10 Perasaan Tak Terungkapkan

Semua orang tahu apa yang Anda maksud dengan kata senang atau sedih. Tapi Anda tidak memiliki semua kata-kata untuk mengungkapkan semua keadaan emosional anda. Diantaranya adalah sepuluh perasaan berikut ini :

1. Dysphoria

Dysphoria adalah keadaan umum kesedihan yang meliputi kegelisahan, kekurangan energi, kecemasan. Perasaan ini kebalikan dari euforia, dan berbeda dari kesedihan yang tertentu karena sering kali disertai beberapa kemarahan. Anda mungkin mengalami perasaan ini setelah mengkonsumsi stimulan seperti coklat, kopi, atau sesuatu yang lebih kuat. Atau ketika Anda sedang mengalami kebosanan, situasi menyedihkan yang ekstrim, atau depresi.

 2. Enthrallment

Profesor psikologi W. Gerrod Parrott membagi emosi manusia ke dalam subkategori. Sebagian besar emosi, seperti sukacita dan kemarahan, cukup dikenali. Tapi satu bagian dari sukacita, yang disebut “enthrallment,” Anda mungkin belum pernah mendengar sebelumnya. Berbeda dengan subkategori sukacita seperti keceriaan, semangat, dan kelegaan, enthrallment adalah keadaan menggerolora yang intens. Hal ini tidak sama dengan cinta atau nafsu. Anda mungkin mengalami ketika Anda melihat sebuah tontonan yang luar biasa – konser musik, film, sebuah roket lepas landas – yang menyita semua perhatian Anda dan membubungkan suasana hati Anda, menciptakan perasaan yang luar biasa.

 3. Normopathy

Psychiatric teori Christopher Bollas mencetuskan ide tentang normopathy untuk menggambarkan orang-orang yang begitu terfokus dan larut dalam penyusaian diri terhadap norma-norma sosial, hingga menjadi semacam mania. Seseorang normotic sering terpaku dengan peniadaan kepribadian sama sekali, dan hanya melakukan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Normopathy yang ekstrim diselingi dengan pengabaian terhadap norma, yaitu ketika ia merasa berada dalam tekanan untuk menyesuaikan diri, dan menjadi pribadi yang pecah, sangat mungkin akan melakukan kekerasan atau tindakan yang sangat berbahaya. Banyak orang mengalami normopathy ringan pada waktu yang berbeda dalam hidup mereka, terutama ketika mencoba untuk masuk ke dalam situasi sosial yang baru, atau ketika mencoba menyembunyikan perilaku mereka, karena meyakini jika ketahuan, orang lain akan mengutuknya.

 4. Abjection

Ada beberapa cara untuk menentukan keternistaan, dan filsuf Prancis Julia Kristeva menulis buku tentang apa artinya mengalami keternistaan. Dia menunjukkan bahwa setiap manusia berjalan melalui periode keternistaan sebagai anak-anak kecil yang untuk pertama kalinya  menyadari bahwa tubuh kita terpisah dari tubuh orang tua kita – rasa pemisahan ini menyebabkan perasaan ngeri yang ekstrim yang kita bawa sepanjang hidup kita. Perasaan ternista akan diaktifkan kembali ketika kita mengalami peristiwa serupa. Seringkali, keternistaan Anda rasakan ketika Anda menyaksikan atau mengalami sesuatu yang begitu menjijikkan yang menyebabkan Anda muntah. Seperti melihat mayat, melihat kotoran atau luka menganga.

5. Sublimation

Jka Anda pernah belajar tentang teori Sigmund Freud tentang seks,  Anda mungkin pernah mendengar istilah ‘sublimasi’. Freud percaya bahwa emosi manusia adalah seperti mesin uap, dan hasrat seksual adalah uapnya. Jika uap diblokir dari satu katup, tekanan akan membangun dan memaksa keluar dari katup yang lain. Sublimasi adalah proses mengarahkan keinginan (beruap) Anda, dari hal-hal yang berhubungan dengan hasrat seks liar menjadi seuatu yang produktif secara sosial, seperti menulis artikel tentang psikologi, memperbaiki mesin pemotong rumput, atau mengembangkan sebuah program perangkat lunak. Jika Anda pernah mengalami frustrasi, kemudian berusaha keluar dengan cara menciptakan sesuatu, atau menemukan kesenangan yang mengasyikkan dari sebuah proyek seni, Anda berarti sedang melakukan sublimasi. Terhadap teori sublimasi, psikiater Perancis Jacques Lacan mengatakan bahwa sublimasi tidak harus berarti mengubah hasrat seksual ke kegiatan lain seperti membangun rumah. Menurutnya, itu berarti hanya mentransfer hasrat seksual dari satu objek ke yang lain.

 6. Repetition compulsion

Repetition compulsion adalah sedikit lebih rumit daripada definisi yang terkenal Freud – “. Keinginan untuk kembali ke keadaan hal-hal sebelumnya “. Seringkali, keharusan melakukan pengulangan menjadi dorongan untuk melakukannya agi dan lagi.  Coba diingat, seberapa sering Anda merasa terdorong untuk selalu memesan hal yang sama di restoran favorit Anda, atau selalu pulang dengan rute yang sama, meskipun tersdia makanan lain yang tidak kalah lezat,  dan rute lain yang lebih mudah untuk sampai di rumah. Dorongan pengulangan dalam bentuk yang kurang baik, mungkin Anda menyampaikan omong kosong, meskipun sebelum melakukannya Anda tahu bahwa itu tindakan buruk. Freud tertarik untuk mencermati sisi jahat dari paksaan pengulangan ini. Itulah sebabnya mengapa ia akhirnya memutuskan bahwa penyebab keinginan untuk mengulang berkaitan langsung dengan apa yang disebut “naluri kematian,” atau dorongan untuk berhenti menjadi ada. Menurut Freud keadaan awal dari hal-hal utama adalah keadaan non-eksistensi, keadaan sebelum kita dilahirkan. Dalm setiap pengulangan, kita bertindak keluar dari keinginan kita untuk kembali ke keadaan pra-hidup. Mungkin itu sebabnya begitu banyak orang memiliki dorongan untuk mengulangi perbuatan yang merusak, atau tidak produktif.

7. Repressive desublimation

Teori politik Herbert Marcuse menjelaskan bagaimana masyarakat bisa melewati masa-masa pembebasan sosial, seperti countercultures dan revolusi dari pertengahan abad kedua puluh, namun masih tetap berada di bawah kontrol (secara ketat) dari pemerintah dan perusahaan.  Marcuse menyebut kondisi ini sebagai keadaan emosi aneh yang dikenal sebagai “desublimation represif”. Anda masih ingat, Freud mengatakan sublimasi adalah ketika Anda rute energi seksual Anda menjadi sesuatu yang non-seksual. Sedangkan Marcuse hidup pada jaman ketika tersedia sangat banyak rute energi seksual yang bida dimanfaatkan sebagai saluran untuk melakukan hubungan seks, sebuah era kebebasan seksual dimana cinta bebas memerintah. Orang-orang bebas yang melakukan desublimating. Namun mereka terus ditekan oleh banyak struktur sosial lainnya, yang berasal dari dunia bisnis, militer, dan pemerintah. Marcuse menyarankan untuk melakukan desublimation agar benar-benar dapat membantu untuk memperkuat represi. Tindakan ini bertindak sebagai katup pelarian bagi keinginan kita sehingga kita tidak mencoba untuk membebaskan diri dari pembatasan sosial lainnya. Sebuah contoh yang baik dari desublimation represif adalah acara pesta pora yang terjadi di perguruan tinggi (di AS). Sering kali, orang di perguruan tinggi melakukan banyak minum, mengkonsumsi obat bius, sementara pada saat yang sama, mereka belajar sangat keras dan berusaha untuk bersiap-siap mencari pekerjaan. Alih-alih mempertanyakan mengapa harus membayar dengan  banyak uang untuk kegiatan belajar menghafal demi mendapatkan sebuah pekerjaan perusahaan, mematuhi aturan, melakukan pesta seks, dan mabuk setiap akhir pekan. Represif desublimation!

 8. Aporia

Anda tahu bahwa kegilaan kerena merasa hampa terjadi ketika Anda menyadari bahwa sesuatu yang Anda percayai sebenarnya tidak benar? Dan kemudian merasa lebih aneh lagi ketika Anda menyadari bahwa sebenarnya, hal yang Anda percayai mungkin benar dan mungkin tidak, sementara Anda tidak pernah benar-benar tahu? Itu aporia. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani kuno, yang juga bisa digunakan dalam teori pasca-strukturalis Jacques Derrida dan Gayatri Spivak. Alasan teori modern menyukai gagasan aporia, karena hal itu membantu untuk menggambarkan perasaan orang yang memiliki dunia informasi yang berlebihan, di mana Anda sering dibombardir dengan pesan-pesan yang tampaknya bertentangan, sama-sama benar.

9. Compersion

Istilah the compersion dipopulerkan oleh komunitas-komunitas online yang dikhususkan untuk menggambarkan kebalikan dari perasaan cemburu manakala pasangan mereka berinteraksi dengan orang lain. Bila mereka yang monogami merasa cemburu saat melihat pasangannya dicium orang lain, orang non-monogami justru merasakan compersion, yaitu rasa sukacita dalam melihat pasangannya bersenang-ria dengan orang lain. Tetapi orang-orang monogami bisa merasakan compersion juga, yaitu ketika seorang temannya memenangkan penghargaan. Mereka bisa merasakan compersion (meskipun mungkin sedikit cemburu (iri hati)  juga).

 10. Group feelings

Beberapa psikolog berpendapat bahwa ada beberapa perasaan kita yang hanya dapat dimiliki secara berkelompok – ini disebut di dalam dan antar perasaan.  Sebagai contoh, banyak orang merasa bangga dengan kebangsaannya, namun merasa bersalah atas hal-hal yang telah dilakukan oleh negara mereka, bahkan (seandainya bisa memilih) mereka tidak ingin lahir di negara tersebut. Meskipun mereka tidak ikut berperang, dan karenanya tidak bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang terjadi, mereka tetap merasakan perasaan bangga antar sesama kelompok atau merasa bersalah.

Sumber : http://www.stumbleupon.com/su/2NEHzm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s