Candu Penerimaan Diri

Selain narkotik, kecanduan belanja, dan kecanduan kerja (workholic), manusia juga dihadapan jenis kecanduan lain yang tak kalah bahayanya, kecanduan penerimaan diri.

Kecanduan ini bisa menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bedanya hanya terletak pada cara mengekspresikannya. Indikasi kecanduan penerimaan diri yang paling fenomenal tampak di dunia maya (internet). Demi mendapatkan sepenggal kata ‘suka’ serta sederet komentar dan pujian, mereka rela mengorbankan waktu, biaya dan tenaga. Ekspresi kecanduan penerimaan diri lainnya ditunjukkan oleh mereka yang status sosial-ekonominya mapan. Mereka memiliki dorongan kuat untuk memamerkan eksklusivitas dan kemewahan. Sementara mereka hidup pas-pasan berupaya mengikuti gaya hidup kelas atas-nya dengan cara berhutang (kredit) atau mengkonsumsi kemewahan tiruan (serupa dengan harga lebih murah). Sedangkan mereka yang memilih jalur prestasi intelektual berupaya menambah gelar atau label kepakaran dan mengekspresikan produk intelektualnya lewat media massa atau jurnal-jurnal ilmiah.

Mengapa manusia bisa ketagihan penerimaan diri? Bila kebutuhan tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan pengakuan eksistensi diri, maka hal itu merupakan kebutuhan yang manusiawi dimana manusia bukan hanya memiliki kebutuhan biologis dan psikologis, tapi juga sosiologis. Oleh karenanya, mendapatkan pengakuan orang lain tidak jauh berbeda dengan menerima asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Manusia bukan hanya ingin hidup, tapi juga ingin bermakna.

Kecanduan penerimaan diri terjadi bila manusia tidak lagi mampu memahami diri sendiri. Identitas diri mereka lenyap ditelan jaman yang bernama ‘kehidupan ideal’ atau ‘gaya hidup’. Manusia tidak lagi mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Yang dipahami hanya selera jaman. Kegagalan memenuhi kebutuhan tersebut menimbulkan perasaan hampa, merasa manjadi manusia ‘hilang’ (invisible man). Manusia tanpa makna seperti patung yang keberadaannya hanya untuk mengisi ruang.

Manusia berburu makna dengan cara menghilangkan diri. Manusia bukan hanya gagal memaknai diri dan orang lain, tapi gagal memaknai apa pun, kecuali berdasarkan kehendak jaman. Manusia telah dimangsa jaman ciptaannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s