Mengapa manusia takut perpisahan?

Ketidak-inginan mengalami perpisahan sebagaimana sering ditunjukkan oleh anak-anak yang enggan berpisah dengan ibunya atau ibu yang gelisah karena anak perempuannya akan tinggal bersama suaminya, merupakan kejadian biasa yang bisa dialami siapa saja. Namun, untuk menjelaskan mengapa manusia takut perpisahan, ternyata tidak semudah merasakannya.

Gangguan kecemasan (separation anxiety disorder) yang ditandai kehilangan toleransi terhadap perpisahan, ketika terjadi pada anak usia di bawah 3 tahun dianggap wajar. Menurut Nevid, Rathus, Green, (2003) dianggap gangguan bila gejala tersebut disertai rasa mual dan sakit perut atau berlanjut hingga memasuki usia sekolah dasar (6 – 7 tahun). Selain faktor genetis yang ikut berperan, kecemasan akan perpisahan bisa disebabkan kejadian hidup yang menekan seperti kondisi sakit, kematian anggota keluarga atau perubahan sekolah atau rumah.

Sedangkan ketakutan perpisahan (terutama saat menghadapi maut) pada orang dewasa digambarkan Heidegger sebagai gejala eksistensi otentik. Fenomena ‘kebutuhan’ yang semestinya. Berada pada situasi yang tidak dikehendaki ini manusia benar-benar menjadi dirinya sendiri. Sosok ‘kurang aslinya’ hilang. Manusia merasa menghadapi kemungkinan terakhir. Kesanggupannya melihat hidupnya (sejak lahir) sebagai aliran terus berjalan mendekati maut menjadikan manusia hidup secara wajar.

Tumbuhnya kesadaran bahwa setiap menit sangatlah berharga bukan sekedar konsekuensi logis akan datangnya maut, tapi juga merupakan pilihan cerdas sebagaimana yang dihenedaki Al Khaliq. PesanNya : “Sekali-kali jangan!. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), siapakah yang dapat menyembuhkan, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau “ (QS 75 : 26-29).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s