The Significant Person

Bagi bayi, ibu atau pengasuhnya adalah satu-satunya kemungkinan. Satu-satunya dunia. Tidak ada yang lebih dibutuhkan dan lebih penting, selain kehadiran seorang ibu. Bagi bayi, kehadiran ibu bukan hanya tentang susu, belaian, dan pelukan hangat, tapi juga bagian diri yang tak terpisahkan. Tanpa ibu disisinya, bayi akan kehilangan diri, sakit, sebelum akhirnya mati. Ibu atau pengasuh merupakan “the significant person”. Oleh sebab itu, relasi kuat antara ibu dan  bayi ini dianggap sebagai faktor yang berpengaruh bagi perkembangan kepribadian seseorang.

Erikson menyebut tahap pekembangan awal kepribadian manusia ini (usia 0-2 tahun) sebagai krisis dwi kutub. Terjadi proses tarik menarik antara kepercayaan dasar melawan kecurigaan dasar. Pada fase ini, bayi menyimpulkan dirinya adalah apa yang diberikan kepadanya. Sedangkan Freud dan penerus ajaran psikoanalisa, menyebut relasi timbal balik yang kuat antara anak laki-laki dengan ibunya sebagai “kompleks oidipus’, dan “kompleks electra” untuk anak perempuan dengan ayahnya.

Bila the significant person dianggap berperan peting dalam membentuk warna kepribadian seseorang, seberapa besar andil faktor berpengaruh lainnya seperti agama, budaya, pengetahuan, pendidikan, lingkungan sosial?. Penyempurnaan kesadaran manusia berjalan seiring dengan tumbuh dan berkembang fungsi-fungsi psikologis, biologis, fisiologis, sosiologis dan seterusnya. Ketika dewasa, kehadiran “the significant person” tidak selalu diidentikkan dengan keberadaan seorang ibu atau pengasuh. Maknanya diperluas, sehingga sangat mungkin kesignifikanan seoerang ibu digantikan oleh kehadiran suami, istri, kekasih, saudara, guru, sahabat, tokoh idola, filusuf, atau Nabi. Intinya, the significant person selain mengada dalam bentuk pribadi atau individu, bisa hadir dalam bentuk keyakinan, pemikiran, ideologis, nilai-nilai moral, serta faktor-faktor signifikan lainnya.

Yang menjadi permasalahan, berbeda dengan bayi yang hanya memiliki satu pilihan “the significant person”, dalam kehidupan orang dewasa terdapat begitu banyak “the significant person”. Mulai dari pribadi yang merepresentasikan kesignifikanan dirinya berdasarkan kerupawanan, kepopuleran, kekayaan dan kekuasaan hingga yang berujud pemikiran menakjubkan, kemanusiaan yang menggugah hati, dan ideologis yang membius jiwa. Semua menawarkan harapan dan pengorbanan.

Kepada siapapun kita mengabdikan diri, atau meniti jalan manapun, selalu ada konsekuensi yang harus kita pikul. Termasuk memilih untuk tidak memilih. Hanya dengan berserah diri dan mematuhiNya, kita pasti akan bertemu dengan ‘ the significant person” menurut kehendakNya sebagaimana bayi yang tidak pernah memilih siapa ibu atau orang tuanya.

Selamat Hari Raya Idul Adha  1433H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s