Pesona Produk Gagal yang Menggilas

Dalam Chilhood and Society, Erikson menceritakan bahwa kehidupan suku Sioux berjalan dengan baik di dataran tinggi Dakota sebelum orang kulit putih datang. Kawanan banteng liar bergerak di padang rumput Black Hills dan Rockies dihuni oleh rusa, berang-berang, beruang, dan hewan lainnya. Sehingga, kelaparan biasanya menjauh dari tenda mereka.

Diceritakan pula, ketika banteng-banteng liar itu mati, orang Sioux (juga) mati secara etnik maupun spiritual. Tubuh banteng bukan hanya menyediakan makanan dan bahan pakaian, selimut, dan tempat berteduh, tetapi juga barang-barang keperluan lain seperti tas, perahu, tali untuk busur, menjahit, cangkir dan sendok. Singkat cerita, orang indian yang dulunya bangga dengan jati dirinya itu telah tertimpa serangkaian bencana apokaliptik, seakan-akan alam dan sejarah bersatu untuk berperang total melawan anak-anak mereka yang gagah berani.

Kesediaan menerima kebajikan orang yang telah menaklukkannya untuk menyelamatkan kelangsungan individu atau kelompok, yang kemudian berubah menjadi kaku di bawah tekanan ketakutan akan kepunahan yang anakronistik (menyalahi zaman ), membuat orang-orang Sioux terjebak dalam peralihan mega siklus basah dan kering, antara pemborosan proses demokratisasi dan kekejaman sistem perdagangan bebas. Orang-orang indian terperangkap dalam keadaan tanpa persiapan dalam gilasan roda proletarisasi yang berputar dengan cepat dan halus.

Kini orang-orang Indian hidup dengan bergantung pada kebaikan dan kemurahan hati (sebagai bagian dari kompensasi rasa bersalah) dari orang-orang yang pernah menaklukkannya dengan perikemanusiaan yang tipis. Erikson menegaskan, seandainya (bisa) jutaan banteng dan emas yang diambil dari kawasan Black Hills dikembalikan, orang-orang Sioux tidak akan bisa menghilangkan ketergantungannya.

Layak untuk menjadi renungan, jika suku Indian Siuox yang memiliki integritas kepribadian yang demikian kuat atas identitasnya kesukuannya, pada akhirnya harus rela kehilangan semua itu dan menyerah kepada ketetapan ‘takdir’, yaitu hidup di kawasan reservasi dengan mengandalkan belas kasihan, bagaimana dengan kita yang masih berkutat dengan ketidakjelasan jati diri?. Sementara dengan mengarak panji-panji materialisme, pluralisme, liberalisme, sekulerisme, roda zaman menggilas secara sistemik, bukan hanya dengan pasti, cepat, dan halus, tapi juga penuh daya pesona.

Tergilasnya sebuah eksistensi diri atau suku bangsa, sejatinya bukan hanya sekedar konsekuensi dari kekalahan dalam bersaing atau berperang, tapi merupakan satu-satunya jalan yang mesti ditempuh guna mencapai kegagalan berulang, yang untuk orang Sioux diberi nama ‘menuju dunia yang ‘lebih beradab’ , dan ‘menjadi lebih maju’ untuk kita. Celakanya lagi, selain tidak tersedia titik untuk kembali kecuali menerima dan mewariskan ke generasi berikutnya, keberadaan produk gagal ini tidak pernah disadari, baik oleh mereka yang dikasihani (yang dikalahkan) maupun yang mengasihani (yang menang). Sempurna !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s