Dibalik Bungkamnya Para Pecundang

‘Diam’ berarti membisu, sunyi dari kebanggaan maupun kelantangan. Selain simbol inferior, ‘diam’ bagi para pecundang adalah pilihan rasional. Karena mengumbar cerita tentang kekalahan bukanlah ide yang menarik kalau tidak bisa disebut konyol.

Diam yang bergemuruh menjadi ladang subur para pecundang untuk menyemai benih-benih kemarahan, kebencian, kecemburuan dan kedengkian atas apa yang mereka sebut kesenjangan terencana. Sesuai predikatnya, para pecundang tak pernah menang, tidak memiliki andalan di hampir semua lini kehidupan. Apa yang dicanangkan sebagai ‘free market’ (bukan ‘fair market’) tak lebih dari jalan buntu yang tidak menawarkan apa pun selain nasib buruk yang tak perlu diratapi. Persaingan akal-akalan dimana pemenangnya sudah diketahui sebelum pertandingan dimulai, harus diterima sebagai kebenaran yang tak tergoyahkan. Berjuang atau diam tidak akan jauh berbeda, tidak akan pernah membawanya kemana-mana kecuali menghuni gubuk kekalahan dan kegagalan.

Kaum pecundang, masih dalam ‘bungkam’ nya, tidak pernah bisa mengerti, mengapa dibalik kelantangan gaya hidup, eksklusivitas, popularitas, maupun peluncuran otobiografi yang rentan bualan, yang disebut sebagai lambang keluarbiasaan belum bisa memberikan kata cukup. Untuk memenuhi rasa hausnya akan pengakuan, pilihan potensial tumpuan harapan datang dari mereka yang ‘tidak banyak memiliki’, siapa lagi kalau bukan para pecundang. Namun, mengungkapkan secara terus terang keinginan ini jelas tidak mungkin. Selain bertentangan dengan citra manusia yang ‘berkecukupan’, juga cukup menggelikan. Cara yang paling aman adalah mempertontonkan kelebihan yang tentu saja tidak dimilki para pecundang yaitu kesuksesan dan kemewahan.

Ternyata diam yang bergemuruh bukan monopoli para pecundang, tapi ada di dalam di setiap dada yang dahaga. Demikian pula halnya dengan suara lantang, bukan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki keluarbiasaan, tapi ada dalam setiap makhluk yang bersuara. Manusia sama sekali tidak memiliki alasan logis untuk memetakan siapa yang wajib diam dan siapa yang boleh bersuara lantang.

Hanya Pemilik Kehidupan ini yang bisa menentukan siapa yang layak mendapat pengakuan dan siapa yang dibiarkan asyik berangan-angan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s