Hikmah Tersembunyi dibalik Stress

Hidup di jaman yang penuh tekanan dan persaingan ini, istilah atau mengalami ‘stres’ bukanlah hal yang asing. Seolah stress sudah menjadi bagian dari konsekuensi hidup itu sendiri. Namun demikian, tak ada yang menghendaki mengalami stres, karena selain menimbulkan perasaan tertekan, juga dipercaya bisa memicu timbulnya berbagai macam penyakit.

Menurut kamus Bahasa Indonesia, stres diartikan sebagai ketegangan, gangguan atau kekacauan mental dan emosional yg disebabkan oleh faktor luar. Sedangkan menurut Rahe (1975), stress adalah faktor predisposisi atau pencetus yang meningkatkan kepekaan individu terhadap penyakit. Dan, masih banyak lagi definisi-definisi lain yang pada intinya menyatakan bahwa  stress merupakan indikasi adanya kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi.

Penyebab stress, yang biasanya disebut stressor, bisa disebabkan oleh faktor internal individu sendiri, seperti khawatir yang berlebihan. Maupun dari  luar individu, seperti kemacetan lalu lintas, pertengkaran, dan lain-lain. Selain itu, terjadinya stress juga dipengaruhi oleh daya penyesuaian individu dalam merespons stressor. Dari gambaran sekilas tersebut, tentu kita bertanya, bagaimana mungkin stress  yang tidak mengenakkan itu, bisa dikatakan memiliki hikmah ?.

Sekurangnya ada dua sisi yang bisa diambil pelajaran dari terjadinya stress. Pertama, terlepas dari pendapat pro-kontra bahwa stress bisa meningkatkan kepekaan seseorang terhadap penyakit atau tidak, stress merupakan sinyal yang memerintahkan kepada kita untuk melakukan sesuatu agar tubuh kembali dalam keseimbangan. Dengan kata lain, stress merupakan bentuk pelindungan dini terhadap tubuh dari ancaman gangguan kesehatan. Kedua, pada tingkat yang melampaui daya adaptasi individu, stress bukan hanya mendorong individu untuk berupaya membebaskan diri dari rasa tertekan, tapi juga menimbulkan kebutuhan untuk mencari pertolongan atau perlindungan. Di puncak kegelisahannya, seperti diungkapkan Erich Fromm, individu akan mencari rasa aman dengan cara kembali kepada agamanya, meskipun (masih menurut Fromm) hal itu bukan sebagai perwujudan iman.

Dengan melihat manfaatnya yang berguna untuk menjaga kesehatan tubuh maupun mental, dapat dikatakan stress bukanlah penyakit.  Melainkan sebuah mekanisme pertahanan alami yang berguna untuk melindungi tubuh dan mental kita dari ancaman kerusakan. Yang menjadi pertanyaan, setelah stress berlalu, apakah kita akan kembali lagi kepada kesadaran dan pola kebiasaan sebelumnya ?. Atau secara sadar, mengubah perilaku kita sehingga relatif lebih bisa dipertanggungjawabkan, baik dari segi kesehatan fisik, mental maupun iman.

Bacaan : Erich Fromm-Piskoanalisa dan Agama (1988), Neil Niven-Psikologi Kesehatan (2002), http://kamusbahasaindonesia.org/stres#ixzz1usgvLkIe

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s