Putus Asa : Sewenang-wenang dan Tidak Rasional

Diantara kemampuannya memelihara kesabaran, secara potensial manusia tetaplah makhluk yang tergesa-gesa, tidak sabar, dan mudah putus asa.

Salah satu faktor yang menyebabkan manusia tergesa-gesa atau tidak sabar adalah faktor egois. yaitu sebuah karakter yang berpusat pada diri sendiri. Apa yang berlangsung di sekelilingnya, termasuk yang terjadi pada dirinya, tidak dinilai kecuali berdasarkan ukuran yang sesuai dengan kemauan atau kepentingannya sendiri. Baik atau tidak baik, beguna atau sia-sia, cepat atau lambat diputuskan secara sepihak berdasarkan kemauan dan kepentingannya. sehingga manakala dirinya menilai bahwa telah menunggu terlalu atau diperhitungkan akan memakan waktu lama atau dianggap akan merugikan, muncullah ide untuk bersikap tergesa-gesa atau tidak sabar.

Sedangkan kecenderungan mudah berputus asa ketika menghadapi masalah (terutama yang dianggap pelik), banyak didasarkan pada pertimbangan yang mampu dilakukan dengan mudah saat ini juga, tanpa merasa perlu memperhitungkan dampak yang ditimbulkan oleh tindakannya tersebut. Perilaku sewenang-wenang ini bila diarahkan kepada orang lain disebut kedzoliman, karena biasanya obyek yang menjadi sasaran kesewenang-wenangan lemah, tak berdaya, tidak sebanding kekuatan atau kemampuannya. Sedangkan bila diarahkan kepada dirinya sendiri, kesewenang-wenangan akan berujung pada tindakan menganiaya diri, baik sebatas kehilangan selera makan, keengganan menjaga kesehatan, maupun bunuh diri.

Dan penyebab yang paling mendasar selain faktor-faktor tersebut di atas (sebagai makhluk yang beriman) adalah kegemarannya untuk merasa selalu berkekurangan. Ingkar terhadap apa yang telah diterima atau dimilikinya. Kegemarannya melihat ke atas ini (enggan melihat ke bawah) menjadikan manusia abai terhadap peran Tuhan sebagai Pemilik dan Penguasa kehidupan berserta semua permasalahannya. Bahasa lainnya, manusia telah terkikis rasa keberimanannya. Eksistensi Tuhan yang tidak terlihat kecuali dengan keimanan itu, telah sirna dari pandangan mata hatinya.

Ironis, manusia menggunakan akalnya dengan cara tidak berakal. Manusia menjadikan akalnya sebagai satu-satunya tumpuan sekaligus harapan. Sementara mereka sangat memahami bahwa akalnya (pengetahuannya) memiliki banyak keterbatasan.

Sifat ‘aneh’ manusia ini banyak dibeberkan oleh Tuhan, agar menjadi peringatan dan pengajaran :

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (QS 41:49)

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (QS 11:9)

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu dari padaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, (QS 11:10)

….mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. (QS 29:23)

Sikap putus asa menjadikan manusia sebagai maklhuk beriman yang sewenang-wenang dan tidak rasional.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s