Masa tua : Proses Penyempurnaan di tengah Kekurangan

Adalah hal yang manusiawi, bila manusia tidak suka kehilangan atau kekurangan, termasuk kehilangan masa muda. Tidak sedikit manusia yang merasa cemas, ketika menyadari dirinya tengah berada di ujung kehidupan. Apa yang pernah dimiliki dan dibanggakan, berubah menjadi onggokan cerita usang yang tidak menarik untuk didengar, kecuali sekedar untuk menunjukkan rasa hormat. Waktu seolah berjalan surut ke belakang. Kehormatan, kekuatan, kesehatan, kecantikan, kecekatan,  satu demi satu pergi menjauh. Yang tersisa hanyalah diri yang serba kekurangan dan tidak berguna.

Sekonyol itukah hidup manusia ?. Bukankah manusia dengan kemampuan intelektualnya, selain berhasil mengubah wajah dunia, pada batas yang memungkinkan, juga mampu menciptakan pilihan. Hidupnya bukan hanya mengulang perilaku nenek moyangnya sebagaimana makhluk lainnya. Tapi, secara terus menerus, dari generasi ke generasi, manusia mengembangkan perilakunya. Bahkan, lewat pengembangan pengetahuannya, manusia berhasil mewujudkan impiannya. Impian bisa terbang seperti burung, diwujudkan lewat pesawat terbang. Impian bisa hidup dalam air, diwujudkan lewat kapal laut dan kapal selam. Impian menembus dimensi ruang dan waktu, diwujudkan lewat teknologi komunikasi. Intinya, manusia mampu membangun kehidupannya menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya.

Selama apa yang dilakukan manusia tidak bersifat destruktif, sepanjang itu pula hidup manusia menjadi sebuah mata rantai proses menuju kesempurnaan. Demikian pula halnya dengan masa tua. Kehadiran masa tua bukanlah sebuah momentum untuk membandingkan kondisi sebelumnya (masa muda) dengan masa kini (masa tua). Sebab, adalah tidak pada tempatnya, menganggap satu titik mata rantai (masa muda) dianggap lebih bernilai dari yang lainnya (masa tua), sementara keduanya merupakan bagian tak terpisahkan dari satu mata rantai proses menuju kesempurnaan.

Masa tua adalah masa yang dekat dengan kesempurnaan. Dalam kondisi apapun, rasa syukur di masa tua jauh lebih berguna daripada mengumbar kecemasan, kegelisahan, dan penyesalan. Masa tua membawa manusia kepada kesadaran hidup yang utuh. Bukan hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang generasi selanjutnya. Bukan hanya tentang hidup, tapi juga tentang mati. Bukan hanya tentang kehidupan dunia, tapi juga tentang kehidupan sesudahnya.

Jika pandangan semacam ini sering diolok-olok sebagai cara orang tua menghibur diri sendiri, maka memaknai masa tua sebagai masa yang penuh kekurangan dan tidak berguna, adalah cara menilai yang patut dikasihani. Karena hanya mengandalkan penglihatan, miskin pemikiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s