Sejarah Sebuah Hati

Sejarah adalah fakta masa lalu, kini dan mendatang, termasuk yang tertoreh dalam hati di setiap fase kehidupan.

Sejak lahir ke dunia hingga usia dua tahun, tumbuh kepercayaan dan kecurigaan dasar yang dipengaruhi jalinan relasi timbal balik yang kuat dan tak terputuskan antara bayi dengan ibunya. Sebelum mengerti siapa dirinya, bayi hanya bisa menyimpulkan bahwa dirinya adalah apa yang diberikan kepadanya.

Menginjak usia dua sampai lima tahun, secara bertahap anak mulai menyadari dirinya berbeda dengan orang di sekitarnya. Apa yang diinginkan tidak selalu selaras dengan harapan orang lain, termasuk ibunya. Oleh sebab itu anak sering dihinggapi rasa bersalah, malu dan ragu, karena telah menginginkan sesuatu yang tidak semestinya. Pada periode ini anak melihat dirinya sebagai apa yang kukehendaki dan yang direncanakan.

Memasuki usia enam sampai dua belas tahun, anak bersentuhan dengan pengalaman baru yang cukup menganggu, kalau tidak bisa disebut menyiksa, yaitu menempuh pendidikan sekolah dasar (SD). Meskipun banyak anak-anak sebayanya mengajak bermain dan bercanda, anak tetap merasa sendirian dan terancam. Baginya berada di sekolah sama dengan mendiami ruang kosong dengan dinding-dinding dingin yang menatapnya penuh selidik. Kecemasannya mereda manakala anak merasa berhasil menyembunyikan rapat-rapat keinginannya yang dianggap memalukan. Berada dalam tekanan lingkungan anak tidak ingin menyerah apalagi menangis. Tapi dalam waktu yang sama anak juga kehilangan alasan untuk tertawa. Dari denting bel pertama hingga denting terakhir, tidak ada yang lebih mengusik kesadarannya selain kecemasan. Dalam ketidakberdayaan dan ketidak-inginannya untuk menyerah, anak menyamakan dirinya dengan apa yang dipelajari.

Tidak selang berapa lama, setelah terbebas dari ‘penjara’ SD, anak memasuki ‘penjara’ lanjutan, SMP. Di lingkungan baru ini kesadaran sosialnya bersemi. Anak mulai mengenal arti persahabatan dan ketertarikan terhadap lawan jenis. Meskipun belum sepenuhnya merasa bebas, dinding-dinding dingin yang mencemaskannya satu demi satu roboh. Di tahun ketiga anak menyimpulkan bahwa SMP adalah dunia kepalang tanggung dengan keindahan yang menawan. Terlalu minim untuk memenuhi rasa ingin tahu, terlalu luas untuk memahami semuanya.

Menginjak remaja, sekitar enam belas sampai dua puluh satu tahun, anak merasakan banyak perubahan. Semua seakan terjadi begitu saja. Alam kanak-kanak tiba-tiba beringsut menjauh. Masa SMA begitu indah sekaligus membingungkan. Sebuah alam transisional masa remaja yang memabukkan menuju dunia orang dewasa yang membosankan. Tiga tahun membenamkan diri dalam persahabatan, kesetiakawanan, keusilan, pertikaian dan cinta kasih, tidak ada yang lebih layak untuk dikenang selain bongkahan-bongkahan manis. Bau wangi masa SMA seringkali membuat remaja mencium oroma kehidupan yang sesungguhnya. Buaian suasana yang membius itu pun akhirnya pecah oleh suara gaduh canda tawa pesta perpisahahan sekolah. Dentang lonceng keruntuhan negeri khayalan menelan semua kenangan manis.

Dunia orang dewasa yang membosankan itu pun akhirnya datang menghampiri. Sekitar usia dua puluh tiga hingga tiga puluh lima tahun, merasakan ada beban berat di atas pundaknya. Meskipun dengan perasaan tertekan, anak yang beranjak dewasa mencoba menjalin relasi hangat dengan orang-orang yang baru ditemui meski tidak sepenuh hati dan tidak meninggalkan kesan apapun. Pada masa ini, seseorang hanya berjuang menghindari cap pribadi kaku.

Semakin bertambah usia, semakin matang kepribadian. Pada usia sekitar tiga puluh lima hingga enam puluh lima tahun, manusia merasa benar-benar memahami apa arti hidup ini. Secara intuitif terdorong menciptakan makna dalam setiap helaan nafas. Rasa tanggungjawab yang tidak lagi dibatasi oleh kepentingan keluarga dan orang-orang yang disayangi, tapi mencakup masyarakatnya. Manusia tidak ingin makna hidupnya menipis dan memudar hanya karena bertambahnya usia serta kesibukan mengejar materi demi memprjuangkan peran-peran simbolik.

Dengan bermodalkan sisa tenaga, pikiran dan segenggam iman, di penghujung hidup dihimpun penggalan-penggalan makna menjadi satu kesadaran utuh. Manusia ingin berdamai dengan dirinya sendiri tanpa kemuakan dan penyesalan berkepanjangan atas semua kesalahan. pada tahap ini manusia bertekad memaafkan dan mengikhlaskan semua luka hati. Mereka tidak ingin membuat pilihan lain, selain berupaya tunduk patuh pada apa yang telah menjadi ketetapanNya. Jika pada akhirnya kematian datang menjemputnya, mereka bukan hanya berserah diri, tapi juga memohon ampunanNya dan bersyukur atas semua karunia yang diterima semasa hidupnya.

Itulah sejarah hati dari 8 Tahap Perkembangan Ego (Erikson)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s