Seberapa besar andil manusia menciptakan penderitaan sesamanya ?

by Catilla Art & Workshop

Tidak disangsikan lagi, setiap orang menginginkan kebahagiaan sepanjang hidupnya. Namun sayangnya, hal itu tak mungkin bisa diwujudkan. Suka-tidak suka, setiap manusia harus menerima kenyataan yang tak terelakkan bahwa selain terbuka untuk berbahagia, manusia juga ‘wajib’ bersedia menderita.

Dalam bingkai kehidupan yang fluktuatif-dinamis antara keimanan-keingkaran, kebahagiaan-penderitaan, kekuatan-kelemahan, kesalehan-kefasikan, kebaikan-kejahatan, dan seterusnya, tujuan penciptaan manusia sebagai makhluk sosial, tampak  lebih kongkrit. Dengan ketidakmampuannya untuk hidup sendiri, menjadikan manusia saling membutuhkan satu sama lain. Kekurangan manusia yang satu secara timbal balik ditutupi oleh kelebihan manusia lainnya, sehingga membentuk jaringan interaksi sosial yang sangat kompleks.

Jika penderitaan adalah hal yang tidak dikehendaki oleh semua manusia, dalam sistem sosial yang saling berkaitan tersebut, muncul petanyaan, seberapa besar manusia yang satu memiliki andil atas penderitaan manusia lainnya?.

Jawabannya tentu bukan terletak pada tingkat kemampuan kita dalam mengidentifikasi dan memetakan perilaku setiap orang yang berdampak buruk bagi manusia lainnya. Tapi lebih kepada tingkat kemampuan manusia dalam mengendalikan potensi perilaku destruktif yang ada pada dirinya. Dan, untuk mendapat  tingkat pengendalian seperti yang diharapkan tidak hanya ditentukan oleh kemauan dan kemampuan, tapi secara sistematik akan dipengaruhi sistem sosial yang melingkupinya seperti nilai-nilai agama, ideologi, budaya, politik, ekonomi dan seterusnya.

Artinya, kontribusi manusia terhadap penderitaan sesamanya relatif lebih kecil jika sistem yang berlaku berjalan selaras dengan upaya pengendalian potensi perilaku destruktifnya. Dan akan terjadi sebaliknya, bila sistem sosialnya bersimpangan jalan, terlebih lagi bila bertolak belakang.

Namun, kecuali sebagian kecil, pada umumnya manusia lebih senang memilih mengikuti dorongan nalurinya dari pada memenuhi panggilan hati nurani serta akal sehatnya. Dan pilihan tersebut ‘tidak salah’ karena selaras dengan system yang berlaku saat ini. Atas nama kehidupan yang ‘bekualitas’, manusia dianjurkan untuk menjatuhkan dirinya ke dalam kubangan naluri konsumtif-hedonis. Demi membahagiakan diri beserta anak cucunya, watak egois, takabur, serakah, pelit, korup, manipulatif, dan yang sejenisnya dikembang biakkan secara turun-temurun. Manusia bukan hanya tidak mengetahui seberapa besar dirinya memiliki andil terhadap penderitaan sesamanya, tapi memang tidak ingin memikirkannya. Penderitaan orang lain dipahami sebagai konsekuensi logis dari perjuangan hidup di tengah persaingan yang semakin sengit.

Secara sadar manusia menanggalkan pakaian kemanusiaannya. Dengan membiarkan ‘persaingaan’ (ber-rebut’) menjadi bagian dari tatanan sistem sosial yang ‘wajib’ dijalani oleh setiap manusia, maka apa bedanya manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sementara pilihan lain yang lebih manusiawi, yaitu ‘berbagi’ masih bisa dilakukan. Bukankah ‘berbagi’, termasuk berbagi kebahagiaan (agar orang lain tidak menderita), hanya bisa dilakukan oleh manusia, bukan oleh yang lainnya?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s