudayaan, seperti halnya piano bukan musik!. Merancang sumber daya manusia berkemampuan agar bisa menjaga, mempertajam atau mengembangkan kebudayaannya sehingga terhindar dari keruntuhan, mustahil bisa diperoleh dengan menganak-emaskan sistem pendidikan linier berbasis keterampilan teknis, memandang sebelah mata pendidikan berbasis nilai.

Apa yang sering dibanggakan bahwa ilmu pengetahuan netral atau bebas nilai tak lain adalah sebuah produk kebermanfaatan yang didasarkan pada kebenaran yang “tepat” (right) bukan kebenaran yang ”benar” (true). Sistem pendidikan yang bertumpu pada liniersasi, obyetivitas, statik dan kuantitatif, hanya mengalirkan kehebatan yang berhenti ketika berhadapan dengan sisi kehidupan yang mau-tidak mau harus diterima, yaitu ketidakteraturan. Lewat know-how, manusia bisa dengan mudah mempelajari dan memahami hakekat pergerakan sebuah mobil, pesawat, peluru, bola atau putaran roda, tapi menjadi lunglai ketika harus mempelajari pergerakan kepulan asap rokok, kawanan burung di angkasa, arak-arakan awan, atau pertanyaan absurd: “mengapa semua harus hidup jika pada akhirnya pasti mati?”

Linieri-sasi, kompetensi-sasi dan standari-sasi sistem pendidikan  baik mengatasnamakan profesionalisme maupun sebagai cara tak sengaja untuk semakin menerbang-tinggikan pungutan biaya sekolah “berkualitas” dengan cara “membersihkan” sekolah-sekolah “bermasalah”, jelas bukan pilihan ideal.

Sumber : E.F. Scumacher- Kecil Itu Indah, Yohanes Surya, Hokky Situngkir – Indonesiaku Indonesiamu V2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s