Rusa2 Buas

Membaca kata ‘buas’, search engine memori otak kita langsung mengaitkan dengan harimau, singa, buaya dan serigala, bukan rusa. Memori otak kita telah berfungsi sebagaimana mestinya, rusa sama sekali tak memliki keterkaitan dengan kata ‘buas’.

Rusa-rusa ini , kata Jiang Rong dalam Wolf Totem, sunggguh makhluk yang patut dikasihani. Serigala itu jahat, membunuhi  makhluk-makhluk tak berdosa, tak mempedulikan betapa berharganya kehidupan. Mereka layak ditangkap dan dikuliti.

Jiang Rong menyebut rusa, serigala, termasuk manusia adalah kehidupan kecil. Sedangkan rumput dan padang rumput adalah kehidupan besar. Dalam kekuasaan makhluk pemakan rumput sebagaimana rusa, nasib rumput lebih buruk dibanding nasib rusa ketika menjadi santapan serigala.  Ketika haus, rusa lari ke sungai, dan ketika kedinginan, mereka lari ketempat hangat. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh rumput ?. Meskipun menyandang predikat kehidupan besar, rumput rapuh dan menyedihkan. Akar-akarnya tidak dalam dan tak bisa kemana-mana. Siapa saja bisa menginjak, memakannya, menghancurkannya bahkan membuang kotoran di atasnya.

Jika salah satu indikator kebuasan adalah kegairahan dalam melakukan pembunuhan atau penghancuran, maka rusa-rusa membunuh jauh lebih banyak rumput daripada mesin pemotong rumput mana pun. Pembunuhan pada manusia, hewan, maupun tumbuhan, sama menyisakan kematian. Dalam menilai, menurut John L. Esposito, kita sering membiarkan diri tergoda membandingkan yang ideal dengan realita, terlalu sering takluk pada dikotomi “kita” dan “mereka”.

Terpampangnya sejumlah fakta bahwa nun jauh disana ada penderitaan di luar batas kemanusiaan, sama sekali tidak mengusik hati kita hanya karena yang menderita itu adalah “mereka”, “orang lain”. Mereka yang tidak bisa kemana-mana kecuali menunggu kehancuran dan kehinaan sebagaimana rumput-rumput yang rapuh dan menyedihkan itu bukan “kita”.

Kita bukan rusa, juga bukan serigala. Tapi menyikapi berbagai permasalahan berdasarkan pilihan dikotomis “rusa” atau “serigala”, “kita” atau “mereka”, hanya akan membuat kita jatuh terperosok ke jurang kepicikan dan kedangkalan akal.

Sumber  bacaan : Jiang Rong – Wolf Totem, John L. Esposito – The Future of Islam 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s