Mengapa Materi Lebih Menggoda ?

Sejak masa kanak-kanak, umumnya kita sudah mendapat pendidikan tentang pentingnya materi. Hal ini sering diajarkan secara tidak langsung melalui pertanyaan, apa cita-citamu?. Jawaban yang diajarkan biasanya berkisar pada jenis profesi atau jabatan, seperti menjadi dokter, insinyur, presiden, pengusaha, tentara, dan lain sebagainya, yang kesemuanya berorientasi pada dimensi strata sosial yang sekaligus diharapkan juga bernilai ekonomis.

Ketika kita dewasa, kita pun tidak meragukan kebenaran ajaran tersebut. Tanpa perlu pemikiran atau penjelasan, semua orang sangat memahami bahwa materi memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Bahkan, bila dikaitkan dengan fenomena jaman, boleh dikatakan materi adalah hal yang paling utama. Saat ini, hampir tak satu sendi kehidupan pun yang tidak bersinggungan dengan materi. Dalam segala bentuknya, materi mampu menunjukkkan supremasi kebernilaiannya. Bukan hanya bisa digunkan untuk mengukur tingkat kesuksesan, tapi secara sistematis, juga memungkinkan dijadikan dasar untuk menentukan nilai kebenaran, keadilan, dan kehormatan.

Mengapa fungsi materi digeser ? Dari fungsi alaminya sebagai sarana untuk menunjang kehidupan, diperluas menjadi dasar penilaian strata sosial, termasuk menjadi sarana yang mampu mempengaruhi nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kehormatan.

Semua ini bisa terjadi tidak terlepas dari sifat khas materi yang kongkrit, realistis dan instan. Faktor-faktor lainnya (yang sering dianggap paling bernilai) seperti integritas, intelektualitas dan moralitas, tidak mampu menimbulkan efek sosial se-kongkrit, se-realistis, dan se-instan materi. Untuk dapat menilai apakah seseorang tersebut orang cerdas, orang pandai, orang jujur, orang tulus, atau orang santun, tidak bisa diberikan sebelum mengenal atau berinteraksi dengan mereka. Sedangkan untuk menilai strata sosial ekonomi seseorang, cukup dengan memperhatikan penampilan dan gaya hidupnya (tanpa perlu mengenal atau berinteraksi), kita mampu menyimpulkan tingkat status sosial seseorang tersebut.

Selanjutnya bisa dibayangkan, apa yang bakal terjadi, bila materi tidak hanya difungsikan sebagai sarana pemberi sinyal atau simbol status sosial seseorang lewat penampilan dan gaya hidup, tapi (secara ikhlas maupun pamrih) juga ditandaskan melalui pemberian sumbangan atau santunan kepada orang-orang yang bersedia menerimanya. Efek sosialnya yang ditimbulkannya tentu jauh lebih besar, tak terkecuali terhadap sendi-sendi kehidupan yang berkaitan dengan nilai kebenaran dan keadilan.

Dengan demikian adalah hal yang semestinya bila banyak orang yang tergoda untuk menjadikan materi sebagai motivator sekaligus acuan utama dalam mengembangkan perilakunya di berbagai aspek kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s