Tertawa dan Menangis, Mana yang Lebih Bernilai?

Ketika kita melihat kejadian yang lucu, kemudian tertawa, kita tidak mampu menguasai diri, seperti tergelincir karena kulit pisang. Diri kita dikendalikan oleh dorongan liar yang bergerak otonom. Bagi kebanyakan orang, menahan untuk tidak tertawa lebih sulit daripada berusaha tidak menangis.

Jika tertawa menjadikan kita kehilangan kendali diri, menangis membuat terbenam ke dasar kesadaran diri. Kita menjadi terlalu sadar dan kehilangan keinginan, pengakuan, harapan, maupun penghormatan. Dada kita tersumpal bongkahan tajam menyayat, yang rasa sakitnya kian sempurna saat beberapa pasangan mata menatap penuh iba. Kita terjatuh dalam penyerahan diri ke titik terendah.

Lalu, mana yang lebih bernilai, tertawa atau menangis?.

Suasana batin saat berada di puncak kejayaan dan keterkenalan mirip dengan ketika sedang tertawa, manusia kehilangan kendali diri. Untuk mempertahankan suasana yang melegakan ini manusia membiasakan diri hidup di luar kespontanan, dan kelumrahan. Perilakunya selalu dirancang sedemikian rupa sehingga selalu berada di luar kelaziman. Dan pada tingkat yang tak terkendali, mereka benar-benar menjadi “manusia aneh”. Baik bagi orang lain, maupun bagi diri mereka sendiri. Akumulasi dari kebiasaan ini menimbulkan rasa keterasingan, yang sering dicurigai sebagai faktor pemicu terjadinya perilaku peniadaan diri, yang dalam bentuk ekstremnya berupa  tindakan bunuh diri.

Tidak berbeda jauh dengan ketika manusia tertawa yang bisa membuat seseorang tidak bisa mengendalikan diri atau lupa diri. Membiarkan diri larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan, cepat atau lambat akan menjerumuskan seseorang ke dalam jurang keputusasaan. Dalam hidupnya tak ada yang bisa dilihat, kecuali kegagalan, kebuntuan, ketercampakan, ketidakbergunaan, yang akhirnya bermuara pada keinginan menghilangkan diri, termasuk bunuh diri.

Diantara pilihan untuk tertawa atau menangis, manusia masih mungkin mengembangkan alternatif yang ketiga,  yaitu bersikap sinis. Sebuah alam kesadaran yang dimiliki oleh mereka yang tidak ingin menderita, namun merasa tidak berdaya menolaknya. Tidak ingin menangis, tapi juga tidak mampu tertawa.

Kalau boleh dibilang ada alternatif ke empat, maka itu adalah tidak memilih ketiganya. Karena, selain tidak ada keharusan untuk memilih (tertawa, menangis atau sisnis), bergantinya tertawa menjadi menangis atau sebaliknya, menjadikan manusia selalu bertanya, “siapa diri mereka sebenarnya ?”. Sehingga, sebelum menemukan jawaban yang pasti, manusia dengan semua kelebihan dan kekurangannya, tidak memiliki alasan untuk terlalu berbangga diri ketika meraih kesuksesan, dan merasa terhina ketika mengalami kegagalan.

Selain itu, jika penentuan pilihan ini dimaksudkan untuk membangun optmisme, bukankah optimisme hanya bisa dibangun ketika manusia bersedia menerima kenyataan bahwa mereka adalah makhluk yang tidak mungkin tidak berkebutuhan, dan juga tidak memiliki alasan untuk mengingkari semua nikmat yang telah dinikmatinya. Meskipun dalam kenyataan, masih banyak manusia yang beranggapan bahwa optimisme terletak pada upaya agar hidup selalu terlihat menyenangkan, sehingga mereka bisa menjalaninya dengan selalu tertawa.

Sedangkan “dunia kesinisan” biarlah menjadi permainan mereka yang memandang hidup ini dengan kebimbangan.

Bagaimana dengan anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s