Dominasi Tersembunyi Dibalik Pengangguran

Tanpa berpretensi menjadi bagian dari konsep Levi Strauss  bahwa  ada ‘kode tersembunyi’ dibalik gejala yang terjadi di masyarakat sehingga masyarakat lebih utama daripada individu adalah pemikiran yang gegabah jika mengatakan menganggur, malas atau kerja keras sebagai perilaku, dimana kerja keras identik dengan karakter terpuji, menganggur sama dengan kelemahan, dan malas watak memalukan.

Pertama, tak dapat dipungkiri bahwa menganggur pada dasarnya adalah sikap yang tidak kehendaki sekalipun dalam kondisi paling tidak berdaya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari penderita kelumpuhan akibat stroke selain perasaan tidak berguna (useless), hanya menjadi beban orang lain. Secara intuitif manusia menolak menjadi seonggok daging yang hanya bisa berpikir dan berkemauan tanpa menghasilkan sesuatu yang berguna.

Kedua, kita perlu mencermati penggunaan  istilah ‘malas’ dan ‘pemalas’. Watak pemalas merupakan salah satu indikasi patologis kepribadian yang biasa disebut amorf. Sedangkan sikap malas atau malas-malasan selalu ada alasan yang melatarbelakanginya, bersifat situasional, dan bisa menimpa siapa saja, termasuk mereka yang rajin bekerja.

Ketiga, adalah sikap yang paling diapresiasi yaitu pekerja keras. layak untuk dicermati bahwa selain wujud komitmen terhadap pekerjaan, sangat mungkin keras merupakan manifestasi dorongan instingtif mendapatkan rasa aman dari rasa tidak berdaya serta ancaman persaingan. Karena, selain kesungguhan dalam bekerja, kerja keras juga ditandai dengan sikap lebih terfokus pada legitimasi dan apresiasi daripada mengembangkan nalar kritis obyektif seperti mempertanyakan seberapa adil atas apa pengorbanan yang telah diberikan dengan hasil yang diterima. Kefokusannya terhadap legitimasi dan apresiasi memposisikan pekerja keras rentan menjadi korban praktik eksploitatif terselubung.

Apa yang selama ini dipercaya bahwa lapangan kerja sempit, upah terlalu minimum, persaingan ketat, biaya pendidikan mahal, biaya hidup terus melambung, adalah penyebab pengangguran dan kemalasan, layak direnungkan kembali mengingat apa disebut sebagai biang keladi itu tak lebih dari cara menyesatkan pikiran. Adanya kelompok yang melakukan praktik dominasi lewat kekuatan uang, jaringan relasi serta intervensi terhadap sistem atau aturan, menjadi faktor yang tidak pernah terpikirkan. Selama terlindungi oleh sistem, keserakahan dan kepelitan yang dilakukan secara sistematis, masif dan senyap ini, tidak pernah ada yang mengetahui kecuali kelompok mereka dan Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s