Tergilasnya Eksistensi Sebuah Makna Keimanan

Sayyid Quthb
Sayyid Quthb

Jaman tak ubahnya sebuah pasar.  Siapa saja yang ingin melakukan transaksi wajib menggunakan mata uang yang berlaku. Mata uang boleh asing asalkan telah dikonversi.

Apa pun nama sebuah jaman, baik era perbudakan, penjajahan, maupun jaman kebebasan, akan membawa manusia pada pilihan hidup transaksional. Sebagaimana mata uang asing yang bisa diterima setelah dikonversi dengan kurs yang berlaku, bentuk-bentuk pemikiran, perilaku atau keyakinan berbeda juga bisa diberi tempat asalkan muatannya selaras dengan nilai-nilai jaman. Prinsipnya, kemasan dan label boleh berbeda, isinya tetap sama.

Prinsip jaman tersebut berlaku di semua lapangan kehidupan, termasuk cara memaknai keimanan. Keimanan dalam bentuk apa pun boleh dibumikan asalkan selaras dengan nilai-nilai atau kepentingan jaman. Bila bertahan dengan kemurnian alias tidak melakukan konversi atau kompromi, bukan hanya transaksi yang dibatalkan, eksistensi pemaknaannya pun (termasuk manusia yang mengusungnya) harus dilenyapkan.

Ketika sebuah eksistensi makna keimanan yang terbenam dalam tanah karena tergilas roda jaman, menemukan momentum kembali tampil ke permukaan guna menyempurnakan keimanan, tidak lagi bisa diterima. Bukan hanya karena dianggap usang, tapi juga dipandang sebagai mayat yang bangkit dari liang kubur. Menyeramkan, tak ada yang ingin mendekati.

Demi mempertahankan paham ‘kedaluarsa’ yang bisa mengganggu stamina jaman, Sayyid Quthb harus membayar mahal, menjalani eksekusi di tiang gantungan. Berikut cuplikan pemikiran tentang sekeping mata uang keimanan yang tak mungkin terkonversikan*).

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Iagi Maha Penyayang.
Hidup di bawah naungan Al-Qur`an adalah suatu nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat harkat usia manusia, menjadikannya diberkahi, dan menyucikannya.
Segala puji milik Allah yang telah memberiku karunia dengan hidup di bawah naungan Al-Qur`an dalam suatu rentang waktu, yang kurasakan nikmatnya yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku. Kurasakan nikmat ini dalam hidupku, yang menjadikan usiaku bermakna, diberkahi, dan suci bersih.
Kutempuh hidup dengan kudengar Allah Yang Mahasuci berbicara kepadaku dengan Al-Qur`an ini, padahal aku sejumput hamba yang kecil. Adakah penghormatan bagi manusia seperli penghormatan yang tinggi dan mulia seperti ini? Adakah pemaknaan dan peningkatan harkat usia seperti yang diberikan oleh Al-Qur’an ini? Kedudukan manakah yang lebih mulia yang diberikan oleh Pencipta Yang Mahamulia kepada manusia?
Aku hidup di bawah naungan Al-Qur`an. Dari tempat yang tinggi, kulihat kejahiliahan yang bergelombang di muka bumi. Kulihat pula kepentingan-kepentingan penghuninya yang kecil tak berarti. Kulihat kekaguman orang orang jahiliah terhadap apa yang mereka miliki bagaikan kanak-kanak; pikiran-pikiran, kepentingan, dan perhatiannya bagaikan anak-anak kecil. Ketika kulihat mereka, aku bagaikan seorang dewasa yang melihat permainan anak-anak kecil, pekerjaan anak-anak kecil, dan tutur katanya yang pelat seperti anak kecil.
Mengapakah manusia-manusia ini? Mengapa mereka terbenam di dalam lumpur lingkungan, tanpa bisa dan mau mendengar seruan yang luhur dan mulia, seruan yang mengangkat harkat kehidupan, menjadikannya diberkahi dan menyucikannya?
Aku hidup di bawah naungan Al-Qur`an sambil bersenang-senang dengan menikmati gambaran yang sempurna, lengkap, tinggi, dan bersih bagi alam wujud tentang tujuan alam wujud ini seluruhnya dan tujuan wujud manusia. Kubandingkan dengan konsepsi jahiliah tempat manusia hidup, di timur dan di barat, di utara dan di selatan, dan aku bertanya, ”Bagaimanakah manusia hidup di dalam kubangan yang busuk, di dataran paling rendah, dan di dalam kegelapan yang hitam pekat, sementara di sisinya ada tempat penggembalaan yang subur, tempat pendakian yang tinggi, dan cahaya yang cemerlang?”.

*) Mukadimah Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, Sayyid Quthb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s