Perilaku asosial tidak selalu buruk

Dalam kehidupan sosial selalu berlaku kaidah-kaidah umum yang digunakan untuk mengukur perilaku seseorang. Salah satunya adalah kaidah untuk menentukan, apakah seseorang tersebut dianggap bisa bersosialisasi atau tidak.

Perilaku umum seperti saling bertegur sapa, menjenguk orang sakit, melayat orang meninggal, gotong royong, menghadiri undangan, aktif mengikuti kegiatan bersama, merupakan bentuk-bentuk perilaku yang sering dijadikan indikator untuk menentukan apakah seseorang mampu bersosialisasi atau tidak.

Lalu, ketika terjadi ketidakselarasan antara perilaku seseorang dengan perilaku umum masyarakat, secara reflektif masyarakat akan menimpakan kesalahan pada sisi individual. Sementara pada kenyataannya, permasalahan perilaku sosial bukan hanya tentang transaksi sosial antara kesediaan mengorbankan kepentingan pribadi dengan dorongan keegoisan. Tapi juga tentang kondisi masyarakat itu sendiri.

Sebagaimana individu yang memiliki idealisme, pemikiran, pemahaman dan perasaan, masyarakat juga memiliki hal yang sama. Ada masyarakat yang “berkepribadian utuh”, dalam ari, antara idealisme, pemikiran, pemahaman dan perasaan menjadi satu kesatuan. Ada juga masyarakat yang terbelah, sebagaimana terbelahnya kepribadian “split personality”.

Tidak satu anggota masyarakat pun yang menginginkan anak-anaknya menjadi manusiantidak berguna atau menjadi pribadi bermasalah. Semua elemen masyarakat tidak menginginkan adanya generasi penerus yang kacau, bingung, dan rusak. Tapi, kalau kita cermati, apakah yang dilakukan masyarakat sesuai kapasitasnya masing-masing, sudah sejalan dengan keinginannya tersebut?  Bukankah pada umumnya masyarakat terlalu familier dan mendiamkan  ketika terjadi praktik korupsi, zina, riba, mengumbar aurat dibudayakan oleh pribadi-pribadi yang mengaku sebagai orang beriman. Praktik perilaku kontradiktif  (terbelah) antara ucapan dan tindakan, harapan dan ikhtiar dalam segala bentuknya, menggejala di hampir setiap sendi kehidupan. Mungkinkah generasi idaman lahir dari rahim masyarakat yang mengandung benih sekulerisme, liberalisme, materialisme, hedonisme, kumsumtivisme?.

Jika memang demikian keadaannya, mengikuti perilaku umum secara selektif  dan bila perlu menentangnya, merupakan pilihan rasional dan benar, daripada mengikutinya (dengan semua konsekuensinya) hanya karena takut dinilai asosial.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s