Pesona yang Mematikan

white roses (painting oil by catilla)

Ada kalanya kita merasa membutuhkan melepaskan diri dari kenyataan. Bukan untuk mengingkarinya atau melarikan diri darinya, tapi untuk menemukan sisi diri kita yang selalu tersisihkan.

Sisi yang terpinggirkan itu mencakup banyak hal. Bisa berupa idealisme, keyakinan, pemikiran, potensi diri, maupun konsep diri kita secara keseluruhan. Pandangan ini  diungkapan tidak untuk membicarakan diri yang tak berdaya, atau manusia-manusia unggul yang diuntungkan oleh keadaan.  Tapi tentang  tentang keterpesonaan.

Tidaklah kita merindukan sesuatu menjadi bagian dari diri kita, atau merasa kehilangan,  kecuali hal itu berarti bagi diri kita. Dengan kata lain, sesuatu tersebut  berharga, bernilai dan mempesona !.

Keterpesonaan akan sesuatu tidak selalu dilahirkan dari perasaan inferior, tapi juga bisa disebabkan oleh impian yang terwujud di luar diri. Kita terkagum-kagum oleh kerupawanan, kepopuleran, atau kecerdasan seseorang, kalau bukan sedang berandai-andai, tentu kita sedang merasa terwakili olehnya.

Keterpesonaan akan sesuatu adalah hal manusiawi yang merupakan representasi dari falsafah “tidak ada manusia yang sempurna”. Namun demikian, keterpesonaan bisa menjadi hal yang membahayakan, tepatnya bisa menjerumuskan diri, manakala keterpesonaan tersebut tidak lagi memperhatikan batas antara diri dan mimpi.

Ketika keterpesonaan sekedar menjadi sarana melepaskan diri dari kenyataan menuju impian yang termanifestasikan pada diri seseorang, maka kita masih berada pada wilayah kewajaran. Tapi, manakala dalam keterpesonaan tersebut, kita menyingkirkan batas antara kenyataan dan impian, dan berupaya mencampuradukan keduanya, itulah awal mala petaka dari sebuah keterpesonaan.

Kita tidak lagi enak menjadi diri sendiri. Di hampir semua kesempatan, kita selalu berupaya menyamakan diri dengan orang yang kita kagumi. Selalu berupaya meniru tutur katanya, kebiasaannya, pakaiannya, dandanannya, dan pemikirannya. Sementara kita tahu, kita tidak mungkin menjadi mereka. Demikian pula sebaliknya. Fenomena bermimpi di alam nyata ini tidak hanya banyak terjadi di kalangan remaja, manusia dewasa pun juga bisa dihinggapinya.

Proses peng-imitasian diri yang berlangsung lebih dalam, peniruannya tidak cukup sebatas aspek-aspek penampilan simbolis, tapi meliputi totalitas kepribadiannya, termasuk hal-hal yang secara prinsipil perlu dihindari. Meniru perilaku  destruktif berupa hedonis (pemuasan diri diluar batas kepatutan), memamerkan kemewahan, merongrong sendi-sendi moralitas, mempertontonkan keberanian yang tidak diperlukan, maupun tindakan yang mengarah kepada keinginan melakukan bunuh diri, merupakan bentuk kekaguman yang membahayakan.

Pesonanya bukan hanya menjadi hal yang mengagumkan , tapi juga bisa mematikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s