Pergeseran Nilai dan Kerentanan Anomi

Ferdinand Tonnies dan Emile Durkheim berpendapat, masyarakat modern dicirikan oleh pergeseran besar-besaran yang menghasilkan kerentanan dengan apa yang disebut anomi, suatu kondisi tidak memiliki akar, tidak ada rasa memiliki, dan tidak ada norma yang kuat.

Pendapat Tonnies dan Durkheim tersebut tentunya bukan pemikiran spekulatif, tapi didasarkan atas fakta dan fenomena sosial yang berlangsung di masyarakat, khususnya Barat. Lalu bagaimana dengan masyarakat kita sendiri, yang juga mengklaim sebagai bagian dari masyarakat modern, apakah juga mengindikasikan hal serupa ?.

Bila yang dimaksud terjadinya pegeseran adalah perubahan sikap dan perilaku masyarakat dari cara hidup terbelakang menuju cara hidup yang relatif lebih maju, seperti pemanfaatan ilmu pngetahuan dan tekhnologi, maka hal itu adalah fakta yang tak terelakkan. Sedangkan bila yang dimaksud pergeseran adalah perubahan orientasi masyarakat terhadap tata-nilai, maka  kerentanan terjadinya anomi tergantung arah pergeserannya, dari mana menuju kemana.

Manakala pergerakan perubahan tata nilai yang dianut masyarakat mengarah kepada memudarnya kadar keyakinan masyarakat terhadap kebenaran nilai-nilai agama, seperti menjadi masyarakat yang semi beriman (sekuler), atau yang mengingkari agama sama sekali (atheis), maka apa yang diprediksi oleh Tonnies dan Durkheim tersebut, dapat dipastikan akan terjadi pada masyarakat kita. Namun, bila pergeseran itu bergerak  ke arah sebaliknya, maka masyarakat bukan hanya terbebas dari ancaman anomi, tapi juga mampu menjalani hidup dengan penuh optimisme. Keyakinannya akan nilai-nilai agama bukan hanya dibangun di atas kesadaran kerasionalan dan asas kebermanfaatan. Lebih dari itu, masyarakat akan mengorientasikan setiap aspek kehidupannya, termasuk kesuksesan yang diraih saat ini, kepada kesuksesan masa depan yang sesungguhnya. Yaitu kehidupan abadi, kehidupan unlimited , kehidupan akhirat.

Yang menjadi masalah, saat ini masyarakat cenderung bergeser ke arah mana ?. Apakah mengarah kepada terbentuknya masyarakat ambivalen yang terbelah dan mengalami disorientasi, atau menjadi masyarakat yang memiliki integritas tinggi yang ditandai dengan menyatunya  nilai-nilai keimanan dengan perilaku sosialnya ?.

Sumber Bacaan : Peter L. Berger, Revolusi Kapitalis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s