Inti Tragedi Manusia

Kita semua adalah pelaku drama konyol komedi kehidupan.  Insiatif adalah bagian menggoda, yang dibutuhkan dalam setiap tindakan yang dipelajari maupun yang dikerjakan.

Kita adalah makhluk yang menunjukkan kesenangan dalam menyerang dan menaklukkan. Kita dirasuki oleh surplus energi yang memungkinkan untuk melupakan kegagalan dengan cepat dan mendekati hal-hal yang tampak diinginkan meskipun hal itu tampak tidak pasti bahkan membahayakan. Pada anak laki-laki peran ini diartikan sebagai tugas untuk menjadi aktif bergerak dan menyerbu. Sedangkan bagi anak perempuan dimaknai sebagai tahap untuk menangkap, yang dalam bentuk lebih agresif ditunjukkan dengan merebut, dalam bentuk lembutnya membuat dirinya manarik dan menawan.

Skenario dan peran dalam drama komedi kehidupan yang tidak selalu setara dengan harapan, menumbuhkan perasaan bersalah atas tujuan-tujuan yang dipikirkan dan tindakan-tindakan yang dilakukan. Kita sering menyaksikan bagaimana seorang anak yang begitu menikmati khayalannya menjadi raksasa dan harimau, akhirnya terjerumus ke dalam kekecewaan oleh teror kehidupannya sendiri. Tak ada jalan keluar. Anak memanipulasi habis-habisan dirinya sendiri, secara sedikit demi sedikit berupaya mengembangkan perasaan tanggungjawab moral dengan menemukan pencapaian yang menyenangkan, mengganti khayalannya dengan menenggelamkan diri menggunakan berbagai alat dan senjata mainan.

Ketika dewasa, ternyata tidak ditemukan peran lain kecuali hanya sebagian kecil. Fakta menunjukkan bahwa kata hati manusia sebagian tetap infantil sepanjang hidupnya. Itulah inti tragedi manusia. Ketika merasa harus mengembangkan sebuah kepatuhan yang berlebihan dibanding yang diinginkan,  skenario dan peran drama yang harus dijalani bisa menjadi primitif, kejam dan tidak ada kompromi, membuat kita terlalu mengendalikan diri, terlalu membatasi diri, bahkan sampai titik penghilangan diri.

Dalam patologi dewasa, residu konflik inisiatif, seringkali diekspresikan dalam bentuk penyangkalan, penghapusan keinginan atau pamer kompensasi secara berlebihan. Ketika ketakutan, kita sangat berkeinginan membenamkan diri dalam kolam kehidupan, bukan menegakkan lehernya agar tetap bisa bernafas.

Jangan mengira bahwa inti tragedi manusia ini adalah tentang kefanatikan buta, pelarian diri, atau fatalisme. Tapi, tentang diri yang terpedaya, yang selalu mencari jalan keluar dengan cara membiarkan diri tenggelam, sementara ia tahu diluar kubangan terhampar jalan lapang.

Sumber bacaan : Childhood and Society, Erik H. Erikson

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s