Rahasia Terbatasnya Waktu

Jatah waktu kita sejak kelahiran hingga datangnya kematian tidak akan berubah karena cara kita dilahirkan (secara alami atau intervensi), maupun sebab kematian (karena uzur atau bunuh diri). Jatah waktu setiap manusia tetap, tidak berkurang, tidak berlebih. Hukum kausalitas kematian tidak selalu berjalan pararel dengan habisnya jatah hidup seseorang. Berapa banyak prajurit yang bisa pulang dengan selamat dari medan pertempuran dan tidak sedikit yang gagal mati setelah melakukan upaya bunuh diri. Dan tidak sedikit pula jumlahnya mereka yang meregang nyawa saat sedang menjaga kesehatan dengan berolah raga.

Istilah ‘mati terlalu muda’, ‘sudah uzur’, ‘lebih dulu’, ‘terlalu lama’, atau ‘terlalu cepat’ hanyalah perspektif situasional-kontekstual, mengaitkan satu titik waktu (kelahiran) dengan titika waktu lainnya (kematian), sementara waktu terus mengalir tanpa henti. Manusia boleh saja mengklaim bahwa kemajuan teknologi transportasi informasi berhasil memperpendek ruang dan waktu. Bukankah yang berkurang hanyalah rasa ‘menderita’ selama menempuh perjalanan, bukan waktu (karena sehari tetap 24 jam), juga bukan jarak antara tempat yang satu dengan yang lain (karena jaraknya tetap sekian km). Ketika sepanjang perjalanan perasaan kita diliputi kenyamanan dan kesenangan, maka waktu terasa berjalan begitu singkat. Sebaliknya, bila tidak mengenakkan, waktu seperti berhenti. Yang berubah hanyalah waktu psikologis kita, bukan waktu itu sendiri. Dalam waktu kita masing-masing sesungguhnya kita benar-benar dalam kerugian, kecuali memanfaatkannya untuk keimanan, kebaikan, kebenaran, saling menasehati, dan bersabar.

Waktu tidak akan berhenti mengalir karena penderitaan, waktu tidak akan berhenti mengalir karena perbuatan tercela, waktu tidak akan berjalan cepat karena perbuatan mulia, dan waktu juga tidak akan melesat secepat kilat karena semua manusia merasa bahagia. Ketaatan atau keingkaran, kebaikan atau kehajatan, kelembutan atau kebengisan, yang membanggakan atau yang disembunyikan, hanyut dalam aliran waktu menuju muara kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan tanpa waktu.

Semua hanyalah  tentang permainan yang disepakati untuk dimainkan bersama. Akhir permainan (datangnya maut) bukanlah hal yang buruk, karena apa yang akan terjadi bila permainan dimainkan tanpa akhir, atau apa yang akan dilakukan manusia seandainya hidupnya tidak pernah berakhir?.

Manusia sangat menyadari bahwa suatu saat jatah waktunya akan habis, tapi manusia, tetaplah manusia, makhluk paradoks yang bisa mempercayai sekaligus mengingkari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s