Kesuksesan Otonom Tidak Butuh Pengakuan

Hidup di bawah naungan nilai-nilai kebebasan yang merelatifkan banyak hal, menjadikan kebermaknaan sebagai barang langka yang eksistensinya harus diperjuangkan. Secara kodrati, tanpa kebermaknaan manusia tidak lagi utuh, eksistensinya menjadi fragmen yang tercerai. Kaburnya batas pemisah antara yang haq dan yang batil, terpuji dan tercela, pahala dan dosa, mengakibatikan manusia gagal memahami dirinya. Mereka menjadi makhluk ‘merdeka’ namun bangkrut makna. Anugerah yang tak ternilai (kemuliaan) lenyap ditelan keliaran.

Untuk dapat eksis, mau tidak mau manusia diwajibkan menonjol dalam berbagai hal, Sebagian merasa bermakan ketika berhasil mengukir prestasi berupa harta, kekuasaan, popularitas, intelektual, serta pengorbanan dan pengabdian terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sebagian lainnya, merasa bermakna tatkala berhasil memenangkan persaingan, menumbangkan dominasi, penaklukan alam serta pameran keberanian menantang maut. Ujung semuanya bermuara pada perolehan kepuasan lewat pengakuan sosial, yang pada hakekatnya tak lebih dari cara mengukur kebermaknaan dengan menggunakan satu parameter, yaitu diri sendiri.​​

​​Hidup dalam kepura-puraan menjadi godaan yang membius. Mereka merasa telah menemukan kebermaknaan ketika berhasil menyelaraskan diri dengan kemauan sosial. Mendapat cap sebagai manusia tulus, berani, hebat, murah hati, menjadi kebanggaan yang menggelora di dalam hati. Tapi dalam waktu yang sama, juga terbersit kesadaran bahwa ketika pengakuan meredup sebelum akhirnya hilang sama sekali. Kalau ingin tetap eksis manusia ‘wajib’ berburu kebermaknaan lagi.

​​​Padahal, jika mau sedikit saja membuka pintu hati dan menanggalkan ego rasionalitasnya, manusia bisa meraih kesuksesan otonom yang kebernilaiannya sama sekali tidak ditentukan oleh apa pun kecuali kematian. Itulah kesuksesan meraih janji Allah. Kesuksesan otonom ini bisa diwujudkan hanya ketika manusia meniti jalan kepastian, yaitu jalan yang diridhloiNya, bukan menciptakan jalan sendiri, baik atas nama kebebasan, kesementaraan, kerelatifan, apalagi kepura-puraan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s