Siapakah manusia yang benar-benar pintar itu?

Tak ada keraguan sedikit pun bahwa para pemikir, filusuf, ilmuwan, cendekiawan, serta orang-orang berprestasi lainnya adalah manusia-manusia pintar yang memiliki andil besar dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Sementara mereka yang tidak mampu berprestasi secara menonjol bukan berarti disebut manusia bodoh. Tapi,secara otomatis, akan dikategorikan sebagai manusia biasa yang tidak termasuk sebagai manusia pintar.

Nabi memberikan nasehat kepada manusia bahwa manusia pintar itu adalah yang mengingat mati. Artinya, siapa saja yang mau mengingat mati, maka ia termasuk dalam kategori manusia pintar. Pertanyannya, bagaimana bisa dikatakan bahwa ‘mengingat mati’  berkaitan dengan kepintaran?.

Pada dasarnya, eksistensi manusia berada dalam 4 kesadaran. Pertama, kesadaran fisik, yaitu kesadaran akan adanya badan jasmani (tubuh) tanpa ruh. Kedua, kesadaran untuk hidup, yaitu makan, minum, bernafas, berkembang biak sebagaimana yang naluri yang dimiliki tumbuhan. Ketiga kesadaran mencari kesenangan, kenyamanan, kenikmatan, bertahan hidup, sebagaimana yang dilakukan hewan. Keempat, kesadaran sebagai manusia yang bukan hanya berupaya bertahan hidup dan mencari kesenangan, tapi juga mampu menganalisa, berpikir kritis, bermoral, serta membangun harapan masa depan, termasuk meyakini akan adanya kehidupan sesudah mati.

Kepribadian manusia, dipengaruhi oleh intensitas 4 kesadaran tersebut. Bila intensitas kesadaran fisik, tumbuhan atau hewan lebih dominan, hampir dapat dipastikan, manusia akan tumbuh menjadi pribadi yang hanya berorientasi pada kesehatan fisik dan hal-hal yang menyenangkan semata. Sebagaimana tumbuhan dan hewan yang hanya berupaya menghindari kematian, tanpa pernah memahami bahwa suatu saat pasti mati. Hanya manusia yang memiliki kesadaran akan adanya maut yang suatu saat pasti datang.

Dengan demikian, sehebat apapun yang dilakukan manusia, sepanjang tidak pernah mengingat mati, berarti secara sadar telah memilih menjadi manusia yang merugi dan mengingkari kebenaran. Pilihan semacam ini tidak akan pernah dilakukan oleh manusia yang pintar. Jadi, asalkan mau mengingat mati (beserta konsekuensi dan implementasinya), semua manusia adalah pintar. Insyaallah

2 thoughts on “Siapakah manusia yang benar-benar pintar itu?”

    1. Terimakasih atas kunjungannya. Kalau tidak salah, menurut kamus Bahasa Indonesia ‘benar’ artinya sesuai sebagaimana adanya,sedangkan ‘pintar’ artinya pandai. ‘Benar’ merujuk pada satu ukuran nilai tertentu (baik berdasarkan akal maupun keyakinan), sedangkan ‘pintar’ adalah predikat kemampuan seseorang dalam mendapatkan kebenaran. ’Benar’ dan ‘pintar’ bukan untuk dipilih seperti memilih barang ‘murah’ atau ‘kuat’, tapi dua hal berbeda yang saling berkaitan sebagaimana matahari dan cahayanya. Jadi, mengapa mesti dipilih?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s