Bersabar itu bukan pilihan, tapi kebenaran!

Bila suatu ketika kita dihadapkan dengan problem kehidupan yang pelik yang memaksa kita memeras otak dan menguras emosi, maka menyikapi dengan sabar bukan hanya terasa berat, tapi juga mustahil.

Kita sering memandang kesabaran sebagai pilihan bijak, bukan pilihan benar. Ketika memutuskan untuk bersabar, kita mengasumsikan diri kita sedang menitih jalan lurus yang hanya mengedepankan dimensi moral, mengabaikan materi dan harga diri. Meskipun ada penggunaan ungkapan sabar yang  berorientasi pada imbalan materi, seperti yang dilakukan oleh tenaga pemasaran atau penjual jasa. Dengan bermodalkan kesabaran, walaupun telah berulang kali ditolak, bahkan tidak jarang disertai makian, seseorang yang bekepentingan untuk memasarkan atau menjual barangnya akan berupaya bersabar dan berusaha tetap ramah.

Pada dasarnya spirit yang terkandung dibalik sikap ‘sabar’ ketika berbisnis berbeda dengan sikap ‘sabar’ ketika menghadapi cobaan hidup.  Dalam berbisnis, sikap ‘sabar’ lebih menekankan faktor keuletan atau kegigihan berikhtiar. Sikap sabar jenis ini pada umumnya berjalan pararel dengan besar kecilnya peluang yang ada. Dorongannnya tetap menguat ketika peluang terbuka luas, dan akan mengendur seiring dengan hilangnya peluang untuk memperoleh keuntungan materi. Sikap sabar yang sesungguhnya bukan hanya berhenti pada keuletan atau kegigihan dalam berikhtiar, tapi juga mengandung unsur penyerahan diri, pengorbanan, kerelaan untuk kehilangan sesuatu yang dianggap berarti seperti materi, kehormatan, kenyamanan, kemenangan, kesenangan, dan balas dendam. Tidak ada yang lebih memotivasi seseorang untuk bersabar, kecuali demi mendapatkan  ‘kebaikan’.

Makna ‘kebaikan’ tersebut bila diterjemahkan secara bebas, tentu artinya luas sekali. Bisa berarti kehidupan yang mapan, kondisi tubuh yang sehat, lebih pandai, lebih terampil, dan lain sebagainya. Lalu, ‘kebaikan’ yang bagaimana yang akan diraih melalui sikap sabar?.

Contoh sikap sabar paling populer dan boleh dibilang paling ‘ekstrem’ adalah sikap sabar yang ditunjukkan oleh nabi Ismail as. ketika akan disembelih ayahnya, nabi Ibrahim as. Ismail berkata kepada Ibrahim : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS 37 : 102). Jadi makna ‘kebaikan’ adalah kepatuhan untuk menjalankan apa yang diridhoiNya (sesuai dengan aturanNya).

Kalau nabi Ismail as. sangat meyakini bahwa dengan bersikap sabar akan mendapatkan ‘kebaikan’ yang sesuai dengan kehendak Allah, dan terbukti ‘kebaikan’ tersebut benar. Maka, ketika kita menghadapi cobaan hidup (meskipun tidak seberat cobaan nabi Ismail as.dan nabi Ibrahim as.), bersikap sabar (sesuai dengan aturan Allah) juga merupakan sikap yang benar.

Menjadikan sikap sabar sebagai pilihan untuk tidak dipilih, selain tidak menjadi jaminan masalah kita akan terselesaikan, juga hanya menambah dosa! (karena menentang aturanNya). Semoga !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s