Catilla

Pada level yang tak begitu teramati, watak infantil juga mempengaruhi cara pandang seseorang dalam memaknai hidupnya. Seperti yang terlihat ketika manusia memaknai hidupnya hanya berdasarkan apa yang telah diraihnya, khususnya materi. Siapa saja yang tidak mampu membuktikan diri meraih kesuksesan sesuai dengan kaidah-kaidah yang lazim berlaku di masyarakat, maka tak pelak lagi akan dikategorikan sebagai kelompok manusia gagal. Demikian juga sebaliknya, melalui kesuksesannya menghimpun harta, kedudukan dan kedermawanannya, seseorang tak perlu membuktikan apa-apa kecuali mempersiapkan diri menjadi sosok panutan yang kisah suksesnya diabadikan dalam buku biografi agar menjadi inspirasi bagi mereka yang belum sukses. Cara memaknai hidup seperti ini, disadari atau tidak, telah mereduksi hakekat manusia dari makhluk bebas yang dengan potensi akalnya memiliki banyak pilihan, menjadi makhluk terkandang hanya dengan satu, dua pilihan. Tak ada keharusan bagi manusia untuk membatasi pemakmanaan hidupnya hanya berdasarkan tingkat pemenuhan kebutuhan, keinginan maupun impiannya. Termasuk membiarkan dirinya tersedot dalam pusaran falsafah budaya komsumtif…

Lihat pos aslinya 394 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s