Berburu kebenaran di belantara ketakjuban dan kepatuhan buta

Dalam setiap masa dan tempat, selalu ada seseorang atau sekelompok orang yang mampu mempengaruhi dan menggerakkan orang lain sehingga mau bertindak dan berperilaku sebagaimana yang diharapkan oleh seseorang atau kelompok tersebut. Mereka biasanya jumlahnya tidak banyak. Minoritas, tapi dominan. Pengaruh mereka bukan sebatas tataran inspiratif sebagaimana yang dilakukan para trendsetter dan motivator, tapi benar-benar mampu mempengaruhi pada taraf yang terkuasai. Banyaknya orang yang takjub dan mematuhi apa yang dianjurkan para minoritas dominan, bukan semata-mata disebabkan oleh kekuatan karakter atau kepribadian orang atau kelompok tersebut, tapi lebih kepada nilai yang ditawarkan.

Dalam setiap tata nilai selalu terbuka pertanyaan, mengapa bisa diterima, dan mengapa bisa diabaikan begitu saja. Untuk menjawabnya memerlukan kajian mendalam tentang berbagai faktor yang mempengaruhinya. Namun yang jelas, dalam setiap kebenaran selalu ada nilai, tapi tidak setiap nilai merupakan kebenaran. Untuk dapat memahami seberapa benar sebuah nilai (termasuk yang sudah berlaku umum) seperti mengidentikkan kekayaan dengan kemuliaan, profesi dengan strata sosial, kesenangan dengan kebahagiaan, selera orang banyak dengan kebenaran, dan lain sebagainya, tentu tidak cukup hanya mengacu kepada fakta bahwa nilai tersebut telah diterima dan berlaku secara umum, atau mengacu kepada kekongkritan daya manfaatnya. Tapi juga perlu memperhatikan kadar  integritas. Seberapa besar kadar komitmen yang dimiliki para pengusung nilai tersebut (termasuk mereka yang mengikutinya) atas nilai-nilai keimanan yang diyakininya. Karena kebenaran bukan hanya tentang apa yang dipikirkan, tapi juga meliputi apa yang dilakukan.

Alasan mengapa kita perlu melakukannya, karena pada perspektif individual, selalu terbuka kesempatan untuk mengembangkan kesadaran ekstra, atau lebih tepatnya kesadaran tersendiri, diluar kesadaran yang berlaku umum agar kita bisa mengetahui batas wilayah yang nyaman bagi kita, dan dimana sebenarnya ujung pribadi kita. Kita bisa bertanya,  apa yang bakal terjadi setelah kita berhasil meraih sebuah kesuksesan, dan apa sebenarnya yang kita peroleh ketika kita dianggap sebagai orang yang gagal. Kemudian, dalam kondisi apapun, kita selalu membangun kesadaran diri bahwa kematian adalah kawan abadi kehidupan. Yang terakhir, melepaskan diri dari pola pikir umum yang mengurung kita dengan pilihan mudah.

Menemukan kebenaran di tengah belantara ketakjuban dan kepatuhan buta memang bukan hal yang mudah. Tapi, justru dalam ketidak-mudahannya itu lah tersembunyi imbalan bernilai lebih dari yang pernah kita bayangkan…semoga.

 Awal Juni 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s