PerlindunganNya adalah Kebutuhan Tak Terelakkan

Tidak diragukan lagi, dengan kemampuan intelektualitasnya, manusia berhasil mengubah wajah dunia. Dari pandangan mistis, yang menganggap kekuatan alam sebagai penguasa yang menguasai hajat hidup manusia, diubah menjadi alam yang bisa dipelajari, dimanfaatkan, direkayasa, termasuk  “dihancurkan”. Melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia bukan hanya ingin selamat dari  ancaman bencana alam dan penyakit, tapi juga ingin hidup “selamanya”. Dengan sifat keras kepalanya, manusia terus mengembangkan kemampuannya untuk menyangkal hukum entropi (semua akan rusak dan mengurai). Lewat kemajuan teknologi obat-obatan dan kosmetika, manusia berupaya melawan proses penuaan, termasuk (seandainya bisa) melawan kematian.

Sangat memungkinkan bagi kita untuk menyusun perencanaan, persiapan, langkah antisipatif terhadap berbagai kemungkinan dengan sebaik dan seakurat mungkin. Tapi, tak ada jaminan bahwa semua itu akan berjalan  seperti yang kita inginkan. Selalu terbuka kemungkinan lain yang tidak pernah kita perhitungkan atau diluar jangkauan pengetahuan kita. Persis seperti ketika kita berlalu lintas. Di tengah kehati-hatian kita berlalu lintas, tetap terbuka kemungkinan mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh keteledoroan, kecerobohan, kesewenang-wenangan pengguna jalan lain. Manusia bisa memperhitungkan potensi atau tingkat kerawanan kecelakaan atau bencana, tapi manusia tidak memiliki pengetahuan siapa akan bertabrakkan dengan siapa, siapa yang bakal meninggal dan siapa yang selamat, kapan dan dimana bakal kecelakaan terjadi. Bayi yang diasuh dengan baik oleh ibunya, tentu keamanannya lebih terjaga daripada yang ditelantarkan. Tapi keberadaan makhluk mikroskospis seperti virus, bakteri, amuba, jamur, tetap menjadi ancaman potensial bagi kesehatan bayi, termasuk bayi yang selalu berada dalam perlindungan ibunya.

Melalui berbagai  kemungkinan yang tak terperhitungkan dan tak terhindarkan, manusia (dalam kondisi apapun), dengan sukarela atau terpaksa, akan tunduk menerima dirinya sebagai makhluk yang selalu berkebutuhan, terutama kebutuhan mendapatkan perlindunganNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s