Transaksi Psikologis Seorang Pengecut

Dalam kehidupan sosial, terlebih dalam dunia militer, sifat pengecut wajib dihindari. Kewajiban ini tercermin dari penilaian sosial yang mencapnya sebagai sifat tercela. Sedangkan dalam dunia militer, penilaiannya lebih tegas lagi, yang melarikan diri dari medan tempur layak dihukum mati!.

Bila ditanyakan, mengapa seseorang lari dari medan tempur?. Secara otomatis, kita menjawab, karena takut mati!. Kalau tensi pertanyaannya diturunkan, mengapa manusia takut rugi?, jawabnya karena takut hartanya berkurang!. Demikian juga, bila tema kejadiannya lebih diperlunak, mengapa orang takut berbicara di muka umum?, jawabannya juga senada, karena takut mendapat rasa malu lantaran salah bicara!.

Mungkin kita tidak setuju sikap ‘takut mati’ disetarakan dengan ‘takut rugi’ atau ‘takut mendapat rasa malu”. Karena, pada umumnya semua orang takut mati. Tapi, tidak semua orang takut rugi atau takut menanggung rasa malu.

Terlepas perbedaan persepsi atas makna tiga jenis sikap tersebut, satu hal yang pasti, semua sikap tersebut berasal dari sumber yang sama, yaitu ketidak-inginan mengalami kehilangan, atau ketidakrelaan mengalami penderitaan. Kematian, kerugian, atau rasa malu hanyalah nama lain dari nilai kehilangan. Kalau pun kehilangan nyawa dipandang sebagai puncak kehilangan tertinggi, karena tak tergantikan. Sehingga tidak pada tempatnya menyetarakan dengan kerugian atau mendapat rasa malu. Hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa ketiga sikap tersebut merupakan manifestasi dari rasa tidak ingin mengalami kehilangan.

Rasa takut terhadap kematian (dengan bahasa terbalik : rasa cinta yang kuat terhadap kehidupan dunia) pada tingkat yang tak terkuasai, bisa memicu terbentuknya kesadaran paradoks. Manusia merasa hidup dalam dua kutub, antara ketidak-inginan menemui kematian dan ketidakberdayaan menghadapinya. Secara instingtif, kondisi ini mendorong manusia melakukan transaksi psikologis dengan harapan bisa mendapatkan ‘keuntungan’. Manusia berupaya selalu memperoleh kebahagian dimana pun dan sampai kapan pun. Tidak ingin mengalami penderitaan sekecil apapun. Tidak ada kehilangan, tidak ada kekecewaan, tidak ada kerugian, tidak ada masa tua, tidak ada penyakit, dan (seandainya bisa) tidak ada kematian.

Lewat proses transaksi psikologis tersebut, tanpa disadari, manusia telah memupuk watak manipulatif, yang kemudian diekspresikan dalam bentuk sikap oportunis, egois, iri, dengki, licik, kikir, serakah, dan pengecut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s