Kesenjangan Terencana Ditentang Islam

Dalam pandangan ideologi kapitalis, pertumbuhan ekonomi terpisah dari distribusi. Pertumbuhan kekayaan tidak harus berjalan beriringan dengan pemerataan pendapatan, sehingga kontrasnya ketimpangan kehidupan sosial antara segelintir orang dengan sejumlah besar masyarakat boleh dibilang hasil dari proses kesenjangan terencana. Kalaupun, sebagai wujud tanggungjawab moral, disana-sini didengungkan pentingnya upaya pengentasan kemiskinan, maka yang terjadi hanyalah pemberian utang, bantuan atau sumbangan, bukan mengubah sistem sedemikian rupa sehingga memungkinkan distribusi peluang dan pendapatan terbuka seluas-luasnya.

Islam menolak tatanan semacam itu. Islam mengoordinasikan pertambahan kekayaan dengan distribusi sebagai satu tujuan, demi meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan hidup para anggota masyarakat, karena Islam memandang pertumbuhan kekayaan sebagai tujuan antara, bukan sebagai tujuan akhir. Jika pertambahan kekayaan tidak menyebabkan tersebar luasnya kesejahteraan dan kenyamanan hidup di antara para anggota masyarakat, dan tidak membuat mereka bisa mengoptimalkan potensi serta bakat-bakat alamiah mereka demi merealisasikan misi mereka (sebagai khalifah di muka bumi), maka pertambahan kekayaan tidak menjalankan peran positif di dalam kehidupan manusia.

Atas dasar ini, ketika Islam menjadikan pertambahan kekayaan sebagai tujuan masyarakat. Islam mengaitkannya dengan kenyamanan, kemakmuran, dan kesejahteraan umum sebagai tujuan akhirnya. Islam menolak pertambahan kekayaan yang menghalangi tercapainya tujuan akhir tersebut, yang pada gilirannya akan merugikan masyarakat, bukannya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran mereka.

Berdasarkan prinsip tersebut ada yang beranggapan, jika Islam memegang kendali industri niscaya tidak akan mengizinkan penggunaan mesin, meskipun terbukti bermanfaat mampu melipatgandakan produksi. Islam bukan anti teknologi, tapi sebelum penggunaan mesin Islam berkewajiban memastikan adanya jalan keluar bagi berbagai masalah yang bakal dihadapi oleh para pekerja akibat keberadaan mesin tersebut. Karena jika mengizinkan penggunaan mesin semata-mata demi untuk meningkatkan produksi tanpa lebih dulu mencarikan jalan keluar bagi berbagai masalah yang akan dihadapi pekerja, berarti Islam mengingkari prinsipnya sendiri, karena menjadikan peningkatan produksi sebagai tujuan akhir, bukan tujuan antara. Berarti Islam membiarkan kekayaan pemilik pabrik tumbuh secara sepihak, mengabaikan pendapatan buruh-buruhnya.

Islam tidak bercita-cita membagun pertumbuhan ekonomi simbolis yang hanya diwakili oleh segelintir orang.

Sumber : Iqtishaduna – Muhammad Baqir Ash Shadr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s