Mereka mengidap Stockholm Syndrome

Dalam psikologi, dikenal istilah “Stockholm Syndrome”, yaitu perilaku tidak wajar yang ditunjukkan seorang sandera setelah sekian lama mengalami situasi yang serba menekan, Diam-diam bersimpati terhadap penyanderanya.

Saat ini, dalam konteks yang berbeda, gejala perilaku stockholm syndrome juga terjadi dalam kehidupan sosial. Karena terlalu lama hidup dalam suatu tatanan sistem ekonomi yang serba competitif, exploitatif, dan manipulatif, masyarakat tidak lagi memandangnya sebagai masalah yang harus diatasi. Mereka mengerti secara ekonomis, sosiologis maupun psikologis, berada pada posisi yang termangsa, tapi mereka tetap berlomba-lomba menyerahkan hidup dan harapannya kepada sistem tersebut,

Memang manusia bukan hewan yang merespon setiap permasalahan hanya dengan dua pilihan flight or fight (kabur atau menyerang). Manusia memiliki apa yang disebut martabat dan harga diri. Pilihan yang tersedia lebih kompleks dan terkadang serba dilematis. Ketika berada dalam situasi yang terkuasai, secara intuitif manusia tidak senang. Tapi, dalam waktu yang sama, juga tidak ingin mengambil resiko. Keengganannya membebaskan diri bertolak belakang ketidakrelaannya kehilangan martabat. Sebagai alternatifnya, manusia memilih jalan ketiga, mengingkari atau meniadakan diri !.

Dalam wujud ekstremnya, ekspresi peniadaan diri ditunjukkan manusia dengan cara melakukan tindakan yang tidak pernah dilakukan binatang, bunuh diri !. Sedangkan secara eksitensial, ekspresi tersebut dimanifestasikan dalam bentuk penyerahan diri kepada kekuatan yang mendominasinya, Dalam penyerahannya itu, masyarakat “berhasil” menciptakan realita semu. Mereka menganggap  tatanan ekonomi yang nyata-nyata dirancang untuk melindungi kepentingan segelintir orang tersebut sebagai kenyataan yang semestinya. Melalui tatanan yang ada mereka berharap akan menemukan angsa bertelur emas, meskipun logika sederhana mereka mengatakan “itu hanyalah mimpi di siang bolong”.

Dengan pilihannya itu, masyarakat tidak hanya telah berperilaku irasional, namun juga membinasakan diri secara sadar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s