Memilih Impian

e-book gratis klik foto ini (satu sisi Jakarta, by Yusran)

Manusia bermimpi tidak hanya tatkala tidur, dalam keadaan terjaga pun manusia masih terus bermimpi. Mimpi ini sering disebut cita-cita. Demi mewujudkan impian ini pula, banyak manusia rela mengorbankan waktu, tenaga, harta, keluarga, termasuk mengambil resiko kehilangan nyawa. Bahkan kemajuan peradaban manusia itu sendiri, seperti bisa terbang di angkasa, bisa mengarungi samudra, menyelam dalam air, berawal dari mimpi-mimpi tersebut. Sehingga tidak mengherankan kalau ada yang mengatakan, lewat impian manusia membangun kehidupannya.

Dengan tetap mengapresiasi atas prestasi yang berhasil diraihnya, yang perlu diingat, manusia tataplah manusia. Makhluk rapuh yang banyak kemauan. Makhluk lemah yang merasa serba tahu. Manusia boleh saja berkeyakinan bakal mampu mewujudkan semua impiannya, tapi apakah dengan terwujudnya semua impiannya itu  berarti juga berhasil mencapai tujuan hidupnya ?, tentu memerlukan pemikiran tersendiri.

Sudah menjadi ketetapan bahwa manusia memiliki kemampuan bermimpi sekaligus keinginan untuk mewujudkannya. Diantara mimpi-mimpinya, manusia memiliki pilihan, impian mana yang perlu diwujudkan dan impian mana yang seharusnya ditanggalkan. Dari pilihan inilah warna hidup manusia berawal. Apakah manusia akan hidup dengan selamat dan bahagia atau sebaliknya. Dengan keputusannya itu, manusia tidak hanya memungkinkan bisa menikmati kemudahan memanfaatkan teknologi komunikasi, transportasi darat, laut dan udara, tapi juga bisa berada dalam keterancaman terjadinya kerusakan lingkungan, kerusakan pemikiran dan kehancuran moral. Pada skala individual, pilihan-pilihan ini, selain memberi peluang memperoleh kebermaknaan hidup, dalam banyak hal juga bisa membuat seseorang terperosok ke dalam perangkap ironi kehidupan. Demi memperoleh predikat manusia terpandang, mereka mengejar materi walaupun dengan cara hina. Demi trend gaya hidup glamour dan popularitas, semua dipertaruhkan, termasuk mengorbakan harga diri.

Andai kata manusia mau memilih dan memilah impiannya, tentulah potret suram kehidupan manusia berupa kemiskinan, kejahatan, prostitusi, penyalahgunaan obat-obatan, hanyalah riak-riak kecil kehidupan, bukan alunan gelombang yang menggejala seperti yang terjadi saat ini. Oleh karenanya, dalam terminologi keberimanan, pertanggungjawaban manusia atas hidupnya bukan terletak pada kemampuan mewujudkan impiannya, tapi pada keputusannya memilih impian mana yang bakal diwujudkannya sampai kemudian hal itu berpegaruh terhadap kehidupan pribadi, keluarga, maupun sosial.

Andai kata… andai kata…..ini pun, saat ini  juga tak lebih dari sebuah impian. Semoga segera terwujud !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s