Komoditas itu bernama Kemiskinan

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, komoditas berarti barang dagangan utama atau benda niaga. Lalu, bagaimana mungkin, kemiskinan bisa dianggap sebagai komoditas.

Kemiskinan adalah sebuah keadaan (menyusahkan). Kemiskinan merupakan paradoks dari kemakmuran. Sehingga, selain tidak bisa diperdagangkan, kemiskinan adalah dunia yang dipenuhi kekurangan (khususnya materi). Tak ada yang bisa didapatkan dari dunia seperti itu, kecuali kesedihan dan belas kasihan.

Tapi, meskipun kemiskinan bukan barang dagangan atau benda niaga, dan juga bukan keadaan yang menjanjikan, justru di serba kekurangannya itulah kemiskinan dipandang memiliki peluang yang menjanjikan. Yang dimaksud peluang disini bukan hanya dalam konteks bisnis (sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan materi), tapi juga yang bersifat immateri seperti untuk kepentingan politis. Mengangkat kemiskinan sebagai isu sentral, meskipun terlihat klise, masih dianggap memiliki “daya jual”.

Coba Kita perhatikan. Berapa banyak stasiun televisi yang menayangkan acara reality show dengan mengeksplorasi kehidupan orang miskin. Dan, seberapa besar animo masyarakat serta pemasang iklan yang bersedia mendukung tayangan ini. Kemudian, setelah seminar tentang masalah kemiskinan tidak lagi popular, berapa banyak penelitian tentang kemiskinan dilakukan. Para penguasa, berdasarkan perhitungan statistik, mengatakan angka kemiskinan menurun. Lawan politiknya, berdasarkan hasil survey, mengatakan angka kemiskinan menaik. Berapa banyak para bakal calon penguasa yang berkampanye dengan mengekspos kunjungan dan pemberian santunan kepada kaum dhuafa. Dan, berapa banyak pula, lembaga maupun perorangan yang secara terbuka mempublikasikan pemberian penghargaan dan hadiah kepada orang-orang yang hidup serba kekurangan, tapi tetap tegar, optimis, tidak pernah mengeluh atau protes. Dalam skala yang lebih luas dan pola klasik, kita bisa bertanya, apakah negara-negara donor bersedia memberikan hutang kepada negara-negara miskin, hanya karena ingin mengentaskan kemiskinan ?.

Kemiskinan tidak lagi dilihat sebagai produk yang tak dikehendaki, tapi telah dianggap sebagai diversifikasi porduk. Pabrik, dalam hal ini sistem yang berlaku, selain memproduksi sejumlah kecil kemakmuran, secara terencana dan sistematis juga memproduksi sejumlah besar kemiskinan. Alasannya, keduanya terbukti mendatangkan manfaat !.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s